Parodi Yoga (3)

Pengantar

Kawan-kawan, pada hari ini, 8 Sepetember 47 tahun yang lalu Badan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO, menetapkan Hari Literasi Internasional untuk mengingatkan warga dunia tentang pentingnya budaya menulis dan membaca, termasuk juga mencintai karya-karya sastra. Pada postingan yang lalu, banyak teman yang terhibur dengan tulisan saya yang sedikit nyleneh itu, dan malah beberapa, seperti Dini Saptaningrim “memohon” saya untuk menulis Parodi lagi. Mungkin karena teman-teman prelu hiburan setelah sebulan dalam suasana surius terus berpuasa. Sambil cari-cari ide mau nulis apa untuk memenuhi aspirasi teman-teman, dan untuk memperingati hari yang penting itu, dan kebetulan dulu saya pernah nyicipi sekolah di Fakultas Sastra, saya mau menulisParodi Yoga kali ini yang sedikit-sedikit menyerempet sastra alias ke-sastra-sastra-an. Begini jadinya….

 

Ajal dan Luna Maya

Siang-siang waktu nonton Kungfu Panda 2 di Plaza Senayan, sahabat baikku telpon, kasih kabar duka kalau ada seorang kawan dirawat di rumah sakit dalam kondisi gawat. Segera aku meluncur ke Rumah Sakit Harapan Kita yang muacet-cet. Sama sekali tidak menyangka, kalau kawan yang sakit itu, yang dulu amat cepat tanggap, bergerak lincah dinamis, banyak aktif dalam kegiatan sosial, dan kalau sedang bicara selalu penuh semangat, termasuk ketika menyampaikan ide-idenya yang buaaanyak. Di tangan dinginnya, siaran radio yang dikelolanya menjelma menjadi radio yang cukup fenomenal di sekitar hari-hari tumbangnya rezim Suharto karena siaran keberpihakkannya pada perlawanan represi tirani. Betapa cepat perubahan suasana, dari tontonan film yang penuh homor namun penuh renungan juga di studio teater yang berada di dalam Plaza prestisius yang penuh boutique bermerek terkenal dan perempuan modis lalu-lalang, ke ruang dingin rumah sakit yang menakutkan – penuh wajah murung dan duka. Selang beberapa saat, kawan kami yang sakit itu meninggal. Benar juga kalau Chairil Anwar pernah menulis dalam puisinya bahwa ajal itu seperti musang: mendekat dan berkhianat…Tikam kita dari belakang/ tika kita tidak melihat…! Waktu menunggu, aku dan sahabat baikku rasan-rasan betapa berharganya kesehatan itu. Sebesar-besarnya gaji dan uang sogok yang anggota DPR terima, kalau sakit, sakit gigi aja, atau sariawan yang sepele, ketika untuk makan pasti akan kerepotan. Seperti teks kata-kata bijak yang kawan lain di seberang benua kirim, “Money can buy bed, but can’t buy sleep…”,dan seterusnya, dan sebagainya. Dalam arti yang sederhana betapa pentingnya menjaga kesehatan. Untuk itulah, mungkin you know, aku berlatih yoga. “Tapi kok mas yudhi pernah sakit juga walaupun udah beryoga?”, tukas suara dari dalam, alias hati nuraniku. “C’mon, emangnya yogi itu badannya dari mesin dan baja. Apalagi kalo kemana-mana gue naiknya motor yang gampang masuk angin. Gue kaninstruktur yoga yang proletar, emangnya guru-guru yoga baru di Jakarta yang dari sononye udahtajir rumahnya pada di daerah bebas banjir, dan mobilnya selalu disemir. Mulan Jameela aja yang udah hebat kagak mau dibilang wonder woman, apalagi gue yang ngajarnya cuma mendaur ulang guru-guru senior, kok sok mau merasa hebat…ah loe lagi…Gue mah realistis aja, kalo gak mempan pake jurus yoga, ya ke dokter biar sembuh lah, Loe kire belajar yoga bisa jadi Superman, sakti bisa terbang dan kuat amat gak pernh sakit. Gue mah ogah jadi Superman. Liat aja, masa pake celana dalem di laur. Superman Is Dead, man… ”. Kawan di dalam badanku sendiri, si hati nurani yang masih penasaran itu, karena aku menyebut grup band metal indie yang lebih dikenal sebagai SID, sepertinya bingung dan bertanya lagi :”tapi banyak yang bilang mas yudhi hebat euy…?”, “ah yang ngomong aja yang lieur, udah sering dikasih tahu kalo guru yoga itu manusia juga, kaya lagu grup band dari Bandung Seriues,mereka masih punya rasa, punya hati, dan punya cinta… he he he he, kataku mengucapkan kata cinta sambil cengar-cengir. Janganlah mengkultusin guru. Kalo kata kasta, guru yoga di Jakarta itu sudra atau malah paria, wong mereka aja masih pada belajar dari guru senior di Bali, Barat, India. Gueaja di sini kenal yoga sedikit lebih duluan, ilmunya mah masih dangkal, cetek. Karena belajar lebih dulu itu aja, jadinye gue lebih sedikit dikenal, termasuk di kalangan jetset dan selebritas. Ini yang sedikitgue bisa bangga, loe tahu, Anisa Pohan, mantunya SBY, sebelum dijamah-jamah Agus Harimurti, anaknye Presiden SBY yang tentara itu, gue udeh lebih dulu ninggalin sidik jari di tubuhnya…”, “Kok mesum sih mas?”, “Maksudnye, pan waktu die di karantina jadi finalis Gadis Sunsilk long time ago,nominee-nya dikasih kelas yoga, gue diminta ngajar, kalo ngajar kan gue suka mbetul-nbetulin postur yang menurut kata guru gue salah… itulah saat-saat gue manfaatin privilege gue..hehe..” , “Ah dasarloe mas, guru cabul!!!!”. “Eit, tunggu dulu, loe tau gak, salah satu alasan banyak profesional pekerja kantoran berkerah putih beralih jadi guru yoga, karena mau kayak begitu, guru-guru yoga yang cewe, biasanye ge-er tuh kalo ada peserta di kelasnya ada cowok ganteng kaya Brad Pitt, atau kalao guru cowok, eh, gue sendiri sih tepatnye….suka gimana gitu kalo Sophia Latjuba ikut latihan…, selain di Jakarta kan deket ama sumber media, jadi jalan paling gampang biar jadi terkenal. Baru sekali-dua kali diwawancarai koran, atau tivi, udah dah jalannye, idungnye ke langit melulu…minta tarif ngajar yang tinggi”. “Ah, bukanya mas yudhi kaya begitu juga. Selain keminter, sok pinter, bayarannye itu gede, bokek deh gue kalo sering ikut kelas loe mas. Emang sih enak kalo pas latian bareng Luna Maya, jadi anugrah, tapi kalo liat tampangloe mas, MUSIBAH!!!”, sambil dia nyanyiin lagu Changcuters. “Sialan, kupikir dia, kok mainnya fisik. Jelek-jelek gini, pacar gue, cewe yang cakep-cakep”. Hah, pacar, mas?, nyebut mas, colek nuraniku dari dalam. “Maksudnya, pacar platonis”, tukasku meluruskan. Selain kawan yang telah minggal itu, tidak sedikit kawan seusiaku, atau bahkan yang lebih muda dariku yang lebih dahulu meninggal. Penyakit yang menyebabkan kematian mereka, tidak jauh-jauh: stroke, jantung, diabetes dan darah tinggi. Penyakit yang banyak menghinggapi orang-orang kota besar dan pekerja sibuk. Penyakit yang dulu hanya dialami orang usia lanjut, sekarang makin memuda. Nuku Soleiman, kawan aktivis PIJAR kena stroke waktu umurnya 30-an, dan kabar teranyar, ada anak belasan tahun, juga udah stroke. Waktu mau pulang, kawan-kawan aktivis LSM, dosen, akademisi, yang sudah doktor atau kandidat doktor, yang semula hanya akan bezoek tapi jadi melayat, sambil jalan pulang, ada yang bilang: “Kita ini, sering karena sibuk, ketemunya lagi, asal tidak di kematian, mantuan atau mantenan ya”. Aku bilang: “Yaaa asal jangan ketemu di KPK aja kayak anggota DPR itu”. Dalam hati aku tambahkan, “…makanya latian yoga doong…”, ya cuman dalam hati keinginanku mengajak teman-teman yang ikut melayat itu, karena kuliahku aja gak selesai kok mau kasih kuliah, ke dosen-dosen lagi, dan apalagi kalo dingat, kalo ngajar yoga sering meniru guru yang lebih senior. “Eloe kok over claim sih yud, kok yoga bagi eloe kayaknya bisa ngatasi apa aja…?, sekali lagi suara rewel dari dalam hati nuraniku nyerocos,“Bukan over claim, tapi, kalo kolom agama di KTP bisa gue isi nyleneh, gue akan tulis: yoga, karena guepercaya, dan gue praktekin. Yoga bikin gue bisa menikmati hidup, nrimo, sumeleh and enjoy aja. Selain uang hasil ngajar bisa yaaa paling beli bensin dan makan, kan loe tau sekarang guru yoga bejibun hasil keluaran program teacher training instan 2-3 hari, dan studio yoga makin buanyak. Masa bulan madu gue ama yoga kayaknya udah lewat, dan gue kan banyak kasih kelas sosial, paling kalau ada lebih, sekali-sekali buat jalan-jalan…. “Itu bukan sosial mas, tapi sok sial. Kasian bener yang jadi istri-loe mas. Pasti dikomplain, gue berani tarohan. Kayak udeh kaya raya aja loe mas, konglomerat yang mulai punya program CSR kok mau ngajar sosial sementara ada guru yoga yang njadiin yoga jadi mesin uang”, kata suara dalam hati. :”Eh bener juga loe ya… Tumben, kali ini loe pinter….”, kataku membenarkan sambil termenung, sok mikir berat! Sekarang kita kembali ngomongin soal kematian aja deh yang udah pasti semua orang akan mengalami. Emang semua orang pasti mati, dan gak ada yang tahu kapan matinya, lihatlah guru-guru besar panutan yogi di sini, seperti Shri Pattabi Jois, BKS Iyengar umur mereka 90 tahun, dan masih bugar, masih terus latihan. Itulah hebatnya yoga, kataku ke nuraniku yang suka usil itu. “Tapi mas, mereka udah yogi bener, dan dari India pula, sementara kita hidup di Jakarta, kota yang penuh dengan hal-hal penyebab stress. Berteman dengan masnusia urban yang sibuk mengejar karir dan uang, sehingga banyak orang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak disukai. Selain pengaruh stressor dari luar, tuntutan terhadap diri sendiri sebagai budaya “harustis”, harus hebat, harus kaya, harus bisa, dan harus-harus yang lainnya yang bisa bikin semakin tegang, akibatnya tubuh tak bisa menyerap suplai nutrisi secara optimal”, “Ah, ngecap loe mas, mana ada kecap yang nomer dua”. “Dengerin ye, jangan nyela ngomong dulu, inget, mulut ada satu, kuping itu ada dua, jadi jangan banyakin ngomong, banyaklah mendengar, dan otak itu lebih banyak lagi, ada atas, bawah, kiri-kanan, jadi lebih banyak lagi untuk berpikir, yoga ngajarin gue untuk kembali ke diri sendiri, look in ouself from within, and settling back into the moment…” yudhi widdyantoro Pengecer jasa yoga Kilas Parodi For yogi, selain perlu perbanyak referensi bacaan yoga, baca jugalah karya seni dan sastra, kan, katanya yoga juga the art of living, seni kehidupan. Sebaiknya kalau ada yang tersinggung, dianjurkan untuk membuat tulisan juga, jangan cumanggrutu di belakang. Kalo gak mau nulis, tapi mau maki-maki yudhi, silakan aja, seperti mau bilang yudhi kurang, atau gak punya etika, nomer-nomer di bawah ini disediakan buat complain thd yudhi, si pengecer jasa yoga… ……. …….

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.