Episode 3: Istiqlal dan Bung Karno

Sabtu pagi pergulatan pikiran itu terjadi. Dari rencana semula untuk menghadiri pesta ria bisnis anak muda di Kebon Jeruk menjadi keinginan yang tiba-tiba untuk menuju oase rohani terakbar di kota ini: Masjid Istiqlal. Aku benar-benar tak habis pikir. Ada apa dengan aku ini?

Teringat bagaimana dahulu saat masih kecil , aku tak mau solat di masjid di dekat rumah meski waktu maghrib sudah menjelang. Masa yang penuh perlawanan, karena kupikir ayahku dengan semena-mena menyuruh kami ke tempat yang penuh dengan orang-orang yang tak terlalu kukenal. Itu membuatku tak nyaman, dan aku berdalih dalam hati itu bisa membuat ibadah tak khusyuk. Dan kalau tak khusyuk, percuma saja. Lebih baik beribadah di rumah. Lebih fokus. Apalagi beribadah di tempat terbuka seperti itu rawan ria’ alias keinginan memamerkan amal. Itulah dulu bagaimana aku menyikapi keharusan pergi ke masjid atau surau.

Hidup di luar lingkaran orang-orang yang sudah kita akrabi dari sejak kecil bisa membantu menemukan siapa diri kita sebenarnya. Banyak orang berkata Jakarta bisa mengubah watak seseorang. Iya, tak tertutup kemungkinan hal itu bisa menimpa kita. Namun, semua kembali pada seberapa kuat kita memiliki akar identitas dalam diri. Bak sebuah kapal, arus dan badai seganas apapun tak banyak mengubah posisinya jika ia memiliki jangkar dan rantai yang kuat mengikat di dasar karang laut.

Setelah jauh dari orang tua dan keluarga di sana, kuanggap keharusan ke masjid adalah sebuah hal yang menyenangkan. Aku sendiri heran. Dan setelah kupikirkan dengan mendalam, aku mungkin jenis orang yang sangat enggan dikomando. Aku bukan robot yang dapat dikendalikan dengan remote control. Jadi saat seseorang mengharuskan atau melarang aku berbuat sesuatu, harga diriku sebagai manusia bebas tersinggung, dan cenderung melawan pada awalnya. Resistensi itu masih ada sampai sekarang. Skeptisisme dan sifat keras kepala itu masih bersemayam dalam diriku. Baiknya (atau buruknya), jika aku sudah menginginkan sesuatu , tak ada yang bisa menghentikanku. Begitu pula sebaliknya. Kecuali itu dengan kemauan sendiri.

Dan siang itu aku ingin ke Istiqlal setelah menyelesaikan pekerjaan. Berbekal netbook untuk menulis dan bekerja, aku pun ke masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Sebenarnya aku masih bekerja di akhir minggu, tapi aku katakan tadi, tak ada yang sanggup menghentikanku.

Kubulatkan tekadku dan berjalan sekitar 1 kilometer dari kos ke halte Karet yang carut marut dengan proyek jalan layang yang entah kapan selesainya. Apakah aku lupa mengatakan betapa aku gemar berjalan kaki di kota besar ini? Dengan segala baik buruknya fasilitas dan keadaan di jalanan Jakarta, aku harus akui Jakarta adalah salah satu laboratorium raksasa yang sangat inspirasional dan menarik dalam pengertian dan standarnya sendiri. Bukan dalam pengertian dan standar untuk menilai kota-kota megapolitan. Bukan, ini bukan soal kelas, tetapi kita bisa lebih memilih untuk memandangnya sebagai sebuah klasifikasi horisontal bukan strata vertikal. Jakarta bukan New York, dan memang harus berbeda dari New York. Dan jika Jakarta tidak seperti New York, itu bukan masalah besar dan hendaknya jangan dibesar-besarkan. Kupikir banyak orang mengharapkan Jakarta menjadi senyaman dan sebaik kota-kota besar lain di dunia, tapi mereka lupa jati diri Jakarta sendiri. “Kearifan lokal”, mungkin itu istilah yang bisa dipilih. Terlepas dari itu, Jakarta masih perlu banyak belajar menjadi dirinya sendiri yang lebih baik, bukan versi Indonesianya kota-kota di tanah asing.

Dan masih tentang Jakarta tercinta yang berangsur terasa seperti rumah keduaku, seorang kawan dari negeri jiran mengamati bagaimana Jakarta terlalu penuh sesak dengan orang dan bangunan. Kedekatan dengan alam pun terpangkas demi kepentingan pemilik modal. Apa mau dikata.

Satu hal yang membuatku terhenyak saat kami bercakap-cakap di bus Transjakarta hari Minggu nan cerah itu ialah kritikan pedasnya mengenai salah satu bagian kebudayaan Jawa yang selalu menginginkan burung-burung yang terbang bebas di angkasa untuk hidup dengan nyaman di sangkar-sangkar. Susana, demikian wanita Malaysia yang menjadi teman saat beryoga ini, mengatakan salah satu hal yang membuat ia kehilangan kedekatan dengan alam ialah burung-burung yang bebas beterbangan. Jikalau ia mendengar kicau burung di Jakarta, ia bisa pastikan itu berasal dari burung dalam sangkar.

Sebagai bagian dari masyarakat Jawa, aku pun menyadari kritikan itu. Kakekku sendiri mempertahankan kebiasaan itu selama bertahun-tahun. Ia memelihara perkutut-perkutut di samping rumah. Tak banyak , hanya beberapa. Aku masih ingat pernah aku menemukan butiran-butiran beras berwarna merah tua yang kakek taburkan di kandang perkutut. Ternyata itulah beras yang sering kumakan saat di Jakarta. Beras yang menurutku lebih enak, renyah, mengenyangkan dan menyehatkan daripada beras putih. Di pagi hari, kakek akan menjemur burung perkutut satu persatu di tiang bambu nan tinggi menjulang di belakang rumah. Persis seperti seorang petugas pengibar bendera, hanya saja ia tak kibarkan bendera merah putih.

Kembali pada pendapat Susana, ia dalam bahasa Inggris yang lancar mengatakan saat dibebaskan burung-burung itu akan kembali ke tempat itu karena biasanya mereka akan mencari makan juga. Kita cukup memberikan makanan secara teratur untuk menikmati kemerduan suara mereka. Bukan dengan egois memerangkap mereka dalam kungkungan agar mereka bisa berkicau siang malam untuk kita saja. Aku teringat pada merpati-merpati di Taman Suropati tempat kami biasa menghabiskan waktu beryoga.

Selain menjadi makin ‘kering’ dalam kacamata  lingkungan hidup, Jakarta juga makin kering dalam aspek rohani. Untuk itulah aku berusaha makin mendekatkan diri dengan keyakinan yang kumiliki. Aku bersyukur masih bisa berpegang pada keyakinanku dan menjalankannya dengan baik dan cukup konsisten karena di sini semuanya sungguh-sungguh berada dalam pundakku sendiri.  Tak akan ada orang tua yang menyuruhku ke masjid saat maghrib karena kami sudah hidup terpisah, namun toh aku bersyukur karena dengan sendirinya aku terdorong pergi ke sana selalu.

Aku pernah membaca salah satu kutipan perkataan Sir Thomas Alva Edison yang intinya ialah mengalirlah bersama sekitar kita dalam hal-hal yang superfisial sembari tetap berpegang teguh pada prinsip esensial kita. Rasanya itu sesuai untuk diriku. Di lingkungan yang semajemuk Jakarta ini, tak mungkin untuk membatasi diri pada hal-hal yang seratus persen baik dan sesuai keinginan kita.

Naik busway di hari libur seperti saat itu tak terlalu membutuhkan kesabaran mental dan kekuatan fisik. Lain dengan hari kerja yang sungguh berat.

Sampai di  sana, aku pun harus berjalan sedikit lagi mengingat masjid ini tidak berada tepat di dekat halte busway Monas, tempat aku turun.

Aku bersikukuh bahwa berjalan-jalan adalah metode menikmati perjalanan yang paling baik. Menggunakan dua kaki untuk menjelajahi lansekap pusat peradaban Indonesia ini lebih efektif dalam menangkap detil-detil. Aku suka detil. Aku suka mengamati. Mengendarai kendaraan bermotor pribadi, di sisi lain, memang membuat waktu perjalanan lebih cepat namun juga mengabaikan detil dalam perjalanan.

Sudah dua tahun aku di sini tetapi kesempatan untuk mengunjungi masjid yang sudah banyak kuketahui di buku IPS semasa sekolah dasar baru datang bulan ini. Benar-benar menyedihkan. Aku butuh lebih meluangkan lebih banyak  waktu jalan-jalan.

Sianr matahari begitu menyengat. Setelah melewati Gambir, aku seberangi jalan dengan jembatan penyeberangan yang lumayan tinggi. Gejala acrophobia kembali muncul, tetapi berhasil kuredam dengan terus berjalan. Seperti itulah menjalani kehidupan mungkin, kita hrus terus berjalan meskipun merasa cemas, trauma dan khawatir. Saat diam, ketakutan akan lebih meraja. Terus bergerak maju adalah kuncinya.

Tepat saat aku masuk dari pintu selatan Istiqlal dan meletakkan pantat di depan serambi belakang, suara azan Zuhur berkumandang. Pas sekali! Aku mengijinkan tubuhku menyesuaikan diri dengan kesejukan dalam masjid, karena cuaca di luar sana sangat amat panas. Punggung ini kuyup.

Satu hal yang kuamati adalah adanya petugas khusus di sini yang mengatur shaf solat. Dengan langkah setengah bergegas, aku naiki tangga dari lantai 1 ke lantai dua tempat penyelenggaraan solat. Bisa jadi itu ujian fisik yang berat bagi sebagian orang, mengingat luas lantai masjid Istiqlal yang mungkin sama dengan 3-4 lebih besar daripada masjid terbesar di kabupaten asal saya. Mungkin juga lebih.

Petugas itu memakai baju yang agak aneh. Hijau tua khas pegawai negeri tetapi dengan model potongan yang mirip blazer tetapi hampir menyentuh setengah betis. Dan peci yang dipakai juga berwarna hijau dari bahan kain yang sama dengan blazer yang dipakai.

Petugas ini begitu sibuk mengatur barisan shaf , memastikan tidak ada yang jarak antarkaki yang terlalu lebar dan kelurusan. Ada kain putih yang menjadi patokan. Ia berkata, “Jangan sampai kaki menyentuh kain putih”. Jarak antarkain cukup lebar, bahkan untuk orang yang tinggi sekalipun bisa sujud dengan nyaman. Lain dengan surau tempatku solat jumat, yang begitu hemat soal rentang antarshaf. Bahkan untuk orang setinggi aku itu pun terlalu pendek. Tak terbayang jika ada makmum yang jangkung.

Setelah solat, tak kusangka ada sebuah kajian. Kali ini tentang makna jihad yang sejati. Aku tak tahu siapa nama si ulama. Tetapi satu yang paling kuingat adalah penjelasannya tentang jihad yang bermakna mengerjakan sesuatu dengan bersungguh-sungguh.

Dan telinga grammar nazi ini mendeteksi sebuah ungkapan yang salah dalam ceramahnya. Ia mengutip beberapa istilah bahasa Inggris yang terdengar kurang tepat: “do effort”. Setahuku “make effort”. Aku tak bermaksud untuk mengingatnya, tetapi jika kau begitu terbiasa dalam pola pikir dan kebiasaan kerja yang sudah melekat bertahun-tahun, kau akan sulit melepaskannya bahkan  dalam waktu senggang sekalipun. Entah dia mengatakan itu untuk memberikan kesan terpelajar di hadapan audiens atau memang perlu. Namun menurutku penjelasannya masih bisa dimengerti meski tidak menyebutkan istilah bahasa Inggris itu. Aku memahami jika ia memiliki keinginan untuk show off atau pamer (ok, aku sudah berburuk sangka, tapi semoga aku salah) karena itu sangat manusiawi.

Aku tahu pula bagaimana rasanya tampil di depan publik yang tak sepenuhnya kita kenal untuk berbagi pengetahuan. Aku merasakannya karena juga pernah dan masih mengajar dan masih akan terus mengajar, meski tak begitu menyukainya. Aku tak mau tampil payah di hadapan mereka dan ‘membual’ menjadi salah satu ketrampilan yang penting untuk memukau orang lain dan ‘mengukuhkan’ kredibilitas sebagai sumber transfer pengetahuan yang tepercaya. Di antara cara membual itu ialah dengan menyebutkan hal-hal yang terdengar pelik dan canggih tetapi sebenarnya tak terlalu aku kuasai. Dan jika dikritisi lebih lanjut, aku pun tak bisa menjelaskan lebih dalam dan hanya bisa berkelit. Itulah seni mengajar, kupikir. Karena itu, aku sarankan, jangan pernah menaruh kepercayaan penuh pada satu orang guru.

Dalam ceramah singkat itu, diberikan waktu 15 menit untuk uraian makna jihad bagi si ulama dan 15 menit lagi untuk hadirin (jamaah solat Zuhur yang masih tersisa dan berkenan menyaksikan dan mendengarkan kajian hingga akhir).

Kesan moderat begitu tampak di sini. Si ulama mendengungkan makna jihad yang tak hanya mengenai perlawanan fisik. Katanya, mencari rejeki dengan sungguh-sungguh pun bisa jadi sebuah bentuk jihad karena meningkatkan kesejahteraan kehidupan sehingga pada akhirnya bisa membuat ibadah lebih lancar. Mengiris juga perkataannya, mengingat apa yang kutemui di luar tembok masjid ini sama sekali lain. Manusia berlomba mendapatkan rejeki sering bukan untuk memperlancar ibadah mereka, tapi melupakannya, mengalihkan perhatiannya.

Si ulama ini juga sedikit berkisah tentang bagaimana perjuangan Bung Karno mendirikan masjid yang sekarang kami jadikan tempat kajian. Aku baru tahu bahwa dari kisah si ulama bahwa Bung Karno-lah yang menggagas pendirian masjid di atas tanah yang semula lahan kolonial ini. Usai revolusi fisik, ujar si ulama, bangunan di atas lahan masjid ini akan dihancurkan untuk dibuat masjid dan seorang jenderal non-muslim ‘mengkritisi’ langkah itu. Bukan masalah besar. Jenderal itu bawahan Bung Karno. Pembangunan pun berjalan mulus.

Yang paling kuingat adalah bagian saat si ulama menceritakan ambisi Bung Karno mendirikan sebuah masjid yang akan bertahan hingga seribu tahun. Ambisi yang  baik, meski aku kurang setuju dengan berbagai proyek mercusuarnya secara pribadi. Jika aku menjadi Bung Karno, mungkin aku dulu akan gunakan dana pembangunan proyek-proyek fisik nan megah untuk membangun jiwa dan mental manusia Indonesia dengan jalan pendidikan. Bukan, bukannya aku 100% membenci Bung Karno dan kebijakannya untuk membangun semua bangunan menakjubkan itu tetapi sebuah ironi tersendiri karena aku mengetahui bagaimana sebuah universitas di ibukota ini yang masih dikelola oleh keturunan presiden pertama RI ini yang begitu mengenaskan meski menyuguhkan nama sang proklamator.

Aku pikir itulah pola kebijakan yang perlu kita ubah. Kita terlalu berfokus pada proyek-proyek fisik. Sibuk membangun ini itu, sampai kita lupa kita belum membangun dan memperbaiki diri sendiri, kita belum membangun  generasi mendatang yang lebih baik. Kita adalah bangsa yang demikian visual, beringatan pendek.

Dan mungkin jika bangsa kita dulu menyisihkan lebih banyak dana untuk pembangunan pendidikan dan sumber daya manusianya, kita tidak akan sedemikian tertinggal sekarang. Apalah artinya semua sumber daya alam yang melimpah jika pola pikir kita masih serupa dengan bangsa terjajah? Percuma saja kita merdeka secara de jure. Secara de facto, kita masih tertindas dalam berbagai lini kehidupan.

Jakarta, 8 April 2012

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.