Gaya Hidup Ramah Enzim Pangkal Menurut Hiromi Shinya

English: This image shows a display of healthy...

Shinya sarankan agar buah dimakan sebelum makanan lainnya. (Image via Wikipedia)

Saya selalu menikmati obrolan ringan di sore hari dengan teman kerja di musholla kantor. Semua hal yang tak bisa dibicarakan di meja kerja seolah mendapatkan celah untuk keluar di sana.

Karena itu, tempat ini menjadi sangat sakral, tak cuma karena ini menjadi tempat kami beribadah dalam 5 hari seminggu tetapi juga karena di sini kami lebih ‘mendengarkan’ apa yang tubuh kami rasakan. Saat deraan pekerjaan mengendur di sore hari, pikiran seolah menjadi tersadar kembali dengan ketidakberesan dalam jiwa dan raga.

Semua dimulai dari celetukan salah satu teman (yang usianya selisih antara 10 hingga 20 tahun dengan saya) yang mengeluh tubuhnya yang makin terasa tidak karuan setelah makan makanan tertentu. Ia menderita wasir akut dan pernah divonis harus menjalani operasi namun nampaknya lebih tertarik untuk mengobatinya dengan metode penyembuhan alternatif.

Teman yang lain pun menimpali, “Semua penyakit itu datang dari sini dan sini”. Ia berkata demikian sembari menunjuk kepala dan perutnya dengan nada santai dalam posisi berbaring di lantai. Dengan kata lain, kesehatan kita secara umum sangat berkaitan erat dengan apa yang masuk dalam pikiran dan sistem pencernaan kita. Dan sekonyong-konyong semua di ruang musholla itu diam, seolah mengamini dalam hati mereka. Saya pun demikian.

Teringat juga dengan pendapat teman lain yang yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa penyakit itu datang dari pikiran. Jika pikiran kita positif, penyakit pun enggan datang.

Baiklah, saya setuju tentang kekuatan berpikir positif, tetapi kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya setelah mengamati gaya hidupnya yang jauh dari kata “sehat” (merokok, makan makanan sampah lebih sering dari makanan alami, dst.). Apakah pikiran yang positif, senang, gembira bisa mengimbangi semua benda negatif yang kita masukkan ke dalam tubuh secara sengaja atau tidak sengaja? Saya meragukannya. Menurut hemat saya, tentu diperlukan keduanya (pikiran yang positif serta makanan yang sehat) supaya kesehatan terpelihara secara optimal.

Tergerak oleh asumsi teman saya itulah, saya kali ini ingin membahas tentang apa yang kita semestinya masukkan dalam sistem pencernaan kita agar bisa lebih menikmati kesehatan dalam jangka yang lebih lama untuk mengimbangi pikiran kita yang (saya asumsikan) sudah positif. Dan saya berpikir, bisa jadi keduanya saling mempengaruhi. Kesehatan raga juga turut memengaruhi suasana hati dan pikiran kita. Dan sebaliknya, pikiran juga mempengaruhi kesehatan raga pula. Kesehatan raga ini ditentukan oleh berbagai faktor seperti apa yang kita makan, bagaimana memakannya, frekuensi memakannya, dan sebagainya.

Bisa kita jumpai banyak sekali metode makan sehat di luar sana. Kebetulan akhir-akhir ini saya sedang gemar membaca “The Miracle of Enzyme” karya Hiromi Shinya, M. D. Ia seorang sosok terkemuka dalam dunia gastroenterologi dan bedah. Sejumlah butir pemikirannya mengenai bagaimana menjaga kesehatan menurut saya relatif kuat dari sudut pandang ilmiah, mengingat pengalamannya memeriksa lambung dan usus serta mencatat sejarah kebiasaan makan lebih dari 300.000 pasiennya (“The Miracle of Enzyme”, hal. 19). Dan yang terpenting, sebagai dokter ia dengan berani membuktikan metodenya itu pada dirinya sendiri. Ia bahkan mengujicobakan semua obat-obatan sebelum ia berikan pada pasiennya dengan menelannya dalam dosis yang lebih kecil.

Satu hal yang saya kagumi juga ialah bagaimana konsistensinya menerapkan gaya hidup sehat. Seperti kita ketahui, dokter adalah orang yang membantu kita mencapai kesembuhan dan menjaga kesehatan tetapi ironisnya pada saat yang bersamaan juga menjadi orang yang paling abai dengan kesehatannya sendiri. Saya banyak menjumpai dokter-dokter yang dengan tanpa merasa ‘bersalah’ harus menenggak minuman berkafein tinggi agar tetap kuat begadang untuk tuntutan profesionalisme (seperti melakukan operasi pembedahan yang begitu rumit). Mereka tahu kafein dalam kadar tinggi yang dikonsumsi dalam jangka panjang bisa berakibat negatif pada jantung tetapi toh itu tidak membuat mereka berhenti. Dan dengan tingkat stres pekerjaan yang demikian tinggi, dokter yang merokok pun seolah juga bisa dimaklumi. Namun, sekali lagi inilah harga profesionalisme yang harus ditebus, bahkan dengan kesehatan yang tak ternilai.

 

Pagi hari

Sebagaimana yang ia lakukan setiap pagi, Shinya menyarankan untuk:

  • Menghirup napas dalam-dalam untuk mengganti udara yang kurang segar di dalam paru-paru setelah bangun pagi,
  • Berolahraga  berupa senam ringan untuk melancarkan peredaran darah dan aliran dalam kelenjar getah bening,
  • Minum 2-3 gelas air yang baik (sesuai dengan standar kesehatan) dengan suhu sekitar 21 derajat celcius,
  • Setelah 20 menit minum air, menyantap buah segar kaya enzim,
  • Sekitar 30-40 menit setelah buah masuk perut, makan pagi dengan beras coklat yang dicampur dengan 5-7 jenis biji-bijian.
  • Sebagai makanan pendamping, makan sayuran kukus (2 menit saja), natto (kacang kedelai fermentasi), non (rumput laut kering), dan rumput laut wakame olahan. (Tentu tidak semua orang bisa mendapatkan semua bahan makanan seperti ini di Indonesia, jadi bisa diganti dengan bahan makanan lokal alami yang lebih mudah didapat dan murah)

Siang hari

Inilah yang dilakukan Shinya saat siang hari:

  • Sekitar pukul 11, minum 2 gelas air yang baik.
  • Setelah 30 menit, santap buah. Dengan begitu, enzim di dalamnya akan lebih mudah diserap karena tak harus dicampur dengan makanan yang lebih berat untuk dicerna serta membuat rasa lapar lebih terpuaskan. Kelebihan makan bisa dihindari.
  • Makan makanan utama yaitu nasi coklat dengan campuran 5-7 jenis biji-bijian.
  • Tidur siang sekitar 20-30 menit untuk menjaga produktivitas.

 

Malam hari

Setelah matahari tenggelam, disarankan untuk:

  • Tidak makan apapun setelah makan siang,
  • Sekitar pukul 16.30, minum 2 gelas air yang baik,
  • Tunggu 30 menit dan makan buah,
  • Setelah 30-40 menit, santap makan malam ( Jadi makan malam disantap sekitar pukul 17.30-17.40.Ketahui alasannya nanti)
  • Hindari percakapan selama makan karena harus fokus pada proses mengunyah yang baik (Di halaman 266, Shinya sarankan makanan setidaknya dikunyah 30-70 kali sampai benar-benar lembut dan tercampur ludah dengan sempurna baru ditelan),
  • Tidak minum teh hijau atau kopi setelah makan,
  • Setelah selesai makan sekitar pukul 18.30, sebaiknya hindari masukkan makanan atau minuman ke dalam perut. Namun, jika memang lapar dan haus menjelang tidur, makanlah buah atau minum air kira-kira  1 gelas saja, selang 1 jam kemudian baru tidur.

Alasan menyantap makan malam di awal petang adalah karena perut sebaiknya harus sudah benar-benar kosong saat kita tidur di malam hari. Dan menurut saya ini juga sangat beralasan, mengingat tubuh kita sedang berada dalam fase detoksifikasi dan restorasi. Menjejali usus dengan makanan apalagi yang kurang sehat akan membuat konsentrasi tubuh untuk mengeluarkan zat racun dan memulihkan diri terpecah dan kurang maksimal. Itulah mengapa tiap kali saya tidur dengan perut penuh setelah makan sangat tidak nyaman. Shinya bahkan menyatakan meminum air saat larut malam semestinya tidak dilakukan (hal. 204).

 

 

 

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.