Gaya Hidup Vegan Ditinjau dari Perspektif Kesehatan, Islam dan Etika

Mikael Harun, seorang aktivis gaya hidup vegan alias pantang produk hewani, menyempatkan berbagi pandangannya mengenai gaya hidup vegan bersama dr. Arie yang membahas prinsip pemeliharaan kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, saya kutip beberapa pemikirannya yang menarik mengenai gaya hidup vegan ditinjau dari sudut pandang kesehatan dan etika sebagai manusia yang notabene adalah makhluk yang dikaruniai akal budi.

Dalam uraiannya, Mikael menyebutkan adanya dugaan keras bahwa sebagian pihak memiliki kepentingan ekonomi yang lebih kuat sehingga kampanye makan daging dan minum susu makin digalakkan. Ia beralasan, “Diduga bahwa sebagai penghasil susu terbanyak di dunia, AS menyelipkan susu dalam saran 4 sehat 5 sempurna yang dikampanyekan WHO”.

“Mengapa susu tak sehat?” tanyanya . “Karena sapi-sapi perah biasanya diambil susu dan disuntik hormon penyubur untuk genjot produksi susu, dan berisiko menyebabkan penyakit pada sapi, dan susu mengandung hormon penyubur tersebut.”

Ketakutan pestisida dalam sayuran dan buah juga kurang beralasan karena daging hewan ternak justru bisa mengandung pestisida lebih tinggi karena kandang mereka disemprot pestisida, rumput makanan mereka juga terkena pestisida dan tidak dicuci sebelum dimakan. Demikian kata Mikael yang sudah mantap menerapkan gaya hidup berpantang daging.

Saat ditanya tentang sehat tidaknya susu kedelai, Mikael berkata susu kedelai baik bagi kesehatan tetapi jangan berlebihan karena takut kurang protein. Banyak pemula vegan yang minum susu kedelai berlebihan padahal itu kurang baik. Tubuh tak perlu protein sebanyak itu. “Cuma butuh kira-kira 2 potong tempe sehari,” katanya diiringi tatapan heran dari mereka yang hadir, karena menurut standar umum, tentu saja kuantitas itu tergolong sangat sedikit.

Berikut merupakan pertanyaan menarik yang jawabannya perlu kita ketahui bersama.

Pertanyaan: mengapa saat makan buah kita merasa kembung?

Jawaban: secara anatomi dan fisiologis, bentuk dan sistem tubuh manusia tidak dirancang untuk mengolah protein hewani tetapi dipaksakan. Yang jadi masalah ialah apakah sebelumnya makanan kita sudah baik? Ada runtutan yang menjadi sebab, jangan hanya dirasakan dari saat setelah makan buah saja, tetapi cermati apa yang dimakan sebelum makan buah.

Peternakan tidak hewani, karena tempat/ kandangnya tidak layak huni, kotor, dan sebagainya. Saat hewan disembelih, dikeluarkan hormon stres (kortisol) yang dalam jumlah besar dan berlebihan akan menghancurkan tubuh.

Sesuai hukum inersia/kelembaman, saat kita makan lebih sedikit, kita akan lebih merasa ringan dan aktif dan jika banyak bergerak, saat itu kita akan mendapatkan lebih banyak energi dari aktivitas kita, bukan justru kehabisan energi. Jadi ada beberapa konsep yang perlu dirombak.

Vegan itu bukan hanya tidak mengkonsumsi daging tetapi juga bagaimana kita berpikir, tidak menyakiti makhluk lain, ucapan tidak menyakiti orang lain, dan sebagainya. Jarang orang yang mampu mengatur pola makan dengan baik mau merokok atau minum alkohol atau mencuri dan sebagainya, gaya hidup mereka lebih sehat.

Pertanyaan: apakah pola makan vegan bagus untuk underweight people?

Jawaban:  dalam DNA, manusia sudah memiliki cetak biru berbagai hal, termasuk berat badannya yang ideal. Dalam buku Katsuo Murikami tetang DNA, dari alam telah diberikan setting default tentang berat kita yang ideal untuk menjalani kehidupan kita.

Jadi saat seseorang memperbaiki pola makannya menjadi lebih banyak konsumsi makanan segar dan sederhana dan secukupnya, ia berpeluang akan menemukan berat badannya yang ideal sebagaimana dikandung dalam DNA. Sebanyak apapun atau sesedikit apapun hasilnya akan tetapi di kisaran berat badan tersebut.

Susu

Dari sudut pandang moral, minum susu juga kurang baik karena susu diperuntukkan untuk anak sapi yang lebih membutuhkan, bukan untuk kita manusia. Karena kita menganggap minum susu sapi adalah hal yang harus dilakukan setiap saat untuk tetap sehat, hewan-hewan ternak tersebut harus menghadapi perlakuan yang melebihi batas kewajaran demi menggenjot produksi susunya semata-mata agar terus bisa lebih banyak memenuhi kebutuhan pasar yang makin tinggi. Singkatnya, sapi-sapi itu harus rela disuntik oleh hormon-hormon buatan dan dipisahkan dari induknya sejak kecil cuma untuk memenuhi kebutuhan susu sapi manusia, yang pada dasarnya sebuah kesia-siaan belaka. Manusia cuma memerlukan susu dari ibunya, makhluk yang satu spesies dengannya.

“Anak sapi ya memang harus minum susu sapi, anak manusia ya minum air susu manusia yang melahirkannya, yaitu ibunya,” tegas Mikael. Itu sudah hakikat alam. Sunatullah, demikian jika menggunakan terminologi Islam. Sayangnya, manusia tak memperdulikan.

Minum Susu Hewan dalam Islam

Dalam Islam sendiri, sepengetahuan saya, minum susu hewan memang boleh. Minum susu unta dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Namun, patut kita cermati cara dan frekuensi nabi minum susu hewan. Dalam hadis ini, mungkin kita bisa sedikit menelaah bagaimanakah Nabi memperlakukan susu hewan.

Dalam hadis riwayat Anas bin Malik ra. berikut dikatakan:

Aku benar-benar pernah memberi minum Rasulullah saw. dengan gelasku ini, semua minuman, madu, nabiz, air dan susu. (Shahih Muslim No.3748)

Hadis lainnya tentang susu juga mengatakan boleh minum susu:

Hadis riwayat Abu Bakar As-Sidik ra., ia berkata:

Pada waktu kami keluar bersama Rasulullah saw. dari Mekah menuju Madinah, kami melewati seorang penggembala kambing. Ketika itu Rasulullah saw. benar-benar merasa haus. Lalu aku memerahkan sedikit susu untuk beliau. Susu itu aku bawa kepada beliau dan beliau meminumnya hingga aku merasa puas. (Shahih Muslim No.3749)

Di sini, saya bisa mencoba menarik simpulan bahwa susu hewan hendaknya diperlakukan sebagai alternatif terakhir dalam memuaskan dahaga kita. Bukan sebagai jenis minuman yang dikonsumsi layaknya air putih yang sebaiknya diminum hingga 6-8 gelas sehari. Kita bisa lihat di urutan jenis minuman yang disebutkan di hadis pertama. Bisa jadi ada maksud tersendiri menyebutkan susu sebagai jenis minuman terakhir. Dan disebutkan di hadis kedua juga bahwa Rasulullah sedang merasa benar-benar  haus, jadi dapat dimengerti bahwa terjadi sebuah keadaan darurat, yang jika tidak segera dipenuhi akan membuat Rasul menderita dan kurang sehat atau tidak kuat dalam menjalankan kegiatannya saat itu. Sekali lagi, itu interpretasi saya.  Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan keadaan kita yang bisa saja memilih jenis minuman selain susu hewan di sekitar kita.

Jika saya ditanya, apakah saya akan minum susu dan bagaimana pandangan saya sendiri tentang minum susu hewan, yang pertama saya mungkin katakan ialah pentingnya kita menyadari prinsip keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan. Dalam hal minum susu hewan, saya mungkin hanya akan minum sesekali. Susu hewan seperti sapi, kambing, unta memang tidak haram, tidak juga dengan sekali minum akan merusak kesehatan. Namun, sesuatu yang baik sekalipun jika berlebihan kuantitasnya akan menimbulkan dampak negatif. Itu adalah sebuah keniscayaan. Dan itu yang saya yakini. Jadi dalam hal ini saya tidak akan bersikap secara ekstrim menghindari susu (dan produk hewani lainnya) tetapi lebih condong pada sikap moderat. Boleh makan asal sekadarnya. Tidak perlu harus setiap hari, 3 kali sehari.

Sikap  Saya

Dan perlu kita pahami bahwa kondisi alam dan hewan ternak di jaman Rasulullah dan jaman sekarang sudah sama sekali lain. Jadi kita juga tidak bisa menutup mata dan memberlakukan hukum hitam putih atas susu hewan. Saya setuju jika konsumsi susu hanya sekadarnya, tidak mengharuskannya diminum setiap hari seolah itulah penawar keadaan kurang gizi. Jangan berlebihan dan fanatik dengan manfaat susu yang dipublikasikan banyak perusahaan besar. Apalagi jika susu hewan itu diproduksi dengan menerapkan prinsip etika pada hewan, yakni dengan membiarkan mereka menjalani proses kehidupan secara alami, tidak menggunakan berbagai cara dan metode yang merusak keseimbangan alam. Adalah sebuah keegoisan untuk menggunakan hormon buatan yang akibatnya pun kita tak sepenuhnya mengerti hanya untuk membuat hewan-hewan itu memenuhi “kebutuhan” susu kita. Saya pikir itu sangat absurd, konyol. Anak-anak hewan tersebut adalah yang lebih membutuhkan dan mereka justru dicekoki susu formula buatan pabrik dari botol. Inilah kesewenang-wenangan manusia modern yang berpikir mereka tahu segalanya, memanipulasi alam demi kepentingan sendiri dan berdoa bahkan mengkritik pada Tuhan jika mereka terkena musibah penyakit akibat prilaku semena-mena mereka sendiri.

Tentang daging, saya juga memilih untuk mengkonsumsi sewajarnya. Tak perlu memasukkannya sebagai menu harian yang harus ada. Dan saya pikir itulah mengapa Islam hanya merayakan Idul Adha sekali dalam setahun. Menurut saya, jika daging adalah suatu makanan yang wajib ada dalam menu harian seorang manusia agar ia tetap sehat, Idul Adha harus dirayakan setiap hari agar fakir miskin bisa bertahan hidup. Namun, kenyataannya tidaklah demikian!

Mungkin sudah saatnya kita kembali ke perbedaan makna “boleh” dan “wajib”. Teman saya pernah memprotes, “Kalau kamu tidak makan daging, untuk apa hewan-hewan ternak yang halal diciptakan oleh Allah?” Saya pun  dengan santai menjawab, “Saya tentu akan tetap sekali-kali makan daging, tetapi bukan berarti sebanyak-banyaknya dan semua yang ada di hadapan saya harus dihabiskan. Kita harus bagikan secara merata ke orang yang membutuhkan dan lebih jarang makan daging. Itulah inti Idul Adha bukan. Berbagi!”

1 Comment

Filed under health

One response to “Gaya Hidup Vegan Ditinjau dari Perspektif Kesehatan, Islam dan Etika

  1. Orang-orang yang memilih vegan biasanya adalah orang yang penuh kasih sayang, terlebih terhadap binatang. Di sisi lain, orang nonvegan beralasan kita punya enzim dan gigi taring yang dapat mencerna dengan baik daging. Saya sendiri tak memilih vegan karena toh saya juga makan tumbuhan, yang otomatis “menyakiti” tumbuhan. Kiranya menurut saya ya memang kita ini salah satu mata rantai makanan saja. Sesekali makan hewan karena mereka di bawah kita dalam jejaring makanan.
    Menurut saya semua itu baik sepanjang tidak berlebihan. Tak hanya daging, makan beras pun jika berlebihan juga tidak baik. Efek yang kita rasakan buruk ini gara-gara ulah berlebihan manusia itu sendiri. Industrialisasi pangan, teknologi, dsb., karena berlebihan menyengsarakan kita sendiri. Maaf udhu klungsu saja Mas Akhlish, belum bisa menulis sebaik Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s