Menggugat Definisi Ibukota

‎Hidup di Jakarta tidak sekejam yang banyak orang bayangkan. Malah pada dasarnya mengasyikkan. Asal Anda memilih gaya hidup yang masuk akal, lingkaran sosial yang tepat, tempat tinggal yang aman, nyaman, bersih dan bekerja sesuai dengan passion disertai kerja keras dan cerdas yang di atas rata-rata, Anda bisa melesat setinggi apapun di sini. Atmosfer meritokrasi modern lebih kental di sini daripada di kampung halaman, setahu saya sejauh ini.

‎Bagi saya sendiri, Jakarta dapat diibaratkan sebagai seorang bapak yang tegas tetapi penyayang. Pameo selama ini yang menganggap Jakarta kota nan kejam melebihi kekejaman ibu tiri sudah usang. Saya bosan mendengarnya. Kita tidak lagi hidup di zaman Bawang Merah dan Bawang Putih atau Cinderella yang membuat banyak orang ketakutan dengan istri baru bapak mereka. Lagipula hal itu tak masuk akal juga. Kalau ada anak diperlakukan kejam oleh ibu tiri, mana mau ia kembali kepadanya? Sementara ia bisa lebih bebas dan merdeka di luar sana. Analogi itu terasa kurang pas bagi Jakarta yang sekejam-kejamnya masih saja dikerumuni pendatang baru setiap waktu, tidak hanya pasca Lebaran.

Jakarta mungkin ‘kejam’ bagi sebagian orang tetapi tak dapat dipungkiri bahwa di sini rejeki itu paling banyak berakumulasi. ‎Dan arti ‘kejam’ itu mungkin bermakna tegas. Jakarta seperti bapak yang menempa anak-anaknya. Ia membina jiwa-jiwa manusia di dalamnya menjadi lebih tegas, lebih asertif, lebih blak-blakan, dan lebih tangguh untuk seterusnya. Itulah yang saya rasakan. Saya menjadi lebih berani, nekat dan tak segan bermimpi besar, bekerja dan bertaruh demi masa depan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah pengalaman Anda tentang Jakarta juga sama dengan saya? Silakan berbagi di kotak komentar.

Leave a comment

Filed under miscellaneous

Keunggulan Wartawati Dibanding Wartawan

Jurnalis perempuan – apalagi yang rupawan – seringkali mendapatkan keistimewaan. (Image credit: Commons.Wikimedia.org)

Salah satu cara agar mudah mengeruk informasi berharga dari narasumber ialah menghadapi mereka dengan sikap yang menyenangkan, terlepas dari tulus atau tidaknya sikap itu. Namun, bila Anda masih jurnalis baru dan berkelamin laki-laki, lalu Anda harus mencari informasi dari narasumber yang juga laki-laki, tampaknya lika-likunya agar mengakrabkan diri akan lebih sulit.

Berbeda jika Anda adalah wartawati dan narasumber yang Anda buru adalah pria. Narasumber pria – apalagi yang berprofesi politisi – biasanya lebih jinak jika dihadapkan pada wartawati. Entah kenapa, tetapi begitu pengalaman satu wartawati berikut ini.

Suatu ketika wartawati itu, sebut saja Miss Misan, tiba-tiba ditugasi redakturnya untuk mencari narasumber dari parpol Nampol, salah satu partai politik besar yang menggunakan tema agama. Seperti biasa, ia pun menggunakan jejaring kenalan-kenalan wartawannya yang luas untuk memberitahukan nomor kontak para politisi yang berasal dari parpol yang dimaksud. Dengan kepribadiannya yang supel dan cara bicaranya yang ramah, Miss Misan sukses besar menjaring berbagai nomor kontak tadi. Ia kebanjiran nomor bahkan dari para koleganya. Begitu banyak sampai kebingungan mana yang harus ia hubungi lebih dulu. Karena sudah larut malam, ia memutuskan menghubungi semua politisi itu keesokan harinya.

Ia pun mengirimkan pesan pendek ke semua nomor ponsel politisi parpol Nampol dan berpikir, “Saya akan mewawancarai orang yang paling dulu membalas SMS saya.”

Pucuk dicinta, ulam tiba. SMS dibalas oleh satu politisi, lalu Miss Misan membalas gembira:”Asyikkkk…Di mana, pak?” Di kantor saja, jam segini, balasnya lagi pada Miss Misan kita yang sangat periang ini. Ia merasa sedikit bersalah karena pesannya terlalu santai padahal dengan politisi parpol yang juga anggota DPR-RI. Fakta itu sendiri Miss Misan baru ketahui dari hasil menjelajahi Internet. Ia tak berani bertanya ke politisi tadi atau koleganya di kantor karena takut dianggap bodoh. Daripada bertanya dan urusannya jadi panjang dan dikata-katai, ia memilih berpaling ke Google.

Wartawati yang mengaku tak mendapat uang saku dari si politisi ini berkata lagi,”Isi BBM bapak itu suka aneh-aneh.” Misalnya, saat Miss Misan kita ini mengajaknya berbicara tentang kansnya menjabat lagi di periode depan, si politisi Nampol itu malah menjawab:”Nggak tau deh, yang penting masih deket dengan Misan aja…” “Bapak ini apa sih?”Miss Misan bereaksi risih. Di malam hari, si politisi juga sering mengirimkan pesan “Have a nice dream” dilengkapi emoticon bunga-bunga pada Miss Misan. “Hhh, bapak ini sesuatu…”

Jika lain kali Miss Misan digoda seperti itu lagi, teman kerjanya yang lelaki menyarankankan Miss Misan untuk menjawab:”Anak istri sehat, pak?” Rekan kerjanya itu mengakui bahwa narasumber biasanya memang lebih cerewet pada wartawati.

Karena itulah, Miss Misan merasa sering dijadikan senjata andalan oleh redakturnya saat harus mewawancarai narasumber yang berjenis kelamin pria. Kenapa? Karena ia perempuan, dan wajahnya tidak terlalu buruk, pembawaannya serta cara bicaranya kenes, supel, membuat narasumber itu lupa bahwa mereka memiliki rahasia untuk disimpan rapat-rapat. Apakah itu ‘sexist’? Bisa jadi. Karena Miss Misan ini mengaku ia sering tidak kenal dengan narasumber penting. Cuma politisi-politisi yang ‘klimis dan perlente seperti Ferry M. Baldan dari Nasdem  yang ia idolakan.

Leave a comment

Filed under journalism

Menyoal Alasan Hatta Rajasa Tak Hadir Lagi Bersama Prabowo

Kara Swisher dari blog teknologi Recode pernah mengkritik bahwa para wartawan sering menulis hal-hal yang membosankan ‎untuk para pembacanya. Namun ironisnya, diskusi dan debat mereka di ruang redaksi (newsroom) yang justru lebih menarik dan tajam malah tidak disajikan pada audiens yang haus informasi dan analisis bermutu. Dengan kata lain, para wartawan memendam informasi, analisis dan prediksi logis yang lebih menarik itu bagi kalangannya sendiri dan tidak mau menyebarkannya melalui medianya.

Begitu juga dalam kasus satu ini. Seperti kita ketahui bersama, Prabowo sudah babak belur menderita kekalahan telak dua kali di Pilpres dan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Dalam beberapa kesempatan Hatta memang tak lagi terlihat tampil di depan publik bersama Prabowo Subianto.Tetapi tahukah Anda‎ alasannya?

‎Menurut sumber tepercaya yang juga seorang pewarta, tidak tampilnya Hatta bersama dengan Prabowo dilatarbelakangi oleh hal berikut ini:kubu Prabowo-Hatta sebenarnya sudah terbelah dengan perpecahan pendapat dalam tubuh PAN sendiri. Ada kubu sang tetua PAN Amien Rais dan kubu sang besan Status Quo Hatta Rajasa. Amien mau Hatta terus mendampingi Prabowo, tetapi Hatta sendiri sudah “ogah”. Masuk akal juga. Siapa yang mau berjalan bersama pecundang? Tetapi kalau pecundang itu teman sejati Anda, asumsi ini pasti akan terpatahkan. Dan sayangnya di dunia politik tak ada yang namanya teman sejati, seperti yang ditunjukkan ‘wartawati senior’ Nanik S. Deyang, yang pernah secara terbuka dekat dengan Jokowi dan kemudian menyeberang ke kubu Prabowo lalu menyerangnya dengan cara yang sangat tidak etis dalam koridor jurnalisme.

Bila sumber ini salah, mungkin alasan sebenarnya akan tetap terkubur dan menjadi objek spekulasi kita bersama sebagai bangsa dalam berbagai wacana.

Leave a comment

Filed under journalism

Kantor Transisi yang Sunyi hingga Celoteh Wartawati Jilboobs

IMG_3507.JPG
Alhamdulillah semua kisruh Mahkamah Konstitusi itu berlalu. Sekarang Indonesia ibarat membuka lembaran baru. Season baru, begitu istilahnya kalau kita merujuk ke dunia sinetron atau serial televisi semacam Tersanjung atau Grey’s Anatomy. Kali ini tokoh antagonisnya sudah tenggelam, tetapi mungkin disimpan sutradara untuk ditampilkan secara mengejutkan di episode atau musim selanjutnya, sejenis Georgina Sparks yang jalang lalu bertobat di Gossip Girl. Tarik ulur yang menyenangkan, bak bermain layang-layang. Seru!

Kenapa saya bandingkan politik Indonesia dengan semua serial ini? Karena keduanya sama persis. Semuanya telah diatur di belakang layar. Skenario berjalan dan para aktor menjalaninya. Peran bisa berubah, watak juga demikian. Semua bisa berubah jika sutradara dan penulis naskah atau skenario berkehendak.

Jadi intinya sepanjang pagi tadi saya di sini, hanya untuk mengintai para pemimpin negeri, yang barangkali muncul tanpa peringatan kemari. Dan untuk itu kami – para jurnalis malang ini – bersiaga di depannya.

Saya sudah sampai pagi pukul 10.30, dan disambut hening. Saya pikir saya akan disuguhi keriuhan massa di sana tetapi saya salah besar. Memang dari jauh sudah terlihat mobil-mobil Metro TV dan TV One serta Kompas TV di dekatnya tetapi begitu saya mendekati, senyap. Seorang polisi tua berkumis tebal mengoceh dengan rekannya di perangkat HT miliknya. Ada juga segelintir pewarta TV hilir mudik resah memandang ke dalam melalui pintu teralis bercat putih itu. Tak ada siapapun di dalam kecuali dua orang anak muda dengan bingkai kacamata kontemporer yang bergaya dan celana pas kaki serta sneakers. Entah siapa mereka itu. Waktu solat Jumat mendekat dan saya harus pergi dari sana. Untungnya di Taman Menteng ada jamaah solat Jumat jadi tidak perlu jauh ke Masjid Sunda Kelapa.

Setengah dua siang menjelang sore, saya selesai bersantap siang kemudian berjalan kaki di rimbunnya pepohonan Taman Kodok di dekat jl. Situbondo, Menteng. Sampai di kantor transisi itu lagi, dan tak menemui kerumunan apapun jua.

Namun terlihat sekelompok pewarta di pojok dalam sana. Di halaman rumah yang sempit itu. Seorang petugas Paspampres menyuruh saya menuliskan nama dan paraf di buku besar berjudul “Wartawan”. Saya masuk dan duduk. Suasananya beku, membosankan. Semua orang itu asyik dengan gawai mereka sendiri. Dua orang di meja tengah itu tampak asyik dengan jari jemari mereka. Satu pria berambut sebahu dan satu wanita ber-jilboobs. Maksud jilboobs, kalau Anda belum paham, adalah jilbab yang masih belum syar’i karena terlalu pas di dada dan bercelana ketat.

Semua membosankan. Hingga tiba-tiba wartawati jilboobs dari stasiun televisi kenamaan itu mengawali celotehnya. Cerita-cerita yang cukup menghibur. Saya ikut mendengarkan sembari tetap mengetik, berpura-pura sibuk padahal mengantuk.

Leave a comment

Filed under journalism