Independensi Media Itu Bukan Omong Kosong, Asal…

‎Saya masih ingat kalimat pakar marketing pendiri Mark Plus Inc., Hermawan Kertajaya, dalam acara penghargaan Indonesia Wow Brand yang ia gelar 11 September lalu. “Menjadi media darling itu tidak perlu memiliki media sendiri,”terang pria yang penampilannya masih enerjik di usia senja itu. Saya manggut-manggut. Pernyataannya benar dan menohok, kalau melihat kenyataan lapangan di Pilpres 2014.

Serta merta kami diingatkan Hermawan tentang fenomena para pemilik media yang kalah telak dari Presiden Terpilih RI 2014-2019. Surya Paloh dengan Metro TV-nya kandas menuju kursi presiden dan kemudian memutuskan membela Jokowi-JK. Ada bos besar MNC Group Hary Tanoesoedibjo yang kerap dipanggil orang Ahok, padahal bukan. Kemudian yang paling sering diolok-olok, Aburizal Bakrie dengan TV One dan Viva News-nya yang diserang habis-habisan karena menayangkan hasil quick count paling abnormal dibandingkan stasiun-stasiun televisi lain di Indonesia.

Pernyataan Hermawan seolah mengamini gagasan Ignatius Haryanto yang menulis di kolom Opini Kompas ‎Rabu 23 April 2014. Di artikelnya “Nasib Media Partisan Setelah Pemilu”, Ignatius menulis:

“Oleh karena itu, penting kepada media-media mana pun untuk selalu menjaga independensi karena reputasi media akan ditentukan dari independensinya, dan bukan dari faktor dekat atau tidaknya ruang redaksi dengan perintah sang majikan utama.”

Omong kosong! Tidak ada namanya independensi media setelah pemilik modalnya berafiliasi dengan arena yang diliputnya. Tilik saja kebijakan Kara Swisher dari Recode.net. Ia menolak SEMUA penanam modal dari Silicon Valley dan dunia bisnis pada umumnya. Mengapa? Karena ia terlalu pintar untuk tahu bahwa independensi medianya itu hanya akan menjadi angan-angan begitu ruang redaksinya didanai orang-orang yang juga memiliki hubungan dengan sasaran pemberitaannya.‎

Lalu bagaimana sebuah lembaga pers mendanai aktivitasnya dan menuai laba? Metode pendanaan patungan atau crowdfunding bisa dijadikan alternatif. ‎Kenapa? Karena risiko campur tangan menjadi lebih rendah dari yang dihadapi media dengan pemodal individual atau korporat yang memiliki kepentingan. Dengan banyaknya orang yang memiliki berbagai kepentingan di situs crowdfunding, kemungkinan penunggangan redaksi dengan kepentingan pemilik modal lebih kecil.

Leave a comment

Filed under journalism

Effortless (Read: Sweatless) Yoga

No one in the class is as hard as I am to sweat. While these people are sweating like being boiled in the bowel of mini hell, I feel merely slightly hot. Because of that, I was wondering whether this could be a symptom of disorder or health condition I should be aware of, or maybe hypochondria.

But it might be because my body has so accustomed to all the fitness regimes. Plateau? Do I need to practice harder or more frequently or could it be the time to just adopt another more advanced set of practice?

How about you? Is this happening to yogis or yoginis like you, too?

Leave a comment

Filed under yoga

Alasan Menyukai Oktober

Dulu di kampus, Oktober diperingati setiap tahun sebagai bulan bahasa. Saya tidak tahu mengapa. Mengapa harus Oktober? Apakah karena ada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang mendeklarasikan bahwa bangsa ini memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia?

Apapun alasan memilih Oktober menjadi bulan bahasa, yang penting Oktober merupakan saatnya kami mahasiswa jurusan bahasa berpesta. Dulu, tahun 2001, saya masuk ke jurusan Sastra Inggris. Sebelumnya saya ingin sekali masuk ke Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tetapi itu masih belum pasti karena harus menempuh UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sementara untuk masuk ke UNNES (Universitas Negeri Semarang), jalan saya sudah terbuka lebar. Saya tak perlu mengeluarkan upaya apapun. Tinggal daftar ulang saja dan saya menunggu kuliah dimulai di bulan September 2001. Saya kubur impian menjadi diplomat dan memilih bahasa Inggris yang sudah saya sukai sejak kecil. Sekarang saya bersyukur karena ternyata saya tidak harus menjadi diplomat yang pusing-pusing bernegosiasi menghadapi diplomat negara lain.

Saya masih ingat warna resmi fakultas saya, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, adalah ungu. Ungu? Dan entah kenapa saya juga mengenakan kemeja ungu saat ini. Ungu bukan warna kesukaan saya, tetapi toh saya tiba-tiba pagi ini memakainya. Sebuah dorongan bawah sadarkah?

Ungu kalau ditelaah dari sudut pandang yoga (ya, saya suka yoga) memiliki makna yang bagus. Warna yang sering dikatakan warna janda ini menyimbolkan chakra ketujuh, yang paling atas. Anda bisa menemukan warna ungu ini (bila bisa melihat aura/ chakra) di puncak kepala manusia. Chakra mahkota atau yang namanya Sahasrara itu memiliki fungsi yang penting sekali sebagai jati diri kita sebagai manusia. Chakra ini membedakan kita dari hewan karena di sinilah seorang manusia menyimpan pemahaman spiritualnya, pengetahuan ilahiah, estetika/ keindahan dalam hidup. Di anatomi, organ yang berkaitan dengan chakra mahkota adalah otak yang menjadi pusat koordinasi semua aktivitas dalam badan kita dan kelenjar pineal (antara otak sebelah kiri dan kanan). Ungu juga memiliki kesan magis. Entah apakah semua ini kebetulan atau bagaimana, tetapi rata-rata penggemar bahasa memang suka berpikir dalam, cenderung spiritual (meski tidak selalu relijius). Atau apakah ini juga ada pengaruhnya dari Pluto, planet yang menaungi mereka yang berzodiak Scorpio yang lahir di bulan Oktober?

Di bulan bahasa, kampus kami mengadakan sejumlah acara lomba. Saya tidak ingat persisnya, tetapi banyak sekali hal yang mengasyikkan yang diselenggarakan seperti lomba menulis cerpen, puisi atau semacamnya. Saya tidak pernah mengirimkan karya saya. Saya tidak merasa cukup ‘sastrawan’. Pakaian saya sangat mainstream. Gaya hidup saya biasa saja. Rambut saya juga tidak gondrong sekali. Saya tidak suka merokok, minum kopi dan begadang untuk menulis cerpen, atau puisi atau sekadar membaca karya sastra. Saya merasa risih tampil di depan umum untuk pertunjukan drama dan bersajak. Saya sangat tidak mencerminkan mahasiswa sastra ‘sebenarnya’.

Oktober memang berbeda. Oktober adalah saat musim menjadi lebih basah (terlepas dari kacaunya iklim saat ini). Dan saya suka hujan. Lebih menyenangkan hujan dan kedinginan daripada kepanasan. Karena telanjang pun tidak akan membuat Anda dingin. Kalau kedinginan, solusinya lebih mudah. Tinggal pakai pakaian yang lebih banyak dan lebih tebal.

Oktober juga menjadi bulan sebelum Nanowrimo (National Novel Writing Month) diadakan. Bulan ini menjadi semacam persiapan bagi orang-orang yang ingin menulis novel untuk ‘memanaskan mesin’ dan mulai mencanangkan target yang ambisius untuk menulis ribuan kata menjadi sebuah karya. Soal edit itu urusan belakang. Yang penting menulis dulu. Penulis The Fault in Our Stars John Green juga mengatakan tidak mungkin menulis novel yang bagus dalam sebulan saja, tetapi kalau untuk menulis draft pertama memang bisa dan masuk akal.

Saya suka Oktober juga karena ini menjadi bulan ulang tahun bagi banyak orang di keluarga saya. Ibu saya, saudara-saudara saya. Mereka merayakan ulang tahun di bulan ini. Dan tentunya saya sendiri!

Alasan lainnya adalah menemukan banyak event bahasa dan menulis menarik yang saya bisa ikuti di bulan Oktober. Salah satunya yakni Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2014 yang akan saya ikuti besok hingga Minggu (5/9/2014). Saya akan banyak menuliskan event itu di blog ini nanti.

Leave a comment

Filed under writing

Never Stop Dreaming, She Says. But Why Should I Stop?

We bump into each other at the Y junction nearby. She hides half of her face with a piece of cloth, murmuring,”I hate sunlight.”

“Why?” I am thinking why she brings out this matter out of the blue.

“Because my skin is too sensitive…”

“OK.”

Another thing she wants to avoid is dust. “I’m allergic to dust.” She might be as well work at home rather than going out like this.

And she keeps on complaining on how fucked up the atmosphere of Jakarta has become. Isn’t that news?

She seems to be suffering a lot lately. The temperature is reaching the peak at 34 degrees centigrade and I bet she wouldn’t feel OK with all this.

As our conversation proceeds and we get into the lift, she mentions about why I keep it for myself and should get a help instead from someone I know will not provide help at all. I laugh at the proposition. No way. I say, there’s no way the person would provide assistance and I never want to be so much indebted to anyone else in terms of my career advancement.

She leans on the wall and adds,”Never stop dreaming.” Because she is now thinking of realizing her dreams as well.

Good luck with your future endeavor, I say by heart. And of course, mine.

Leave a comment

Filed under miscellaneous