Episode 1: Karet Pedurenan

image

Libur. Sungguh menyenangkan. Tetapi tak ada yang spesial untuk mengisi hari.

Seperti biasa, cuaca kota ini kembali memanas. Beberapa sudut menurut kabar masih tergenang air tapi secara umum kelihatannya sudah mulai membaik apalagi matahari sudah menyengat kembali.

Begitu juga di kawasan ini. Sebuah ruas jalan yang lebih sempit dari jalan protokol dan kadang terlihat kemacetan di sini. Di tempat saya berasal, jalan selain jalan utama jarang tersumbat macet.

Di warung kecil nan bersih ini aku sekali lagi habiskan waktu makan siang. Ukurannya sedang saja. Bisa memuat 10-20 orang sekali waktu. Khas kalangan menengah. Harga rata-rata makanannya cukup mahal untuk mereka yang berkantong pas-pasan.

Pemilik warung ini seorang wanita setengah baya. Ia sedang di sini sekarang. Dari nama dan cita rasanya, orang ini berasal dari tanah Sunda.

Tapi jangan harap menemui seorang perempuan Sunda dengan penampilan kolot. Ia mengenakan gelang aksesoris yang berkilau. Roknya merah muda dengan ketinggian setengah panjang pahanya. Saat mengambil uang di kotak almari di dekatnya, bagian belakang rok itu agak terangkat. Sayangnya, sepasang paha itu sudah kendur. Saya yakin beberapa pengunjung lelaki berharap anak gadisnya saja yang memakai rok itu.

Saya pernah beberapa kali temui seorang perempuan muda nan modis dengan iPhone di tangan. Saya simpulkan dialah si anak gadis Bu Neneng ini. Dia masih kuliah dan jarang menjadi kasir, semoga saja karena sibuk kuliah. Pernah ia ajak beberapa teman kampusnya makan di sini, suasana jadi ramai. Keramaian canda khas anak muda. Betapa saya merindukannya sekarang, si anak gadis dan keriangan tipikal mahasiswa itu.

Sudah 2 tahun saya menjadi pelanggan di sini. Tak tahu kenapa saya tak mau beralih. Pelayanannya lumayan meski kadang lama juga.

Warung ini semula cuma 1 petak. Perlahan berkembang dengan perluasan ke 1 petak sebelahnya. Dan beberapa waktu lalu saya baru ketahui petak tempat makan di seberang jalan juga memajang spanduk dengan nama yang sama dengan warung ini: BU NENENG. Lancarnya bisnis ini cukup jelas diindikasikan dengan begitu seringnya telepon berdering dari penghuni apartemen dan kos mewah di sekitar sini.

Ekspansi bisnis yang cukup agresif, mengingat kompetisi usaha kuliner di pusat kegiatan bisnis ibukota ini amat ganas. Pesaing lebih banyak, makanan mereka juga tak kalah lezat. Tapi mungkin kesetiaannya pada resep Sunda membuat Bu Neneng berbeda dan membuatnya berhasil bertahan.

Kali ini saya pesan dua makanan: mi ayam pangsit dan karedok. Anggap saja saya menikmati ‘dosa’ dengan melahap mi lalu menebusnya dengan makan sayur mentah yang dicincang kecil dan dicampur bumbu kacang dengan kekentalan ekstra.

Mi ayam pangsit itu dihidangkan ke meja. Saya suka minya meski tanpa kuah tetapi nafsu makan agak meredup begitu menemukan warna merah tua yang sepertinya darah beku di 3 potong kaki ayam di atas hidangan itu. Saya sisihkan. Teringat berita ayam ‘tiren’ (mati kemaren : ayam bangkai) yang pernah saya saksikan di reportase sebuah stasiun TV swasta.

Namun karedoknya sedap sekali. Tak heran ini menjadi kekhasan restoran satu ini.

Sekonyong-konyong masuk segerombol perempuan muda dengan jeans biru ketat, tubuh sintal, rambut panjang hitam lurus buatan a la salon, dengan seorang pria dengan rambut dicat jingga bak pelawak Mamik Prakoso. Mereka duduk, memesan makanan tanpa nasi dan mengeluarkan BlackBerry Gemini masing-masing untuk mengambil gambar. Sekadar abadikan momen (yang tak terlalu) istimewa.

Seorang laki-laki bertubuh gempal dari luar masuk dan menyapa mereka. Entah apa pekerjaan mereka tetapi mereka begitu akrab. Si pria berambut jingga pergi bersama si gempal setelah membayar makanan yang dipesan dua rekan wanitanya.

Lalu segerombol wanita dari salon perawatan wanita di seberang jalan masuk. Satu orang yang berada di depan berambut panjang ikal dan masih basah, mungkin karena buru-buru pulang setelah cuci rambut.

Tanpa aba-aba mereka membayar makanan yang telah dipesan dan telah mereka santap di salon tadi satu persatu. Warung makan ini memang melayani pesan antar, dan yang paling sering saya ketahui pesanan itu mengalir dari penghuni apartemen, kos dan pelanggan salon di depan.

Suatu kali saya pernah naik taksi melintasi ruas jalan ini menuju kos. Si sopir berceloteh,” Wah di sini banyak perempuan yang begitu ya pak”. Saya yang penasaran mencoba menggali apa makna pernyataannya itu dan ia menimpali,”Sering saya ambil penumpang dari sini tengah malam atau pagi-pagi buta lalu ke diskotik, lalu mengantarkan ke sini lagi. Dandanannya jangan ditanya. Seksi-seksi semua!”

Saya juga setengah percaya setengah tidak saat mendengar gurauan tentang banyaknya salon palsu di kawasan ini. Kebenaran tentang jasa wanita penghibur di sini belum pernah saya buktikan walaupun berkali-kali saya temui banyak ekspatriat berlalu-lalang dengan wanita Indonesia di samping mereka.

Tak ada yang bisa mencegah semua itu terjadi di sini, di Jakarta yang semakin kosmopolit. Semua bisa datang dan tinggal dan berperilaku semaunya asal tidak terang-terangan melanggar hukum dan jika melanggar hukum pun, kompromi masih bisa dilakukan. Di sini ‘reputasi’ FPI mungkin lebih ditakuti dari polisi.

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: