Arianna Huffington, Buku, dan Tidur

kantor arianaEntrepreneur media yang dikenal sebagai pendiri portal berita terkemuka The Huffington Post Ariana Huffington dikenal dengan gayanya yang cerdas dalam menyampaikan pesan-pesannya melalui buku-bukunya seperti Maria Callas, The Fourth Instinct, Picasso, Third World America, The Gods of Greece, Wheaties dan Fearless.

Huffington mendesain kantornya dengan gaya simpel. Buku-buku tampak memenuhi meja kerja dan rak bukunya yang tinggi dan lebar. Sebagai pimpinan media, ia memahami bagaimana ia harus banyak membaca dan mengetahui banyak pemikir-pemikir melalui buku-buku tebal tersebut. Begitu penuhnya ruangan kerja perempuan yang pernah mencalonkan diri sebagai pejabat publik itu dengan buku hingga banyak yang sampai berjatuhan di mejanya dan harus diletakkan di lantai.

Dinding kantornya yang terbuat dari kaca bening memang dirancang agar dapat memandang lepas ke dalam ruangan redaksi Huffington Post yang menjadi ruang kerja yang menyatu bagi ratusan editor situs media baru itu.

Ibu dari dua anak ini juga mencintai keluarganya. Hidup dan tinggal dengan dua anak perempuannya, ia memasang banyak foto mereka dalam pigura coklat di meja kerjanya. Salah satu anak perempuannya memiliki ketertarikan besar dalam dunia seni lukis dan ruangannya itu juga memajang sebuah lukisan indah hasil sapuan kuas sang putri.

Untuk memantau arus informasi secara real time, Huffington memasang dua televisi layar datar di depan meja kerjanya. Keduanya menyala dalam waktu bersamaan dengan menunjukkan siara dua stasiun televisi yang yang berbeda.

Wanita ini juga memiliki ruangan khusus untuk tidur sejenak agar lebih produktif saat bekerja. Pengalamannya sebagai seorang pekerja keras yang hampir kehilangan kesehatannya sendiri beberapa tahun lalu membuatnya sadar bahwa beristirahat juga menjadi bagian penting rutinitas entrepreneur yang harus dilakukan jika ingin tetap produktif.

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Mencicipi Taichi Gratis di Taman Suropati

IMG_3932.PNG
Senam taichi itu sangat mengasyikkan. Keasyikan itu bukan terletak dalam gerakan-gerakan yang enerjik dan membuat keringat mengucur, tetapi pada gerakan lembut yang menyimpan tenaga untuk kemudian diletupkan sesekali dan ditarik kembali ke dalam diri.

Teman saya yang lebih banyak tahu setelah bertanya pada sang guru (Laoshi) Koh Alo yang dikenal sebagai pengajar taichi di kelenteng Pinangsia itu mengatakan bahwa taichi tidak berbeda jauh dari yoga. Ada aspek-aspek tak kasat mata yang harus dijiwai, dirasakan, ditelusuri lebih dalam dengan penghayatan yang mendalam. Sehingga kita tidak cuma melakukan rangkaian gerakan tetapi juga napas dan energi kehidupan yang kerap disebut prana atau chi.

Dan saat saya katakan rumit, teman saya menampik,”Tidak juga. Tidak sekadar nafas, tapi juga pengendalian dan tien dan aliran chi.”

Saya putuskan untuk mencoba barang sejenak, 10-15 menit. Sebelum berlatih bersama, para peserta yang kebanyakan orang awam yang penasaran seperti saya diatur posisinya menghadap timur, dan membentuk segitiga yang meruncing, dengan sang guru di ujung terdepannya. Mirip seperti kawanan burung merpati yang terbang. Apakah ada alasan tertentu mengapa harus di formasi seperti itu? Saya belum sempat bertanya lebih jauh.

Kurcaci

Pendek itu kurang elegan. Setidaknya itu menurut ibu kos saya. Menurut doktrin yang ditanamkan padanya — dan juga pada banyak orang — berbadan pendek membuat kita rendah diri, kurang dihargai orang. Saya juga berpikir begitu. Dulu.

Persetan! Begitu rutuk saya dalam hati sekarang. Makian itu saya lontarkan dari kubangan keputusasaan. Kami berdua adalah korban dari semua orang yang ingin menarik keuntungan dari kampanye “Better Taller” (anggap saja parodi dari “Better Together” yang ada di Skotlandia sana) yang telah ada sejak zaman dahulu kala.

“Dulu aku dikatain pendek,”kenang bu kos,”lalu disuruh gelantungan di kusen pintu tiap pagi biar tinggi. Tetep aja kalo bibitnya pendek ya jadinya pendek.” Suaranya makin melemah saat mendekati kata PENDEK, seakan ia ingin menghindari mengucapkannya. Risih, atau geli, mungkin gabungan keduanya. Tetapi apa mau dikata, Tuhan menakdirkan tubuhnya hanya menjulang setinggi 150 cm.

Trik lain untuk mempertinggi tubuh yang kita miliki adalah menarik-narik leher kita sendiri, sekuat mungkin. Namun, tidak sampai memutus urat leher kita juga. Tidak membuahkan hasil juga, keluh bu kos.

Menyedihkan. Lalu ia membiarkan saja tubuhnya tumbuh apa adanya. Memang kalau tidak tinggi kenapa? Toh masih bisa bernapas dan berguna juga bagi sesama. Ia memasak dan mencuci pakaian kami semua, dan keluarganya juga, setiap hari. Kurang apa lagi? Bisa dikatakan ia membanting tidak cuma tulangnya, semua daging dan lemak tubuhnya juga. Bayangkan saja harus mengurus keluarga 24 jam sehari 7 hari seminggu, belum lagi mengurus anak-anak kos yang sering berulah (kecuali saya, ulah paling bengal saya ‘cuma’ minta makan berulang kali).

Obsesi itu juga pernah saya derita. Dalam hati, saya ingin setinggi pemain NBA. Bukannya saya maniak bola basket, hanya penonton sesekali saja. Cuma agar terlihat lebih menjulang. Sedikit saja, tidak banyak.

Melihat iklan di sebuah koran yang memajang foto dan testimoni mereka yang berhasil menjadi setinggi orang Kaukasia, saya pernah kalap membeli alat yang konon bisa meninggikan tubuh itu. Bentuknya cuma sebuah penarik dagu yang harus dipasang di kusen pintu. Tiap hari setidaknya beberapa kali alat itu harus digunakan agar cepat tinggi. Lalu minum susu kedelai. Dan yang tak kalah absurd, makan jus kecambah segar. Tidak boleh diseduh air hangat! Harus segar! Bisa dibayangkan baunya. Kecambah-kecambah itu harus ditanam khusus di media tanam yang bersih seperti kapas agar bisa dimakan utuh. Kalau tanah, nanti agak jijik juga meski sudah dicuci. Biji-biji kacang hijau direndam semalam suntuk dan ditanam di pot beralaskan kapas steril lalu dipanen setelah beberapa hari tumbuh memanjang. Setiap hari tak kurang dari segenggam tangan kecambah segar harus dilahap habis jika, kata si penulis buku peninggi badan itu, saya mau lebih tinggi. Alhasil, bukan tubuh yang tinggi yang saya akhirnya dapatkan, tetapi sistem pencernaan saya yang lebih lancar, kulit saya yang menjadi lebih cerah, dan kesehatan fisik saya yang membaik berkat makanan super bervitamin tinggi yang bernama kecambah. Jika sekarang saya makan ketoprak betawi dan masih menjumpai kecambah segar, rasanya saya rindu makan kecambah lagi, meskipun jumlah dan frekuensinya tidak segila yang dahulu.

Putri, anak kos satu itu, juga mengikuti jejak kami. Ia mau lebih tinggi. “155 senti kurang tinggi, kak. Aku mau 160,”ia menetapkan target. Tidak terlalu muluk-muluk sebetulnya tetapi ia lupa umurnya bukan belasan tahun lagi.

“Emang kenapa sih mau lebih tinggi?”tanya bu kos penuh keingintahuan. Apakah ia mau mendaftar menjadi model, atau pramugari, atau polwan?

“Bukan. Ya, pengin aja,”Putri menjawab singkat.

“Tinggal pakai high heel aja sih,”saran saya. Saya pikir itulah hak prerogatif seorang wanita yang ingin semampai dalam seketika:memakai sepatu berhak setinggi yang mereka mau dan mampu.

Putri baru beberapa hari ini membeli pil-pil peninggi badan dari penjual di situs online. Dari pengalaman masa lalu, saya hanya bisa menanggapi optimisme Putri yang membuncah karena kehadiran pil ‘ajaib’ itu dengan skeptisme yang terbungkus rapat oleh senyum yang dimaksudkan sebagai penghiburan baginya. Biarlah waktu yang membukakan matanya bahwa semua ini cuma impian belaka, batin saya. Sementara di sisi lain, saya juga mau tahu,”Bagaimana kalau ia benar-benar tinggi? Pil apa sih itu? Mau dong satu!!!”

Meskipun kami hanya kurcaci, yang tidak setinggi Snow White dan pangerannya, kami sadar tinggi badan yang seperti ini yang paling sesuai untuk kami. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan kalau saya bertubuh 6 kaki alias 180-an cm. Kalau harapan saya itu terkabul, besar kemungkinan melakukan pose-pose yoga tertentu akan menjadi lebih sukar bagi saya daripada dengan tinggi badan sekarang yang cuma 163 cm. Seperti pernah saya bahas dulu dalam sebuah tulisan di blog ini juga, kriteria badan ideal seorang yogi lain dengan kriteria badan ideal dalam olahraga lain misalnya renang, bina raga, bulutangkis, sepakbola, atau catur (?). Akan tetapi, bisa dikatakan badan ideal yogi mirip dengan badan ideal para pesenam (gymnast). Tubuh yang lebih pendek memungkinkan efisiensi energi yang lebih tinggi saat bermanuver. Cilik itu lincah, penuh vitalitas. Besar dan tinggi mungkin juga bisa cepat, tetapi lincah? Susah juga. Yogi dan pesenam memiliki kemiripan karena mereka juga sama-sama mengandalkan berat tubuh, kelenturan dan kekuatan dalam melakukan gerakan-gerakan yang luar biasa sukar bagi kebanyakan orang. Makanya, saya tidak terlalu kecewa saat mengetahui bahwa menjadi tinggi tidak sepenuhnya enak. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat datang ke sebuah masjid dengan jamaah solat Jumat yang membludak hingga ke teras-terasnya. Saya masih bisa masuk ke ruang-ruang kosong yang ditinggalkan orang-orang lebih besar dan tinggi. Mereka tahu sujud dan rukuk akan membutuhkan ruang yang lebih luas, dan saya tidak perlu.

Dengan tinggi yang seperti ini, saya juga dengan mudah bisa menyelinap tanpa kesulitan berarti jika ada dalam kerumunan. Seorang teman suatu kali mengatakan saya seharusnya menjadi anggota BAIS. Saya bertanya apa itu. Teman saya menjelaskan itu mirip BIN, Badan Intelijen Negara. Ia lontarkan kalimat itu karena saya sering tidak terlihat di antara banyak orang, sering dicari-cari karena dianggap hilang atau sudah pergi tetapi kemudian tiba-tiba muncul menyapa atau menepuk bahu orang dan dianggap jinak atau tidak berbahaya. Banyak orang kerap memaki-maki saya karena saya dianggap mengagetkan mereka dengan muncul dari belakang tanpa peringatan dan suara berisik. Semuanya tanpa suara langkah kaki atau suara mencurigakan yang berarti. Bayangkan jika saya lebih tinggi, yang artinya berat badan saya juga lebih banyak dan pastinya langkah saya akan lebih berat. Tentunya gerak kaki saya juga akan terdengar lebih mudah.

(Image credit: Commons.wikimedia.org)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,693 other followers

%d bloggers like this: