The September Project is Coming!

Nanowrimo (National Novel Writing Month) is still 2 months ahead and I cannot wait for the Ubud Writers Readers Festival (UWRF) on October 1-5 next month. Hence I decide to write something from now. Something worthwhile that I can bring to UWRF. The deadline would be my departure to the island of gods and goddesses. Sounds ambitious, but I have to.

IMG_3549.JPG

Leave a comment

Filed under writing

7 Hari Tanpa Shampoo

Tanpa shampoo selama seminggu bukan artinya rambut saya berbau tak sedap, atau berketombe, atau kusam. Justru malah terasa lebih seimbang – tidak terlalu kering atau berminyak. Itu yang saya rasakan selama sepekan bereksperimen.

Semuanya berawal saat saya kemarin iseng membaca artikel di dinding Facebook seorang teman. Teman saya berpikir sungguh absurd untuk berkeramas dengan telur sebagai salah satu bahan alami ‎pengganti shampoo. Bayangkan telur mentah yang amis itu ada di rambut Anda. Tetapi jujur saya pernah dulu melakukannya karena penasaran saja. Kalau ada shampoo yang mengklaim memiliki kandungan telur dan madu yang bisa membuat rambut berkilau, saya lalu berpikir, kenapa harus pakai shampoo? Sekalian saja saya pakai telur untuk cuci rambut supaya nutrisinya lebih utuh, tidak rusak. Saya selalu skeptis dengan klaim-klaim marketing produsen shampoo zaman sekarang. Sealami apapun mereka mengklaim, tetap saja saya pikir yang terbaik adalah bahan yang tersedia di alam.

Karena rambut saya sering terasa kering, saya pikir akan lebih baik jika saya mencoba minyak-minyak alami untuk membuatnya lebih lembab. Karenanya di malam hari, saya mencoba menggosokkan minyak biji wijen atau minyak zaitun ke rambut lalu memijat kulit kepala perlahan. Dan biarkan saja semalam suntuk. Asal Anda tidak menuangkan dalam jumlah berlebihan, Anda tidak perlu cemas sarung bantal akan berminyak atau kotor. Cukup pakai sekitar 1 sendok teh minyak alami tadi lalu ratakan dulu di telapak tangan dan sapukan ke seluruh bagian rambut hingga kulit kepala. Kadang saya juga ambil gel lidah buaya lalu meratakannya ke rambut dan kulit kepala. Gel itu akan segera kering saat rambut kena angin, jadi jangan takut bantal akan kotor.

Besoknya karena rasanya rambut agak lengket dan lepek karena minyak, pakailah air perasan jeruk lemon atau jeruk nipis untuk diratakan ke rambut dan kulit kepala. Angin-anginkan sebentar. Fungsi lemon ini ialah menyerap minyak yang ada dan membuat lingkungan rambut lebih kering secara alami tanpa membuatnya terlalu kering, kondisi yang kemudian bisa memicu ketombe. Lalu cucilah perlahan dengan air bersih, pijat kulit kepala pelan untuk menggugurkan sel kulit mati yang bisa menjadi ketombe dan mengenyahkan bau yang kurang enak di rambut. Kalau lemon bisa membuat piring-piring kita bersih, kesat dan segar dari lemak rendang dan gulai, pastinya ia bisa membuat rambut kita lebih bersih juga bukan? Dan kalau belum yakin bau rambut Anda sudah netral (bukan aroma wangi yang menusuk hidung khas shampoo), Anda bisa gunakan air lemon untuk diratakan ke rambut lagi supaya lebih segar.

Mungkin Anda penasaran, apa yang saya lakukan kalau saya berkeramas. Sejujurnya saya sepekan ini justru lebih sering mencuci rambut, hanya saja bedanya saya memakai air bersih saja. Tanpa shampoo lagi. Setespun tidak. Bahkan dengan air tawar yang bersih saja rambut sudah tidak berbau dan lebih bersih, asal Anda tidak cuma mengguyur tetapi juga memijat lembut kulit kepala dan rambut yang lebih lama. Basahi dengan air, kemudian pijat kulit kepala dengan lembut berulang kali. Belum puas? Basuh dan pijat perlahan lagi. Selain membersihkan kulit kepala secara alami, pijatan lembut dalam kondisi basah membuat peredaran darah di kulit kepala lebih lancar. Jadi kuncinya rambut bersih sebenarnya bukan shampoo, tetapi air bersih dan pijatan yang banyak!

Bagi Anda yang mengeluhkan kerontokan rambut, cobalah berhenti memakai shampoo apapun lalu rasakan bedanya. Berdasarkan pengalaman selama 7 hari ini, saya amati rambut saya malah lebih sedikit yang rontok karena berhenti menggunakan shampoo sama sekali. Memang saya tidak mengalami rontok hebat tetapi saat disisir dan dibilas rambut yang jatuh lebih jarang. Cukup menggembirakan terutama bagi para pria muda yang cemas mengalami kebotakan dini.

Proses transisi saya ke era tanpa shampoo mungkin masih akan berlangsung lebih panjang daripada sepekan. Dan saya akan bereksperimen dengan bahan-bahan alami lainnya yang tak kalah bagusnya. Misalnya merang (batang padi yang sudah menguning lalu dibakar sampai hitam dan abunya direndam semalam suntuk, untuk mencuci dan menghitamkan rambut secara alami) atau daun mangkokan (biasanya ditanam sebagai pagar hidup di rumah-rumah di Jawa Tengah dan sekitarnya).

7 Comments

Filed under health

Menulis Itu Harus Egois

‎Menulis untuk orang lain itu susah, dan memang tidak seharusnya begitu. Apalagi kalau masih dalam tahap belajar. Makin terfokus pada pembaca, penulis biasanya makin stres. Dan meski stres itu bagus untuk memacu konsentrasi dan kinerja, jika berlebihan tentu dampaknya pada kreativitas berpikir seorang penulis juga kurang baik.

Menyaksikan wawancara Stephenie Meyer dengan Times, saya menyimpulkan menulis yang paling mudah adalah untuk diri sendiri. Meski untuk diri sendiri, bukan artinya bisa asal-asalan! Kita bisa ambil contoh dari catatan diari yang kata Dewi Lestari mirip “diare” verbal. Encer, keluar terus sampai si pemilik lemas, tapi miskin ampas alias esensi atau intisari yang bisa dipelajari. Maaf kalau deskripsinya terlalu memualkan.

Begini jawab Stephenie Meyer kurang lebih saat ia ditanya untuk siapa ia menulis Twilight:”Saya menulisnya untuk diri saya sendiri.” Dia tidak menulis Twilight untuk menyenangkan orang lain atau untuk dinikmati untuk orang lain tetapi karena ia ingin menulis buku yang ia hendak baca dan nikmati sendiri. Atau dengan kata lain, ia ingin menulis buku yang sesempurna mungkin di dalam benaknya demi kepuasan diri pertama-tama. Orang lain nanti dulu.

Menurut saya, pendekatan semacam ini patut dicoba. Dan ini bukan soal salah atau benar, terbukti atau tidak, tetapi lebih pada cocok atau tidak cocok karena tiap penulis memiliki gaya dan motivasi menulis yang unik.

Saya juga pernah mendengar novelis Ann Patchett ‎tidak mau mengikat kontrak buku dengan penerbit sebelum ia memang memiliki idenya dulu. Jadi Patchett menulis karena ide dalam dirinya dulu, bukan karena dipaksa oleh kontrak. Ia lebih menghargai dorongan internal dalam dirinya selama proses kreatif menulis daripada kekuatan eksternal seperti ketakutan karena melanggar tenggat waktu dan semacamnya. Saya suka pemikiran itu karena Patchett memperlakukan menulis sebagai ritual sakral, yang meski hasil kerjanya bisa dikomersialisasikan kemudian untuk mencari penghidupan tidak membuatnya terlalu murahan. Murahan adalah saat penulis menulis demi bayaran, royalti dan imbalan semata tanpa memiliki ide otentik dan idealisme serta pesan positif yang unik di dalamnya. Jiwa menulisnya rela dibiarkan tercerabut dari akarnya demi uang atau motif lain yang lebih dangkal atau keuntungan jangka pendek.

‎Jadi kalau saya harus menulis untuk lomba pun rasanya akan berbeda dibandingkan jika kita menulis karena dorongan dan inspirasi dari dalam benak. Itulah mengapa rasanya saya lebih susah menulis jika dorongan eksternal terlalu banyak bermain. Rasanya aneh, apalagi jika Anda menulis karya fiksi.

Menurut Anda?

2 Comments

Filed under writing

Menggugat Definisi Ibukota

‎Hidup di Jakarta tidak sekejam yang banyak orang bayangkan. Malah pada dasarnya mengasyikkan. Asal Anda memilih gaya hidup yang masuk akal, lingkaran sosial yang tepat, tempat tinggal yang aman, nyaman, bersih dan bekerja sesuai dengan passion disertai kerja keras dan cerdas yang di atas rata-rata, Anda bisa melesat setinggi apapun di sini. Atmosfer meritokrasi modern lebih kental di sini daripada di kampung halaman, setahu saya sejauh ini.

‎Bagi saya sendiri, Jakarta dapat diibaratkan sebagai seorang bapak yang tegas tetapi penyayang. Pameo selama ini yang menganggap Jakarta kota nan kejam melebihi kekejaman ibu tiri sudah usang. Saya bosan mendengarnya. Kita tidak lagi hidup di zaman Bawang Merah dan Bawang Putih atau Cinderella yang membuat banyak orang ketakutan dengan istri baru bapak mereka. Lagipula hal itu tak masuk akal juga. Kalau ada anak diperlakukan kejam oleh ibu tiri, mana mau ia kembali kepadanya? Sementara ia bisa lebih bebas dan merdeka di luar sana. Analogi itu terasa kurang pas bagi Jakarta yang sekejam-kejamnya masih saja dikerumuni pendatang baru setiap waktu, tidak hanya pasca Lebaran.

Jakarta mungkin ‘kejam’ bagi sebagian orang tetapi tak dapat dipungkiri bahwa di sini rejeki itu paling banyak berakumulasi. ‎Dan arti ‘kejam’ itu mungkin bermakna tegas. Jakarta seperti bapak yang menempa anak-anaknya. Ia membina jiwa-jiwa manusia di dalamnya menjadi lebih tegas, lebih asertif, lebih blak-blakan, dan lebih tangguh untuk seterusnya. Itulah yang saya rasakan. Saya menjadi lebih berani, nekat dan tak segan bermimpi besar, bekerja dan bertaruh demi masa depan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah pengalaman Anda tentang Jakarta juga sama dengan saya? Silakan berbagi di kotak komentar.

Leave a comment

Filed under miscellaneous