Pusat Penerjemahan Sastra: Impian Eliza Vitri Handayani, Penerjemah dan Masyarakat Sastra Indonesia

Dari kiri ke kanan: Penerjemah David Colmer, penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org Eliza Vitri Handayani, penerjemah Kari Dickson dan penerjemah bahasa Inggris-Norwegia Kate Griffin

Saat saya masuki aula besar di atas galeri seni di Erasmus Huis Sabtu pukul 7 lewat 15 menit malam kemarin (13/10/2012), suasana khidmat terasa. Ruangan yang besar tersebut tidak terisi penuh. Kursi di bagian depan cuma terisi satu dua orang. Hampir setahun lalu saya juga pernah berada di sini, untuk menonton film pemenang ajang SBM Golden Lens Award di bulan November 2011. Sangat berkesan.

Malam kemarin juga tak kalah berkesan. Saya bertemu teman yang selama ini hanya bersua secara virtual di Facebook dan blog, Dina Begum. Teman-teman baru sesama penerjemah juga banyak bertebaran di seantero ruangan sampai saya bingung harus memilih meredam gesekan usus yang masih kosong atau berkenalan dengan sebanyak mungkin orang di kesempatan langka malam itu. Cuma sempat berkenalan dengan Budi Suryadi yang membuat kami tergelak dengan lelucon angsa dan kuda nil di tengah danau dan Asep Gunawan yang mengira saya masih lulusan  baru.

Eliza Vitri Handayani malam itu membuka acara pembacaan hasil penerjemahan karya sastra penulis Gustaaf Peek dari Belanda dan Kjesrti A. Skomsvold dari Norwegia. Wanita muda penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org itu menyampaikan pidato pembukaan dengan fasih di hadapan peserta lokakarya penerjemahan sastra yang telah berlangsung selama 5 hari sebelumnya, para pembicara dan sejumlah pemerhati dunia penerjemahan di tanah air. Kalangan penerbit dan badan lain yang menaruh minat pada penerjemahan juga menyempatkan hadir.

Eliza tampak sibuk melayani percakapan dengan tamu lain sehingga saya harus berpikir beberapa kali untuk menemukan cara menyela obrolannya dengan orang lain. Terus terang saya bukan orang yang suka menyela. Itu salah satu hal yang paling tidak berbudaya menurut saya.  Dan sekonyong-konyong, saya terkejut saat Eliza menghampiri saat saya menundukkan pandangan untuk berfokus pada makanan di piring yang sudah hampir tandas. Mungkin ia dengan sengaja menghampiri semua orang di ruangan ini. Peluang emas, pikir saya. Saya bombardir saja dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Inilah cuplikan singkat wawancara impromptu saya dengan Eliza.

 

Apa tujuan utama diadakannya lokakarya ini?

Tujuannya sebagai alat pengembangan kompetensi penerjemah. Berdasarkan wawancara dengan penerjemah, editor dan penerbit, saya temukan 3 kendala utama dalam dunia penerjemahan di tanah air yakni: kompetensi penerjemah, kondisi kerja di penerbitan, dan rendahnya apresiasi terhadap karya terjemahan. Dan tahun ini tujuan acara ini (lokakarya penerjemahan di Erasmus Huis) adalah untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Pertama, meningkatkan kompetensi penerjemah dengan mengadakan lokakarya, seminar, membahas kondisi kerja dan acara umum seperti ini untuk mengangkat profil penerjemah. Apalagi mereka jarang diundang. Jika diundang pun, penerjemah jarang diberikan kesempatan berbicara di depan. Di sini, mereka diwawancarai dan diberikan kesempatan berbicara.

Orang juga perlu menyadari bahwa proses penerjemahan karya sastra itu tidak hanya baca karyanya lalu mengetik, atau menbuka kamus dan tinggal memasukkan arti kata. Prosesnya sangat rumit.

Ada alasan khusus mengapa memilih karya sastra dari Norwegia dan Belanda untuk lokakarya tahun ini?

Sebenarnya bisa dari mana saja karena kebetulan saya tinggal di Norwegia separuh tahun dan (kita memilih) Belanda karena kita memiliki hubungan sejarah yang kuat dan dukungan praktisnya juga karena mereka juga memiliki lembaga tersendiri untuk mendukung penerjemahan karya-karya sastra mereka.

Apakah benar apresiasi terhadap hasil penerjemahan karya sastra lebih rendah dibandingkan terhadap karya aslinya?

Saya pikir tidak. Hanya banyak yang kurang percaya dengan terjemahan bahasa Indonesia sebab banyak orang berpikir dengan kemampuan berbahasa Inggris sedikit, orang sudah bisa menerjemahkan, banyak buku yang tidak diedit, penerbit cuma mengejar tenggat waktu untuk merilis buku, dan banyak pembaca yang bisa membaca bahasa Inggris. Jadi mereka tidak percaya dengan hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Mengapa memilih karya Gustaaf Peek?

Ada berbagai pertimbangan yang tidak hanya dari kita tetapi juga dari donor. Gustaaf belum menerjemahkan karyanya ke bahasa Inggris, kita ingin karyanya bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris dan lainnya. Dan karena karyanya menarik.

Dalam lokakarya dilakukan penerjemahan secara relay (dari bahasa Norwegia –> Inggris –> Indonesia). Apakah dengan cara ini risiko kesalahan justru akan makin tinggi?

Betul, biasanya memang demikian. Tapi kita berusaha mengatasi itu dengan mendatangkan penulis aslinya dan penerjemah asal. Saya dengan berat hati mengadakan penerjemahan relay tetapi tidak merekomendasikan relay translation tanpa partisipasi penerjemah pertama.

Apakah nanti jika penerjemah Indonesia membutuhkan bantuan untuk menghubungi penulis atau penerjemah pertama, apakah akan dibantu?

Ya, jika kami nanti sudah menjadi sebuah pusat penerjemahan sastra di Indonesia. Sekarang pun jika kami bisa membantu, akan kami bantu.

Seberapa perlu penerjemah karya sastra memahami konteks sosial budaya yang menjadi latar belakang karya sastra?

Itu juga perlu, seperti tadi saat membahas keadaan cuaca di Norwegia yang tidak bisa ditemui di Indonesia. Unsur pakaian juga. Dengan menghadirkan penulis, kita bisa mengetahui semua itu, bagaimana rasanya memakai pakaian itu.

Itu kalau penulisnya masih ada, jadi proses penerjemahan lebih lancar karena masih bisa berdiskusi. Bagaimana jika penulisnya sudah meninggal?

Tujuan lokakarya ini bukan supaya kita menjadi lebih tergantung pada penulis. Kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan penulis. Ini hanya sebagai cara untuk membaca teks lebih dekat. Karena penulis juga sebisa mungkin ingin memasukkan semua yang ingin ia sampaikan ke dalam teks.

Untuk tahun-tahun mendatang, apa yang akan dilakukan setelah penyelenggaraan lokakarya penerjemahan karya sastra ini?

Kita memiliki ide untuk memberikan penghargaan bagi buku terjemahan karya sastra terbaik karena belum ada yang khusus mengapresiasi terjemahan sastra sampai sekarang. Padahal itu ada prosesnya dan seninya sendiri.

Kira-kira kapan realisasinya?

Pinginnya tahun depan.

Sudah melobi pihak apa saja untuk realisasi ini?

Rahasia dulu deh. Haha.

Tapi secara umum, apakah antusiasmenya sudah ada terhadap apresiasi terjemahan karya sastra?

Sudah. Secara umum saja, dari Festival Sastra. Sebab itu pesta, kita memberi anugerah untuk merayakan pencapaian jadi alangkah baiknya kalau di Festival Sastra. Jadi akan ada banyak penonton sehingga suasananya meriah. Pihak lain ialah organisasi yang tertarik dalam bidang penerjemahan, media yang banyak bergerak di bidang penerjemahan.

Apakah tahun depan diadakan lagi lokakarya seperti ini?

Sedang direncanakan. Kalau bisa dari bahasa-bahasa Asia.

Apakah ada rencana untuk memberikan lokakarya tetapi yang melibatkan bahasa-bahasa lain yang tidak sepopuler bahasa Inggris?

Ada. Tantangannya akan lebih sulit mencari pesertanya. Tetapi itu memang harus ditumbuhkan seperti misalnya yang sekarang di lokakarya yang langsung dari bahasa Belanda, kan kebanyakan dosen atau pengajar bahasa dan itu memiliki kesulitan sendiri karena mereka belum tentu memiliki kemampuan menulis yang baik tapi di sisi lain kita harus tumbuhkan minat mereka untuk menerjemahkan karya sastra Belanda.

Bagaimana dengan kualitas para penerjemah kita?

Banyak yang sudah hebat seperti para pembicara di lokakarya tadi. Tapi banyak juga yang lain yang masih perlu ditingkatkan.

Wawancara pun harus berhenti karena dua teman Elisa menghampiri dan mengajak mengobrol sejenak untuk berpamitan dan mengucapkan dukungan terhadap inisiatifnya mendirikan pusat penerjemahan sastra pertama di Indonesia. Saya pun mempersilakan padanya untuk menyantap makanan yang sudah diambil sebelum saya memberondongnya dengan pertanyaan.

Semoga impian Eliza, yang juga impian kita semua, akan terwujud dengan lancar segera!

 

 

6 Comments

Filed under translation

6 responses to “Pusat Penerjemahan Sastra: Impian Eliza Vitri Handayani, Penerjemah dan Masyarakat Sastra Indonesia

  1. sempat hadir juga ya di acara ini? saya juga datang, sayang tidak sempat ketemu ya. padahal saya dan mas budi, asep, serta mbak dina satu kelompok.🙂

    • Halo salam kenal juga mbak. Iya waktunya kurang jadi tidak bisa ngobrol dengan lebih banyak orang.🙂
      Terima kasih sudah mampir. Kapan-kapan semoga bisa ketemu dan ngobrol.

  2. Salam kenal Mas. Saya salah satu penerjemah yang mengikuti workshop ini. Mau minta izin memasang tautan wawancara ini di blog saya ya, semoga berkenan🙂

  3. Pingback: Merayakan Penerjemahan Buku « bruziati

  4. Pingback: Logistik dulu, baru logika. « Dina's Pensieve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s