Kaze No Uta O Kike: Novel Mini Pertama Haruki Murakami

image

Novelet alias novel mini yang berukuran sedikit lebih besar dari buku saku Pramuka ini cuma setebal 147 halaman. Ketebalan yang pas untuk aku yang memiliki semangat membaca yang fluktuatif.

Seingatku, diperlukan waktu 3 hari untuk menghabiskan isi novel pendek ini dari bab 1 sampai 40.

Aku membeli novel ini secara tak sengaja 30 Maret yang lalu. Di Carrefour terlihat tumpukan buku yang bertuliskan kata-kata yang tak bisa kuingat persis tetapi pesan yang tersirat yang bisa kutangkap bernada: “Silakan borong buku-buku murah ini karena sudah sulit sekali menjual buku ini dengan banderol harga yang lebih tinggi jadi kami putuskan untuk menjualnya sekarang daripada rontok dimakan rayap di gudang. Beli saja sekarang atau kamu akan menyesal”. Dan sebagai penikmat sastra yang sangat sadar harga, tulisan itu pun menyihirku mendekat.

Kutemukan beberapa buku menarik. Salah satunya karya Haruki Murakami ini. Tak ada eksemplar yang bisa kubaca secara sekilas. Buku ini cuma tersisa satu kopi. Sementara buku-buku lain masih menyisakan setidaknya 1 kopi yang sudah terbuka pembungkus plastiknya sehingga bisa dibaca isinya. Kupikir ini buku yang bagus. Yah, siapa tahu. Lalu kubalik sampul belakangnya yang menampilkan foto Haruki dan dua paragraf sinopsis mini novel bergambar sampul yang terlalu abstrak bagiku ini. Dengan latar waktu musim panas dan daerah pantai, seharusnya kupikir ada setidaknya gambar pantai, dermaga, atau ombak di sampulnya. Entah apa yang melintas dalam kepala perancang sampul R. Bayu Hendroatmojo hingga ia hanya menampilkan lukisan abstrak yang bentuknya mirip kincir angin. Sebuah bulatan di tengah bak sumbu dan beberapa baling-baling dengan warna berbeda yang semuanya cenderung kusam, muram, tak bergairah apalagi cerah. Maaf, gambar sampulnya cukup gagal bagiku untuk menarik orang membeli. Mungkin itu sebabnya buku ini diobral di sini.

Haruki Murakami hanya sederet sastrawan yang tak pernah kuketahui keberadaannya hingga aku menemukan novel ini hari itu. Padahal menurut keterangan di sampul belakang, ia merupakan penulis asal Jepang yang mampu menjadi salah satu calon penerima Nobel Kesusastraan tahun 2008. Sebagai alumni jurusan sastra, pengetahuan dan wawasan sastraku memang cukup menyedihkan. Atau dunia sastra yang terlalu luas dan terlalu cepat berkembang hingga aku tak sempat mengikutinya?

Haruki Murakami, dalam kesan pertamaku, adalah sastrawan yang hebat. Bayangkan saja, ini merupakan novel pertamanya dan langsung diganjar Gunzo Literary Award di tahun 1979. Entah mungkin sebelumnya ia sudah mengasah bakat dengan menulis beratus lembar cerpen yang gagal dimuat atau ditolak media massa atau penerbit yang tak pernah kuketahui, tetapi frase “novel pertama” cukup menjadi afirmasi akan bakat alaminya sebagai penulis.

Novel ini berjudul asli “Kaze No Uta O Kike” (1979). Judulnya dalam bahasa Indonesia ialah “Dengarlah Nyanyian Angin”.  Pertama diterbitkan oleh Kodansha Ltd. Cetakan pertama dalam bahasa Indonesia baru dilakukan tahun 2008. Cukup baru. Cuma 4 tahun lalu. Penerjemahnya Jonjon Johana dan editornya Dewi Anggraeni.

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” Itulah kalimat pertama yang menyambut pembaca di alinea pertama, halaman pertama novel ini.

Sepanjang proses membaca, yang aku temui adalah serangkaian ide, pemikiran, opini dan peristiwa absurd yang kadang tak memiliki hubungan nan logis satu sama lain. Itulah kesan yang kudapat. Mungkin karena otak kiriku lebih dominan atau alasan lain yang aku sendiri tidak tahu pasti.

Di beberapa titik, seakan aku bisa rasakan ada “mata rantai” yang hilang, atau penulis lebih suka untuk tidak dikisahkan demi menerbitkan rasa keingintahuan dan kekritisan serta imajinasi pembaca. Tapi itu membuat kesan “abrupt” muncul. Pembaca seolah dipaksa untuk terus berpikir dan bertanya “Mengapa si tokoh ini berkata/ berbuat ini?”, atau pertanyaan lain semacam itu. Mungkin inilah gaya bertutur khas Haruki Murakami yang belum aku akrabi. Maklum aku lebih familiar dengan gaya penuturan yang runtut, sistematis, lugas, gamblang. Novel-novel Agatha Christie dan N. H. Dini serta Remy Silado mungkin lebih sesuai pola pikirku yang cenderung berhaluan kiri. Novel Elizabeth Gilbert “Eat Pray Love” juga sama gayanya. Tapi tak mengapa, kuanggap saja ini sebuah eksplorasi susastra yang perlu dilakukan. Sesekali mengkonsumsi karya di luar zona nyaman juga perlu, bukan?

Inti kisah novel mini ini juga amat singkat. Ada 3 anak muda Jepang di tahun 1970-an yang bergulat dengan kehidupan yang bebas, permisif jika dipandang dalam perspektif norma moral, etika, apalagi agama. Si “Aku” yang menjadi tokoh utama dan sudut pandang cerita ini tak pernah disebutkan namanya di sepanjang cerita. Dalam dialog pun aku tak temukan tokoh lain menyebut namanya, sekalipun itu nama panggilan atau nama olok-olok. Aneh memang. Seperti kubilang, absurd.

Di beberapa baris kutemukan juga penyebutan kata-kata yang cukup “merangsang” imajinasi liar. Kata-kata ini dipilih sedemikian rupa oleh pengarang untuk mendeskripsikan suatu adegan saat si Aku, mahasiswa usia 20-an awal, yang terbangun dalam keadaan tanpa busana di sebuah apartemen milik seorang  gadis yang tak ia kenal yang malam sebelumnya ia temukan pingsan di kamar kecil sebuah bar (hal. 27). Si Aku yang bercitrakan “pejantan tangguh” di sini tidur seranjang dengan si gadis yang sama-sama tanpa busana. Dan mereka tak berbuat apa-apa dalam keadaan mabuk itu. Mulanya si gadis tak percaya, tapi ia kemudian yakin si pemuda tak menidurinya saat ia mabuk. Sungguh insiden mabuk berlainan jenis nan langka. Ini cukup bertentangan dengan rekam jejak si Aku yang konon sudah meniduri 3 orang gadis di usia 21 tahun. Tapi sekali lagi inilah absurditas yang pembaca harus terima.

Pergeseran nilai dan norma pergaulan muda-mudi bisa diamati dengan jelas di sini. Semuanya begitu terbuka, tanpa batas. Apa yang dikisahkan Haruki mungkin memang cerminan nyata dari masa 1970-an di negeri matahari terbit. Orang-orang muda dengan leluasa keluar masuk bar, minum bir, wiski, dan minuman keras semau mereka. Bagi mereka, yang penting adalah bagaimana menikmati masa kini, menikmati sebaik mungkin hangatnya musim panas dan kebebasan di kota kecil bernama Yamanote. Si Aku dan sahabatnya yang bernama Nezumi (yang dalam bahasa Jepang berarti “tikus”) dengan nekat mengemudikan mobil mewah Nezumi dan menabrakkan mobil itu dalam keadaan mabuk pada sebuah taman kota yang mengharuskan mereka membayar denda yang terbilang mahal untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi untungnya Nezumi anak seorang pebisnis licik yang kaya raya berkat menjual salep antiserangga yang khasiatnya amat diragukan tetapi terjual laris semasa Perang Dunia II (hal 96).

Rokok juga menjadi simbol permisifnya gaya hidup anak-anak muda kala itu.  Rokok, begitu juga miras, ialah dua hal yang berulang kali disebutkan di sepanjang isi novel. Si Aku dan Nezumi merokok secara intens. Si gadis juga tak ketinggalan.

Beberapa hal yang kutemukan cukup menarik di novel ini adalah fanatisme tokoh Aku pada seorang penulis Amerika bernama Derek Hartfield yang sama sekali tak tersohor. Hartfield adalah penulis yang akhirnya mati bunuh diri dengan terjun dari Empire State Building setelah kematian ibundanya. Sialnya si Aku amat terobsesi untuk menjadi penulis segila Hartfield. Di akhir kisah, dituturkan si Aku mengunjungi makam Hartfield yang tak lazim. Dedikasi seorang penggemar yang tak bisa dicerna akal sehat orang yang tak menyukai dan menemukan alasan untuk mengidolakan penulis yang sudah almarhum dengan cara tak wajar.

Lain halnya dengan Nezumi. Mulanya ia tak suka dengan novel, apalagi harus membacanya. Karena si Aku suka membaca, Nezumi perlahan menyukai novel bahkan akhirnya menulis novel. Namun, bedanya Nezumi si anak kaya raya yang tak mau kuliah ini menghindari tema kematian dan seks (hal. 21). Cara yang cerdas untuk membedakan dirinya dari si Aku yang lebih suka hal-hal yang berbau bunuh diri dan ranjang.

Di sejumlah bagian terdapat kalimat inspiratif tentang filosofi kehidupan yang bisa dikutip. Di antaranya ialah yang aku temukan di halaman 110 ini.

“(…) Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu lhawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi lebih sedikit lebih tangguh. Sekadar berpura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.”” (Haruki Murakami: Dengarlah Nyanyian Angin, hal 110)

Satu tema besar yang menurutku paling agung dalam kehidupan manusia yang disebutkan di awal bab 23 halaman 85 ialah “raison d’etre” (alasan atau tujuan eksistensi/ keberadaan).

Di bab yang pendek itu diceritakan bagaimana seorang manusia idealnya memiliki raison d’etre sebelum mati. Raison d’etre seseorang bisa berbeda sesuai subjek yang memberikan pandangan. Dalam kasus si Aku, salah satu gadis yang ia tiduri mengatakan raison d’etre si Aku adalah penisnya, sementara dalam pemikiran si Aku sendiri, ia punya raison d’etre yang berupa obsesi mengubah segala sesuatu menjadi deretan angka. Dalam jangka waktu tertentu, si Aku suka menghitung frekuensinya bercinta, mengisap rokok, dan menghadiri perkuliahan hanya untuk obsesi yang tak berguna bagi orang lain. Dan saat orang lain mengabaikan informasi angka-angka yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah dan menganggapnya tak berharga, si Aku kehilangan alasannya berada di muka bumi ini. Alhasil, ia merasa kesepian dan tidak berharga.

Nah, kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri sebelum larut dalam rutinitas harian yang menjemukan dan mempertumpul kepekaan jiwa: “Apakah raison d’etre saya?” Dan jika kita tak bisa menjawabnya sekarang, apakah itu sebuah aib dalam menjalani kehidupan yang lebih utuh dan bermakna? Entahlah.

Namun yang pasti novel mungil ini mengajak kita yang membaca berpikir lebih dalam mengenai kehidupan. Untuk selembar uang 10 ribu yang saya bayarkan pada kasir Carrefour saat menebus novel ini, rasanya cukup setimpal. Cari dan baca saja jika ada waktu luang.

Selamat membaca dan berkontemplasi!

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.