Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – Tamat)

masjid UI
Masjid UI: Tempat bersejarah itu…

Sebelumnya:

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 1)

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 2)

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 3)

Kelaparan membuat saya sudah tidak tahan dengan segala perkataan mereka. Saya hanya manggut-manggut saja mendengar mereka. Rasanya sudah capek, dan saya biarkan mereka mengoceh seperti kaset tua rusak.

Sudah setengah 5 sore, pikirku melirik ponsel. Terbersit sebuah doa agar ada orang yang menelponku kala itu agar aku bisa memiliki alasan untuk meninggalkan mereka sesegera mungkin.

Dan benar saja, sejurus kemudian ayah menelpon, menanyakan bagaimana saya akan bermalam di sana. Saya menjawab panggilan dengan sedikit menjauh, berharap mereka tidak mendengar apapun yang saya katakan. Saya mau mengulur waktu agar ada sedikit jeda untuk menyusun strategi lepas dari persuasi dan agitasi ini. Saya berusaha menjawab pertanyaan ayah dengan nada tenang dan gembira. Saya sangatgembira ayah sudah menelpon, serius!

Telepon pun dimatikan dan saya kembali ke tempat semula, berusaha merengkuh tas saya. Mereka bertanya, di mana saya akan menuju keesokan harinya. Saya jawab ngawur : kantor perusahaan yang baru saja saya ikuti interviunya yang berada di Mega Kuningan (lokasi yang kemudian dekat dengan lokasi saya bekerja sekarang, what a life!).

Tawaran untuk menginap di studio yang katanya ada di Lebak Bulus itu pun masih dosodorkan. Saya menolak. Saya beralasan sudah ada tempat tinggal yang saya temukan di sekitar sini. Kebetulan ada teman adik yang memiliki rumah kontrakan di Depok. Saya terus berdoa agar mereka tidak menguntit saya hingga memastikan saya telah menuju rumah teman adik saya yang ternyata tidak bisa menampung saya karena pergi ke luar kota. Hiks!

Si A menawarkan saya untuk membonceng kendaraannya. Dan karena ia harus mengambil kendaraannya di tempat parkir, ia pun meninggalkan saya di dekat Alfamart sekitar Fakultas Hukum jika tidak salah.

Ketiganya tidak beserta saya sekarang. Dan saya langsung mengerahkan sisa-sisa tenaga saya melesat ke stasiun kereta yang mengarah ke Jakarta. Saya mau langsung ke stasiun kereta dan pulang sekarang juga. Tak peduli dengan pengumuman interviu itu lagi rasanya.

Keinginan saya didengar Allah, dan ternyata saya tidak dihubungi lagi oleh perusahaan itu melalui telepon. Kata mereka, hanya yang lolos yang dihubungi maksimal pukul 9 malam. Pukul 9 lewat, saya sudah menemukan kamar hotel seharga 200 ribu per malam di dekat stasiun kereta Djuanda dan saya ingin pulang saat itu juga karena toh saya sudah dieliminasi. Haha… Meski saya bisa menertawakan diri sekarang, dulu perasaan saya hancur sekali. Down karena sudah habis tenaga dan pikiran, ditambah lagi kena denda petugas KA karena salah naik kereta karena cemas dikuntit si 3 agen perekrut NKI itu.

Ah, masa bodoh toh mereka sudah tak tahu menahu di mana saya sekarang…

Esoknya saya meluncur ke stasiun kereta Senen. Mata saya masih berat. Saatnya menaiki gerbong dengan sisa tenaga di pagi hari pukul 7.15.

Ponsel saya berdering. Pesan pendek dari nomor si penyebar aliran sesat: “DI MANA KAMU SEKARANG???”

Sembari melepas pandangan ke sawah nan hijau di Karawang yang dilalui kereta Fajar Utama ke Stasiun Tawang, saya mengetik balasan dengan tenang: “TUNGGU SAJA SAYA DI SEGITIGA EMAS, MEGA KUNINGAN”

–*–

Sorenya saya sampai di terminal bus Kudus dan sebuah SMS kembali masuk: “SUDAH SELESAI??”

Belum sempat membalas, mendekat sebuah mobil kijang merah yang saya kenal. Saya membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

Finally at home… Warm and safe…

Kompensasi 1001 Kekurangan Kita dengan Menjadi yang Terbaik di 1-2 Bidang

Bahasa dan yoga: Dua spesialisasi saya

 

Saya masih ingat betapa saya bersedih dan tertekan saat nilai matematika hanya 54. Saat itu saya kelas 4 SD, dan rasanya sudah seperti the end of the world alias kiamat bagi anak 10 tahun. Apa yang harus saya lakukan? Saya butuh keajaiban untuk bisa membuat nilai saya terdongkrak agar orang tua saya yang guru tidak malu. Ahhh!

 

Begitu tertekannya saya sehingga saya lupa bahwa penguasaan saya di IPS lebih tinggi dibandingkan teman-teman sekelas. Saya suka membayangkan berkeliling dunia dan karenanya saya suka membuka-buka atlas, mengetahui nama-nama ibukota setiap negara di dunia. Itu sangat mengasyikkan. Saya bisa lepas dan bersantai di pelajaran IPS.

 

Tetapi begitu pelajaran matematika dimulai saya tercekam. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kecepatan berhitung saya lumayan payah. Guru yang semula netral di mata saya, begitu saya tersadar saya tidak bisa berhitung sebaik teman-teman lain, saya seolah merasa terongrong, seperti hewan buruan yang senantiasa curiga dengan gerak-gerik hewan buas yang bisa jadi tidak bermaksud memangsanya. Saya merasa tiba-tiba semua perkataannya adalah lecutan cambuk yang melukai. Dan naluri saya adalah bertahan di sepanjang pelajaran. Saya harus tahu  bagaimana caranya ‘selamat’ dari siksaan ini. Siksaan yang datangnya beberapa jam seminggu.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, saya kemudian bertanya: Apakah begitu wajibnya bagi saya dan setiap orang di dunia untuk menjadi sempurna dalam segala hal? Apakah tidak cukup saya pandai di satu dan dua hal yang saya sangat sukai dan menjadikannya sebagai permakluman atas ketidakmampuan saya di bidang atau pelajaran lain?

 

Terus terang saya muak untuk memenuhi semua tuntutan menjadi sempurna. Dan saya pikir itulah sumber keruwetan hidup manusia: keinginan untuk menjadi paling sempurna di dalam semua hal. Itu karena kita memang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Manusia selalu punya keterbatasan dan terimalah itu!

 

Sebagai konsekuensi logis, manusia harus menerima kenyataan bahwa dia boleh saja ‘sempurna’ di beberapa aspek dan payah atau sangat payah di aspek-aspek lain dalam kehidupannya. Itu sangat wajar. Menjadi payah, buruk, tidak kompeten, goblok, suck, adalah hak bagi setiap manusia sepanjang ia masih memiliki spesialisasi yang ia benar-benar kuasai. Saya rasa wajar bila kita temui tukang bangunan yang tidak bisa memasak, atau penari balet yang gagap teknologi, atau mahasiswa teladan Fisika yang tidak tahu menahu tentang anatomi tubuh manusia.

 

Saya biasa-biasa saja, standar… So what?

 

Tidak ada yang perlu diperolok atau dibanggakan jika kita memang tidak sebaik orang lain dalam banyak hal dalam hidup ini. Kepayahan (keadaan payah) yang artinya bisa “pas-pasan”, “biasa”, “standar”, “rata-rata”, bagi banyak orang harus dihindari dengan segala cara. Tampaknya kondisi ini memang mengerikan. Saya juga berpikir saya bersumpah tidak mau menjadi orang-orang kebanyakan yang biasa-biasa saja. Mediocre itu mengerikan! Saya mau menjadi achiever. Apalagi akhir-akhir ini marak berbagai jenis motivator a la Mario Teguh, atau Bong Chandra. Semua orang terpacu untuk menjadi lebih sukses, kaya, bijaksana dengan menuruti semua nasihat dan kata mutiara yang digelontorkan di berbagai media. Tidak ada yang salah. Saya bukan anti motivator. Dan saya sadar kadang kita membutuhkan figur-figur luar biasa seperti mereka yang bisa melejitkan semangat di kala lesu darah. Namun, apa yang saya kurang sukai adalah bagaimana kita terlena dengan menganggap semua itu adalah manual kehidupan. Tidak ada buku petunjuk untuk menjalani kehidupan yang sejelas manual produk elektronik. Kitab-kitab suci pun masih menyimpan banyak gagasan yang multiinterpretatif di dalamnya. Setiap orang bisa memiliki penafsiran sendiri, dan memang kita berhak untuk itu.

 

Kembali ke topik mediocrity (keadaan rata-rata, biasa saja), saya pikir waktu kita di dunia ini adalah aset yang terbatas. Semua yang manusia ‘miliki’ juga terbatas karena pada dasarnya semua adalah pinjaman. Kita bisa bekerja begitu lama dan keras sepanjang hari 24 jam. Namun, sayangnya waktu, energi dan pikiran adalah sumber daya yang sangat terbatas. Kita tidak bisa bekerja terus menerus sepanjang hari dengan tingkat produktivitas yang stabil. Dalam jangka panjang, bekerja terus menerus juga tidak mungkin kecuali kita sudah bosan hidup.

 

Keterbatasan semua hal ini menjadi faktor penting karena itu berarti kita tidak bisa sempurna dalam semua hal. Kita tidak memiliki banyak waktu untuk menjadi koki kelas dunia, pasangan hidup yang hebat, teman yang hangat, pekerja yang sangat produktif, pemain golf yang menjuarai turnamen-turnamen bergengsi dunia dalam sekali waktu. Bahkan kita bisa simpulkan seorang manusia hanya bisa sangat piawai dan menguasai keahlian di 1 hingga 2 bidang saja. Selebih itu hanyalah mitos.

 

Menurut Malcolm Gladwell, pakar psikologi populer, seorang ahli membutuhkan setidaknya 10.000 jam untuk benar-benar menguasai satu bidang. [1] Meski ini bukan acuan yang akurat tetapi intinya adalah untuk menjadi seorang pakar/ ahli dalam sebuah bidang, seseorang perlu bekerja sangat keras dan menghabiskan waktu yang panjang sekali. Dan kita juga masih harus melakukan berbagai kegiatan rutin seperti makan, tidur, menikmati hidup, dan sebagainya. Dengan fokus pada bidang-bidang spesialisasi kita saja, kita tidak perlu mengalami banyak stres dan frustrasi. Semua akan menjadi lebih mudah.

 

Dan untuk menemukan spesialisasi itu, kita perlu banyak bereksperimen dan mendengarkan kata hati. Saya banyak menemukan mahasiswa yang saya ajar berkeluh kesah mengapa kuliah sangat sulit, skripsi sangat susah diselesaikan. Ternyata usut punya usut keluhan itu datang dari motivasi yang rendah, dan pangkalnya adalah karena mereka hanya mendengarkan ‘saran’ koersif orang tua untuk mengambil jurusan itu. Mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka sukai dan mereka hanya mengekor orang tua atau malah teman-teman.

 

Untuk orang yang introverted tetapi lumayan asertif dan beruntung memiliki orang tua yang demokratis seperti saya, menemukan minat yang menjadi spesialisasi adalah sebuah perjalanan yang cenderung mulus. Sebagian lainnya menemukan jalan yang lebih terjal dan mereka bisa menaklukkannya. Sebenarnya mudah saja: lihat ke dalam diri sendiri dan temukan prinsip-prinsip, passion (gairah) dan tujuan hidup kita. Terlalu filosofis mungkin bagi anak-anak muda. Tetapi mudahnya, lakukan saja apa yang kita senangi dan nikmati. Jangan ada keterpaksaan. Meski ada keterpaksaan pun kadarnya tidaklah besar dan masih jauh lebih besar passion kita.

 

Dan kita perlu menyerasikan tujuan hidup kita dengan apa yang kita kejar dan ingin sempurnakan. Habiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki hal-hal yang bermakna paling besar bagi diri kita. Misalnya, jika kita memiliki passion di bidang seni dan gembira serta menikmati bekerja menjadi seniman, pada saat yang sama kita tidak perlu memaksa diri menjadi pesenam yang andal, pebisnis unggul dan pemain game berpengalaman. Mengapa? Karena semua itu tidak selaras dengan tujuan hidup kita: seni. Bolehlah menjadi selingan, tetapi sangat tipis kemungkinan Anda bisa memiliki kepakaran yang sama dengan profesi seniman yang menjadi fokus Anda.

 

Karena itu takutlah kita pada mediocrity di bidang yang menjadi fokus kita saja dan terima saja kenyataan bahwa kita payah di bidang-bidang lain.

Nah karena saya ingin menjadi penulis (sekarang baru menulis di dunia online saja), saya ingin mengutip satu penulis buku yang cukup menarik meski saya belum pernah membaca karya-karyanya. Kutipan di bawah ini adalah kalimat Eric Brown, seorang penulis, yang mengatakan dirinya menulis sekitar 5000 kata per hari saat mengerjakan sebuah proyek buku. Sungguh seperti sebuah lomba lari marathon. Untuk cerpen ia hanya menulis 3000 kata per hari (artikel ini saja baru sekitar 1200 kata). Brown juga menyisihkan waktu libur antara proyek menulisnya dengan membaca, berkebun dan mencari inspirasi untuk buku atau kisah berikutnya. Dan satu lagi resepnya untuk mencari inspirasi ialah dengan melancong. Brown sendiri melakukan perjalanan ke Yunani dan sejumlah negara Asia  hingga sekarang. Ah, betapa mengasyikkannya melancong bagi seorang penulis!

 

 

 

Exercise More, and Be Happier with Your Life

If you think physical workout brings you muscles and better health exam results only, think again. Some scientists found that whenever someone exercise longer or heavier, s/he is likely to feel more content with whatever s/he has now as a human being. Sounds great huh?

“Shifts in depression, anxiety, and stress would be expected to influence a person’s satisfaction with life at any given point in time,” says David Conroy, professor of kinesiology. “In addition, fatigue can be a barrier to engaging in physical activity, and a high Body Mass Index associated with being overweight may cause a person to be less satisfied in a variety of ways.”(source: futurity.org)

That, I guess, is no more big secret. In my case, I almost always feel lighter and happier to a certain extent whenever I can find time and space to do some brief yoga session, sweat a bit, gasp a bit. I used to hate workouts and I grew as a sport hater to be brutally honest. Yet now I’ve changed my mind completely.

So when my couch potato friend said,”Maintaining health is the business of minds. Think positively and everything’s gonna be OK”. He is very likely NOT to realize the existing mutual relationship between physical and mental wellbeing. And for everyone of you who happen to abbhor exercise, I feel sorry for you. That’s like a suicidal option to me.

Now’s the time! Leave that couch and move!

Studi kasus: bagian 2 : Alur Kisah

Baca juga tulisan sebelumnya : Storyboarding.

Berikut merupakan penjelasan mengenai sebuah studi kasus yang membahas tentang pembuatan alur kisah konten yang berisi tentang suatu bisnis makanan, yang memiliki hubungan dengan nutrisi, pertanian.

Dari curah gagasan mengenai tema konten dan ulasan riset mengenai makanan dan nutrisi, konten yang ada dan diharapkan akan dibagi menjadi beberapa bagian di bawah ini:

  • Mendefinisikan elemen-elemen yang ada: Langkah pertama ialah mengumpulkan semua jenis bahan informasi yang Anda sudah gali dari semua sumber yang tersedia atau materi informasi yang akan Anda kumpulkan. Definisikan bagaimana Anda akan mengatur dan merangkainya berdasarkan topik yang akan menjadi highlight. Dalam studi kasus ini, halaman-halaman yang ada akan diatur berdasarkan pada topik-topik serta media yang digunakan. Ingat bahwa bagian-bagian yang ada disusun berdasarkan konsep nonlinear ( bukan dari awal sampai akhir).
  • Identifikasi media: Susun sebuah daftar yang memuat pembagian nukilan-nukilan kisah yang akan disajikan dalam media yang berbeda-beda. Halaman juga bisa diatur berdasarkan pada jenis-jenis media. Untuk jenis audio (suara), kita bisa gunakan audio yang didapat dari kunjungan lapangan, contohnya file-file suara yang berisi profil-profil penggemar makanan yang menjadi sorotan, suara dari para pekerja pertanian yang terlibat dalam penanaman bahan makanan. Untuk file jenis video, kita bisa rekam apa yang sedang dikerjakan petani di ladangnya, mewawancarai para petani dan aktivis LSM pemberdayaan petani kecil yang terlibat, wawancara dengan para pakar yang berkompeten, dan sebagainya. Juga tanyakan jika ada video milik pakar dan aktivis yang bisa diunggah untuk menambah validitas konten yang disajikan.  Untuk file foto/ gambar, kita bisa ambil dari lapangan. Bisa juga mengambil gambar diam dari video yang direkam. Cara sederhananya, misalnya, ialah dengan memakai aplikasi dengan fungsi screenshot bernama “snipping tool” di PC Windows Anda.  Hentikan sejenak/ pause video yang sedang diputar tepat pada saat adegan yang diinginkan dan crop dengan aplikasi tadi. Sementara untuk file grafik, bentuknya bisa berupa foto udara yang didapat dari berbagai sumber, peta yang menampilkan luas ladang yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Bergantung pada sumber-sumbernya, infografis ini bisa diperkecil. Untuk media berupa teks, kita bisa masukkan sudut pandang ilmiah terhadap isu kecanduan, makanan dengan kandungan gizi tinggi yang baru ditemukan dikembangkan, nutrisi yang berubah dalam panduan pemeliharaan kesehatan, dan sebagainya.

Alur kisah yang sudah jadi

Berikut merupakan sketsa alur kisah yang akan disajikan dalam sebuah halaman web, entah itu situs bisnis, atau blog pribadi atau blog korporat. Anda bisa menggambarkannya pada selembar kertas atau menggunakan aplikasi Photoshop jika sudah familiar.

Untuk halaman depan (home page), buat sketsa mengenai tampilan dan layout elemen-elemen yang hendak disajikan termasuk gambar-gambar latar belakang, orang-orang yang berhubungan di dalam kisah yang diangkat, slider yang berputar dengan 2 kisah yang disuguhkan, dengan disertai tautan-tautan ke 4 kategori konten utama. Tambahkan poin-poin entri yang lebih dari satu menuju konten yang berhubungan, konten yang ditonjolkan, di balik konten yang menampilkan adegan-adegan, dan tautan jejaring sosial. Navigasi perlu didefinisikan dengan jelas, karena akan menjadi alat bantu visual untuk memeriksa semua konten yang sudah dijelaskan. Ini akan memudahkan Anda untuk menempatkan konten dan mengedit jika perlu suatu saat nanti.

Untuk halaman yang ada di dalam, dapat disajikan sejumlah poin utama, misalnya: nutrisi, bisnis, pertanian dan makanan. Jenis-jenis kisah, video atau infografis yang dikelompokkan dalam halaman ini misalnya keracunan pestisida, sebuah traktor, merekam ladang pertanian yang luas, para petani. Pertimbangkan elemen-elemen visual dalam halaman itu dan tautannya yang saling menghubungkan topik-topiknya, yang membuatnya tidak linear. Lakukan hal yang sama pada topik lain berdasarkan pada halaman dalam. Ingatlah selalu posisi untuk konten jejaring sosial dan konten yang berhubungan yang akan menjadi fitur utama dalam semua halaman dalam.

Lain dari kedua yang sudah dibahas, untuk bagian “all stories”, pertimbangkan dan pikirkan bagaimana orang akan berinteraksi dengan topik. Berikan satu halaman tersendiri untuk memuat semua konten yang Anda  miliki, untuk mereka yang membutuhkan indeks konten. Lakukan hal yang sama dengan semua konten media yang berbeda.

Terakhir untuk halaman video/visual, dapat disajikan video, infografis, profil audio. Waktunya untuk lebih detil dan rencanakan bagaimana  halaman kisah Anda akan tertampil di mata pembaca. Tampilan ini akan sedikit dipengaruhi  oleh templat yang ada namun Anda bisa merencanakan untuk menempatkan konten pada halaman  ini pula. Jangan lupa memasukkan komponen-komponen visual dalam kisah, entah itu galeri foto, video, wawancara audio, elemen-elemen permanen dan buat sketsa dalam suatu halaman.

Hiduplah di Dunia Seperti Musafir dalam Perjalanan

Hiduplah di dunia ini seolah-olah seorang backpacker atau petualang yang berbekal ala kadarnya. Ada tenda sebagai tempat tinggal pun tak perlu yang mewah. Asal nyaman dan aman sudah bisa dihuni.
Hiduplah Seakan-Akan Orang Asing Atau Musafir di sini http://goo.gl/0aXlG

Bagaimana Membaca Kata “LinkedIn” dengan Benar

Suatu saat saya pernah berada dalam sebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa pakar dan praktisi. Seorang pemilik usaha teknologi informasi yang usianya sudah senior dan tampak berpengalaman berbicara mengemukakan pendapatnya. Kami menyimak.

Dan tiba-tiba dia menyebutkan sebuah kata yang aneh. “Lingkedin,” begitu katanya.

Swear saya tidak mengada-ada. Sejurus kemudian saya baru sadar ia melafalkan nama jejaring sosial LinkedIn. Oh my…

Ok lah masih bisa dimaklumi dalam kondisi pendengar atau lawan bicara adalah orang Indonesia. Tetapi bagaimana jika ia harus menghadapi orang asing? Salah paham bisa terjadi.

Perbaikan perlafalan bukan semata-mata memberikan kesan prestisius atau profesional melalui aksen berbicara tetapi juga supaya pesan kita tidak salah dimengerti.

Lalu bagaimana seharusnya membaca LinkedIn? Bacalah seperti ini: /lingktin/. Di sini saya tidak bisa menggunakan International Phonetic Alphabets yang sudah baku tapi kira-kira begitulah jika diucapkan. Jadi bukan /lingkedin/ ya…

Alasannya? Jika Anda pernah belajar ilmu fonetik, ada dua jenis konsonan: yang membuat pita suara bergetar (voiced) dan tidak bergetar (unvoiced).

Nah, konsonan /k/ termasuk bunyi konsonan yang tidak bergetar sehingga harus dilafalkan lebih ringan dari rekannya /g/. Keduanya mirip dalam perlafalan. Karena kata kerja “link” dibaca /lingk/ dan diakhiri konsonan /k/ maka konsonan berikutnya juga harus dibaca ringan,tanpa getaran. Dan jangan sampai huruf ‘e’ ikut diucapkan! Ucapkan seolah menjadi 1 kata. LinkedIn..LINGKTIN!!! (*/)

Ali Bin Abu Thalib tentang Pemberantasan Kemiskinan

“A poor man is like a foreigner in his own country”

“If poverty were a man, I would have slain him.”

Konsumen China: Kaya Raya Tapi Hemat

Menurut sumber “China’s New Pragmatic Consumers”, para konsumen di China memiliki karakteristik yang cukup unik dibandingkan Indonesia. 

Di China, meski tingkat kesejahteraannya sudah makin membaik berkat entrepreneurship dan dibukanya keran perdagangan pasar bebas di negeri yang masih menganut paham komunis untuk urusan tata negara dan politik itu, masyarakat China tidak serta merta menjadi lebih boros seperti, misalnya masyarakat Indonesia yang dikenal sangat konsumtif.

Pendapatan per kapita China yang makin tinggi justru membuat konsumen China suka menggabungkan  selera. Mereka lebih menyukai produk dalam jumlah lebih banyak dan berkualitas lebih baik dan sempurna namun dengan tidak melupakan unsur hemat!  

Buktinya dalam sebuah survei terbaru yang dilaksanakan McKinsey, 3/4 rumah tangga di daerah perkotaan China mengatakan mereka telah melupakan setidaknya satu produk yang biasa mereka beli karena dianggap lebih boros. Namun demikian, pada saat yang sama 50% dari responden survei mengakui adanya pertambahan pengeluaran yang seimbang dalam satu kategori produk saat mereka menghemat di kategori lainnya. 

Dahlan Iskan and His Glow-Though-Not-in-the-Dark Sneakers

Dahlan Iskan was spotted standing before the audience of Global Entrepreneurship Week talkshow today at the headquarter of Bank Indonesia. His shoes are just like him: unique, bold and attention capturing.
He blatantly gave pieces of entrepreneurial advice here:
1. Slow growth is better than instant success
2. Focus is what matters
3. Deal with every and each ordeal
4. Never escape the miseries

Penyusunan Alur Kisah (Storyboarding)

Sebelumnya: 5 Langkah Menulis Blog dengan Multimedia (bagian 1)

Alur kisah (storyboard) ialah sketsa cara membuat rencana untuk mengatur jalannya kisah/ isi konten.

Pertama-tama, definisikan unsur-unsurnya. Bagilah alur kisah yang akan disajikan menjadi konten menjadi beberapa bagian yang nonliner (tidak diurutkan berdasarkan kronologi/ waktu) seperti:

-sebuah paragraf yang menjelaskan fokus kisah Anda

-profil-profil karakter utama

-peristiwa-peristiwa utama

-proses atau bagaimana sesuatu bekerja

-pro dan kontra

-latar belakang situasi

-masalah lain yang muncul dengan hadirnya kisah tersebut

 

Hindari sebisa mungkin menyajikan kisah/ gagasan dalam sebuah alur yang linier.

 

Kedua, identifikasi medianya. Identifikasi media dengan memutuskan potongan atau bagian mana saja dari kisah yang akan disajikan yang dianggap terbaik untuk ditempatkan di setiap medium yang dipilih.

Beberapa media yang bisa dipilih dan sudah tersedia serta dapat diakses banyak orang jaman sekarang ialah video, audio, teks, grafik animasi, peta dan foto.

Ketiga, tuangkan konsep alur kisahnya.  Di atas selembar kertas, coba rancang garis besar halaman kisah utama dan unsur-unsurnya yang akan Anda masukkan dan sajikan dalam konten. Apa saja yang akan menjadi pembahasan topik utamanya? Apa saja menu atau skema navigasi untuk mengakses bagian-bagian tersebut? Unsur-unsur multimedia apa sajakah yang Anda inginkan untuk dimasukkan dalam halaman utama sebagai unsur visual yang menjadi pilarnya, apakah itu berupa video atau gambar diam.

 

Kemudian lakukan hal serupa untuk halaman-halaman “dalam” dalam keseluruhan kisah. Apa unsur utama dalam setiap halaman dan informasi lain apakah yang harus dimasukkan di sana? Video, audio, gambar atau grafik apa yang paling sesuai untuk digunakan menerangkan bagian kisah ini?

Sebuah alur kisah tidak harus selalu menggunakan cita rasa seni yang rumit. Ia hanya sebuah sketsa. Dan ia tidak tertulis di atas batu, bukan sebuah panduan hitam-putih yang mewajibkan orang mengikutinya tetapi hanya sebuah panduan. Anda bisa mengubahnya kapanpun diperlukan setelah Anda ke lapangan melakukan wawancara dan pelaporan lainnya yang faktual.

Cobalah ini: cara terbaik mempelajari pembuatan alur kisah ini ialah dengan mengambil sebuah kisah fitur di surat kabar dan membuat sketsa / garis besar alur kisahnya yang memuat semua elemen di dalamnya, kemungkinan-kemungkinan multimedia jika ia bisa dikembangkan tidak hanya sebatas kisah yang dicetak di atas kertas dan bagaimana Anda bisa membaginya menjadi sebuah sajian web yang tidak linear.

Free Download Trados 2011 (Trial Version)

 For any of you who really want to give Computer Assisted/ Aided Translation tools (CAT) a try,  maybe you need to download and use this before making a purchase.

Here is the link:  http://www.mediafire.com/?gnt2ktfai1c6s. Hope it doesn’t get blocked because in some of my connection the file sharing service sites like mediafire get blocked.

Clue: After downloading all the files in the folder on Mediafire, click twice disk1.exe to unite all the separate files. Trados Studio 2011 and Multiterm 2011 will be of great help for a professional translator or a pro translator wannabe like me.

Happy downloading…

Thanks to Arfan Achyar, my fellow translator for providing the link above.

The fundamental principle of life: Balance in Silence

Revenge ia sweet but not taking it is sweeter at the very end.

%d bloggers like this: