Mengejar Sempurna yang Tak Nyata

Ctek! Begitu bunyi saklar diikuti dengan menyalanya lampu operasi yang terang benderang itu. Arah cahayanya yang begitu terang menyorot langsung ke bawah. Sebuah meja operasi terentang.

Seorang wanita muda berada di atasnya, terbaring terlentang dengan kesadaran yang diredam anastesi dengan skala lokal. Rambutnya yang panjang dan biasa terurai begitu saja kini terbungkus rapi dalam penutup kepala berwarna biru cerah. Matanya tertutup.

Tidak dilaksanakan bius total. Ini bukan operasi besar. Hanya sebuah operasi sederhana: mempercantik hidung sang wanita.

Seperti banyak pelanggan klinik itu yang telah terbaring di meja operasi yang sama sebelumnya, ia adalah seorang pesohor berparas rupawan. Kesempurnaan fisik rasanya sudah menjadi miliknya. Namun, bukan manusia jika tidak ingin lebih dari yang sudah dimiliki sekarang.

Bukan, keinginannya bukan untuk tampil lebih sempurna dengan mempermancung hidungnya. Awalnya ia memang berpikir kemampuan dan kualitas akting serta profesionalisme akan dengan sendirinya mengangkatnya menuju puncak sukses. Tetapi ia salah.

Kini ia pun harus rela sedikit merombak tulang hidungnya yang, kata manajernya, sedikit terlalu rendah. Tidak akan mempesona jika difoto atau diambil gambar dari samping, alasan pria gembul yang mengatur segala kegiatannya sebagai selebriti sejak bertahun-tahun lalu.

Dengan berdatangannya muka-muka baru yang lebih segar, sempurna dan muda, wanita muda ini tetap ingin bertahan. Namun, apa daya, akting bagus semata tidak cukup mengatrol karirnya yang tersendat. Selama ini ia hanya menjadi selebriti papan tengah setelah beberapa tahun sebelumnya berhasil menyita perhatian publik dengan aktingnya yang memukau. Keberuntungannya memudar sudah.

Dan ia tidak akan gagal lagi dalam audisi berikutnya, jika operasi permak hidung ini berhasil! Setidaknya inilah pintu awal menuju peluang memamerkan kualitas aktingnya di layar kaca.

Seorang dokter memulai pembedahan. Tangannya yang berselimut kaos tangan berbahan karet sekali pakai itu terulur membuka meminta pisau bedah paling tajam dari seorang perawat di dekatnya.

Ia pun duduk dan dengan cekatan menggunakan sejumlah peralatan bedah. Sebuah gunting mungil berbahan baja anti karat ia masukkan dengan sedikit kasar ke lubang hidup si pasien. Ia mencoba memotong tulang rawan di dalam hidung. Sebuah alat bor berukuran mikro menyusul masuk. Bunyinya yang konstan itu mengerikan.

Seorang pria yang berdiri terpukau di sisi lain meja operasi. Ia hanya menonton bersama satu perawat lain yang lebih muda dari perawat lain. Kentara sekali keduanya belum terbiasa dengan pemandangan ini.

Suster pertama yang lebih gemuk dan berpengalaman membantu sang dokter yang trampil itu dengan menarik cuping hidung pasien, berusaha memberikan ruang bagi si dokter lulusan program doktor di Jerman itu untuk merapikan tulang hidung agar lebih pas saat implan silikon padat masuk. Ia pegang sebuah tatah logam kecil dan mengarahkannya ke tulang hidung wanita itu. Di tangan satunya tergenggam sebuah palu dari besi yang tampak bersih mengkilap. Kilap dari pantulan cahaya lampu operasi itu ditambah suara yang dihasilkan saat tulang hidup beradu dengan tatah membuat suasana lebih mengerikan meski darah yang keluar hanya sedikit saja. Meja operasi bergoyang pelan setiap dokter memukul tatah dengan palu. Persis suara gemeretaknya tembok semen saat bertemu linggis.

Bola mata kedua orang yang sisi kanan meja operasi melotot sedikit saat menyaksikan tangan si dokter dengan mantapnya memasang silikon padat itu ke dalam hidung. Ia jepit dan tanamkan implan itu lalu menatap lekat dari samping, memastikan posisinya sudah tepat dan estetis.

Ah, ternyata belum pas! Dengan ekspresi serius dan konsentrasi penuh, ia tarik keluar implan itu. Ia potong sedikit bagian atasnya. Terlalu tinggi, pikirnya.

Seorang pria berkacamata mengamati dari ujung ruangan. Ia duduk santai, hanya mengamati. Melihat gerak-gerik sang dokter yang tampak piawai melakukan tugasnya , ia tersenyum simpul. Kepalanya mengangguk-angguk, masih dengan mulut terkunci.

Dokter bedah plastik yang begitu ahli ini menanamkan kembali implan yang sudah dirapikan dan bersiap membereskan hidung pasien yang acak-acakan.

Sejurus kemudian ia terhenti saat pria di sisi kanan meja operasi setengah berteriak,”Tunggu sebentar!”

Sang dokter mengernyitkan dahinya. Kedua tangannya terpaku mendengar kata-kata itu, penasaran apakah ada yang salah.

Pria muda di sisi kanan meja itu memandang dari samping hidung pasien yang masih belepotan darah segar. Tak disangka-sangka, ia naik dengan lutut bertumpu di meja operasi, matanya mencoba menatap hidup yang sedang dipermak dari sisi bawah.

Empat orang lain di ruang operasi itu terhenyak dengan ulahnya yang sembarangan dan tidak bertata krama. Siapa pula yang membutuhkan tata krama jika ia adalah pemilik klinik bedah plastik tersebut?

“Hidungnya masih kurang mancung!” serunya.

Tanpa pikir panjang, ia goncang bahu si pasien yang rupanya berada di ambang batas kesadaran.

“Julia!! Buka matamu, Julia!!”

Pasien yang hanya dibius lokal di sekitar hidungnya itu terbangun.

“Kenapa? Ada apa?” bibirnya yang merah muda, tetapi telanjang tanpa gincu, bergetar saat bertanya pada orang yang membangunkannya.

“Saya tidak bisa membiarkan ini. Dia kurang paham. Saya baru sadar ada yang lebih bagus. Dibandingkan silikon yang tahan suhu tinggi ini, mengapa tidak pakai asam hidraulik yang lebih bagus??! Kita perbaiki lagi dan naikkan hidungmu 0,5 mm lalu hidung yang indah, mancung dan sempurna akan jadi milikmu, Julia! Tenang saja, saya tidak akan menaikkan biaya operasinya terlalu banyak kok,” saran direktur klinik dengan air muka penuh antusiasme.

“Apa maksud Anda?” Julia yang sudah sadar tetapi masih belum pulih benar dari pengaruh obat bius itu makin kebingungan.

“Kamu tinggal bayar Rp. 2,5 juta lagi untuk menaikkan tulang hidung ini dengan bahan baru,” ia berusaha meyakinkan.

“Anda tidak lihat kami sedang melakukan operasi? Apa yang sedang Anda lakukan???” si dokter bangkit dari kursinya, dengan nada tinggi penuh amarah. Ia setengah melemparkan perkakas bedah di tangan ke nampan di sampingnya.

“Maaf, tapi dari pengalaman saya, saya benar-benar tidak bisa tinggal diam. Lihat saja,”ia membungkuk di samping hidung Julia,” Jika dinaikkan 0,5 mm saja, hidungnya akan membentuk huruf E yang sempurna, dari dagu, mulut dan hidung. Semua titik tertingginya akan menjadi satu garis lurus! Sempurna!”

Dokter itu pun tak mau kalah,”Anda tidak tahu ya? Sebelum ini kulit Julia sudah menjalani pembedahan! Kondisinya sudah tidak begitu bagus. Kalau diubah-ubah lagi, bisa-bisa terjadi hal yang berbahaya!”

“Lihat saya, Julia. Mengapa Anda ingin menyembunyikan kenyataan bahwa Anda pernah menjalani pembedahan sebelumnya?” tanya dokter itu tajam. “Tak tahukah Anda betapa berbahayanya itu?”

Dengan suara bergetar setengah ketakutan, Julia mencoba menerangkan,”Bukan begitu dok… sebenarnya, saya hanya tidak terlalu menyukai hasil operasi yang terakhir.”

“Bukan…bukan, bukan begitu Julia. Apa salahnya seorang wanita menginginkan dirinya menjadi lebih cantik? Saya tidak akan mengganti bahannya lagi, tenang saja,” Direktur klinik itu menimpali, mencoba menguatkan pendapat si pasien yang kebingungan dengan hidung dalam keadaan setengah terbuka, karena belum dijahit.

“Apa yang Anda lakukan? Anda dokter atau pedagang di sini??” dokter itu berseru pada si direktur muda yang pongah.

Darah muda sang direktur naik dalam sekejap karena merasa tersinggung,”Lalu Anda apa? Cuma dengan sedikit pengetahuan estetika itu sudah berani melakukan operasi plastik?

Mata si dokter bedah itu menjadi tambah nanar mendengar kalimat pedas dari direktur kliniknya. Ia melirik ke nampan berisi perkakas yang ia gunakan tadi. “Baiklah. Lalu kenapa Anda tidak menggunakan selera estetis Anda yang sempurna itu untuk melanjutkan operasi ini?” dengan santai ia sodorkan pisau bedah dengan tangan kirinya ke sang direktur.

Direktur pun menelan ludahnya begitu menatap kilat cahaya dari pisau bedah. Ia bergidik. Rasa cemas muncul di raut mukanya. Bola matanya memandang ke bawah, dan ke atas lagi menatap mata si dokter yang beberapa tahun lebih tua darinya.

“Itu.. Hmm…Apa Anda harus melakukan cara ini?”

Perawat gemuk menyela tak sabar di antara perselisihan kedua atasannya,”Efek anastesi akan hilang dalam 5 menit lagi. Cepatlah putuskan,” begitu tidak sabarnya ia sampai membuka masker yang menutup mulut dan hidungnya.

“Saya akan selesaikan pembedahan sekarang,” tegas si dokter dengan sorot mata tajam ke arah direktur. “Saya belum pernah bertemu dengan seorang dokter yang membangunkan pasiennya di tengah operasi hanya untuk tawar menawar soal harga bahan implan!”

Meski tak sepakat dengan pendapat sang dokter bedah, mulut direktur itu tetap terkatup.

Leave a comment

Filed under fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s