Violinis Maylaffayza Berbagi Inspirasi di Taman Suropati (1)

Taman Suropati pertama kali saya lewati saat sore hari di tanggal 10 April 2010. Kala itu saya baru tiba di Jakarta dan memulai bekerja sebagai penerjemah di sebuah perusahaan properti. Gerahnya udara Jakarta terasa di sekeliling saya, dari Stasiun Senen yang hiruk pikuk sampai di daerah Karet Kuningan. Di antara perjalanan antara kedua tempat itulah saya melihat sebuah taman yang asri. Saya tak mengetahui namanya. Saya hanya terpukau dengan keasriannya dan deretan pemukiman kelas atas di Menteng, bangunan kedutaan besar negara-negara sahabat, dan udara yang lebih sejuk.

Di sini pula, beberapa bulan berikutnya, tepatnya di Desember 2010 saya memulai belajar biola. Saya tertarik karena saya hanya ingin memainkan beberapa lagu The Corrs, band Celtic kesukaan saya, yang sebagian lagu-lagunya didominasi gesekan biola. Di tengah perjalanan belajar, saya pun menyadari besarnya tantangan  menjadi violinis, sekalipun saya hanya menjadikannya sebagai pengisi waktu. Instrumen dan aksesoris yang lumayan mahal (saya beli di sebuah toko di Blok M biola murah seharga kurang dari Rp. 1 juta) juga menjadi kendala. Dan yang paling berat, tantangan itu datang dari diri saya sendiri yang kurang bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak SD yang selevel dengan saya jauh lebih pandai dari saya. I felt like a real loser! Kini biola itu pun teronggok di sudut kamar. Bisa jadi itu alasan saya untuk menemukan legitimasi atas kemalasan dan ketidakberbakatan saya sebagai pembelajar biola.

Menyadari bahwa saya tidak berbakat atau sama sekali sudah terlambat memulai, saya pun pernah berkomunikasi via Twitter dengan Maylaffayza tentang bagaimana agar tetap bersemangat meski kepercayaan diri makin surut dari pertemuan ke pertemuan. Saya tidak ingat persis apa yang saya tanyakan padanya saat itu tetapi intinya saat itu saya hanya membutuhkan seorang idola, role model. Dan menghubungi Mayla Fayza terasa lebih masuk akal dan ‘nyambung’ daripada Sharon Corr yang ada nun jauh di sana.

Putus asa dengan biola, di saat yang sama saya menemukan komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati. Awalnya saya bertemu Yudhi Widdyantoro pagi itu saat jalan pagi. Sebelumnya saya pernah mendengar ada yoga di sana memang jadi saya penasaran saja. Saat itu saya menghampirinya dan segera saya diajari instruktur yoga ini satu jenis pernapasan: kepala bathi. Saya harus menyentakkan perut ke dalam menghembuskan napas keluar hidung untuk merilekskan pikiran sebelum berlatih. Rongga hidung saya saat itu penuh dengan ingus karena flu ringan di bulan Desember yang lebih dingin, dan setiap kali saya mengingat sesi kepala bathi ini saya menyadari betapa saya lebih jarang terkena flu hingga beringus seperti itu sejak berlatih yoga. Dalam waktu kurang dari 2 tahun terakhir ini, frekuensi saya terjangkit flu dan sakit menjadi lebih jarang. Entah karena kehendakNya, berlatih yoga, atau makan dengan lebih bijak, atau karena sebab lain yang tak saya ketahui. Atau mungkin kombinasi dari semua faktor tadi. Wallahu alam. Only God knows.

Entah bagaimana, tanpa ada pertanda apapun, pagi tadi saya bisa bertemu dengan Maylaffayza. Dia hadir di Taman Suropati, bukan sebagai seorang violinis yang bermain di Taman Suropati Chamber yang diasuh Ages Dwiharso yang saya pernah ikuti itu tetapi justru di komunitas Yoga Gembira yang saya ikuti setelah saya menyerah belajar biola. Saya hanya tersenyum simpul, bagaimana bisa ini terjadi? Hidup memang selalu menyimpan kejutan di saat yang paling tidak disangka.

Di antara begitu banyak fans, saya mungkin bukan seseorang yang sangat maniak dan terlalu berlebihan dalam menyukai sesuatu. Entah itu suatu kelebihan atau kekurangan. Saat saya bertemu dengan Mayla pagi tadi misalnya, tidak ada keinginan untuk berfoto bersama dengannya atau bahkan sekadar menyapa, “Halo mbak Mayla saya dulu pernah bertanya di Twitter sama mbak tentang biola. Sayang saya sekarang berhenti.” Sungguh, itu terlalu absurd dan kikuk, aneh. Saya lupakan ide sok kenal sok dekat (SKSD) seperti itu.

Itulah mengapa saya lebih banyak menghabiskan waktu tadi untuk merekam apa yang ia katakan sepanjang sesi berbagi (sharing) setelah berlatih yoga di Taman Suropati bersama komunitas Yoga Gembira (YOGEM)  daripada memburu kesempatan untuk berfoto atau berbincang. Saya tahu ia sibuk dan saya juga segan dan tak tahu bagaimana mengawali percakapan.

Ditemani oleh Adeline Windy, teman Yoga Gembira yang juga pegiat Indo Runners, Mayla menceritakan di depan komunitas YOGEM asal muasal ketertarikannya pada instrumen gesek tersebut. “Saya tidak pernah memainkan atau melihat orang main biola tetapi saat saya diberikan biola, saya langsung jatuh cinta. Jadi saya taruh biola itu di sisi samping tempat tidur dan menjadikannya benda pertama yang bisa saya lihat pertama kali saat bangun tidur dan benda terakhir yang saya lihat sebelum saya tidur di malam hari.”

Lalu saya tengok tempat tidur saya, terserak buku-buku dari sastra hingga kesehatan yang belum saya baca sampai khatam. Saya bukan tipe orang yang setia membaca satu buku sampai habis. Saya lebih suka meloncat-loncat dalam menikmati buku, sesuai suasana hati saja karena saya pikir saya adalah pembaca yang mandiri dan bukan mahasiswa kelas Extensive Reading di jurusan Sastra yang harus melahap buku yang diwajibkan dosennya. Ah, saya ingin menulis buku setidaknya sebelum maut menjemput.

Saya bisa merasakan antusiasme Mayla saat belajar biola pertama kali.

(Bersambung)

 

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s