Hari Yoga Nasional

on

Di Minggu pagi yang cerah, pada 9 Oktober 2011, saya mengikuti acara Yoga In The Park di Central Park, Jakarta Barat. Acara itu dibuat oleh Celebrity Fitness (selanjutnya disingkat Celfit) atas gagasan salah seorang guru yoga-nya: Koko Yoga. Sejak pukul 6:15 peserta sudah mulai menggelar matras yoga yang mereka bawa di area taman yang telah ditutupi oleh carpet hijau. Beberapa orang saya sudah mengenal, namun lebih banyak yang baru hari itu saya berjumpa. Dalam publikasi, acara dimulai dari pukul 07:00 sampai 10:00. Setelah sambutan “Selamat Datang” dari country manager Celfit, juga dari guru paling senior, Slamet Riyanto yang dijuluki “Papa Yoga” serta acara seremonial lainnya, acara dimulai dengan penampilan demo yoga berupa rangkaian gerakan-gerakan yoga yang relatif sulit bagi orang awam dalam suatu koreografi indah yang mengalir seirama musik, dibawakan oleh Zilvia, Koko dan Ana selama tujuh menit. Acara latihan bersama yang dipandu oleh guru-guru yoga Celfit ada tiga babak. Masing-masing babak, di panggung berdiri tiga orang guru. Babak pertama, selama 50 menit dengan dipimpin oleh Uci yang didampingi oleh dua orang guru yang lainnya, melakukan pose-pose yang gentle mengalir, tapi bertenaga. 60 menit lebih berikutnya, atau babak kedua adalah kelas yang boleh dibilang hard core, keras makin bertenaga, dipimpin oleh Koko dengan didampingi oleh Zilvia dan Ana di kiri-kanan-nya. Hampir seperti pada demo yoga di awal acara, pose yoga yang dipraktikkan di sini memerlukan keterampilan dan pengalaman.

Babak ketiga Dicky, Uci dan satu orang guru dari Celfit Bandung memimpin latihan sesi yang di olah raga umumnya semacam pindinginan, atau restorative yoga. Lama latihan ini 30 menit, ditambah dengan 10 menit untuk savasana serta meditasi singkat sebagai penutup, plus mantra “loka samasta sukhino bavantu”, semoga semua hidup berbahagia. Latihan yoga bersama berakhir di babak ketiga ini. Selanjutnya adalah kembali ke acara seremonial Celfit, ada pemilihan peserta paling heboh: heboh berpakaiannya, heboh semangatnya. Kesan saya pada acara pagi itu membuat saya cukup terharu, karena beberapa hal. Pertama, acara itu dihadiri oleh 300 orang. Sepanjang pengetahuan saya, ini adalah acara latihan yoga bersama pertama di Indonesia yang diikuti peserta paling banyak. Yang tak kalah pentingnya, persebaran asal peserta adalah representasi dari lima wilayah di DKI Jakarta dimana ada cabang Celfit. Bukan hanya dari ibu kota, tapi ada juga yang datang dari Bogor dan Bandung. Saya sempat berangan, seandainya Jaya Suprana hadir, mungkin dia akan mencatatkan dalam rekor MURI. Hal lain yang membuat saya terharu adalah bahwa latihan yoga bersama bisa menjadi sarana untuk menyatukan warga kota di dalam kegiatan yang jauh dari violence, bahkan malah menjadi ajang untuk menambah kawan dan meluaskan persaudaraan. Di acara ini akan terlihat keragaman peserta: dari asal tempat latihan; usia, suku bangsa, agama, ras, status sosial dan ekonomi. Walaupun mayoritas peserta adalah praktisi yoga yang adalah juga members Celfit, tetapi karena terbuka untuk umum, datang juga praktisi dari fitness center lain: Fitness First, Gold Gym, atau juga kelompok berlatih lainnya, seperti Gudang Gambar, Komunitas Yoga Gembira Taman Suropati, atau juga pribadi-pribadi. Dari pengalaman berlatih dan kemampuan mengikuti pose yoga yang dipraktikkan hari itu akan terlihat juga keragaman. Ada yang baru hari itu mulai berlatih, ada juga yang sudah hitungan tahun, bahkan mungkin sudah mengajar. Dari praktisi atau pengajar yoga yang saya kenal, memperlihatkan juga keragaman style atau aliran dalam yoga. Memang tidak semua style atau aliran dalam yoga yang saya tahu. Dan memang juga tidak semua guru yoga di Jakarta yang datang ikut berlatih, mungkin karena ada ketentuan dari guru style yang mereka praktikkan untuk tidak mencoba-coba style lain selain style yang biasa meraka lakukan, mungkin ada guru yang sedang mengajar, mungkin juga ada guru yang masih tidur, di gereja, di pengajian, atau rumah-rumah ibdah lainnya, mungkin ada juga guru yoga yang berpraktik sabath, tidak melakukan aktifitas apapaun di hari Minggu. Mungkin ada juga guru yoga yang enggan bergabung karena mencurigai adanya motif menarik keuntungan bisnis dibalik event itu. Tapi marilah kita singkirkan prasangka, kemungkinan dan pengandaian-pengandaian itu, karena faktannya adalah acara Yoga In The Park itu seperti mengingatkan dan sekaligus mengembalikan makna arti kata yoga itu sendiri: Union! Menyatukan. Selain itu, berlatih Yoga di Taman secara bersama, seperti ingin memberi tahu ke khalayak ramai, atau bahkan birokrat para pengambil keputusan akan pentingnya pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) untuk aktifitas warga kota. Ada gerakan mendekatkan dan kembali ke alam. Fakta yang lain, adalah jumlah peserta latihan bersama yang 300 orang adalah bukan angka yang sedikit. Hari Yoga Nasional Sehari sebelum acara itu, tepatnya Sabtu, 8 Oktober 2011, saya bersama Koko Yoga diminta memberi workshop Yin Yang Yoga di Bandung. Salah satu peserta adalah ketua KONI Bandung. KONI adalah payung organisasi yang menaungi berbagai cabang olah raga di tanah air. Dalam salah satu kesempatan di sela-sela acara itu, bapak ketua KONI Bandung itu bertanya pada saya, apakah di yoga sudah ada asosiasi atau induk organisasi yang seharusnya masuk dalam koordinasi KONI. Atas pertanyaan itu, saya sempat termenung dan berpikir sekejap. Sepanjang pengetahuan saya organisasi atau asosiasi yang mewadahi berbagai style yoga di Indonesia belum ada. Saya berpikir, kalau saja para praktisi yoga di Indonesia ini akan membuat wadah, mungkin saja diperlukan, tapi mungkin juga tidak. Saya tidak terlalu mempersoalkan perlunya sebuah wadah tunggal organisasi yoga. Tapi yang saya mau katakan, adalah bahwa fakta-fakta di atas yang terjadi pada event Yoga In The Park pada 9 Oktober 2011 bisa menjadi titimangsa, penanda waktu untuk menjadikan atau mengusulkan tanggal itu sebagai Hari Yoga Nasional, kelak. Dan kalau saja kelak ada Asosiasi Yoga Indonesia (AYI), wadah berlumpul praktisi yoga, saya mengusulkan Slamet “Papa Yoga” Riyanto menjadi Ketua Umum dan Koko Yoga sebagai Sekretaris Jendral-nya, dua-duanya guru yoga dari Celfit, selain karena kapasitas dan kapabilitasnya, juga sebagai penghormatan atas dedikasinya membuat acara itu berlangsung. Dan kalau perlu keragaman, saya mengusulkan Metta Anggriani dan Akhlis Purnomo, penggiat di Social Yoga Club menjadi Bendahara atau Wakil Sekjen. Anyway, walaupun acara itu bisa dibilang sangat sukses, tapi seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kelak acara seperti itu akan dibuat lagi…. . kurang diarahkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. . tidak tersedianya tempat-tempat sampah yang menyebar . kurang volunteer untuk memungut/menjemput sampah . kurang atensi dari guru-guru yoga yang lain untuk memberi adjustment/memperbaiki.

Salam, Namaste,

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.