Yoga Itu Tidak Haram, Asal…

Setiap hari Minggu dan beberapa kali dalam seminggu setidaknya saya berlatih yoga. Entah itu di Taman Suropati bersama dengan teman-teman atau sendiri saja di musola kantor. Iya benar, saya bahkan melakukan yoga di kantor. Di sela-sela jam kerja terkadang karena begitu merasuknya kantuk sehingga badan perlu disegarkan kembali dengan sedikit peregangan.

Sedikit bercerita saja, dahulu saya kurang suka dengan olahraga. Pelajaran olahraga semasa SMP dan SMA mungkin adalah yang paling membuat malas. Apalagi kalau sudah harus bergumul dengan olahraga yang menggunakan bola. Rasanya saya mau tinggal di ruang kelas saja. Tidur! Tapi itu juga tak mungkin saya lakukan, bagaimanapun saya sadar olahraga itu perlu.

Tapi sesi berolahraga menjadi menyenangkan begitu saya harus melakukan gerakan senam lantai yang lebih menantang daripada sekadar menendang bola sana sini. Saya bisa mencium lutut lebih lama dan lebih dalam dari siapapun di kelas. Dan saya menikmati itu.

Dengan tipe tubuh ectomorph yang bertulang kecil seperti ini, olahraga dengan kontak fisik yang intens adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan di benak saya. Olahraga kompetisi memang rasanya tidak akan menjadi jenis olahraga yang memberikan penyehatan tetapi lebih cenderung mendatangkan luka, cedera, atau penyakit bagi saya. Serius. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dalam hati kenapa teman-teman kerja saya rela setiap minggu bermain futsal untuk kemudian berjalan terseok besoknya karena terkilir, atau pergelangan tangan yang ngilu selama 2 minggu tanpa henti karena terbentur lantai saat menjadi kiper gawang? Saya tak akan pernah bisa mengerti hal itu, mungkin karena saya tak pernah tertarik demikian hebat pada bola. Ini karena menurut hemat saya setelah berolahraga, seharusnya kita merasa lebih segar, rileks, dan bersemangat menjalankan kegiatan sehari-hari. Lalu apa gunanya berolahraga kalau membuat kita tak bisa lebih produktif dalam kehidupan sehari-hari? Maaf, itu saja sudah konyol menurut saya. Bye, bola!

Dan mungkin karena ketertarikan sejak dulu dengan senam lantai itulah saya juga menjadi tertarik dengan yoga. Ada kemiripan antara keduanya dan memang menurut pengamatan saya, ada kemiripan dalam gerakan.

Berawal dari sana, saya mulai membeli buku dan membaca beberapa literatur daring tentang olahraga dan olahrasa satu ini. Salah satu buku yang menjadi rujukan saya adalah “Yoga untuk Semua” karya Devi Asmarani dan terjemahan dari “The Wonder of Yoga” tulisan Leslie Kaminoff. Semakin banyak membaca, semakin saya tertarik hingga suatu saat saya bertemu dengan Yudhi Widdyantoro di Taman Suropati dan kami pun hingga sekarang berlatih setiap Ahad di sana.

Kesan pertama setelah berlatih yoga adalah tiadanya paksaan atau keharusan untuk “benar”. Maksud saya, tidak ada yang salah dalam setiap gerakan yang kita lakukan karena tubuh setiap orang itu berbeda, demikian yang pernah saya dengar dari Yudhi yang sudah melanglang buana dengan keahliannya beryoga. Maka itu, saat ia menyinggung bahwa yoga pernah “diharamkan” oleh MUI, saya pun bertanya yang mana yang bertentangan dengan akidah. Tentu ini sangat subjektif sekali, karena tidak semua latihan yoga adalah persis seperti yang saya alami.

Sebagai seorang muslim yang berusaha menjalankan ajaran agama saya dengan sebaik mungkin, saya juga tentu ada kecemasan tersebut. Kemudian saya temukan dua artikel berikut: di Kompas.com dan News.Detik.com. Dinyatakan bahwa MUI tidak melarang yoga yang berfokus pada pemeliharaan kesehatan dan melarang untuk mengikuti yoga sebagai bagian dari ritual agama lain. Dan saya lega karena jenis yoga yang saya lakukan memang lebih mengutamakan kesehatan fisik dan nilai-nilai kebajikan yang universal. Jadi saya tak merasa harus meninggalkan yoga yang saya lakukan ini karena ini mungkin satu-satunya jenis olah tubuh yang membuat saya tetap waras dalam segi fisik dan mental di tengah Jakarta yang penuh dengan sumber stres!

Perlu diketahui bahwa niat saya untuk berlatih yoga ialah agar bisa tetap sehat di mana dan kapan pun saya berada. Berolahraga di ruang terbuka di kota seperti Jakarta ini cukup menantang, belum lagi ditambah kesibukan kerja yang cukup menyita waktu. Sementara untuk beryoga, hanya dibutuhkan tubuh kita sendiri dan tempat yang tenang. Bahkan mat pun, jika tidak diberi teman, hingga sekarang saya masih belum memiliki sendiri. Karena bagi saya, mat cuma pelengkap.

Sebuah percakapan singkat dengan teman kantor tadi petang mengenai yoga pun memicu saya untuk menuliskan isu ini. Saya juga memahami bahwa kecemasan MUI cukup beralasan karena saya juga tidak ingin meninggalkan keyakinan saya . Semua akhirnya kembali kepada diri kita masing-masing.

Eclectic. Mungkin itulah satu kata yang bisa saya pilih untuk mewakili sikap saya terhadap yoga. Saya mengambil manfaatnya yang sesuai dengan kebutuhan saya dan meninggalkan bagian lain yang kurang sesuai. Kita bisa melakukannya karena kita individu yang merdeka dan sadar dengan apa yang kita lakukan dan konsekuensinya. Dengan mengetahui tujuan saya apa, akan lebih mudah mempertahankan nilai-nilai yang saya yakini. Dan jika saya membuat kesalahan pun, itu juga pembelajaran yang nilainya tak terhingga. Jadi marilah kita memilah-milah dengan bijak sebagai seorang makhluk dengan akal, budi dan rasa.

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in yoga and tagged , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Yoga Itu Tidak Haram, Asal…

  1. kariada says:

    orang bijak mampu memilah dan memilih yg terbaik untuk jiwa raganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.