Hidup sebagai Aset Anda, Bukan Orang Tua

Dengan kata ‘aset’, saya tidak mengacu pada pengertian finansial, tetapi lebih jauh dari itu. Terus terang saja, saya pernah mengalami kebingungan (atau kegalauan, menurut kosakata anak muda alay tahun 2012) sejenis dulu. Saya mengambil jurusan IPA karena tidak berani mengutarakan keinginan saya untuk duduk di kelas IPS. Saya tak ingin membuang waktu mempelajari ilmu eksakta agar dapat mengikuti ujian masuk yang lintas jurusan eksakta dan sosial. Saya hanya ingin memperdalam ilmu sosial saya. Orang tua menginginkan saya masuk ke IPA. Guru kelas pula. Nilai saya memenuhi syarat dan sistem pun membolehkan saya masuk. Namun, apa daya hati kecil berontak. Saya putuskan melepaskan kans saya menjadi anak IPA dan segala stigma cerdas dan teraturnya. Saya memilih menjadi siswa IPS dengan kemampuan sendiri sebaik-baiknya karena inilah pilihan saya, yang saya buat dengan penuh kesadaran alias mindful! Kemudian beberapa tahun kemudian saya menjumpai beberapa anak muda yang kebetulan saya ajar di sebuah kampus swasta. Jujur saja mayoritas mereka ini mengalami tekanan dari orang tua. Mereka memasuki jurusan yang bahkan mereka sendiri tak sukai. Bagi saya ini sangat absurd. Mereka menjalani sebuah pilihan hidup yang krusial bagi masa depan mereka dan aktualisasi diri mereka. Tetapi pada saat bersamaan mereka kurann menyukainya bahkan membenci sama sekali apa yang mereka pelajari. Singkatnya, motivasi mereka nol. Akibatnya? Semua pihak merana. Pengajar merasa frustrasi. Nilai hancur, harus dikatrol karena demikian parah. Pun sang mahasiswa/i sendiri. Mereka marah pada diri sendiri karena tak kunjung memahami pengetahuan yang disampaikan pengajar. Orang tua apalagi. Ekspektasi mereka yang tinggi agar anak yang terkasih lebih cerdas malah menunjukkan kelemahan mereka. Mereka sama sekali tak berbakat dalam bidang yang akan diterjuni. Dan ketiadaan bakat itu diperburuk dengan motivasi yang rendah. Akhirnya semua cara dihalalkan untuk mendapatkan nilai bagus. Sebagai contoh saja, sya mengenal dengan baik satu anak yang terlihat malas malasan. Ternyata penyebabnya adalah keinginan orang tua yang memaksa sang anak masuk ke bidang yang tak disukai. Si anak menderita, babak belur hanya untuk bisa bertahan dan lulus dengan nilai ala kadarnya. Anak lain terlihat lebih baik. Ia punya motivasi belajar bahkan hingga hendak lulus ia pun tidak menunjukkan adanya keanehan, setidaknya di mata saya. Namun begitu lulus ia merasa kebingungan, karena ia ternyata merasa kurang kompeten mengajar dan ingin mencoba bekerja di bidang lain. Ia tidak merasa bisa menikmati profesi yang biasa digeluti lulusan jurusan tersebut. Usut punya usut, ia mengakui kuliah di jurusan itu bukan keinginannya sendiri. Saya prihatin, betapa luasnya dampak fenomena semacam ini. Hentikan pemaksaan oleh orang tua seperti di atas dan anak juga perlu belajar lebih asertif dalam mengemukakan penDan ini hanyalah satu puncak gunung es, yang kelak menjadi akar masalah bagi banyak lagi masalah di negeri ini.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s