And Wake Me Up When January Ends

Cluttered

It’s been a tumultuous month for me, personally and professionally speaking. The wrath, the disappointment, the confusion, the haste, the expectation, the hoplessness, the tiredness, the ambition, all these are ‘inharmonious’ in some way but that’s the way it is. I won’t say much here but one thing for sure is I learned a lot from “49 Days”, that Korean drama.

The lessons to learn are myriad. Perhaps the best one to cite is “Live every second of your life to its fullest“. You’ll never know when it ends. And though anyone, I bet, at least once in their life time wants to commit suicide, there’re always people out there on earth really wanting to be him. But that’s how life and world work. Humans think everything is going to be a lot better if things go the way they want. How many times, however, do we find it wrong? They just have no idea what the future and God hold for them in the future and afterlife. And because the essence of life is change, you can’t simpy give up as things may change someday (or not). Yet what matters most is whether you live it with full consciousness or autopilot (hope Mr. President won’t get offended by the use of this last mentioned word).

I met someone days ago. He asked me, “What do you want to do?” I loath such a direct question. No, not because of any personal prejudice or hatred. It’s just how I hate my reaction to it. I couldn’t articulate what I really want WELL. I suddenly felt like a failure. I thought I knew what I want in my life, in my job, in my personal life, in my spiritual journey. But as I have to deal with such question head to head, I’ll probably find myself speechless, or a bit better, halting.

Even one of my students blatantly blurted, “You’re the most obscure  lecturer I’ve ever met here”. My heart sank to the bowel of the earth. That’s so true, and she’ll get A for that. Let’s make sure of it.

 

Karet Kuningan, South Jakarta

 

 

 

 

Cute ‘Sorry’ Pages

Image

Image

Hemat Makanan, Hemat Energi

Berbicara tentang konservasi dan efisiensi energi, orang cenderung berbicara tentang listrik, sumber tenaga terbarukan, transportasi, dan sebagainya. Mereka lupa dengan satu hal yang juga menghabiskan energi; makanan! Makanan adalah sesuatu yang kita konsumsi sehari-hari dan untuk bisa dikonsumsi, tidak terbayangkan banyaknya energi yang dihabiskan. Selain energi, air juga dihabiskan untuk proses pengolahan makanan kita.

 

Mengapa Membuang Makanan Sisa Sama Buruknya dengan Memboroskan Energi

Kate Galbraith dalam tulisannya “The Battle Against Food Waste” di NYTimes.com mengetengahkan isu penyia-nyiaan bahan pangan ini dengan menyatakan bahwa dunia sedang menghadapi paradoks yang ‘menyakitkan’. Di satu sisi, kita bisa jumpai orang-orang yang bisa berkelimpahan dengan bahan makanan. Tak jarang kita temui para produsen bahan makanan yang sampai membuang hasil panen mereka yang harganya anjlok di pasaran, seperti apa yang sering dialami oleh para petani kita saat musim panen datang.

Akan  tetapi di sisi lain ditemukan juga fenomena kelaparan yang sebarannya cukup luas. Tak usahlah kita menengok terlalu jauh hingga ke benua hitam Afrika. Di Indonesia bagian timur saja, kasus-kasus kelaparan dan kurang gizi masih banyak terjadi. Misalnya yang menimpa provinsi Nusa Tenggara Timur. Sembilan kabupaten di sana menurut Tempo.co  mengalami kekeringan yang menyebabkan kegagalan tanam dan panen. Berita ini dipublikasikan September 2011, sehingga belum terlalu usang.

Belum lagi adanya prediksi tentang potensi kelaparan yang mengancam penduduk dunia. Tak tanggung-tanggung, akan ada 9 miliar mulut yang mencari makanan untuk dikunyah tetapi tidak bisa membeli karena harga bahan pangan sudah melonjak hingga 180 % 18 tahun dari sekarang menurut Oxfam yang dilansir oleh Tempo.co (sumber).

Sejumlah upaya sudah dilakukan oleh sebagian pihak yang merasa terpanggil oleh isu ini. Apalagi di seluruh dunia, sekitar sepertiga jumlah makanan (atau 1,3 miliar ton makanan per tahun) dibuang begitu saja menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang dilaksanakan Badan Makanan dan Agrikultur PBB, FAO. Penelitian lain dilakukan oleh Institut Makanan dan Bioteknologi Swedia yang menghasilkan temuan ironis. Diperkirakan di seluruh Eropa dan Amerika Utara, ada 280-300 kg makanan yang dihamburkan begitu saja oleh seseorang setiap tahunnya. Kuantitas makanan sebesar itu adalah dua kali jumlah kebutuhan pangan penduduk di negara-negara miskin sekitar Gurun Sahara Afrika dan Asia Tenggara.

Di antara banyak pihak yang merasa tertantang untuk berkontribusi mengatasi pemubaziran bahan makanan yang masif tersebut, kita bisa temui:

Marks & Spencer dengan kemasan tahan lamanya

Peritel dari Inggris ini memperkenalkan metode pengemasan stroberi impor yang bisa tetap segar dua hari lebih lama. Saat stroberi lebih tahan lama, kemungkinan untuk dibuang karena sudah membusuk juga lebih kecil. Alhasil, sampah yang dihasilkan juga akan lebih sedikit.

Tadayasai.com dengan sayuran gratisnya

Konsep layanan tadayasai.com sangat sederhana tetapi efektif: menyalurkan sayuran secara cuma-cuma ke yang membutuhkan. Bagaimana bisa gratis? Karena sayuran ini adalah sayuran yang sebenarnya masih layak makan tetapi tidak dianggap memenuhi aspek estetika jika dipajang di rak supermarket. Jadi para petani di wilayah Saitama dan Gunma yang memiliki sayuran yang ditolak supermarket bisa membagikan sayurannya. Bagi yang mau sayur gratis mereka, cukup berikan ongkos kirim secukupnya. Bayangkan jika konsep ini bisa diterapkan di Indonesia.

Lantmannen.se dengan kencan kulinernya

Sejenis koperasi di Swedia bernama Lantmannen ini menyodorkan “Restdejting”, solusi unik untuk cegah pemubaziran bahan makanan.  Dengan aplikasi Restdejting ini, para lajang bisa berkencan sembari berbagi bahan makanan yang tersisa.
Begini caranya: anggota Lantmannen diwajibkan untuk memasak hidangan tertentu dari bahan makanan yang mereka masih miliki untuk anggota lain yang hendak ia ajak kencan. Jika seseorang ingin berkencan, ia cukup kunjungi situs Lantmannen.se kemudian memasukkan 5 jenis makanan yang belum habis di dapurnya. Daftar makanan ini lalu dipublikasikan di Facebook dan lajang lainnya bisa melihat. Penasaran? Ini aplikasinya di Facebook. Sayangnya bahasa yang digunakan adalah bahasa Swedia, bukan bahasa Inggris.

 

Sustainable Restaurant Association dengan kotak untuk makanan sisanya

Organisasi restoran ini memiliki basis di London Inggris. Mereka bertujuan mengkampanyekan pengurangan sampah makanan. Caranya dengan mengirimkan 250 buah kotak dari bahan ramaha lingkungan dan bisa didaur ulang bagi setiap restoran peserta. Kotak ini kemudian dibagikan bagi para pengunjung restoran yang memiliki makanan yang tersisa di piringnya agar bisa dimakan di rumah. Cara yang tidak baru lagi bagi sebagian orang. Tapi di kota-kota besar apalagi Jakarta, saya pikir jarang sekali orang mau mengorbankan harga diri mereka untuk minta makanan sisa mereka dibungkus ke rumah. Atau mungkin karena merasa mampu membeli makanan sebanyak apapun, seseorang lebih memilih untuk tidak membawa sisa makanannya. Sangat disayangkan. Your pride won’t save this planet, people.

Lalu adakah cara mengurangi pemubaziran makanan yang bisa kita lakukan di rumah? Tentu ada. Cobalah kurangi porsi! Saat memasak, pastikan porsi makanan sesuai dengan selera dan kebutuhan orang yang akan menyantapnya. Dengan demikian, memasak lebih sedikit membuat kita lebih sadar akan porsi. Dari segi kesehatan, dengan memasak lebih sedikit, kita akan lebih terkendali saat menyantap makanan. Lain halnya jika kita melihat makanan dalam jumlah yang berlimpah ruah.

Selain itu, dengan memasak lebih sedikit kita bisa memasak kembali jika memang habis atau benar-benar dibutuhkan dalam jumlah yang lebih pas, tidak berlebihan. Kesegaran dan nutrisi makanan juga lebih baik jika langsung dihabiskan begitu selesai dimasak.

Cara lain ialah prioritaskan bahan pangan lokal dalam dapur. Mengapa demikian? Pertama, dari sudut pandang ekonomi, membeli bahan pangan lokal yang diproduksi orang Indonesia sendiri, yang dimiliki waralaba domestik, diproduksi di dalam negeri, dan sahamnya didominasi pihak non-multinasional/non-asing, akan membuat devisa kita lebih hemat karena tidak disedot keluar. Petani dan produsen bahan pangan domestik menderita, kita juga yang kena imbasnya. Kedua, bahan pangan lokal tidak menghabiskan energi sebanyak yang dibutuhkan bahan pangan impor. Jarak tempuh dan lama perjalanan juga lebih pendek, sehingga kemungkinan membusuk sebelum dikonsumsi lebih kecil.  Jejak karbon pada akhirnya akan lebih minimal.

Selalu ingat bahwa mengkonsumsi produk impor akan sebabkan pencemaran lingkungan yang lebih tinggi. Pernahkah kita bertanya berapa liter bahan bakar yang dihabiskan untuk mengangkut beras dari Vietnam ke sini? Atau berapa gram gas polutan yang dihasilkan untuk mengangkut tepung gandum bahan roti yang kita santap tiap hari? Saat kita renungi ini semua, kita bisa berpikir dan bertindak lebih jernih.

Bagaimana dengan kamu? Cara lain apakah yang bisa dilakukan untuk memerangi pembuangan bahan makanan yang masih layak makan? Kutunggu di kotak komentar.

 

 

 

 

 

 

Tweetable, Brainy Quotes Taken from #VirtualAcademy

The Facebook guy - Aswin Regawa - is talking about why Facebook keeps changing and innovating in spite of its users' outcry of disapproval.

It’s 10 pm already. My brain is begging for deep sleep after experiencing 3 days full of learning new things. Plus, I took a walk these last three days  farther than the route I usually take to my office. And what is even harder for my tiny frame is I got exposed to overly air-conditioned air and I had to stay in a high rise (on its 29th floor!) for at least 9 hours straight.

For your information, I’m acrophobic so this is absolutely a huge challenge. My mind was always thinking of creepy imaginations like the earth quakes all of a sudden or an airplane strikes it, or a bomb explodes on the ground floor. As I wanted to concentrate more on what matters most in the course, I lost my focus  whenever I saw some other skyscrapers around Energy Building.

Ok, onto business. I tweeted a lot during the course and even recorded almost the whole lectures on my phone. And I think it’d be cool to repost them all as a blog post. Just like what Andi Primaretha, advised me. A single blog post is easier to find than a thousand of tweets are.

Here are several of the gists of the course materials in tweetable sentences:

“Facebook : a network of friendship. Twitter: a network of information.” (by @Nukman)

“Getting addicted to social media is one thing.Exploring it by design is another.” (by @Nukman)

“The shorter your twitter handle is,the better it is.Use your real name.” (by @Nukman)

“More people now access the web on their handset.Ensure your site is mobile friendly.” (by @Nukman)

“Twitter is like a giant chatting window.” (by @nukman)

“Followers number isn’t everything.Fan page management matters more after that”  (by Aswin Regawa)

Facebook principle “Why should you like and share it?” If u don’t like it, there’s no chance u’ll share it.

“On Facebook, engagement matters most. On Twitter, content [matters most].”

“3 types of Twitter influential users : creator, conversationalist,critic ” (by @Nukman)

“To most of us,tweets are trash.Yet the trash is in fact invaluable customers’ insight” (by @Nukman)

“Like organic foods, organic followers are rare and hard to earn.” -Me

“There’s no one-size-fits-all strategy on social media.What worked once may not work now.”- Me

“Tweeting and updating is art and no one can rush art” – Me

“Active users, rather than followers, number is the real indicator.”- @nukman

“Tweet more often, gain more followers faster.” – Me

“Public figures have their offline advantage.Laymen mostly gain followers by sharing knowledge&info.” (@nukman)

“In Indonesia,those who tweet on weekends get more responses.” -(@nukman)

“Interesting content is content that suits your audience perfectly.” (@nukman)

“Social media is NOT a healing mantra for an ailing business. It’s just a tool.” -Me

“Offer values on social media.” (@iimfahima)

“Social media brings us a zillion better faces of Indonesia other than ones presented by mainstream media”- @iimfahima

“‘Cool’ communication is an overrated windbag unless it DOES generate sales.” @iimfahima

“Being a narcissist or please everyone? Neither” – @iimfahima

“website,socmed,online advertising =>digital marketing environment” by @primaretha #virtualacademy

“key social metrics: reach,engagement, virality @primaretha#virtualacademy

“Social media changes dynamically. Blogs don’t. It’s evergreen.”- Me

Behavior of consumers change.Now thye make decisions based on networked consumers- by @nukman #virtualacademy

“Consistency of your theme is the key to a successful personal branding” via @nukman #virtualacademy

“Personal brand strengthens business.That’s why CEO needs to build a personal brand on social media” by @nukman#virtualacademy

 “No matter how awesome your product/service is,there is always around 1.5% of customers who are NAGGING” by @nukman#virtualacademy
“Negative comments are acceptably OK,unless they ruin your sales”- by @nukman #virtualacademy
“PR task is now to neutralize negative comments,rather than to block them” by @nukman #virtualacademy

I didn’t , sadly, tweeted much about the last and least favored class of all (Google Analytics taught by Gita). I actually felt sorry for her. It was too tough for us, the non-geek folks. We hardly ever used these analyzing tools or even worse, never heard of them. Yet, the whole 3-day short course was simply enriching if you’re a social media enthusiast, which I am.

Nukman Luthfie (second from left),the online star-tegist of Virtual Consulting and Iim Fahima, the CEO who wears the pink hijab,with some of the 3-day course participants..

Nukman Luthfie (second from left),the online star-tegist of Virtual Consulting and Iim Fahima, the CEO who wears the pink hijab,with some of the 3-day course participants..

Nukman Luthfie (second from left),the online star-tegist of Virtual Consulting and Iim Fahima, the CEO who wears the pink hijab,with some of the 3-day course participants..

Tips for Building A Landing Page that WORKS

tips for building landing page

  • clear title, description and layout
  • removing all distractions from landing page
  • display social sharing buttons
  • design forms in order to capture information from visitors
  • structure forms not too long
  • direct form submission
  • track to conversion

Mulai Hemat Energi dari Diri Sendiri (1)

“Be the change you want to see in the world” – Mahatma Gandhi

Diakui atau tidak, rumah-rumah kita adalah salah satu tempat yang paling banyak menyedot energi. Dengan menerapkan kiat-kiat hemat energi, sebenarnya kita tetap bisa melakukan semua aktivitas tanpa terganggu dan tanpa menghambur-hamburkan uang dan yang terpenting, membuat perbedaan, sekecil apapun, dalam pelestarian bumi tempat kita tinggal. Gaya hidup modern sudah begitu mengerikannya dalam aspek penggunaan energi. Manusia modern adalah makhluk hidup yang mungkin paling haus energi. Tetapi dengan membuat perubahan-perubahan kecil dalam kegiatan sehari-hari kita,  siapapun bisa memulai untuk mengurangi jejak karbon yang membebani bumi ini.

Cobalah lakukan beberapa kiat berikut ini. Sebagian sudah saya terapkan dalam aktivitas sehari-hari, dan sebagian yang belum akan saya mulai lakukan dari sekarang. Dan seperti kutipan Gandhi yang saya tulis di atas, mari mulailah bukan dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Dengan menerapkan perubahan itu dalam diri kita, orang-orang di sekitar kita juga akan lebih mudah terdorong melakukan perubahan yang sama, apalagi jika mereka merasakan dampak positifnya bagi diri mereka sendiri.


Sumber energi

Pilihan sumber energi yang paling ideal tentu sumber terbarukan seperti angin, air, atau matahari. Sayangnya, sampai sekarang panel surya masih mahal, belum terjangkau masyarakat banyak.

Saya belum bisa melakukan migrasi ke sumber energi yang lebih hijau karena terbentur dana. Akan sangat asyik tentunya bisa menggunakan listrik tanpa harus membayar ke Perusahaan Listrik Negara.


Hiburan

Jangan biarkan peralatan listrik apapun menyala saat tidak digunakan. Pastikan semuanya mati dan kabelnya sudah dicabut. Saya sudah biasakan hal ini saat bekerja , baik di rumah atau kantor. Jam-jam rawan ialah saat makan siang. Banyak orang dengan cuek meninggalkan komputer dan laptop mereka dengan hanya mengunci atau membiarkannya menyala sementara ia ke luar kantor makan siang. Lebih parah lagi kalau charger juga masih tertancap. Pengabaian ini umumnya karena orang merasa malas untuk menunggu komputer atau laptop booting dari awal. Padahal selain membuat laptop tak bisa beristirahat sejenak, itu membuat baterai lebih cepat aus. Dan saya pernah saking gemasnya, mencabut kabel yang menghubungkan semua komputer di ruang kerja karena ada teman yang tidak mematikan desktop PC-nya. Dan di kos, saya sering gemas jika lampu kamar mandi tetap menyala terang padahal tak ada orang di dalamnya.

Singkirkan jumlah peralatan rumah tangga yang berlebihan. Hal ini agak bertolak belakang dengan keadaan rumah (orang tua) saya yang kini punya 3 TV sekaligus! Tapi di kos, saya tidak memiliki TV. Selain karena alasan agar menjaga ruangan kos lebih lapang, membeli peralatan rumah tangga yang tak perlu juga pemborosan. Sampai saat ini, ada 5 peralatan yang membutuhkan listrik dalam kamar kos saya. Cuma kipas angin meja ukuran kecil, penanak nasi mini, netbook, 2 ponsel. That’s all.

Pikirkan berulang kali sebelum membeli peralatan elektronik. Apakah besarnya layar sesuai dengan ukuran ruangan rumah? Di rumah (ortu) saya, TV di ruang keluarga diagonal layarnya lebih dari 20 inci padahal ruangan cuma sekitar 2 meter. Alhasil, jarak antara mata dan layar TV pun tidak cukup dan mata cepat lelah. Namun bagi yang mau layar TV besar dan lebar, cobalah LCD daripada plasma TV.

Bagi yang suka pesta kebun, jika punya halaman rumput luas, lebih baik pakailah mesin pemotong rumput dengan tenaga tekanan bukan yang menggunakan bahan bakar fosil seperti bensin atau solar.

Pencahayaan

Pasang lampu yang hemat energi dengan usia pasang lama, karena menurut EECCHI dibandingkan dengan lampu pijar biasa lampu hemat energi mengkonsumsi kurang lebih 80% lebih sedikit listrik. Lampu CFL (compact fluorescent light) sebisa mungkin menjadi pilihan pertama saat membeli lampu. Pasang ballast elektronik dan kondensator pada jenis lampu TL atau neon.  Bagi yang suka tidur dalam keadaan terang, cobalah untuk mengganti lampu dengan yang dayanya lebih kecil.

Pilih warna cat yang cerah sehingga penggunaan lampu di siang hari bisa dimimalkan. Warna cerah bisa memantulkan cahaya matahari sehingga membuat ruang lebih terang. Buka jendela secukupnya agar suasana terang tanpa lampu. Coba juga geser tempat membaca ke dekat jendela yang lebih terang di siang hari.

On Getting Addicted to “49 Days”

Call me a Hallyu fan! It’s driving me crazy. Addiction is never good. But let’s see the bright side, I’m resurrecting my Korean after 2.5 years of hibernation. I got myself a new cheap Nexian  phone just because it features TV. That way, I still can watch this Korean drama while working in the afternoon. And I (il)legally download the soundtracks here and play them throughout the day, even now, as I am typing this very blog post.

http://koreanchingu.wordpress.com/2011/06/04/seluruh-sinopsis-49-days-eps-1-20/

Single Mothers Stronger than Single Fathers, Survey Finds

English: if you're a single mom, that's hard.....
Males are not destined to raise children alone, as a matter of fact. But females are better at this, as the nature has designed. Males and females have nipples but only females have breasts and produce milk.FYI, this is a picture of a man 'breastfeeding' a baby. Don't get it wrong. (Image via Wikipedia)

Women prove to be stronger than you, guys. While males are always considered physically stronger, they’re in fact more emotionally fragile than their female counterparts. This survey has its findings, stating that women raising children alone are less prone to emotional breakdown than men raising their kid without spouse.

Around 20% of the 1.48 million households with single parents are led by gentlemen. Despite having better financial benefits, single fathers are more likely to feel frustrated and lonely! The survey conducted in South Korea, as cited from English.Chosun.com, also stated that around 41% of single mothers are earning less than single fathers, even lower than the living standard in South Korea. Only 25% of single fathers are living under the standard.

The truth got revealed after a series of interviews were conducted by KASPF (Korea Association of Single Parent Family) in 2007. Eight single mothers and nine single fathers were involved in it. These fathers admitted daily routines (such as feeding, getting children dressed and prepared before going to school in the morning, doing laundry, etc) frustrated them more.

A researcher of Korea Institute for Health and Social Affairs named Kim Seung-Won commented,” Single fathers usually have no huge confidence whereas single mothers are more convinced they’ve done a good job. Single fathers are more likely to break down emotionally and more disheartened as they find it hard to overcome stress, wrath and loneliness.” Apparently, the social stigma is the one to blame. In a straw poll of 290 single parents nationwide by KASPF and the Chosun Ilbo, 29 percent of the women said they sometimes felt humiliated because others viewed them as indecent.

In the meantime, I myself am interested in such a topic. There’s no doubt that women are amazingly flexible in terms of roles. This was what I found in my own family. Having become a widow with 5 sons, my dad’s mother (my grandmom) struggled so hard to feed the whole family. She was telling me part of the familial chronicle few days ago. My grandmom was still young and pretty as a widow but refused to get married once again. Suddenly she turned a heroine in my eyes.

Nukman Luthfie tentang “Nge-Tweet Dapet Duit”

Nukman
Image by Yulian Firdaus via Flickr
Image representing Twitter as depicted in Crun...
Image via CrunchBase

Tak sengaja kemarin pagi (5/1/ 2012) aku menonton social media pundit-nya Indonesia, Nukman Luthfie (@Nukman), berbicara di salah satu segmen “8-11” Metro TV. Pas banget, kelihatannya bahasannya asyik dan relevan dengan kerjaan sehari-hari jadi langsung aja direkam. Simak aja ya penjelasan beliau tentang prospek kerjaan di social media yang naga-naganya makin mencorong di tahun 2012 ini.

Syarat menjadi buzzer menurut Nukman Luthfie:

  1. Frekuensi tweet lebih tinggi dari pengguna biasa: ngetweet lebih sering akan membuat follower juga lebih banyak. Misalnya orang dengan frekuensi tweet sekitar 125 tweet per hari akan berpeluang lebih banyak mendapatkan follower lebih tinggi.
  2. Jumlah follower sekitar 5000: Bahkan orang dengan follower yang hanya sekitar 1000, sebenarnya sudah termasuk di atas rata-rata karena umumnya hanya follower pengguna Twitter standar ialah 200-an.  Kemampuan ngetweet bagus sudah bisa dikatakan dimiliki oleh mereka yang berfollower 1000-an. Angka follower 5000 ditetapkan sebagai standar bagi seorang buzzer yang mumpuni karena statistik menyatakan bahwa mereka yang memiliki follower 5000 ini memiliki frekuensi tweet yang jauh di atas rata-rata. Ini berkorelasi dengan jumlah follower yang tinggi.
  3. Influence besar: tak cukup aktif, buzzer idealnya memiliki influence besar yang spesifik. Bukan makro, tapi khusus. Ada yang di bidang otomotif, ada yang di gadget. Tiap buzzer harus punya positioning seperti itu. Tanpa itu, perusahaan akan sulit mendekati. Perusahaan-perusahaan yang pasarnya spesifik akan memilih buzzer yang spesifik pula. Memang bisa saja memilih buzzer yang makro dengan jumlah follower banyak, meski belum tentu punya influence besar.
  4. Segmentasi: seperti sudah dibahas tadi, buzzer harus spesifik. Makin tersegmentasi, makin bagus dan berpeluang untuk didekati perusahaan yang relevan dengan bidang yang ia geluti.

Bagaimana memiliki follower banyak dengan cara alami? Nukman menjelaskan ada beberapa kiat penting (kecuali membeli pengikut !):

  1. Memiliki atau pernah memiliki hubungan personal: misalnya sudah pernah bertemu atau kopi darat (tak hanya di twitter). Bisa juga berupa teman atau saudara dekat.
  2. Memiliki konten yang menarik: biasanya ini berupa ilmu atau informasi yang kita punya karena orang biasanya akan mengikuti tweet seseorang yang berisi informasi yang ia inginkan. Mungkin di Facebook , lebih karena pertemanan, tapi Twitter karena informasi yang diberikan. Misalnya jika orang ingin mendapatkan informasi tentang entrepreneurship, orang cenderung akan menyarankan untuk mengikuti akun-akun yang sering menyebarkan informasi tentang entrepreneurship. Begitu juga jika ingin belajar marketing, maka orang akan cenderung disarankan untuk mengikuti akun-akun yang sudah dikenal luas piawai dalam marketing.
  3. Miliki satu atau beberapa follower yang berpengaruh dengan follower banyak: saat ada orang yang pengaruhnya besar dan pengikutnya banyak kemudian follow akun yang followernya lebih sedikit tetapi kontennya menarik, ia akan berpeluang untuk mengumumkan pada followernya dengan me-retweet sesekali. Retweet dari akun dengan pengaruh besar dan jumlah follower banyak ini akan membantu akun yang lebih kecil jumlah followernya tetapi memiliki konten yang menarik untuk mengantongi jumlah folllower lebih banyak lagi. Konten menjadi kunci!

Nukman juga menyinggung fenomena twitwar yang sering dijumpai di ranah Twitter. “Mendapatkan follower dari akun yang berpengaruh dengan jumlah pengikut banyak memang sulit , dan karena itulah sebagian orang ngawur dengan mengajak berantem sama orang-orang yang followernya banyak. Ini trik supaya di-retweet,” seloroh Nukman.  Akan tetapi trik seperti itu kotor, lanjut Nukman.

Profesi seperti ini memang sudah ada dan cukup menjanjikan tetapi juga membutuhkan ketrampilan tersendiri. Nukman berkomentar,” Orangnya juga belum banyak makanya yang dapat juga masih itu-itu saja.” Dan karena keterbatasan tenaga itulah, brand juga kesulitan untuk menjaring orang-orang dengan kemampuan ini padahal permintaan banyak sekali. Kebutuhan untuk menumbuhkan orang-orang dengan kepiawaian social media di perusahaan-perusahaan. Uniknya, perusahaan-perusahaan ini menjaring tenaga di pasar lepas (freelancer) tapi setelah freelancer social media ini ditawari untuk menjadi karyawan tetap perusahaan bersangkutan, mereka menolak karena gajinya sudah besar. Mereka lebih suka independen.

This is How Prophet Mohammed Consumed Honey

Honey
Image via Wikipedia

Even Mohammed, our last Prophet, is known for his great care of health. He strongly believes in the idea that the physical body is what Allah has given us for a temporary period of time.

As he woke up, the Prophet would grab a bottle of honey. “The way Propet Mohammed consumed honey might be different from ours. Most of us drink honey after being mixed with water,” stated Dr. Brilianto M. Soenarwo , an author of healthy living a la Mohammed.

As it turns out, Mohammed consumed honey in a different way. The health practitioner usually called Toni explained that the Prophet would take honey and  let it melt in his mouth as it is mingled with saliva.  The author of various health related books explained that honey contains fructose, and fructose needs saliva in order to be digested more perfectly by the stomach.

Also, he states that consuming pure honey every morning can help us prevent stomach ulcer. “In the morning, the stomach is empty because the Prophet usually ate a light dinner around 8 pm. Honey can coat the ulcer walls so his stomach stayed healthy,” he added.

The prophet would eat a light meal at night. He would eat a bigger portion of meal in the afternoon.(http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/11/12/31/lx27ak-begini-cara-nabi-muhammad-menyantap-madu)

Transforming into an Energy-efficient Worker

Who doesn’t work today? In the era of consumerism, people are inclined to work longer and handle multiple side jobs  because it’s the sole key enabler to gain more income so as to be able to spend more to keep up with the market pace. And even if someone is obviously unemployed or half unemployed, s/he is in fact working to land a proper job.
Transforming yourself into an energy-efficient worker is vital, regardless of the fact that you’re working for the government, an enterprise, your own home-based business, or working anywhere just like me and any other typical blogger or workers in Internet-related fields.
First thing first, we need to know that energy saving actions can be painless once we know the tricks and feel less than a big sacrifice of our convenient life style. Energy saving or conservation doesn’t require you to work with that old-fashioned typewriter and as little light as possible, as all this brings us more unproductivity than efficiency. Everyone can still enjoy their lives and work even better while applying energy saving principles to their working routines. Besides, who doesn’t want to save money? If you can save money and spend for a better cause, why should you spend it for something that doesn’t bring any noticeable difference in the humanity?
1. Make sure our electronic working equipment has the “ENERGY STAR” label.  
Why so? ENERGY STAR is the trusted, government-backed symbol for energy efficiency helping us all save money and protect the environment through energy-efficient products and practices.

The ENERGY STAR label was established to:

  • Reduce greenhouse gas emissions and other pollutants caused by the inefficient use of energy; and
  • Make it easy for consumers to identify and purchase energy-efficient products that offer savings on energy bills without sacrificing performance, features, and comfort (http://www.energystar.gov/index.cfm?c=products.pr_how_earn).
My netbook has this blue label on it, one like this.

Look for this logo when considering your new r...
Image via Wikipedia
2. Maintain the equipment regularly.
It takes regular maintenance to stay efficient. Simple cleaning might count. Letting your equipment covered with thick layers of dust prevents it from working properly.
3. Switch to hibernate mode, instead of screensaver or standby mode

Using screensaver on computer screen does NOT save much energy, to be frank. Try to personalize your computer working mode (usually there’re 3 modes: high performance, balance, and power saver). When you work for a long time with a relatively light , basic type of computing, then the 3rd suits best.

I always use this mode to extend battery life while being away from power outlets. If you use desktop PC (which is more energy consuming than laptops or netbooks) for work, try the same trick and don’t forget to turn off the monitor. I sometimes find people who leave their monitor ON the entire weekend even they already switch off the machine (CPU). My coworkers are also seen locking his PC while away for pray or lunch break. That’s such a waste! Turn any electronic equipment  off if you want to leave them. Switching it on again as you come back is as easy as snapping your fingers, so stop making excuses like “It’ll take a longer time to switch it on again, open the browser, connect it to the network and get back to work again”. Don’t be selfish, let’s not think of how long it’ll take us to switch it on again when at the same time there’re millions Indonesians out there can’t enjoy the electricity. Shame on us!

 

4. Share working equipment

Sharing is caring. Aside from being social, sharing our equipment offers more opportunities to cut down energy spending and budgets to purchase more equipment.

By having only necessary equipment in the office, you cultter the workspace less and that means you can save headaches. Clutter is the culprit of ineffciency and unproductivity.

By sharing working equipment, we also interact with other people/ coworkers more often. Even if you don’t want to talk with him/ her, you have to.  For example, because there’s only a printer at my coworker desk, I have to walk there every time I need to print something, and ask his favor. This is supposed to be regarded as ice breaking ‘tactic’ not a distraction. Every time we get bored and sick of the busy-ness and overwhelming tasks, what seems to be distraction of concentration may become a mood booster. Take time. This way, we’re encouraged to be more physically active, which in turn replaces the sedentary life style that kills many of modern Homo Sapiens as well.

 

5. Use electricity powered tools rather than compressed air versions. These will use roughly one tenth of the energy.

6. Run photocopiers in batches to ensure that the photocopier does not spend more time than needed switching between high power and sleep modes. It is the same principle applied to ironing clothes. If you iron more clothes less frequently, it means you save more energy than those who iron their fewer clothes but more frequently.

7. Get a place to stay within walking distance

Really, you’ll be so grateful to yourself for getting a place to stay or live in a walking distance from your workplace. Not only can you save a lot of stress and headaches due to maddening traffic jams and inhaling the poluting gases, but you can also walk more, which means you workout more and live a healthier life style. With fewer hours spent on streets, you can enjoy more productive times at home.

I recently bumped into an emerging, Twitter-based community called “@JalanKaki”. This is kind of great to promote public awareness of the importance of walking more and driving less in every corner of Jakarta and several other cities. And by public, it refers to middle up social group with stronger influence and more intense pressure to the ignorant government, as Glenn Marsalim (@GlennMars) put it. Glenn and Marco Kusumawijaya created this @JalanKaki community.

8. Unless really urgent, try to take mass transportation

Personal cars are the last resort, particularly in Jakarta. If you must keep an appointment in a last minute, personal rides may be of great help. But if there’s still plenty of time, why not taking a mass transportation earlier in the morning or 30 minutes earlier than the departure time? Even Dahlan Iskan, the minister of state-owned enterprises of Indonesia, does this.

9. Exchanging emails and video conferencing

Video conferencing and emails may prevent our higher carbon print owing to excessive travelling. Even travelling is great and offers firsthand, eye opening experience, emails and video conferencing spend less time on the road and lower budget. Try to set up a shrewd, effective strategy of picking which business activity requires travelling and which one doesn’t (and thus can be replaced by emails and video conferencing).

I report and interview people. I go out sometimes but whenever possible, I prefer exchanging emails with my interviewees. Video  conferencing is fun but that only holds true if the broadband you’re using is really broad. Mine is moody, it switches dynamically from “broad”- “somewhat broad” – “relatively broad” – “obscurely broad” to  “by no means broad”. Unhappily, it never reaches “certainly broad”.

10. Working from home

Working from home can significantly reduce travel needs. Investigate this possibilities of your job. As for me, I work for a online site. I write mainly, and it can be done completely online. My performance is measured heavily based on the number of articles and the hits each of it records. So basically I can work anywhere anytime with an Internet-connected device.

 

11. Share personal rides with coworkers or shift to bikes

Promote car sharing or hitchhiking if you live around the same neighborhood with your coworkers. One site offers the same concept of hitchhiking as the modern transportation solution: http://nebeng.com/. Another community for cyclists who work downtown is “Bike to Work Indonesia” ( http://www.b2w-indonesia.or.id/).

12. Purchase company cars based on their fuel efficiency

If your company cars are already 30 or 20 year-old, that means they need replacement.

%d bloggers like this: