Peace is Everywhere‏ (A Post by Harry Purnama)

Saya sedang berdiskusi tentang “rasa damai” dengan sahabat saya, Adolf Posumah, seorang penikmat hidup yang menemukan masa “keemasannya” setelah pensiun dari dinas ke dinas di media massa TV, di gazebonya di Depok kemarin malam. Intinya di rumahnya sendiri ia telah menemukan rasa damai, yang tanpa melalui jalur “banyak uang,” melainkan melalui jalur “dekat dengan sang Maha Besar”, Melalui jalur sunyi dari keramaian hiruk-pikuk “semua serba duit” itu,  ia mengaku telah menikmati hidup damainya mulai dari halaman rumahnya sendiri, di dalam kamar tidurnya sendiri dan di setiap interaksinya dengan manusia lainnya setiap hari, setiap saat. Ia menjadi sosok serba sederhana dan suka berbagi. Dalam kesehariannya, ia melakonkan gaya hidup S 3 [senang, sehat dan selamat] seperti yang juga saya perankan sehari-hari. Rasanya kami telah menemukan rasa damai di dalam diri kami.Plot gaya hidup macam itu, berbeda dengan  kisah nyata anak muda Amerika.  Ia berusaha menemukan jalan kedamaian dengan hidup menyendiri terasing di tengah hutan Alaska. Kisah nyata penemuan rasa damai dan kematiannya di mobil van hutan Alaska, difilmkan dalam “Into the Wild,” tahun 2007,  yang mengajarkan sekali lagi sebuah prinsip bahagia. Si pemuda itu, Christopher McCandless, akhirnya, sebelum ia mati di vannya, menemukan bahwa bahagia itu bukan “hidup menyendiri di hutan.”  Bahagia adalah ketika kita berbagi kehidupan dengan yang lain [ a happiness is a sharing with others or to be happy is to share]. Di dalam berbagi, ada kehilangan, tapi yang lebih besar dari itu adalah rasa mendapatkan kembali dari apa yang telah hilang. Rasa sensasi bahagia itu a.l. rasa senang dan tenang bercampur rasa damai yang semuanya menjadi satu, plus kelegaan [intangible things, non-fisik, spiritual experiencs, enlightenment, mind full awareness].

Seperti si penemu rasa damai, melalui jalur “banyak perjuangan diri,” John Locke, Pierre Bayle, Voltaire, Montesquieu, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Thich Naht Hanh, Dalai Lama, Martin Luther King Jnr, Nelson Mandela, Mother Theresa, Rabindranath Tagore, Jimmy Carter dll, dan para pencari kedamaian lainnya, ternyata telah menemukan rasa damai di mana saja. Damai di mana saja, ia tidak mengikatkan dirinya hanya di satu lokasi seperti di dalam gedung ibadah, atau di doa akbar outdoor, atau saat beryoga, atau retreat di Plum Village Perancis atau meditasi di Ubud Bali, tetapi damai itu hadir di setiap kepercayaan, di setiap interaksi, di setiap agama dan di setiap suku bangsa dan di setiap geografi. Damai dimana-mana saja.Anda benar, kedamaian itu, so called diatas sukses dan kebahagiaan, hendaknya ditemukan oleh setiap individu yang rindu dan ingin terus berjuang untuk menemukan sendiri rasa damai dari dalam hatinya [naturally felt]. Kapan? Ketika yang baik hadir dan yang jahat ditinggalkan.

Rasa damai,  bukan dicurahkan, bukan dihadiahkan, bukan ditularkan, dari tokoh damai, atau dari si tokoh agama, atau dari si guru atau dari si suhu atau dari si sufi atau dari si pejalan damai.  Rasa damai macam ini, biasanya temporary, hangat-hangat…dan segera menguap kembali, yang tertinggal tinggalah kegelisahan, kekhawatiran, keserakahan, sakit hati, envy, heartburning dll, yang menjauhkan keadaan batin dari rasa damai dan senang.

Kita, every person,  harus menemukannya sendiri di ruang keluarga rumah kita masing-masing, di corak jalan kehidupan kita masing-masing dan di takdir kita masing-masing. Di situlah rasa damai itu tersedia, seperti kata bijak tua: “Tuhan ada dimana-mana juga di dalam hati.”

Namun, rasa damai itu senantiasa bisa dibagikan untuk menjadi “inspirasi” bagi manusia lain agar menemukan rasa damainya “sendiri,” dengan caranya sendiri dan dengan konteksnya sendiri. Rasa damai itu dimana-mana ketika kita “berusaha membantu mahluk lain dan ketika tidak bisa, paling tidak kita tidak menyakitinya.” Di situlah bermuara pencerahan sempurna setiap ciptaan, termasuk diri kita sendiri.

Thank you.
Salam work & life balance [WLB]

Harry “uncommon” Purnama
Mature Leadership Center
Pesona Khayangan DS 4, Depok 16411, Jabar
Tel. 021.70.631.632.
Mob
. 0821.3147.7119, 0817.9890.292

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.