Episode 2 : Kopitiam Oey

image

Matahari sudah sepenggalah. Pukul 9 lebih. Kami masuk ke sebuah kedai makanan. Bukan kedai makanan biasa. Ini milik om  Bondan “Mak Nyus” Winarno dan anaknya Gwen.

Aku sudah pernah masuk dan bersantap di sini, bersama teman-teman yoga juga. Kami makan bersama kala itu sehabis latihan, seperti saat ini juga. Seorang teman bernama Wayan Sudira hendak pindah ke Bali dan mendapat pekerjaan baru di sana. Kupikir bekerja di Pulau Dewata adalah ide yang sangat menyenangkan, tetapi kemudian aku berubah pikiran. Bekerja di mana pun tetaplah bekerja. Kita tak bisa menikmati keindahan sekeliling kita atau menggerutu karena carut marutnya lingkungan sekitar kita bekerja. Kita hanya harus fokus. Seperti itulah yang aku rasakan di Jakarta. Tak peduli banjir, badai, asal kantor dan kos baik-baik saja dan aman, tak masalah. My life goes on as usual.

Kedai makanan itu sangat khas dengan warna merah menyala mendominasi. Entah apa namanya, aku kurang bisa menggambarkan. Tetapi harus kuakui suasanannya amat lain dari kedai makanan sekitarnya. Seperti ditransfer ke masa lalu, saat Ca Bau Khan masih hidup. Aku suka sekali novel Ca Bau Khan itu. Karya Remy Silado yang narasinya sangat mengalir. Buku setebal itu bahkan aku lahap dalam 1-2 hari saja. Itu rekor, karena aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan bahan bacaan dalam sekali duduk, kecuali untuk buku-buku yang begitu menarik.

Ya, suasana kedai ini begitu Cina. Kalau kedai ini orang, dia pasti sangat sipit, berkuncir di belakang dengan jidat mulus karena dicukur terus menerus. Haha. Bahkan menunya pun ditulis dalam bahasa Indonesia tempo dulu dan bahasa Indonesia itu terkena pengaruh Tiongkok. Jika dibaca keras-keras, ketahuan nadanya sangat Cina.

Entah siapa yang memulai, begitu kami masuk dan memesan makanan dari menu, topik percakapan yang  keluar dari mulut kami bukan tentang masakan Cina, orang Cina, interior Cina, atau apapun yang berbau Cina. Devi yang baru saja menjadi instruktur latihan kami pagi itu berkata, “Masak telur di rumahnya saja ngga boleh”.

Yudhi menimpali, “Bawang juga ngga ada”.

Lala bertanya lagi setengah protes, “Telur PUN ngga boleh?”

Tak ada yang menjawab. Percakapan terus berlanjut.

“Susu juga ngga,” kata Yudhi.

“Karena dari binatang,” tukas yang lain.

“Alkohol, kafein…” tambah Devi tentang daftar makanan terlarang orang Brahma Kumaris.

“Udah pesen?” tanya Yudhi.

“Udah, tadi pesen nasiii….hmm. Oh bubur ayam kalau ngga salah,” jawabku ragu, dengan pikiran masih terfokus pada menu larangan penganut Brahma Kumaris.

Kami pernah kedatangan dua orang dari Brahma Kumaris yang berbagi tentang perdamaian saat peringatan 11 September tahun lalu. Mereka berpakaian putih dari atas hingga bawah bermodel seperti sari wanita India.

Mala, seorang penganut setia, adalah seorang wanita setengah baya berpenampilan Kaukasia. Ternyata ia berasal dari Australia. Nada bicaranya lembut dan tenang, dengan sesekali diselingi senyum. Rambutnya abu-abu, entah karena uban atau karena warna rambutnya asli pirang, dan dikepang ke belakang hampir sepantat.

Devi tiba-tiba berceletuk, “Engga, kalau vegan bukan India, mas.” Katanya pada Yudhi yang sedang membaca menu dengan serampangan, berharap ada makanan ‘lucu’ untuk dipesan. Istilah ‘lucu’ memang aneh digunakan untuk menerangkan makanan.

“India itu ngga ada vegan, kecuali Jayan,” lanjutnya. “Kultur mereka banyak hewani. Susu, panir…”

“Bubur kambing Tangerang ini kayaknya lucu juga,” Yudhi bergumam sendiri saat mencermati daftar menu yang diberikan pelayan.

Ia  terus menelusuri menu, bercakap-cakap dengan yang lain tentang pendapat mereka terhadap makanan-makanan di menu.  Si pelayan kembali menunggu.

Percakapan dengan tema yang benar-benar acak kembali bersambung setelah masing-masing memesan makanan kesukaan.

Kali ini tentang masalah nama.

“Ada temen nama babahnya Mujiono, ibunya Aisa. “Muas” jadinya. Semua anaknya juga dinamain begitu,” jelas Yudhi.

Dalam keluarga, nama bisa menjadi bukti relasi kuasa antara berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dalam kasus tadi, bisa diambil simpulan, antara bapak dan ibu terdapat hubungan yang setara, egaliter. Bisa juga diartikan adanya dominasi yang sama kuat, mungkin… Atau kekeraskepalaan yang sama parah, bisa jadi.

Dalam kasusku sendiri, namaku mencerminkan dominasi kakek dari pihak ibu. Aku tak tahu persis siapa yang memilih nama “Akhlis” tetapi yang jelas nama “Purnomo” ialah pilihan almarhum kakek.  Kata “purnomo” hampir sama dengan “purno” atau “purna” yang merupakan penggalan dari “purnawirawan”.  Kebetulan saat aku lahir, kakek baru saja pensiun dari jabatannya di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang sekarang dikenal sebagai Tentara nasional indonesia (TNI). Entah mengapa istilah itu diganti, toh juga sama saja. Begitulah orang Indonesia, terlalu sibuk dengan istilah. Pekerjaan yang sebenarnya malah lupa.

Dominasi kakek tampaknya tak bisa dihindari kala itu. Sebagai pasangan muda yang baru tinggal di rumah orang tua yang bergelut di dunia yang keras dan tegas, tak ada pilihan banyak untuk ‘menentang’. Begitulah nasib orang yang menumpang, tak pernah punya kedaulatan sendiri. Karena itu, tak heran rumah sekarang bukan cuma jadi dambaan setiap keluarga tetapi juga simbol kebebasan setiap pasangan muda. Kontrakan bukan masalah besar, asal bisa berdaulat. Meski akhirnya nanti seperti hubungan Inggris dan negara-negara persemakmurannya, setidaknya sudah ada pemisahan dan kebebasan menentukan nasib sendiri.

Sekonyong-konyong percakapan menjadi mengarah tentang seseroang bernama Bambang. “Mas Yudhi tau pak Bambangnya kan? Orangnya tinggi besar. Ya kayak-kayak gitu lah,” ucap Lala. Aku tak paham siapa yang dibicarakan.

“Bambang lebih gede tinggi,” Yudhi agak tak setuju.

“Jadi adiknya pak Bambang itu, adiknya  juga punya perawakan kaya gitu,” Lala berkata sambil mengunyah roti yang dipesannya.

“Ha?” Yudhi bergumam tak jelas.

“Jadi,” kata Lala perlahan agar lebih jelas,” adiknya pak Bambang ini perempuan tapi badannya juga kayak gitu, tinggi gede”.

Terus terang tidak ada yang lebih membuat stres daripada mengikuti sebuah percakapan yang sama sekali kita tidak ketahui apa isinya. Aku tak pernah bertemu dan tak bisa membayangkan pak Bambang yang sedang menjadi topik gosip kali ini. Jadi aku putuskan untuk konsentrasi menikmati suapan bubur ayam Tangerang yang panasnya bukan main. Aku kipasi saja dengan tisu.

“Ditemenin ama Irma ke mana-mana,” Devi berkata sambil tersenyum geli. Irma itu temannya yang ia ajak berfoto sebagai model dalam buku yang Devi tulis.

“Oh, Irma ikut?  Jadi mereka temenan?” tanya Yudhi memastikan.

“Iya, diajak meditasi ama Irma,” katanya lebih lanjut. “Dimarah-marahi ama Irma. Irma kan galak. Kamu tu aneh, udah ikut meditasi tapi tetep aja kayak gini,” Devi menirukan mimik dan gaya bicara Irma yang naik pitam dengan seseorang yang berhubungan keluarga dengan si pak Bambang tadi. Hubungan ceritanya agak rumit.

“Jadi di Surabaya, ngga ada komunitas….,” entah apa yang dikatakan teman Lala.

“Ada kok teman di Surabaya yang punya museum,” jawab Devi.

“Mau dong,” teman Lala itu merajuk manja. Kelihatannya ia mau ke Surabaya tetapi tidak punya kenalan dan ingin menghabiskan waktu luang dengan mengunjungi tempat-tempat menarik di sana.

Lala memberi saran,”Ada komunitas Jejak Petjinan! Jalan-jalan di daerah Pecinan. Kamu cari aja di Facebook, komunitas Jejak Petjinan dengan ejaan lama. Pake TJ” . Aku suka dengan gaya berceritanya yang bersemangat dan bahasa tubuh yang  hidup. Tak mengherankan, Lala bekerja di dunia marketing.

Setelah beberapa lama bercerita tentang Makassar, Toraja, kami pun berhenti sejenak untuk mengambil gambar bersama. Seperti biasa, seorang pelayan ‘dipaksa’ menjadi juru foto insidental. Jika Anda bekerja di berbagai tempat makanan yang asyik hingga orang-orang bercakap-cakap tanpa kenal lelah dan lupa waktu, kemungkinan besar Anda juga akan dimintai bantuan seperti ini berkali-kali dalam sehari. Pintong (pindah tongkrongan) ini harus menjadi sesuatu yang membuat iri orang-orang yang tidak ikut, begitu kata Yudhi pemimpin rombongan. Dan mengunggahnya ke jejaring sosial membuat tujuannya tercapai.

Devi mengeluhkan kebiasaan bawah sadarnya yang mendorong tubuhnya untuk selalu bergerak ke titik tengah (focal point) dalam potret yang diambil. Terlalu sadar posisi? Atau ingin terambil gambarnya dalam foto? Lain denganku. Bahkan saat aku sudah mencondongkan diri ke depan pun, hanya mata dan hidung yang terlihat di foto.

Lala menyeret pembicaraan ke topik pose-pose berfoto yang sok manis imut a la remaja jaman sekarang. Entah aku yang sudah makin menua atau dia yang berjiwa muda sekali, tapi aku sama sekali tak tahu pose-pose template seperti itu ada di dunia ini. Dan keluarlah kata “Cherrybelle”.

“Tapi ABG sekarang ngga suka senyum lho kalo difoto, perhatiin deh,” kata Devi mengajak kami mengamati. Kami tertawa sambil membenarkan saat ia mengangkat iPhonenya dan seolah mengambil gambar dengan pipi yang agak dikembungkan. “Mungkin karena kebanyakan nonton America’s Next Top Model kali,” candanya.

“Ada juga yang melet-melet,” kata Lala. “A la manga itu, komik Jepang,” tukasku.

Teman Lala mengaku punya anak 7 dan 6 tahun. Katanya, semua anaknya sudah sadar kamera. Sebuah ‘kesadaran’ yang anak-anak generasi sebelumnya belum pernah kuasai dengan begitu baiknya.

Devi pun kembali tertarik dengan kata “Cherrybelle” yang menjadi inspirasi bagi banyak ABG cewek dengan berbagai pose foto yang naik daun. Ia tak mengetahui bahwa Cherrybelle adalah girl band K-pop dari Indonesia yang kemudian aku yakini bukan termasuk dalam selera musiknya sama sekali. Untuk memuaskan keingintahuan yang membuncah akan wawasan ke-Cherrybelle-annya itu, ia meraih iPhone putihnya dan menelusur Internet untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya.

Ia bercerita sekilas bagaimana ia mendapatkan gambaran kegilaan remaja sekarang dengan K-pop yang sangat di luar bayangannya dan orang-orang di dalam generasinya. Ia tak mengerti bagaimana segerombolan remaja tanggung bersorak sorai dengan koreografi yang tertata di depan panggung sebuah pertunjukan musik Korean pop yang disuguhkan muda-muda Indonesia yang berdandan dan bernyanyi ala artis di Semenanjung Korea bagian selatan.

Lala menguak kisah di balik pendukung artis-artis K-pop Indonesia ini. “Itu dimakelarin lho,” katanya diiringi keterkejutan kami. “Jadi acara-acara kayak Dahsyat itu pakai jasa seperti itu. Ada anak-anak kuliahan yang rela dibayar sepuluh ribu cuma untuk tampil di TV. Katanya orang-orang itu mereka beneran pengen tampil dan bener-bener tau.”

Yudhi menimpali, “Tapi kalau kayak gitu biasanya pinter koreografi doang , yang bisa nyanyi paling sebagian. Yang lainnya cuma pegang-pegang mic”.  Semua tergelak.

Devi kembali ke layar iPhonenya setelah menceritakan kisah boyband K-pop dan penggemarnya yang gila di Senayan City saat ia menikmati kopi di suatu hari. Ia penasaran sekali dengan boyband ini dan saat kesulitan menemukan informasinya, aku menyarankan, “Smash tapi ‘a’-nya diganti asterisk”. Saran yang konyol, karena hanya menampakkan pengetahuanku atas kekonyolan ini. Kebanggaanku sebagai manusia dewasa awal agak “terusik” karena akhirnya mereka tahu aku AGAK suka K-pop. Tak begitu antusias kok. Aku ikut tergelak saat mereka tahu.

Sejurus kemudian, Devi membacakan informasi online di layar ponselnya, “Oh asalnya macam-macam . Ada yang lairnya di Garut, Singkawang, Kendari, Jakarta. Jangan-jangan direkrut kali ya?”

“Oh yang paling penting itu manajernya, nyari. Itu kan pake audisinya, nyari yang ini…”  kata Yudhi.

“Rawan pecah tuh,” ucap Lala.

“Iya gampang digantiin. Lagian mukanya juga ga terlalu bisa diafalin ya kan?” Devi berkata dengan masih memegang iPhonenya yang menampilkan data pribadi personel SM*SH.

Lala berkata, “Hanya satu yang aku tau, tapi aku ga tau namanya”. Lala yang aneh.

Lalu Devi menyebutkan satu nama keramat, “Morgan!” dan tertawa meledak di seantero ruang kedai kopi. Ia menatap layar ponselnya lagi, “Morgan lahir di Singkawang tahun 1990”. Perut kami makin menegang dikocok tawa. Maklum Devi sudah hampir mendekati kepala 4. Ada semacam sensasi jenaka saat orang pada generasi itu mencari tahu sekalipun tak terlalu suka dengan  apa yang digemari remaja sekarang.

“Aku pusing kalau liat TV serinya 9,” sergah Lala. Istilah “seri 9” kemudian aku mengerti sebagai generasi yang lahir di dekade 1990-an.

Kami terkekeh lagi saat Devi berkata, “You’re old enough to be my  nephew. Come to tante”. Rasanya mau tertawa sampai muntah karena geli.

Soal panggilan alias address form pun bisa menjadi masalah. Seperti kata “tante”. Sebagian wanita yang usianya masih ‘abu-abu’, belum terlalu tua untuk disebut setengah baya dan terlalu tua untuk dipanggil “mbak” atau “dik”.

Devi, temanku yang lain lagi yang dari tadi tak banyak bicara, berceloteh tentang pengalaman buruknya dengan panggilan “tante”.Saat itu ia menonton konser Java Jazz dan ada dua orang SPG (sales promotion girl) yang ingin meninggalkan stand mereka. Pada Devi yang duduk di sebelah mereka, keduanya berpesan, “Titip sebentar ya TANTE”. Dan Devi merasa TANTE sebagai tamparan keras untuknya yang masih berumur 30-an awal.

Kami akhiri percakapan random hari itu dengan bahasan mengenai uang lecek tepat saat kami mulai membayar tagihan.

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: