Lebih Banyak Uang Berarti Lebih Banyak Penderitaan?

Uang itu perlu tetapi bukan segala-galanya, karena manusia bukan seonggok daging dan tulang semata. Bagaimana membuat hidup yang singkat ini bermakna bagi kita sendiri dan orang lain adalah misi tertinggi yang harus dimiliki seorang manusia, seperti teman yoga saya yang murah hati mengajari anak-anak ini yoga secara sukarela.

Di tengah era materialisme dan kapitalisme seperti sekarang sulit rasanya membayangkan masih ada orang yang tidak mengenal nilai uang. Terlebih lagi bagi mereka yang tinggal dan bekerja di kota-kota besar tempat pusat perdagangan dan segala aktivitas manusia seperti Jakarta, hampir semua orang yang kita temui pastilah berpendapat bahwa makin banyak uang, makin bahagia.

Saya juga tidak mau menampik hipotesis itu, meski dengan adanya syarat-syarat. Kaya raya itu menyenangkan tetapi beban psikologis, moral, mentalnya juga tidak bisa dianggap remeh. Saya pun mau kaya, agar saya bisa lebih leluasa menolong orang lain pula. Bagaimanapun juga tampaknya memiliki uang banyak akan lebih berpeluang untuk meraih kebahagiaan daripada tidak.

Tetapi tidak semua orang berpikir demikian. Meskipun sebanyak 98% orang mendapatkan kepuasan yang sedikit lebih besar dalam kehidupan mereka saat menerima gaji yang lebih tinggi, terdapat kelompok 2% sisanya yang dikenal sebagai “frustrated achievers”. Siapa saja mereka ini? Frustrated achievers ini adalah mereka yang berpendapat bahwa makin banyak uang yang mereka dapatkan, makin banyak pula penderitaan yang akan mereka alami. Makin banyak uang yang didapat, mereka justru makin frustrasi. Aneh bukan?

Ini bukan spekulasi sembarangan. Pernyataan ini merupakan hasil sebuah studi yang dilaksanakan oleh Leonardo Beccheti dari University of Rome Tor Vegata di Italia. Simpulannya diterbitkan dalam sebuah tulisan “The Heterogeneous Effects of Income Changes on Happiness” atau jika diterjemahkan secara bebas artinya: “Efek Heterogen Perubahan Pendapatan terhadap Kebahagiaan”.

Meski dilaksanakan oleh peneliti Italia, studi ini melibatkan subjek penelitian yang berupa rumah tangga di Inggris. Aneh tetapi nyata, peneliti menemukan bahwa 70% dari frustrated achievers ini berjenis kelamin wanita dan mayoritas dari frustrated achievers ini telah mengalami perceraian daripada kelompok masyarakat lainnya.

Bagaimana dengan Anda? Termasuk kelompok mayoritas atau 2% yang menolak untuk jadi lebih kaya?

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s