Potret anak-anak Jakarta marginal: Saat bermain jadi kemewahan

Sore ini saya luangkan waktu sedikit bersantai. Cuaca gerimis, angin lumayan kencang. Membaca buku “Eat Pray Love” di teras atas kos mungkin mengasyikkan, kata saya dalam hati. Dan saya ikuti saja. Jarang bisa nikmati waktu santai yang amat berharga ini.

Setelah menyantap buah rambutan dan manggis yang cukup masam tadi, kini giliran makan berat: ikan lele goreng, nasi hitam dan oseng kecipir. Bukan makanan kegemaran tetapi saya coba melahapnya.

Dan tiba-tiba dari bawah terdengar suara berisik. Sekumpulan anak laki-laki bermain di lorong gang depan kos, tepat di bawah teras atas di mana saya menikmati waktu luang.

Mereka inilah ‘musuh’ para penduduk kos dan depan kos. Bisa dibayangkan sekelompok anak laki-laki ini (ini belum ditambah anak-anak perempuan yang suka main ‘mini sinetron’).

Saya pernah mendengar mereka dimaki-maki penjual toko kelontong di depan kos yang kesal karena riuh rendah yang ditimbulkan saat bermain. Saya pernah mendengar ibu kos saya menyiram air bekas cucian dari teras atas agar mereka pindah tempat bermain. Saya pernah juga mendengar bapak kos turun ke bawah demi membentak mereka agar enyah karena penghuni kos terganggu. Belum lagi gangguan tiap saat dari pengendara sepeda motor yang lewat.

Toh mereka kembali, dan kembali lagi. Seakan tak pernah jera, malu apalagi sungkan.

Saya? Bagaimana dengan reaksi saya saat mereka berteriak seperti itu di waktu saat saya seharusnya bisa rileks, tidur siang dengan nyenyak?

Reaksi awal saya juga sama. Saya mau menghakimi mereka sebagai anak nakal, tak tahu aturan tetapi sejurus kemudian, saya berpikir. Kenapa mereka ini bermain di sini?

Pedagang toko kelontong, ibu kos, bapak, penghuni kos dan semua pembenci anak-anak ini mungkin lupa. Daerah bernama Karet Kuningan ini tak memiliki sarana atau setidaknya sebidang lahan terbuka untuk tampung anak-anak ini. Semua penuh dengan bangunan. Bahkan di atas selokan pun didirikan kamar hunian, dengan biaya sewa 100-200 ribu per bulan.

Inilah kompleksitas kehidupan anak-anak di Jakarta.

Suatu ketika saya bertemu dan berbincang santai dengan seseorang yang membeli kopi Starbucks seperti membeli satu piece permen rasa kopi eceran di toko mungil di depan kos. Dengan terang-terangan, dia menyatakan bagaimana ia biasa membawa istri dan anak-anaknya ke mall untuk bisa sekaligus menemui kolega atau klien di sana. “Saya suruh anak-anak main di arena bermain, saya temui klien. Gampang kan,” begitu kurang lebih inti pernyataannya yang bisa saya tangkap. Saya meringis. Ini ironis.

Jadi sekarang tempat bermain anak-anak pun mulai bergeser ke mall?? Boleh saja, asal orang tuanya bisa membayar. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang orang tuanya tinggal mengontrak rumah petak di gang sempit seperti mereka yang bermain di sekitar kos saya ini? Apakah mereka harus terus bermain di gang-gang sempit untuk bisa sekadar berlarian, petak umpet, dan sebagainya?

Mengerikan memang. Hak-hak anak untuk bermain pun ikut terampas oleh ‘kemajuan jaman’.

image
Anak-anak ini tanpa sadar berlatih handstand. Bedanya, mereka lebih menikmati daripada peserta dewasa di kelas yoga eksklusif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.