Bencana, Ada tuk Ingatkan Mereka yang Lupa

image

Tak ada yang menyukai suasana rumah sakit, termasuk aku. Tetapi malam itu aku menemukan diriku tergeletak di sebuah tempat berseprai putih dengan pencahayaan yang bahkan remang-remang untuk ukuran sebuah fasilitas umum.

Beberapa orang tengah berbicara saat aku terbangun. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan karena otakku sibuk merekonstruksi kejadian sebelum aku tergolek tak berdaya di rumah sakit ini.

Sore itu aku hanya ingat akan pulang ke kota asal dari Rembang dengan menaiki bus bersama paman dan saudara perempuan dan sepupu. Aku tak tahu nasib mereka.

Sesaat aku mencoba membangkitkan kesadaran di sekujur tubuh. Entah karena tertidur atau pingsan, aku baru sadar pada malam hari, dengan kaki kanan terbalut perban dan dikokohkan dengan papan. Kakiku patah. Tepatnya tulang paha kanan. Mungkin akibat terjepit jok bus yang terguling menghantam pohon akibat menghindari pengendara motor sore naas itu.

Sebagai seorang anak sekolah dasar kelas 5, yang terpikirkan olehku saat mengetahui kenyataan pahit itu adalah bagaimana aku menghadapi dunia setelah itu. Aku bayangkan harus pindah ke sekolah luar biasa karena kakiku sudah cacat. Saat itu aku belum tahu bahwa patah tulang ini bisa disembuhkan. Jadi imajinasiku membuatku merancang rencana antisipatif yang lumayan aneh.

Tak ada harapan untuk berjalan normal lagi, pikirku dengan pedih. Aku hanya bisa memandang pilu. Dan berkat pilu itu, aku bahkan tak sadar serpihan kaca jendela bus menancap di punggung ini. Seharusnya aku bisa merasakan tajamnya kaca yang menyanyat tubuh, tetapi ternyata kepiluan akan nasib kaki itu menyedot semua kesadaran di ragaku. Akhirnya aku kembali tertidur. Berharap semua baik-baik saja setelah terbangun.

-ii-

Pengalaman naas itu memang belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Dan aku patut bersyukur karena itu. Bersyukur karena banyak hal, misalnya karena kaca itu menancap di punggung, bukan di nadi tanganku atau di leher atau di mataku atau di dada; karena aku masih tertidur saat kecelakaan itu,tidak dalam keadaan terjaga dan menyaksikan orang lain terluka dan mengalami kesakitan. Belum lagi karena aku masih diijinkan berjalan normal dan hidup.

Sebenarnya bukannya aku menyukai bencana, tetapi bencana terjadi dengan sebuah maksud. Dan sering bencana yang mengingatkan lebih diperlukan manusia daripada kenikmatan yang membuat lupa daratan.

Karena itulah, aku merasa doa manusia untuk dijauhkan dari bencana seperti kecelakaan lalu lintas, misalnya apa yang kualami dan apa yang baru-baru ini menimpa pesawat Sukhoi di Cijeruk Gunung Salak itu, terdengar konyol. “..Berdoa agar kecelakaan seperti itu tidak terulang kembali…”, begitu kata reporter TV. Naif sekali. Seperti doa seorang anak kecil yang sedang sakit yang ingin dokternya besok tak lagi memberinya obat yang pahit padahal tanpa obat itu justru ia lebih sukar sembuh.

Ah, itulah kenapa aku tak suka mendikte kehendak Tuhan melalui doa yang lebih mirip “wishlist” karena sering manusia tidak paham yang terbaik untuk dirinya. God knows best. Cukuplah kita menginginkan kehidupan yang selalu diberkatiNya. Detilnya? Jangan terlalu dipikirkan, asal akhirnya happy ending.

Episode 5: If It’s Out of Our Control, Just Let It Go or Act Smart upon It

This morning may not be a good case for an exemplary employee. But this could be the first time I’m late to work this long.

I’ve been standing for a shade here from the sudden downpour since 8.14 am and I keep praying it’s over within minutes. But I seem to be wrong.

Anxiety, self-blame, and along comes the feeling of powerlessness. I surrender. I succumb to the bigger forces of nature: the rain, the cloud, the thunder, the climate, etc. I have no other feasible options to choose from with no umbrella or rain coat. I can’t risk my gadgets from being dampened by the rain drops either.

So I know the risks and consequences and sometimes, I have to say: waiting sucks. Surrendering sucks. You have to do something about a crisis, a force of nature, anything that goes against your plan, your will. Yeah, it doesn’t sound so yogic.

It’s a piece of intangible art of living in a yogic way to know which crisis is something to overcome or to accept as it is.
image

Indonesian Govt, Stay Away from Startups!

This is a note taken from Journalism Workshop of Global Innovation though Science and Technology in Jakarta, Indonesia on April 17, 2012.

Andy Zain

Issue one: Journalists can build awareness of Indonesian entrepreneurship and startups

–          Technology innovation has been in Indonesia for a long time.

–          Jakarta is the Facebook capital in the world.

o   This is important because people from around the world start thinking there is something interesting happening in Jakarta. Let us go over there.

–          Participants were asked to name some Indonesian technology companies

o   Kaskus

o   DailySocial.net

o   Koprol

o   Tokopedia

–          There are 1500+ online Indonesian companies. Why don’t we know about them?

o   We need to hear about them.

o   Challenging, because many of these online companies are run as a side company.

–          What is problem for Indonesian entrepreneurs?

o   Lack of information in the market

o   Entrepreneurs go to international media to learn about the market – seeing what is going on the US

o   The Indonesian entrepreneurs start to copy other ideas such as Groupons

o   So one issue is in creativity of the startups in Indonesia.

–          Kaskus (www.kaskus.us)– Kaskus is the largest online portal for Indonesia – yet only 6 million people.

–          Another problem facing the startup environment is the disconnect between reality and perception of startups.  Journalists can address this disconnect by finding national stories.  As of now there is too much foreign media, when what is really needed is greater understanding of the national market and more reporting on the news that is occurring in Indonesia. This will come from Indonesian reporters.

Issue two: problems facing Indonesian entrepreneurs, and how journalists can help entrepreneurs succeed

–          What a startup needs to go to the next level

o   Money: There is not a lot of money. Businesses start at home, in garages.

o   Promotion: No money to do promotion.

o   A client base: If no one knows, no one uses.   Therefore, we need people to learn about the enterprises, and this is how journalists can help.  Journalists can tell the story about startups, and how they can be useful to society.

–          Find the founders, ask them how they started the company

–          Ask the users how they think about the technology they are using.

–          Use the technology yourself, and then you can write about the product from a user’s point of view.

Toto Sigiri

A story from an Indonesian Entrepreneur.

From this anecdote we learn the decisions that an entrepreneur makes, and can gain insight on where new stories can be found within other startups and companies.

–          Toto first created his own company to have freedom to create his own software. His company was offering “Core banking software” And the business grew from their first client to many more. He employed mainly programmers.  In 1994 Toto saw a need of internet connections in Indonesia and his team created the first internet service provider in Indonesia.

–          In the 1980s investors and entrepreneurs were not yet talking about benefits of IT going to consumers. But with more people using email and internet browsers in the 1990’s, the technology market shifted to focus on consumers. In the late 1990s a big financial crisis hit the region and the number of banks in Indonesia fell from 200 banks to half that.  Toto’s company, whose clients had mainly been banks, had to decide how to react to that change in the market.

–          They set up a software camp: Balicamp.

o   Recruiting young programmers, and then they set up their own data centers, and became outsourcers.  So banks didn’t want to run their own data anymore.

–          Inflection point: Deciding to maximize a certain source of revenue.

–          Thinking about business models, and possibilities that are made and possibilities that are closed off from the decisions they make.

o   Where is the revenue coming from?

o   Does a certain decision help the company grow?

–          Toto used his location in Bali in order to lure programmers to choose his company.  More beautiful location to do work they were good at.

–          Toto didn’t interact much with the media.  But when he opened in Bali, everyone heard about his idea, and were reporting on it.

–          Toto’s thought on the media

o   We had a good experience with the media.

o   The media didn’t understand that the company was restructured. They thought that the company’s expansion into Bali meant it was a failure, and not an evolution.

o   The media often doesn’t see the intentions behind the actions.

–          A smart media person

o   Then instead of shallow or negative reporting you have reporting that demonstrates understanding and the truth of the matter.

Rama Mamuaya

–          Started his company DailySocial without a government permit

–          Social media unites all. You can write to someone on twitter, they may respond to you. You can connect with people you didn’t know before.

–          Barack Obama is even known to reply to a few Tweets.

–          Rama continued his discussion in Bahasa Indonesia.

Structure of journalism

–          Yosef started his own publication in order to start his new organization: Digital News Asia.

–          Journalism is powerful in that it constrains the topics and things a society can talk about.

–          Creating a better journalism society, is therefore important

o   Creating strong communities.  Aggregate good blogs to work together to produce a wider array of high quality content.

o   Get mainstream media to promote and team up with these good niche blogs.

–          Michael Smith at Koprol

o   Helped Koprol succeed.

o   Used online as a way to create real life, online tangible meetups.

o   Qualification propositions

o   A way to keep IP from being stolen.

Technological problems facing Indonesian companies and their political barriers

–          Technology in Indonesia is difficult because you need to do end to end services – not just offer a product.

o   For instance payment and shipping are services that aren’t always reliable in Indonesia, so you have to include that in your product/service offerings.

–          What is impeding online payment?

o   Gatewaystocheckout.com

o   14M of 250M people.  Probably just 7M users. Of those, who will want to do online banking? The market for online payment is very small.

–          Banks cannot get licenses from the central bank in order to authorize use of their money transfer platform.

–          Entrenched interests delay innovations.

o   Banks like to be the only ones to hold money.

–          The Indonesian government is not taking a lead in order to make regulations and tell banks to act well.

–          Does Indonesia have a political system that creates disincentives to efficiency?

Yosef Ardi

Started a blog in 2004 in UC Berkley

–          Yosef says “You can live from blogging.”

–          With only $22 of investment he bought the domain name.

–          He just wanted to test with starting his own blog, he already had readers.

–          Yosef’s thought was: Why do companies pay $2500 for Bloomberg? Will people instead pay $1/day for access to his blog?   Thus he set the blog subscription price at $450/year.

–          Many of his subscribers come from financial centers.

–          Yosef spends nothing on marketing, relying on word of mouth.  From his blog’s earnings, he also finances the free blog.

–          Mainstream media controlled by commercial conglomerates in Indonesia.

o   Companies or special interest groups often start their own newspapers to say what they like.

o   Most people have no idea that these papers are sponsored by companies and take the stories at face value.

o   This is an unfortunate state of affairs, but can best be countered with quality reporting.

This blog is a way to get quality reporting into the inboxes of people who appreciate good reporting

(Credit goes to Amanda Gant)

“FPI Harus Dipertahankan”, Kata Temanku

image

Front Pembela Islam atau yang dikenal sebagai FPI kembali menjadi buah bibir di berbagai media massa dan social media. Massa yang mengklaim dirinya FPI menyerbu tempat Komunitas Salihara di Pasar Minggu kemarin malam. Apa pasal? Seorang penulis wanita berkebangsaan Kanada yang katanya lesbian datang dan menggelar forum diskusi mengenai hal-hal yang sensitif seperti homoseksualitas.

Terkejut? Sama sekali tidak. FPI memang sudah ‘tercetak’ dari lahir seperti itu mungkin.

Dulu pernah aku bercakap dengan seorang teman. Entah bagaimana kami sampai pada pokok bahasan demo damai pembubaran FPI. Aku usil bertanya,”Ga ikut demo pembubaran FPI?” Kupikir jawabannya akan sedikit santai tapi ia menjawab dengan nada agak serius,”Justru kita harus pertahankan FPI yang berani menyuarakan secara lantang untuk memerangi kebathilan”. Rahangku hampir jatuh ke lantai, karena sama sekali jawaban itu di luar dugaan.

Yin-Yang
Jawaban tak terduga itu kemudian membuatku berpikir mengapa FPI tak segera dibubarkan pemerintah jika mereka memang terbukti melanggar ketertiban umum dan sudah melangkahi batas kewenangan aparat polisi.

Tergelitik untuk meneropong fenomena ini dari kacamata keseimbangan kosmos atau semesta yang juga ada dan sering disebut dalam yoga: yin dan yang. Dalam konsep yin-yang ini kita bisa pahami bahwa yin adalah dingin, Yang ialah panas. Yin wanita, Yang pria. Yin bumi, Yang matahari.

Namun dalam setiap entitas yang mengandung Yin,ternyata juga ada unsur yang meski lebih kecil. Demikian sebaliknya, dalam entitas berunsur Yang ada unsur Yin yang lebih kecil.

Berdasarkan pemahaman itu, apakah ‘pembiaran’ aksi FPI ini juga sebagai bagian dari menjaga keseimbangan mikrokosmos Jakarta?

Kalau aku ditanya apa yang harus dilakukan untuk menghalau kedatangan penulis itu, jawaban pertamaku pastinya BUKAN kekerasan atau agresivitas fisik. Itu percuma. Jika memang ia menyebarkan ide itu lewat buku, perangilah dengan buku pula. Bila ia memakai diskusi, undang dan libatkan pula ia dalam diskusi. Dengan begitu,semuanya setara dan tetap adil. Perangi pemikiran dengan pemikiran. Amerika Serikat dan Israel melakukan strategi itu. Kenapa kita tak lebih gencar melakukannya? Sebarkan lebih banyak keindahan Islam melalui buah pemikiran yang cerdas dan patut dicatat dalam sejarah.

Kekerasan memang perlu. Akan tetapi diperlukan kecermatan untuk menggunakannya dalam takaran yang pas, agar kita terhindar dari dosa mendzolimi orang lain saat justru kita ingin menyelamatkan mereka.

Menurutmu sendiri bagaimana? Perlukah FPI dibubarkan? Jika dibubarkan, apakah itu serta merta selesaikan masalah? Only time will tell…  🙂

Ternyata Dulu Google Ingin Subsidi Pengguna Android

Screenshot of Android Emulator for SDK (latest...
Screenshot of Android Emulator for SDK (latest version, now v2.3) (Photo credit: Wikipedia)

Fakta masa lalu ini ialah satu bagian dari sejumlah fakta menarik yang bermunculan seputar maraknya perselisihan antara Google dan Oracle yang pada intinya berhubungan dengan tuduhan pelanggaran hak paten dan Android. Ponsel rancangan Google yang direncanakan pada awalnya untuk dijual ke pasar sebenarnya tidak didominasi layar sentuh seperti yang kita ketahui kini.Tak hanya pemerintah kita yang getol menerapkan kebijakan subsidi. Google dulu juga pernah berniat melakukannya pada para pengguna perangkat Android. Namun, itu hanya sebatas wacana karena kita ketahui itu tidak pernah terjadi hingga sekarang.

Jadi, kembali pada soal subsidi tadi. Ternyata Google pernah melemparkan usulan untuk memberikan subsidi. Untuk apa subsidi tersebut? Subsidi itu diberikan bagi para early adopter Android atau mereka yang menggunakan Android pada tahap awal saat sistem operasi ini baru bisa digunakan kalangan terbatas. Alasan Google hendak melakukannya ialah untuk mempromosikan Android sebagai sistem operasi perangkat mobile baru yang belum banyak diadopsi orang.
Menurut detil yang didapat, Google berniat untuk mengucurkan subsidi biaya data dengan T-Mobile untuk pengguna ponsel pintar Android sebanyak 9,99 dollar per bulan. Paket abonemen data ini diperuntukkan bagi Google agar menjual ponsel secara langsung melalui toko dan gerainya sendiri. T-Mobile sendiri rencananya akan memberikan paket tersebut. Jika terealisasi, Google mungkin tidak akan mendapat keuntungan dari T-Mobile atau dari penjualan perangkat Android dan sudah menggunakan uang itu untuk  mengganti biaya paket data bagi pengguna.

Meski tampaknya rencana yang matang dan sesuatu yang akan disambut baik konsumen, sayangnya kesepakatan Google dan T-Mobile urung terealisasi saat T-Mobile tak pernah menawarkan paket data pada kisaran tersebut di atas. Google juga menemukan bahwa menjual ponsel pintar secara langsung tidak terlalu menguntungkan.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda sebagai pengguna Android juga masih menginginkan rencana ini diwujudkan oleh Google?
[via SlashGear]

Facebook Diisukan Buat Ponsel dengan HTC

ImageFacebook kembali dikabarkan akan membuat langkah besar untuk bisa bertahan di jagat social media yang makin sengit tingkat persaingannya. Kali ini bukan aspek softwarenya, tetapi hardware. Selama ini kita hanya bisa mengenal Facebook melalui layanan jejaring sosialnya yang gratis itu. Lalu akankah kita menyaksikan babak baru dari ekspansi Facebook dalam sisi hardware?

Sejumlah situs teknologi seperti TechCrunch, PandoDaily, dan sebagainya kembali menghembuskan kabar mengenai kemungkinan Facebook akan bekerja sama dengan pabrikan ponsel Taiwan HTC untuk memproduksi ponsel bercita rasa Facebook yang kental. Digitimes, blog teknologi dari Taiwan, tampaknya menjadi sumber berita utama karena semuanya mengacu ke sini.

Isu ini bukan pertama kalinya beredar di dunia maya. Isu semacam ini pernah dihembuskan Michael Arrington di tahun 2010 namun ditepis Mark Zuckerberg dalam sebuah wawancara oleh TechCrunch yang menyatakan pihaknya tak ingin menjadi “pesaing bagi Apple, Droid, atau pabrikan hardware lainnya”.

Sebagian merasa isu ini, jika benar adanya, adalah ide bodoh, sebagaimana yang ditulis Hamish McKenzie dengan judulnya yang provokatif: “Does Anyone Else Around Here Think a Facebook Phone is a Stupid Idea?” Meski kita tidak bisa menghakimi sekarang, karena bahkan kita belum mengetahui kebenaran rencana tersebut, jika benar Facebook memproduksi sebuah ponsel sendiri, ponsel tersebut mungkin bisa disamakan dengan Samsung Nexus bagi Google.

Kerjasama antara para penguasa pasar software seperti Google dan Samsung, dan kini jika benar, Facebook dan HTC, bisa jadi adalah solusi bagi HTC untuk terus melaju menyaingi Samsung yang menjadi jawara di industri ponsel pintar. Sangat beralasan, dengan demikian, jika HTC yang labanya makin menurun akibat tergerus Samsung dan Apple ingin menjalin hubungan bisnis yang lebih erat dengan raksasa jejaring sosial Facebook demi kelanggengan bisnisnya.(image credit: springwise.com)


%d bloggers like this: