Cipularang, Keindahan di Jalur Selatan

‎Tahun ini berkat bermasalahnya jembatan Comal di Pemalang, Jawa Tengah, saya berhasil menemukan keelokan pemandangan yang sama sekali baru. Saya tidak mau bersumpah serapah atau stres hanya karena jembatan itu tidak bisa dilalui. Inilah mungkin salah satu cara menjadi fleksibel dalam hidup, yakni menikmati yang masih bisa dinikmati, tanpa harus banyak memusingkan hal yang di luar kendali kita.

Melewati tol Cipularang, saya terhibur dengan pemandangannya yang permai. Kalau lewat jalur Pantai Utara, yang bisa disaksikan adalah hamparan sawah berupa ribuan batang padi yang tumbuh sangat subur. Ada yang menguning, ada yang masih hijau, ada pula yang masih pendek batang-batangnya. Cuaca pun lebih basah, untuk ukuran bulan-bulan pertengahan tahun seperti Juli saat ini.

Bila saya melewati Cipularang di malam hari, mungkin yang saya rasakan adalah bergidik ngeri dengan rekam jejaknya yang relatif buram sebagai ruas jalan tol. Pernah terjadi beberapa kecelakaan fatal dan longsornya jalan di sini. Dan memang jika ditilik dari kontur tanahnya yang berbukit-bukit, sepertinya kondisi geologisnya bukanlah yang ideal sebagai lahan untuk jalan tol. Terlalu labil. Tanahnya terbukti penuh gerakan. Saya sempat menyaksikan retak-retak di badan jalan hotmix, yang bisa longsor atau ambles tanpa peringatan.

Namun, di sore dan petang itu pemandangan di luar masih bisa terlihat. Yang mengagumkan adalah menyaksikan bagaimana kokohnya jembatan-jembatan penyambung jalur kereta api peninggalan Belanda yang malang melintang antara satu bukit ke bukit lainnya. Meski hampir seabad berdiri di alam bebas, tak terlindung oleh apapun juga di bawah cuaca yang berubah-ubah dan ekstrim, toh masih berdiri kokoh. Bandingkan dengan banyak proyek saat ini yang menggunakan teknik konstruksi yang terkesan asal-asalan. Lengkungan-lengkungannya sungguh mengagumkan. Jarang dijumpai bangunan bergaya demikian di Indonesia.

Sawah-sawahnya juga mengingatkan saya dengan terasering khas Ubud di Bali. Sangat indah ditimpa sinar matahari sore yang makin redup di akhir bulan Syawal 1435 H.

Selamat Idul Fitri…
Minal aizin wal faidzin …
Taqoballahu minna wa minna wa minkum…

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

tabardSebelumnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)”

Kepenulisan Kreatif sebagai Disiplin Ilmu Akademis

Carl Seashore, seorang psikolog yang tertarik dengan pengukuran bakat musik dan skolastik, mengepalai Graduate College (semacam Program Master/ S2) saat 1922 Iowa menjadi kampus besar pertama di AS yang bersedia menerima karya-karya sastra kreatif untuk gelar lanjutan, bukan hanya sarjana/ S1. Mereka memberikan gelar Master of Fine Arts dengan 4 konsentrasi berbeda: Musik, Seni Drama, Seni Plastik dan Grafis, dan Kepenulisan Kreatif.

Dalam lingkup pascasarjana seperti ini, perkembangan seni menjadi makin bergairah. Edward C. Mabie (pengajar Bahasa Inggris dan Pidato 1920-1955) makin dikenal dengan program teaternya. Brent Wood muncul dengan kiprahnya dalam dunia seni lewat program seni University of Iowa karena tema regionalitasnya. Iowa juga tidak hanya makin melejit dalam sastra tetapi juga seni secara umum. Para mahasiswa berlomba-lomba menghasilkan komposisi musik baru, lukisan, koleksi puisi. Dua orang mahasiswa yang paling menonjol saat itu ialah Wallace Stegner dan Paul Engle. Engle menulis sebuah buku koleksi puisi, yang juga adalah bahan tesisnya, yang kemudian dipublikasikan untuk umum untu pertama kalinya di kampus tersebut. Ini berbeda dengan tesis-tesis di Indonesia yang kebanyakan menganalisis karya-karya sastra milik orang lain dan tidak diperkenankan untuk dibaca kalangan umum. Akibatnya, koleksi tesis menjadi kumpulan kertas berdebu di rak perpustakaan.

Tidak Cuma Jadi Kritikus, Tetapi Produsen

Meski kepenulisan kreatif sudah mulai berkembang, kurikulum bahasa Inggris di Iowa masih fokus pada beasiswa. John Towner Frederick, pengajar di University of Iowa dan pegiat klub kepenulisan, menyadari bahwa hal ini bisa kontraproduktif bagi perkembangan sastra Midwest. Jika jati diri sastra Midwest ingin ditegakkan, fokus yang terlalu berlebihan pada studi ilmiah terhadap bahasa dan sastra perlu dibatasi. Dalam sebuah surat pada pimpinan kampus, Frederick menuliskan:

“I know that you are fully aware of the many evidences of a rapidly awakening literary consciousness in Iowa and in the other states of the middle west. Chiefly because of the foundations laid by Professor Ansley and professor Hunt, and in some degree because of the work of Professor Piper, Professor Mott and myself, the University of Iowa is in position of acknowledged leadership in this development. I believe that the people of the state recognize and value this achievement of the university.

In recent years, however, the tendency in our English department has been toward increased emphasis upon philological investigation. It dominates our graduate work to the almost complete exclusion of creative effort. The natural effect is to fill the ranks of our instructors with men and women whose primary interests are in research, and this interets is of course expressed in their teaching. Within a few years, by the continuation of this process, our leadership in creative effort in our region will be lost. [...]“

Inilah sebuah keprihatinan yang patut diapresiasi dari seorang akademisi yang ingin agar para mahasiswanya tidak cuma bisa membedah karya milik orang lain dengan perangkat teori dan penelitian kebahasaan tetapi juga mampu menghasilkan karya-karya sastra sendiri. Hal inilah yang sedang kita alami dan saya sendiri rasakan selama menempuh pendidikan di kampus-kampus Indonesia. Kecenderungan untuk menjadikan bangku kuliah sebagai sebuah meja penelitian daripada meja untuk menuangkan ide-ide kreatif terlihat dari preferensi para pengajar dan mahasiswa dalam penyusunan karya akademis untuk menentukan kelulusan. Seseorang dianggap lulus jika mampu menganalisis karya, bukan memproduksi karya. Alhasil, lulusan menjadi ‘kurang tajam’ saat harus menjadi sastrawan, dan berakhir menjadi kritikus semata. Namun, jangankan menjadi kritikus, sebagian besar malah tidak lagi menekuni sastra setelah mengantongi gelar Sarjana Sastra atau Magister Susastra.

Seorang pengajar sepakat dengan gagasan yang dilontarkan Frederick untuk memperkuat aspek produksi kreatif sastra di kampus mereka. Norman Foerster (Direktur School of Letters tahun1930-1944) yang belajar di Harvard University menyadari perlunya perhatian khusus pada kepenulisan kreatif.

Hingga dekade 1930-an, kelompok-kelompok sastra seperti The Times Club mengundang beberapa sosok terkenal dalam dunia sastra untuk berbagi karya dan pandangan mereka di Iowa. Audiens berkerumun untuk menyaksikan, misalnya, Thomas Hart Benton, Langston Hughes dan Stephen Vincent Benet. University of Iowa meneruskan tradisi tersebut.

Secara formal program kepenulisan kreatif (Creative Writing) dibuka tahun 1936. Di tahun 1939, jurusan ini baru memiliki pimpinan. Seorang lulusan Harvard bernama Wilbur Schramm datang ke kampus ini untuk mengikuti pendidikan S3 di bidang Sastra Inggris. Bakat menulis Schramm amat memukau. Ia sering menulis cerita di berbagai media dan sebagai pengajar, Schramm juga mengampu sebuah kelas bernama “Writers’ Workshop”. Istilah “workshop” seolah menjadi penegas bahwa ilmu menulis bukan cuma bakat bawaan seseorang tetapi juga bisa dipelajari, diajarkan dan dapat ditularkan pada sebanyak mungkin orang. Schramm seolah ingin menunjukkan bahwa meskipun bakat diperlukan jika ingin menjadi penulis, bakat itu sendiri bisa dibentuk dan ditempa melalui praktik yang intensif. Semangat utama dalam workshop semacam itu ialah bahwa bakat bisa ditemukan, bisa dibentuk, dan bisa diajarkan. Di saat yang sama, harus diakui bahwa ada elemen-elemen yang tak bisa diajarkan, misalnya seni di dalam sastra. Tetapi sekali lagi, ada juga unsur-unsur yang bisa diajarkan seperti bentuk dan tata cara menulis yang baik dan menarik bagi pembaca. (bersambung)

Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (1)

iowa

Image credit: The University of Iowa

Midwest, bagian barat tengah negeri Paman Sam, di telinga saya lebih lekat dengan cerita-cerita koboi dan para penjelajah yang berani dan penuh semangat petualangan. Midwest yang terletak di tengah-tengah daratan Amerika Utara terdiri dari 12 negara bagian yakni Illinois, Indiana, Kansas, Michigan, Minnesota, Missouri, Nebraska, North Dakota, Ohio, South Dakota, Wisconsin dan yang tak kalah penting Iowa. Kawasan ini dianggap sebagai jantung Amerika, dan berperan penting dalam ekonomi dan politik AS. Midwest menjadi pusat pertanian dan industri berat AS. Dalam kacamata politik, negara-negara bagian di sini kerap menentukan kemenangan atau kekalahan kandidat atau partai yang bersaing.

Ketertarikan saya pada Iowa bermula setelah saya menyaksikan penuturan dua novelis top AS John Irving dan Anne Patchett yang mengatakan karir mereka sebagai sastrawan bermula di sini. Seperti apa Iowa? Dan mengapa sampai anak-anak muda yang ingin menjadi sastrawan berduyun-duyun ke sini sejak abad ke-19?

Saya belum bisa mendapatkan jawabannya secara langsung karena belum pernah datang ke Iowa langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di sana tetapi untungnya, saya menemukan sebuah dokumenter bagus berjudul “City of Literature” di YouTube mengenai Iowa dan perkembangannya sampai dijuluki sebagai ibukotanya sastra di dunia.

Surganya para penulis, itulah Iowa. Kota ini memiliki program pendidikan dalam penulisan kreatif (creative writing) yang dikenal sebagai The Iowa Writers’ Workshop. Selama lebih dari 4 dekade, tempat ini telah disambangi oleh para penulis tersohor dari berbagai negara. Alumni dan pengajar The Iowa Writers’ Workshop total telah mengantongi lebih dari 40 anugerah kepenulisan bergengsi Pulitzer Prize. Bagaimana Iowa bisa menjelma seperti sekarang? Berikut kisah perjalanannya.

Dari Pendatang yang Melek Sastra

Di pertengahan tahun 1800-an, penulisan kreatif sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu yang patut dipelajari secara terpisah dalam lembaga pendidikan akademis yang formal.

Seperti dituturkan oleh Loren Glass (Profesor Bahasa Inggris), University of Iowa didirikan pada tahun 1847. Saat itu, belum diajarkan penulisan kreatif. Kebebasan mengutarakan pendapat belum diwujudkan dalam jiwa sebuah institusi.Kampus itu lebih bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warganya.Di sini adalah tempat diproduksinya para dokter, pengacara, insinyur, dan kaum profesional terdidik yang dibutuhkan oleh masyarakat di “frontier state”, atau negara-negara bagian di AS yang masih sukar dijangkau atau masih jauh dari pusat keramaian seperti New York atau Boston yang banyak dikenal sebagai kota niaga dan pelabuhan yang hiruk pikuk.

Awalnya, bahasa dipelajari sebagai sebuah subjek studi ilmiah semata, bukan sebagai sebuah disiplin ilmu kreasi atau seni di kampus ini. Namun, dalam perkembangannya menjadi makin luas adari lingkup ilmiah tersebut.

Sementara itu, Mary Bennett dari State Historical Society of Iowa menyatakan akar ketertarikan kuat masyarakat kota Iowa pada dunia susastra adalah para kaum penjelajah kulit putih pertama saat masa-masa awal berkembanganya Iowa yang menunjukkan minat yang tinggi dalam belajar secara mandiri. Mereka memiliki banyak perpustakaan pribadi di rumah dan cakupan koleksinya tidak melulu kajian relijius tetapi juga kisah-kisah sastra klasik. Mereka membaca Injil, karya-karya Shakespeare hingga karya keluaran para sastrawan lokal AS. Sejumlah pegiat sastra AS dan Inggris pernah menyambangi Iowa. Tercatat ada Mark Twain yang mengunjungi Iowa pada tahun 1867 untuk memberikan ceramah, kemudian ada Ralph Waldo Emerson yang berkunjung di tahun yang sama. Sastrawan eksentrik dan flamboyan asal Inggris Oscar Wilde penulis “The Importance of Being Earnest” ini juga pernah mampir tahun 1882. Sastra asli yang berkembang di Iowa berkisah lebih banyak mengenai kisah eksplorasi kaum pendatang ini di daerah baru yang asing dan masih kosong.

Masyarakat Sastra Iowa ‘Berkecambah’

Geliat sastra di Iowa mulai muncul saat para mahasiswa di kampus University of Iowa. Terbentuklah Zetagathian Literary Society, masyarakat penyuka sastra Iowa, yang mulai mengakar di lingkungan akademis. Apa yang dilakukan oleh para pegiat sastra muda ini ialah membaca karya-karya puisi klasik dan populer saat itu bersama-sama dalam satu ruangan.

Satu hal yang membedakan kota Iowa dari kota-kota lain dalam hal atmosfer pendidikan ialah aroma egaliter yang kental. Di Iowa, karena jauhnya mereka dari kampus-kampus berpengaruh seperti Harvard dan Yale yang berlokasi di Pesisir Timur, mereka dapat berkembang lebih unik dengan mengedepankan semangat persamaan atau egaliterianisme. Ambil contoh saja Polygon Club (sekitar tahun 1893), yang menampung para penyuka sastra tanpa memandang jenis kelamin. Di negara-negara bagian lain, kesempatan belajar yang setara semacam ini belumlah ada. Itulah mengapa Iowa termasuk istimewa. Di sini, para pria dan perempuan sama-sama mendapatkan peluang yang setara dalam membuktikan diri dan mengikuti perbincangan yang bermakna mengenai berbagai karya sastra yang mereka produksi sendiri.

Beberapa waktu kemudian, muncullah sebuah mata kuliah baru dalam katalog University of Iowa. Di musim semi 1897, “Verse Making” merupakan mata kuliah pertama yang bertema penulisan kreatif dalam bidang puisi. Pengampunya adalah Prof. George Cram Cook, yang warga asli Iowa dengan pendidikan dari Harvard University.

Cook dan rekan-rekannya masuk dan aktif dalam berbagai kegiatan klub-klub menulis yang bertebaran di Iowa. Banyak klub menulis tersebut yang didorong perkembangannya oleh sejumlah tenaga pengajar berpengalaman University of Iowa seperti Edwin Ford Piper (pengajar Creative Writing tahun 1905-1919), Frank Luther Mott (pengajar jurnalisme dan bahasa Inggris tahun 1921-1942) dan Clark Fisher Asley (pimpinan Jurusan Bahasa Inggris tahun 1899-1917). Para pengajar tersebut menjadi model-model pelaksana dan pencetus berbagai kegiatan lokakarya atau workshop kepenulisan.Selain Polygon Club, ada juga klub lain yang tak kalah menonjol, yakni Tabard Club yang dikenal tahun 1915. Yang menjadi ciri khas dari semua klub kepenulisan di Iowa ialah tema-tema karya sastra mereka yang fokus pada regionalitas.

Karya-karya sastra yang dihasilkan seolah ingin membedakan diri dari arus mainstream atau aliran sastra yang sudah mapan di Boston, New York dan sastra yang berkembang di daerah Pesisir Timur AS.

John Towner Frederick adalah orang yang percaya bahwa Iowa akan bisa menjadi sebuah tempat yang tiada duanya bagi kalangan sastrawan karena karakter Midwest yang kuat. Frederick yang juga mengajar di University of Iowa ini mewujudkan ambisinya dengan menerbitkan sebuah majalah bernama “Midland” di tahun 1915. Sosok lainnya yang setia dengan tema regionalitas ialah Benjamin Shambaugh, pengajar di Iowa sejak tahun 1900 hingga 1940. Mereka yakin bahwa Iowa juga harus mengangkat identitas mereka sendiri dalam karya-karya sastra mereka, tidak hanya menjiplak dari yang sudah populer di wilayah AS lainnya. Keteguhan Frederick dan Shambaugh dalam menunjukkan jati diri Iowa dalam sastra inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi Iowa untuk menduduki peran sebagai pusat perkembangan sastra yang tidak bisa diremehkan di negeri Paman Sam.

Baca Selanjutnya: “Menelusuri Riwayat Iowa, Ibukota Sastra Dunia (2)

Panduan Hootsuite untuk Pemula

Bagi Anda yang ingin mempelajari bagaimana menggunakan platform manajemen akun jejaring sosial Hootsuite secara praktis dan efisien serta GRATIS, video tutorial ini tepat untuk memberikan sekilas gambaran mengenai caranya. Dikemas dalam bahasa yang lugas, simpel dan mudah dipahami, Anda akan tahu mengenai dasar-dasarnya. Dan jika Anda memang memiliki kebutuhan berjejaring sosial yang lebih intens lagi, Anda bisa mendaftar untuk berlangganan Hootsuite Pro, yang keistimewaannya adalah memungkinkan Anda mengelola 6 akun jejaring sosial lebih! Belum lagi berbagai fitur analytics yang memudahkan marketing yang lebih jitu. Selamat menyimak

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,606 other followers

%d bloggers like this: