Menjadi Kelas Menengah Urban dan Kenikmatan Hidup yang Lebih Lengkap

Middle class folks can afford fancy gadgets and basic necessities of life but mostly still have to struggle for financial security in the long run.

Middle class. Istilah ini banyak saya jumpai di berbagai bahasan, buku, esai dan artikel akhir-akhir ini. Yuswohady selalu membahas isu kelas menengah dan tingkat konsumsi mid-class yang fantastis di Twitter. Ligwina Hananto ingin agar kelas menengah punya ketahanan finansial yang lebih baik melalui bukunya. But wait, apa itu artinya “kelas menengah”? Mungkin yang pertama dan utama perlu dibahas adalah siapa saja yang termasuk dalam kelas menengah. Batasannya mungkin kabur, dan memang itulah sifat definisi dalam ilmu sosial. Nisbi. Relatif. Tak ada yang mengikat penuh dan harus tunduk pada satu komando.

Saya sendiri ragu apakah saya juga termasuk dalam kelompok ini. Kelas menengah dalam bayangan saya adalah mereka yang tidak tergolong dalam kelompok proletariat dan pada saat yang sama belum mampu (atau tidak akan bisa?) membiayai gaya hidup a la borjuis. Toh demikian, mereka berkecukupan terutama secara finansial, dengan syarat mampu mengelola semua aset mereka (baik yang tangible atau intangible) dengan baik.

Dan yang paling mengesankan, mereka adalah orang-orang dengan semangat hidup tinggi, wawasan yang luas, sikap open-minded, tingkat pendidikan yang lebih baik dan mencintai seni kebudayaan dan suka dengan perubahan dan perbaikan di berbagai lini kehidupan. Mereka bekerja mengisi kekosongan dalam peradaban yang tidak bisa dipenuhi kalangan bawah dan terlalu remeh bagi kalangan atas. Merekalah, menurut saya, orang-orang yang mampu menikmati kehidupan dengan lebih utuh. Tak mesti terkungkung dengan keterbatasan yang mencekik leher yang mendera kaum marginal tetapi juga tidak mengalami intensitas tekanan yang sama sebagaimana yang dialami orang-orang super kaya dan berpengaruh. Orang-orang menengah tahu dan setidaknya pernah mengecap kenikmatan para orang kaya namun jarang harus menderita seekstrim mereka yang ada dalam dasar struktur sosial ekonomi kemasyarakatan. These middle class folks certainly can have the best of both worlds.

Dan saya pikir itulah manusia pada hakikatnya. Manusia adalah kelas menengah, yang selalu terjepit di tengah. ‘Sandwiched’, kata orang Inggris. Seperti lembaran daging dan sayuran di antara dekapan roti yang hangat.

Kita semua adalah penghuni bumi, yang menurut mitos Yunani, berada di tengah-tengah, antara kemegahan gunung Olympus tempat tinggal dewa-dewi yang terhormat dan dunia bawah tempat tinggal roh yang dikuasai dewa Hades. Menurut Islam, Adam dan keturunannya juga tepat berada di tengah-tengah para malaikat yang tingkat dedikasinya total tanpa batas dan setan-iblis yang sudah bersumpah untuk membangkang hingga akhir jaman nanti. Rasulullah juga mengatakan perlunya memilih berada di tengah-tengah, atau dalam taraf moderasi dalam menjalani hidup. Tak membenci atau mencintai secara berlebihan, misalnya. Itu juga ajaran beliau. Jadi, simpulannya menjadi kelas menengah itu juga sesuatu yang perlu dirayakan karena terhindar dari dua kutub ekstrim.

Ada berbagai definisi kelas menengah yang dipakai. Satu di antaranya yaitu: menghabiskan lebih dari Rp 3.450.000/ bulan atau Rp 41,4 juta per tahun (AC Nielsen). Tak ada yang salah dengan besaran ini tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu bersandar pada tolok ukur finansial.

Mereka ini, sayangnya, juga adalah kelompok orang-orang yang akrab dengan utang. Dan celakanya, utang-utang itu untuk kebutuhan konsumsi bukan untuk tujuan yang lebih produktif.

Saya bukan orang yang anti utang. Jika sangat mendesak, tentu kita perlu juga berutang untuk bisa bertahan hidup. Akan tetapi, utang di jaman sekarang sudah bukan untuk kebutuhan darurat tetapi untuk hidup mewah dan berfoya-foya di luar batas kemampuan finansial.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya dan keluarganya menjadi luluh lantak akibat utang yang di luar batas kemampuannya untuk melunasi. Saya juga tahu orang lain yang terus menerus menelepon bank tempatnya memiliki kartu kredit untuk mencoba mengajukan promo yang menawarkan cicilan liburan ke tujuan wisata dunia. Dan saya sendiri tempo hari ditawari untuk membuat kartu kredit di sebuah bank yang disokong pemerintah republik ini.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan berutang atau memiliki kartu kredit, tapi kenyamanan ini justru membuat saya berpikir, “Apakah memang semudah itu? Atau sebenarnya ada lebih banyak kesulitan yang tersimpan di dalamnya?” Saya belum paham tentang itu. Saya tak terlalu berpengalaman dalam urusan utang. Pikiran saya cukup konservatif dalam hal pengelolaan keuangan, jika tidak ada uang tunai untuk membelinya berarti di luar daya beli dan keputusan akhirnya? Mudah saja, jangan dulu dibeli.

Saya juga terus teringat dengan satu kisah tentang sahabat Rosul, entah yang mana, yang intinya bergaya hidup sederhana dengan menghindari utang meski untuk kebutuhan yang terlihat darurat sekalipun hanya karena ia takut tidak bisa melunasi jika mati keesokan harinya. Redaksi yang akurat saya lupa tetapi intinya demikian.

Benar demikian buruknya memiliki utang? Mungkin tidak ada jawaban yang pasti kecuali mencobanya sendiri.

2 Comments

Filed under writing

2 responses to “Menjadi Kelas Menengah Urban dan Kenikmatan Hidup yang Lebih Lengkap

  1. laniratulangi

    Selamat malam Bung Akhlis.
    Pada blog saya yang mengenai Kelas Menengah, http://wp.me/pQRpE-aq
    saya telah memberi tautan ke posting Anda mengenai topik yang sama. Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s