Cikal Bakal Yoga –2 *

Upanishad

Di akhir periode Weda, kumpulan tulisan kuno mengenai yoga muncul di India. Upanishad terdahulu dianggap oleh sebagian orang sebagai bagian dari Weda, dan ditulis di milenium pertama Sebelum Masehi sebagai bagian dari gerakan spiritual yang di dalamnya ketergantungan pada ritual-ritual yang bersifat rahasia dan rumit menjadi praktik-praktik yang lebih berfokus pada sisi internal. Di sini kita pertama kali bisa menemukan penjelasan yang mendetil mengenai praktik yoga, meskipun semuanya masih terpusat pada meditasi, terutama di Upanishad bagian selanjutnya di milenium pertama Sesudah Masehi. Muncul sejumlah perkiraan tentang jumlah Upanishad, dari 50 hingga 30 ribu, yang setiap satuannya disajikan dalam bentuk dialog filosofis mengenai ciri-ciri kehidupan dan takdir jiwa (Easwaran 1987). Upanishad dianggap sebagai inti sari dan penjelasan terakhir Weda, dan dikenal sebagai filosofi Wedanta (“akhir dari Weda”) (Michaels 2004).

Sebagai ekspresi filosofi relijius Hindu, Upanishad menekankan pentingnya keyakinan terhadap roh universal, brahma, dan jiwa individu, atma. Brahman merupakan ketidakterbatasan yang mutlak, semua yang pernah ada dan semua yang akan muncul. Atman, atau bagian dalam diri, merupakan jiwa yang kita alami dalam kesadaran kita yang terbatas, yang di dalamnya kita dikatakan menjalani kehidupan sebagai diri kita sendiri yang sejati: sang mutlak, atau brahma. Praktik-praktik kontemplatif dan ritualistik yang digambarkan dalam Upanishad bertujuan untuk menyatukan atma dan brahma dengan memperoleh kebebasan dari belenggu duniawi dan kesadaran terbatas yang membuat kita tetap menyadari keadaan menyatu sejati. Sebagaimana dikemukakan oleh Georg Feuerstein (2001, 127) “Pijakan transendental dunia serupa dengan inti utama manusia. Realitas agung, yang murni, Kesadaran yang tidak berbentuk, tidak bisa secara memadai dijelaskan atau didefinisikan. Ia hanya bisa dihayati.” Jalan menuju kesadaran diri ini meliputi refleksi terdalam di pikiran yang membawa seseorang menuju suatu tempat yang penuh kebijakan murni (Manchester 2002).

Meskipun praktik-praktik yang digambarkan dalam Upanishad sangat sedikit sekali menunjukkan kesamaan dengan apa yang kita jumpai dalam sebagian besar kelas yoga di dunia Barat jaman sekarang, Upanishad membentuk bahasa dan pengalaman mengajar secara meyakinkan. Upanishad berarti “duduk bersama,” yang merujuk pada praktik duduk di dekat kaki guru seseorang sebagai cara mendapatkan pencerahan. Praktik satsang (dari sat, yang berarti “sejati”, dan sangha, yang berarti “teman”), yang mengharuskan seseorang duduk bersama gurunya atau dalam sebuah perkumpulan dengan orang lain dengan tujuan belajar dan menimba pengalaman pembangkitan spiritual melalui asimilasi pemikiran-pemikiran sang guru, ditemukan dalam sejumlah studio yoga di Barat.

Upanishad juga menjadi sumber tertulis pertama yang menggambarkan apa yang disebut saat ini sebagai anatomi yoga tradisional dari tubuh yang halus. Konsep tubuh yang meliputi 3 bagian (kausal, halus, dan fisik) serta koshas (atau “5 sarung pelindung,” yang dibahas secara detil di bab Tiga) ditemukan dalam salah satu Upanishad tertua, Upanishad Taittiriya (2.1-9). Prana atau “kekuatan kehidupan” ditemukan dalam sejumlah Upansihad. Sebuah teks dalam Upanishad Kaushitaki (3.2) memberikan salah satu gambaran paling familiar tentang prana sekarang ini: “Kehidupan adalah prana, prana adalah kehidupan. Sepanjang prana hadir dalam tubuh, begitu juga kehidupan. Melalui prana, seseorang mencapai, bahkan di dunia ini, keabadian.”

Dalam bagian Upansihad berikutnya yang ditulis di abad ke-15, kami mulai melihat bukti eksperimen dalam berbagai praktik yoga yang menggunakan pernapasan dan suara sebagai alat transformasi fisik. Sebagaimana yang kita dapat baca di bagian berikut dari bab ini, banyak eksplorasi ini yang diasosiasikan dengan kebangkitan tantra dan menciptakan pondasi untuk perkembangan Hatha yoga di masa setelahnya. Hal ini mencapai puncaknya dalam deskripsi asana yang spesifik dalam Upanishad Darshana abad ke-15, yang salah satunya ialah asana-asana duduk yang di dalamnya praktik pentingnya ialah pranayama (Aiyar 1914).

* Terjemahan dari “Teaching Yoga” tulisan Mark Stevens hal. 3-5

Leave a comment

Filed under yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s