Setelah Facebook, Apakah Twitter ‘Mendiskriminasi’ Konten yang Diposting dari Aplikasi Pihak Ketiga?

Jelas sudah diskriminasi itu. Setelah beberapa waktu lalu mengetahui bahwa mempublikasikan konten via aplikasi pihak ketiga (seperti Hootsuite, Tweetdeck) membuat peluang konten di Facebook terlihat oleh fans lebih rendah jika dibandingkan langsung di laman Facebook.com, kini saya juga menduga bahwa diskriminasi yang sama juga diberlakukan oleh Twitter. Konten yang diunggah melalui Twitter client applications alias aplikasi pihak ketiga tidak semoncer yang diunggah langsung dengan versi webnya atau aplikasi resminya di masing-masing platform. Dan kabarnya mengunggah gambar via aplikasi pihak ketiga kini juga dihentikan. Itulah yang saya dapati saat berusaha berulang kali mengunggah via Hootsuite. Gagal terus sampai saya jengkel sendiri! Hingga akhirnya saya mencapai simpulan ini meski masih terlalu prematur. Tetapi saya juga mendasarkan itu atas tulisan yang saya baca (entah di mana saya lupa situsnya).

Dan bukti empiris lainnya ialah statistik yang mengungkapkan bahwa metode tradisonal dan manual (yakni dengan mempublikasikan konten di halaman situs jejaring sosial secara langsung tanpa perantara) adalah yang paling efektif mengantarkan konten ke hadapan audiens. Memang agak gegabah jika saya menyimpulkan ini semua karena faktor ini saja. Banyak faktor yang terlibat dalam viral tidaknya sebuah konten, misalnya timing atau pemilihan waktu publikasi konten di jejaring sosial, frekuensi, wording alias penyusunan dan pemilihan kata-kata, menarik tidaknya topik yang diangkat dan sebagainya.

Sebenarnya semuanya berawal saat ditemukan tren penurunan jumlah hits dalam konten situs yang saya ikut kelola. Semuanya menulis, rata-rata dengan headline atau judul yang sama, penyusunan kata dalam tweet atau posting yang sama pula, tetapi pertanyaannya mengapa bisa berbeda jumlah hitsnya?

Saya pun akhirnya menduga bahwa teman saya yang jauh lebih tinggi frekuensi postingnya melalui aplikasi Tweetdeck jumlah hitsnya lebih rendah. Memang aplikasi ini praktis sekali karena bisa satu kali publish agar muncul di Twitter dan Facebook sekaligus. Tetapi akibat yang harus ditanggung ialah konten yang dipublikasikan melaluinya menjadi kurang populer.

Sementara rekan saya yang lain (masih baru) berhasil membuat konten lebih viral alias dibaca banyak orang setelah ia dengan polosnya mempublikasikan setiap konten satu per satu tanpa menggunakan aplikasi perantara apapun untuk memudahkan pekerjaannya. Really, hard work does pay!

Bagaimana dengan Anda? Apakah merasakan hal yang sama? Atau sama saja?

 

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in social media and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.