Cikal Bakal Yoga *

Suatu sinar menyinari semua benda di muka bumi ini, menyinari kita semua, menyinari langit, puncak tertinggi, lapisan langit tertinggi. inilah sinar yang menyinari hati kita semua.

Chandogya Upanishad

 

 

Yoga berasal dari keluasan dan kedalaman tradisi kuno. Banyak aliran yoga yang berakar dari sejarah eksplorasi spiritual yang kompleks, refleksi filosofis, eksperimen ilmiah dan ekspresi kreatif nan spontan. Muncul dari budaya India yang terus berkembang dan majemuk, yoga sering disamakan dan dibentuk oleh Hinduisme, Buddhisme, Jainisme, dan sejumlah kepercayaan lainnya. Filosofi, ajaran, dan praktik yoga sama bervariasinya dengan cabang-cabang dari luasnya yoga yang tak terhitung banyaknya dalam segala manifestasinya. Apa yang kita ketahui mengenai asal muasal dan perkembangan yoga berasal dari berbagai sumber, termasuk teks kuno, pewarisan pengetahuan secara verbal melalui garis keturunan spiritual atau image

yoga tertentu, ikonografi, tari-tarian dan lagu-lagu. Meskipun bagi sebagian orang yang belajar dan mengajar yoga sejarah ini bermakna sepele, bagi sebagian yang lain apresiasi penuh terhadap yoga akan menjadi lebih kaya dan lebih nyata saat diajarkan dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai asal muasalnya.

Dalam pembahasan ini, kita akan menggunakan sapuan kuas yang besar untuk melukis di atas sebuah kanvas yang menggambarkan kebijaksanaan tradisi yang berterima yang masih mengajarkan praktik-praktik yang kita eksplorasi dan bagikan saat ini. Kita akan membahas literatur dasar yoga untuk mengidentifikasi praktik-praktik yoga tradisional, berhenti sejenak saat membaca untuk merenungkan relevansi dan penerapan praktis dari semua praktik ini dalam melakukan dan mengajarkan yoga di abad ke-21.

Weda

Walaupun sejarah yoga mungkin berusia beberapa ribu tahun, tulisan mengenai yoga yang pertama kali diketahui ditemukan di dalam teks spiritual Hindu kuno yang dikenal sebagai Weda (yang berarti “pengetahuan”), dan yang tertua adalah Rig Weda. Meskipun para cendekiawan memperdebatkan tanggal dan asal Weda (1700-1100 SM) yang pasti, mayoritas sepakat bahwa 1.028 himne yang menjadi bagian penyusun Rig Weda, yang dianggap oleh banyak orang berasal dari dewa, merupakan sumber tertulis pertama mengenai yoga (Witzel 1997). Semua himne ini tersusun sebagai puisi oleh para pemimpin spiritual (paranormal) dalam suatu budaya yang di dalamnya sebagian besar praktik-praktik yang paling bersifat spiritual terhubung langsung dan cepat dengan alam dalam rangka pencarian makna dan keseimbangan. Himne-himne tersebut mencerminkan eksplorasi mistik mengenai kesadaran, hidup dan hubungan dengan dewa. Di sinilah, yoga yang berarti “bersatu” atau “menyatukan” pertama kali disebut. Penyatuan yang disengaja itu ialah penyatuan pikiran seseorang dan dewa, sebuah kualitas transenden mandiri yang menciptakan keadaan sadar sepenuhnya yang di dalamnya kesadaran akan adanya “Saya” sirna menjadi suatu rasa munculnya kehadiran inti ketuhanan.

Meditasi ialah alat utama yang dikisahkan para paranormal Weda dalam Rig Weda untuk mencapai keadaan sadar dan kesatuan ini. Bentuk utama meditasi ialah melalui mantra, nyanyian bunyi tertentu yang dilakukan berulang yang dibuat untuk menciptakan getaran dalam batin agar selaras dengan inti ketuhanan. Bunyi-bunyian itu sendiri disajikan oleh para paranormal dalam sesuatu yang dianggap sebagai bentuk murni ekspresi ketuhanan yang tidak luntur oleh pikiran. Keadaan meditatif diperdalam dengan membayangkan dewa dan secara total menyerap rasa hadirnya dewa itu dalam hati seseorang. Semua praktik yang saling berhubungan ini mendahului sifat-sifat meditasi yang ditemui kemudian dalam Sutra Yoga”: penarikan indra-indra dari gangguan eksternal, konsentrasi pada satu titik, pelepasan pikiran menjadi kesadaran hidup yang berpusat pada hati nurani, dan awal menuju kesatuan dengan tuhan. Banyak himne Weda disebarkan saat ini dalam kirtan – atau nyanyian panggilan dan sahutan – yang dipimpin oleh para praktisi yoga bhakti (kebaktian). Meskipun kelompok Hare Khrisna mungkin yang pertama kali mempopulerkan senandung mantra di Barat, para penyanyi pop seperti Jai Uttal, Deva Premal, dan Khrisna Das telah meleburkan praktik ini dalam studio yoga yang banyak kita temui di Barat. Kini makin mudah ditemui senandung himne Hindu dalam kelas-kelas yoga di Barat, entah itu sebagai bagian dari musik pengiring atau diiringi dengan partisipasi siswa secara penuh.

Banyak siswa merasa bahwa praktik ini memperdalam pemahaman hubungan spiritual mereka dan sekaligus mempererat hubungan sebagai satu komunitas. Apakah efek itu berasal dari getaran khusus yang diciptakan oleh cengkok nada kata-kata Sansekerta tertentu sebagaimana diklaim dalam Rig Weda, atau begitu saja muncul dari kebahagiaan dari bernyanyi dan bernapas, menjadi topik perbincangan yang hangat. Meskipun banyak siswa mengaku memiliki pengalaman yang menguatkan dan menyenangkan, sejumlah studio yoga melarang senandung (termasuk “aum”) karena banyak siswa lain, terutama yang masih baru, berpendapat bahwa bersenandung merupakan ritual agama esoterik dan aneh. Mereka ini mungkin masih belum berdamai dengan sistem kepercayaannya atau pemahaman spiritualitasnya. Dengan memperkuat dan membuka kepekaan spiritual Anda yang sebenarnya dan secara bersamaan menjadi terbiasa dengan keterbukaan siswa-siswa Anda, Anda akan terbantu dalam menentukan kapan atau apakah akan memasukkan senandung dalam kelas yoga Anda.

Mantra Gayatri yang diambil dari Rig Weda merupakan salah satu mantra yang paling sering dilantunkan dalam Hinduisme. Terjemahan dan catatan paling populer di Barat berasal dari Deva Premal:

Om bhur bhuvah svah

Tat savitur varenyam

Bhargo devasya dhimahi

Dhiyo yonah prachodayat

Terjemahan:

Melalui datangnya, perginya, dan seimbangnya kehidupan

Sifat pokok yang menerangi keberadaan ialah yang mengagumkan

Semoga semua merasakan melalui akal yang halus

Kecemerlangan pencerahan

 

(*Terjemahan dari “Teaching Yoga” oleh Mark Stephens, halaman 1-3)

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s