Paradoks Iblis dan Ulat: Ketaatan itu Diwujudkan dalam Ketidaktaatan

Ulat ini muncul di brokoli yang mau aku makan. Seperti Iblis, ulat adalah makhluk 'menjijikkan' yang hadir ke dunia karena suatu alasan.

Seorang teman siang berceloteh di musholla siang itu, “Hmm, dulu katanya iblis itu pinter dan taat sama Allah lho, bahkan lebih pinter dibanding malaikat yang kerjanya cuma bisa patuh sama perintah Allah.” Entah apa awalnya yang kami bicarakan hingga sampai membahas topik Iblis segala. Absurd…

Lalu seorang teman menyangkal. Perdebatan terjadi. Aku cuma mengamati. That’s me. An observer. Aku tak terlalu suka debat. What’s the point anyway? Bukannya aku anti diskusi , tapi aku lebih suka menelaah untuk diri sendiri sebelum benar-benar mengetahui suatu isu/ topik. Jangan sampai mengeluarkan pernyaataan asal supaya kelihatan pintar.

Tapi intinya temanku tadi menceritakan apa yang pernah ia dengar dan ketahui entah dari guru atau bacaannya bahwa Iblis, yang konon menjadi nenek moyang setan-setan sekarang, itu dulunya sebelum Nabi Adam AS diciptakan Allah adalah makhluk ciptaanNya yang paling cerdas. Lalu saat Iblis diperintahkan hormat pada manusia oleh Allah,  ia menolak, tapi malaikat begitu saja mau. Nah, temanku ini berargumen bahwa Iblis menolak perintah Allah itu karena Iblis cuma mau menghormat/ sujud pada Allah. Tak hanya di situ, temanku mengatakan Iblis rela untuk menggoda manusia dan menjerumuskannya demi mematuhi perintah-Nya untuk menguji keimanan kita.

Ok, that’s new to me! Entah pengetahuanku yang dangkal atau memang lain dari temanku ini, aku sejak dulu ‘mengetahui’ (baca: menerima doktrin) bahwa Iblis menolak hormat/ sujud pada manusia karena kesombongannya. Tapi ini kutipan terjemahan ayat Quran yang relevan:

34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah[36] kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah)

[catatan kaki 36]. Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Ok, perdebatan aku tutup sampai di sini daripada berargumen tanpa alasan dan pengetahuan yang jelas. Yang menarik bukan bagaimana kata ‘sujud’ ini memicu multiinterpretasi tetapi lebih pada kontradiksi yang (bisa saja) terjadi dalam diri Iblis.

Pertanyaan yang kemudian muncul ialah : “Bisakah seseorang begitu setia dan menghambanya pada majikannya sampai-sampai ia justru malah membangkang dari majikannya (entah itu karena inkonsistensi majikan, fanatisme berlebihan pada ajaran/ perkataan si majikan atau faktor lain)?

Jangan dijawab, jangan diperdebatkan, cukup renungi saja…Just a food for our thought and soul tonight.

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Paradoks Iblis dan Ulat: Ketaatan itu Diwujudkan dalam Ketidaktaatan

  1. lunaticr says:

    pertanyaannya bersayap dan meminta jawaban “ya”, karena menyebut “karena ini, itu dan faktor lain”, which means with whatever reason, it is yes possible.

  2. akhlisblog says:

    bersayap? maksud akhwat apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.