Tentang Damai

Berikut adalah ringkasan dari apa yang disampaikan oleh Mala dari Brahma Kumaris, organisasi spiritualis yang diundang ke Yoga Gembira, Taman Suropati hari Minggu tanggal 11 September 2011. Temanya ialah perdamaian.

Mala yang berasal dari Australia ini mengutip sebuah kalimat inspiratif dari Mahatma Gandhi di awal pertemuan: “Be the change you want to see the world”. Kemudian ia berkata dalam bahasa Indonesia yang tergolong amat lancar bagi ekspatriat, “Dalam konteks perdamaian maka bisa diubah menjadi: “Be the wave of peace you want to see the world””.

Mala kemudian bertutur panjang lebar tentang bagaimana mencapai kedamaian batin dalam diri kita. Kedamaian batin, menurutnya, tercermin dalam:

-Stabilitas/keseimbangan emosi

Dalam hidup pasti ada naik turun, fluktuasi, tetapi jika seseorang damai dalam batinnya, ia bisa stabil, menyeimbangkan diri. Pikiran berfluktuasi karena emosi karena itulah emosi perlu dikendalikan.

-Ketenangan sehingga tidak mudah terpancing.

Pause button dalam diri seseorang. Ia tidak bereaksi secara langsung. Mengheningkan diri sebelum bereaksi, mengambil keputusan, berbicara.berpikir lebih pelan, untuk melihat lebih jelas dan ambil tindakan yang lebih bijak. Terlalu cepat ambil keputusan, bisa berbuah petaka.

– Kesabaran

Kesabaran dalam menerima dan memahami sesama, suatu wujud kedamaian karena tak merasa terancam. Saat tak nyaman, kita cenderung hostile.

-Kesukarelaan

Saat terpaksa melakukan sesuatu, hati tidak damai karena merasa terkekang. Berpikir jernih dan damai kita bisa melakukan semua hal dengan sukarela, datang dari diri kita sendiri, bukan karena situasi.

-Harga diri yang bisa dipertahankan

Orang sakit merasa tidak bisa mempertahankan harga dirinya karena tidak bisa bermakna pada orang lain. Pertahankan harga diri dalam sakit, musibah itu adalah wujud kedamaian batin.

-Kemampuan merelakan

Ketenangan batin tercapai saat kita bisa melepaskan pengalaman buruk dari pikiran.

Kedamaian harus dimulai dari diri kita. Saat kita terus menuntut dunia eksternal di sekitar kita untuk damai sebagai prasyarat agar diri kita bisa merasa damai, maka kita tak akan merasa damai. Dengan meditasi dan yoga, kedamaian ini bisa dicapai.

Bagaimana kita bisa menerima orang yang berbeda?

Pahami bahwa setiap orang itu unik, karena memiliki misi hidup yang berbeda dari kita. Sebab lain kita sulit menerima orang lain ialah karena kita selalu punya harapan/ tuntutan terhadap orang lain. Saat orang lain tidak bisa memenuhi harapan kita, kita menolak kehadiran mereka. Meskipun tujuan sama, cara untuk meraih bisa berbeda.

Saat memaksa orang menuruti kemauan/ tuntutan kita, kita pada dasarnya belum paham akan drama kehidupan ini.

Perjalanan hidup mereka juga berbeda dari kita. Ibarat kita tengah menumpang kereta, kita tidak bisa memaksa penumpang lain untuk menempuh rute yang sama dan turun di stasiun yang persis dengan kita. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk selalu ada di samping kita.

Ada hikmah/ pelajaran dalam segala kejadian dalam hidup ini

Segala sesuatu di alam ini terjadi untuk alasan tertentu. Tidak ada kebetulan, tidak ada yang salah (kata “salah” hanya label dari manusia, karena suatu hal tidak sesuai keinginannya). Dengan menggunakan cara pandang seperti itu dalam memaknai semua peristiwa dalam kehidupan, kedamaian dalam batin akan lebih mudah dicapai. Dama itu juga berarti kita bisa menerima sesuatu apa adanya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam sudah tercatat dan kita hanya menjalani yang sudah ditakdirkan. Perlu waktu untuk memahaminya, “Apa maknanya bagi saya? Bagaimana ini memperkaya saya?”

Pengalaman pahit atau manis akan bisa digunakan sebagai bekal hidup dan ditularkan ke orang lain.

 

Bagaimana saya harus bereaksi terhadap tuntutan dari suatu situasi yang saya belum mengerti?

Pertanyaan reflektif ini perlu kita tanyakan pada diri sendiri saat berkata, “Saya punya satu pengalaman buruk, sangat buruk, tak ada hal positif di dalamnya”.

Kita perlu menganggap setiap hal dalam hidup, termasuk peristiwa/hal terburuk , sebagai sebuah hadiah indah yang terbungkus rapat oleh kertas rombeng. Kita perlu membukanya dengan perlahan.

Kedamaian memang tercapai saat tidak ada gangguan tetapi gangguan justru bisa menunjukkan seberapa baiknya kita dalam memelihara ketenangan batin. Setiap gangguan membawa kita ke tingkatan kedamaian yang lebih dalam. Jadi kalau kita masih merasa terganggu, kedamaian batin kita belum begitu dalam. Maka kita perlu memperdalam kembali.

 

Saat kita menghadapi orang yang marah, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menghadapi kemarahan sebaiknya dengan memahami alasan mengapa ia marah. Seseorang tidak akan marah tanpa sebab yang  jelas. Saat kita berusaha memahaminya, perasaan marah kita sebagai balasan kepadanya akan teredam.

Orang yang marah itu bak seorang pengemis. Orang yang tengah marah adalah pengemis dalam pengertian emosional dan psikologis. Ia perlu empati, kasih, solusi, perhatian dari orang-orang yang mereka marahi. Tanyakan pada diri kita, “Apa yang orang ini butuhkan dari saya?”  Posisikan diri kita sebagai pemberi agar kita tidak larut dalam kemarahannya. Saat kita berada dalam posisi memberi, kita akan terlindung dari serangan emosi negatif orang lain. Ini bisa diterapkan di masa modern saat banyak manusia bertindak tanduk layaknya penyedot debu yang suka mencari untung tanpa memberi. Mereka terus menuntut tanpa memenuhi kewajibannya.

Apa yang bisa dilakukan saat kita tidak bisa menemukan sisi positif seseorang?

Kadang kita begitu benci dengan seseorang hingga kita menjadi buta dengan sisi-sisi baik yang mereka miliki. Adalah sebuah kemalangan bagi kita sendiri jika kita tak bisa menemukan sisi baik seseorang. Ego kita membutakan kita, menganggap orang lain lebih rendah. Kita lupa bahwa seseorang itu buruk di mata kita bukan karena orang lain itu tidak punya sisi baik sama sekali. Justru yang patut dikasihani ialah kita yang tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri orang lain.

Dunia nan damai terwujud dari diri sendiri.

Namaste!

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in yoga and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Tentang Damai

  1. Pingback: Yoga Itu Tidak Haram, Asal… « A Tweetsmith's Blurting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.