Find What Works Best for You. Ignore the Dogmatic Advice. *

So she wanted to be a full-time housewife. Not all people are glad about her decision though. It’s tough but my sister is persistent enough as a woman. My parents are government civil servants and they’ve always been pushing us overtly and subtly to embrace the comfort of being and leading a life of a government servant.

But my sister seemd to have and show very little interest in that. She had worked as a sharia bank employee even when I was still on college. She practically the first child in the family to join the workforce.

As she got married and had 2 daughters, the urge to be financially independent still lives on but this time she wishes to be her own employer. Her wish is granted late this year. Now she proudly is about to launch her own home-based business: a small shop.

Prior to starting to operate the small shop, she asked me how to literally start an online business. She aimed high. She set up her own Facebook page (even though somewhat technically challenged) and started to post an article on her blog which was made coincidentally by me on blogger.com.

As I’m quite familiar with online businesses, I told her much business and digital marketing advice which is likely to work.

But then she began complaining. She possessed no background in digital marketing. Yet I insisted she had to try my sophisticated advice. With very little understanding of blogging and digital marketing, she wrote a promotional blog post, which reads like an ordinary product description on every catalog  out there. I sighed. I wanted to help but had no time. I have my own workload. This is her business and there’s no way she is too much dependent upon someone else.

She is now collecting some suppliers and manages to display several daily customers’ goods such as detergent, soap, goods you and I can buy every day at a nearby convenience store. That is the easiest way.

And on Facebook, she tries to promote her future shop early to some old friends living nearby. They responded positively, which is good for her. Suddenly I realize my sophisticated digital marketing advice is not what she requires most now to run her micro scale enterprise well. It’s not that it is too advanced or too difficult but that’s just not the right way to reach the target customers.  And the customers, who can be reached and served the easiest, are her own social circle. Of course, there are a lot of other factors to consider as to why my advice is useless in her case but I’d like emphasize on the fact that she as a self-made micro business woman has to decide which way(s) works best. She needs to find it by herself.

That said, she also shows me that in the digital era when more and more people moving to the web, conventional old methods still work somehow. Thus, it’s a huge misassumption to conclude :”There’s NO reason for people now to believe and even apply the old business practice principles”. Digital world itself is not a complete, final solution that can stand on its own. It arises and gains more and more followers to walk hand in hand with its predecessors to help us business people climb the long winding road to ultimate success.

And I think this idea really resonates with what Dahlan Iskan (Indonesia state-owned enterprises minister known for his avant-garde attitudes and approaches) stated sometime ago. “Don’t take every and each piece of advice you hear from us, elder entrepreneurs. You’ve got to prove and experiment yourself”. That way you know which advice works and doesn’t. Nobody understands what yougo throughbut you.

*That includes the rule of making proper titles without period at the end.

Pengalaman Membuat Kartu Kredit Bank Mandiri

Saya anti kartu kredit. Saya sering melihat teman mendapatkan kiriman tagihan kartu kredit. Begitu seringnya pemandangan itu terlihat sampai-sampai saya berjanji dalam hati saya tidak akan berutang hanya untuk kebutuhan konsumtif.

Sebagai seseorang yang baru saja memiliki sumber penghasilan sendiri, saya memang belum banyak memiliki pengalaman dalam manajemen pengelolaan keuangan pribadi yang paling sederhana sekalipun. Namun, saya belajar dari pengamatan apa yang saya temui di lingkungan sekitar. Orang tua saya harus bekerja sebagai buruh negara dan setiap bulan mesti menyisihkan uang untuk melunasi cicilan berbagai kebutuhan keluarga. Kata ‘cicilan’ terdengar sangat familiar meskipun saya sendiri tidak pernah menjalani langsung atau mengetahui seluk beluk mencicil. Sementara, seorang paman saya adalah pengelola keuangan yang demikian konservatif. Ia tidak pernah berutang. Tentunya karena jumlah anaknya hanya 2 orang, berbeda jauh dari keluargaku yang anaknya ada 4. Jumlah pengeluaran kami berbeda jauh. Namun, kondisi tidak begitu buruk karena orang tua saya baik bapak dan ibu bekerja, sementara paman hanya sendirian menghidupi 1 istri dan 2 anaknya. Di sisi lain, ada satu paman yang mengalami kiamat keuangan akibat kartu kredit. Tempat tinggalnya harus disita pihak bank dan akhirnya tinggal di rumah yang lebih sederhana. Akibat kartu kredit, hidupnya, istri dan anaknya, termasuk bahkan kami yang masih kerabat sudah tak sama lagi. Bisa dikatakan terjadi semacam kecemasan dalam hubungan keluarga kami. Sangat tidak nyaman. Sangat meresahkan. Semuanya hanya karena beberapa keping kartu kredit yang salah kelola.

Saya pun masih bersikukuh untuk menghindari penggunaan dan aplikasi karti kredit apapun. Hingga suatu saat saya tidak berdaya saat ingin memperpanjang domain blog yang sudah saya beli setahun lalu. Virtual credit card yang saya beli tahun awal 2009 rupanya sudah habis masa berlakunya atau entah apa penyebabnya yang membuat akun Paypal yang saya hubungkan dengan credit card tersebut juga ikut-ikutan diblokir. Paypal mengatakan pihaknya mendeteksi adanya transaksi mencurigakan dalam rekening Paypal saya, padahal menurut saya saya tak pernah menggunakannya untuk berbagai transaksi tak legal. Rekening Paypal saya hanya pernah digunakan untuk membeli e-book tentang blogging (alasan itulah yang mendorong saya membeli VCC dan membuka rekening Paypal saat itu) dan bertransaksi dengan seorang pengguna jasa pasang link di blog saya, dan tentunya untuk membeli domain saya di WordPress.com. Hanya itu. Jadi mustahil ada yang mencurigakan. Atau memang Paypal tengah membersihkan sistemnya dari kartu kredit virtual (VCC)? Entahlah. Apapun itu akhirnya saya kini harus memikirkan bagaimana caranya membuka pemblokiran Paypal pada akun saya.

Saya menyimpulkan kemudian bahwa tidak ada cara lain yang bisa saya tempuh selain harus mengajukan aplikasi kartu kredit. Ke mana? Tentu saja ke bank. Tapi masalahnya saya tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal kartu kredit ini. Dan bank syariah yang saya miliki tak menawarkan kartu kredit. Lalu bagaimana ini?

Sebuah pertimbangan lain sebelum mengajukan kartu kredit adalah saya seorang muslim dan saya harus menghindari riba sebisa saya. Saya tak menyerah begitu saja. Lalu saya baca sejumlah artikel tentang bagaimana penggunaan kartu kredit dalam koridor Islam. Akhirnya saya simpulkan bahwa selama saya membayar tagihan tepat waktu, saya tidak akan kena beban bunga, dan itu berarti saya bisa menghindari bunga yang haram ini. Pertanyaan saya kemudian:”Apakah saya bisa membayar tagihan kartu kredit sebelum jatuh tempo  agar tak kena bunga laknat itu?” Tak ada jawabannya sekarang, karena saya harus menjalaninya dulu.

Akhirnya saya melontarkan sebuah pertanyaan singkat di Facebook. Siapa tahu ada teman yang telah memiliki kartu kredit serupa. Dan terus terang bank yang terlintas di pikiran saya yang pertama kali ialah Bank Mandiri. Bank plat merah pastinya lebih tepercaya, pikirku. Apalagi sepengetahuanku bank satu ini akrab dengan perusahaan tempat saya bekerja. Jadi pastinya tak ada masalah untuk persetujuan aplikasi kartu kredit Mandiri ini. Selain kartu kredit, Bank Mandiri juga memiliki sejumlah produk layanan perbankan yang menarik seperti Mandiri KTA, Mandiri KPR, Mandiri Tabungan dan sebagainya.

Setelah menanyakan di status, akhirnya saya temukan sejumlah jawaban dari teman-teman di Facebook yang bermurah hati menyumbang saran. Saya jumpai sejumlah informasi plus minusnya. Seorang teman tak begitu menyarankan, tetapi setelah saya cermati, sarannya itu karena mengalami penolakan KPR dari Bank Mandiri. Seorang teman mengatakan kartu ini cukup membantu mendapatkan diskon-diskon di tempat makan di ibukota yang umumnya mahal. Mandiri saya amati memang memiliki jaringan kerjasama yang luas dengan banyak restoran dan merchant lain.

Seorang teman lainnya menyarankan perlunya kejelian dan displin membayar cicilan kartu kredit. Bahkan ia mengatakan kartu kredit bisa membuat keuangan malah terbantu. “Ga ada minusnya kok, asal jangan sampai ngutang banyak-banyak aja,” begitu katanya meyakinkan saya dalam Facebook chat. Saya belum pernah bertemu dengannya tetapi saya mempercayai sarannya, karena justru ia bukan seseorang yang berhubungan langsung dengan Bank Mandiri. Ia bekerja di bidang pendidikan namun telah cukup banyak makan asam garam dalam hal penggunaan kartu kredit bersama mendiang istrinya. Menurut rekan saya ini, keuntungan memiliki kartu kredit Mandiri ialah dapat menghemat anggaran belanja jika jeli memanfaatkan diskon yang bertebaran di berbagai tempat. “Banyak banget tempat ngasi diskon kalau bayar pake CC Mandiri,” ujarnya pada saya.

“Aku sebenernya mo pake beli domain utk blogku,” kataku blak-blakan.

“Bukan berarti abis buka blokir paypal trus CCnya dikubur kan?” seloroh temanku itu.

“Haha enggaklah”

“CC Mandiri ada opsi bebas iuran tahunan seumur hidup kok… jadi ga usah khawatir dengan annual fee

ambil aja yg platinum sekalian. Asal syarat penghasilan minimum terpenuhi aja,” ia merinci.

“Platinum ya,” saya menjawab setengah ragu. Saya pikir, mungkin plafonnya mungkin tinggi tetapi apakah saya akan butuh sebanyak itu? Rasanya belum, apalagi saya belum berumah tangga.

“Yup… makin tinggi makin banyak benefitnya,” terangnya lagi.

Saya penasaran, “Emang bedanya platinum ama yg lain apanya?”

“Kerugiannya cuma annual fee yang besar. Kalau ga salah 200 ribu/tahun. Limit (pagu) kredit beda2. Platinum kalau ga salah 50 juta. Yang gold 25 juta. Kalau ga salah saya sendiri baru nutup CC almarhumah istri, dan mau bikin lagi untuk saya sendiri,”katanya jujur.

Saya tanyakan kecemasan saya juga tentang penggunaan kartu kredit, “Wah itu kerabat saya juga pake CC dan sekarang tidak sanggup lunasi utang.”

Ia menjawab, “Berarti dia gesek dan gesek dan gesek tanpa memperhitungkan kemampuan bayar tagihannya. Istri saya punya kartu kredit 4 biji. Dia pinter makenya, main-main dengan tanggal jatuh tempo.”

“Makanya saya ngeri juga. Mau riset dulu lah..enak ga enaknya,” tukas saya.

“Ga enaknya cuma satu: bunganya gede banget.”

Nah! Saya jawab,”Aduh saya 1 aja kayaknya deh.”

“Makanya mending langsung dilunasi setiap ada tagihan. Kan kita seharusnya udah tau belanja berapa, jadi bisa direncanakan,” nasihatnya dengan bijak.

Saya terus mengejar dengan pertanyaan,”Tapi kalo masih dilunasi sebelum jatuh tempo kan ga ada bunga. Betul?”

Saya mencoba memastikan, karena inilah yang saya ingin hindari: membayar bunga yang membebani dan tidak perlu!

“Kalau lunas ga ada bunga,” tukas teman saya.

Mendengar konfirmasi itu, saya merasa lega,”I see. Ya saya juga denger pengalaman temen yang sampe abis-abisan ga bisa nabung karena membayar tagihan CC.”

“Pembayaran minimum 10% dari jumlah tagihan. Kalau cuma bayar minimum, sisa tagihan itu yang kena bunga. Periode tagihan berikutnya kena bunga lagi dan seterusnya. Berarti salah makenya. Terlalu polos,

bunganya sadis. Ati-ati aja,” imbuhnya.

Saya pun makin tahu kuncinya: Harus BAYAR LUNAS.Titik!

Saya tanya lagi sekadar memastikan, “Harus full bayarnya ya?”

“Yup, bayar bisa via atm atau internet banking. Begitu statement datang, langsung bayar.”

“Kayaknya aku bakalan jadi nasabah yang prudent dan kolot. Haha,” saya menjawab setengah bercanda.

“Ga papa.Lebih baik well informed,” katanya,”“Kami pake berbagai macam kartu kredit selama dua dekade. Alhamdulillah ga pernah ada masalah. Malah bisa dimanfaatkan sedemikian rupa untuk “belanja melebihi dana yg sesungguhnya ada”. Asal perencanaannya matang. Kalau sampai jadi masalah, yang salah ya nasabahnya.Bukan banknya. Segala sesuatu dari bank sudah sangat jelas kok.”

“Harus benar-benar bijak ya,” saya menyimpulkan dari percakapan kami.

Exactly. Kartu kredit bisa sangat menguntungkan dan justru ngebantu memperkecil pengeluaran. Hahahahahahaha,” teman saya menanggapi dengan santai.iya dong. Makan di restoran mahal diskon 50% kan berasa banget.

Saya bertanya lagi,”Belanja online jadi lebih mudah juga ya?”

“Bukan lebih mudah, justru prasyarat. Ga ada CC, ga bisa belanja online. Ga bisa beli apps dari Google Play Store atau dari Apple Store.”

“Betul juga,” kata saya.”Ga bisa beli apa-apa kalau di ecommerce site. Jadi mending sekalian apply yg platinum?,” tanya saya lagi, berharap ia tak bosan menjawab investigasi singkat saya.

 (Bersambung)

My First Flight Experience

First experience is always unforgettable. Tonight I officially am no longer a flight virgin. Yes, as an acrophobic I’m quite proud of myself for having such a calm attitude while take off.

Lots of new things happened. Going to airport, which is a new, completely new site to visit, was not in my wildest imagination. But this acrophobic bitch should not,or even must not, preventing me from enjoying the world, learning new cultures, getting to know new people, or enriching my life.

Enough about what happened with the traffic and that car little accident. That was such a shame and I swear that was funny, if I were not me.

Forget that anyway.

So rather than thinking of the possibilities that this plane is flying high above the earth’s surface and may crash somehow, I prefer occupy my mind with this: thinking of how crazy nvel experiences I will have in Korea. I’ll be there, I’ll be breathing the Korean air, drinking the Korean water, seeing Korean chicks, stomping on Korean ground, and bla bla bla.

Seriously I cannot shut my eyes for a night slumber this morning in the flying plane. Hope I can stay there forever…without the fear of witnessing any wars of course.

(Written on my offline smartphone on June 2, 2012 Saturday morning)

P. S. : The video shows my tour guide Rose lee (Lee Kye-suk) who is kind enough to sing us a song of farewell. Bye Rose Lee, see you again.

5 Ketrampilan Digital yang Harus Dimiliki Jurnalis dan Blogger Masa Kini

Di abad informasi digital seperti sekarang, para pewarta harus memutakhirkan kemampuannya dalam bidang media digital. Kini wartawan juga harus melek digital. Mereka harus tahu dasar-dasar ketrampilan dalam berkomunikasi di dunia digital, tren yag tidak terelakkan di masyarakat modern.

 

Ketrampilan 1: Memasukkan tautan (link) dalam berita yang diterbitkan di web

Bagi sebagian orang, hal ini rasanya mudah, tetapi tak sedikit pula yang merasa asing. Pewarta masa kini harus pintar-pintar memasukkan tautan ke halaman web (entah di web itu sendiri atau halaman web lain yang relevan) tempat teks berita mereka dipublikasikan di Internet.

Apa tujuan memberikan tautan semacam ini dalam teks berita? Sebagian pembaca berita di web tidak punya banyak waktu untuk memeriksa sumber yang ada di buku, surat kabar atau media lain. Cara termudah memberikan sumber atau keterangan lain yang memiliki perincian atas satu topik di Internet ialah dengan memasang tautan dalam teks tertentu di artikel berita kita. Misalnya saja dalam sebuah artikel berita tentang Jokowi, kita bisa temukan kata “Solo”. Bagi mereka yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai “Solo”, bisa klik kata “Solo” yang sudah dibenami tautan (istilahnya hyperlink) yang nantinya jika di-klik akan mengarahkan pembaca ke halaman situs web, misalnya saja ke situs resmi pemerintah kota Surakarta. Cara ini dipandang lebih mulus dan rapi dalam memberikan sumber atau rujukan daripada dengan menggunakan kata/ frase”klik di sini” kemudian menambahkan URL panjang di belakangnya (biasanya berupa http://www.namasitusweb.com). Ini terlalu panjang dan mengganggu kenikmatan pembaca dalam menyerap isi berita.

Secara manual, kita bisa tambahkan tautan ini dengan cara menggunakan HTML. Tambahkan barisan anchor text (misalnya <a href=http://www.namasutusweb.com>namasitusweb</a>). Ini dipandang berguna sekali dalam menjaring traffic (kunjungan) ke situs Anda melalui SEO (optimasi mesin pencari). Google konon sangat menghargai anchor text semacam ini saat mengevaluasi sebuah situs web.

Ketrampilan 2: Memotret dengan profesional

Saya bisa katakan bahwa sepanjang pengalaman saya sebagai blogger dan wartawan, memiliki kemampuan memotret yang baik sangat berguna untuk meyakinkan pembaca atas apa yang akan kita sampaikan. Isi tulisan akan lebih meyakinkan dan terasa lebih menarik secara visual jika ada gambar yang relevan disajikan di antara teks berita. Mungkin sebagian wartawan atau blogger tidak terlalu menganggap penting ketrampilan ini dan lebih suka mengambil gambar dari situs lain. Namun, masalahnya kadang foto tersebut dilindungi hak cipta. Kita harus membayar royalti untuk menggunakan atau setidaknya jikalau gratis pun, harus memberikan pemberitahuan secara resmi dan tertulis ke pihak pemilik foto jika tidak ingin suatu saat diseret ke meja hijau. Itulah mengapa ketrampilan ini saya anggap begitu krusial. Selain tak was-was karena dianggap menyalin foto orang lain, jurnalis dengan kemampuan memotret mumpuni akan lebih leluasa mengambil foto yang ia anggap paling baik menyampaikan ide inti tulisannya. Tidak tergantung pada pihak lain. Dan syukur jika foto itu suatu saat dibeli orang lain yang berminat.

Kiat fotografi sederhana yang utama ialah memastikan si objek yang hendak difoto itu menghadap ke atau melawan sumber cahaya. Jika kita ingin mengambil wajah si objek atau sisi depan benda tertentu, sumber cahaya yang ada di belakang justru akan memperburuk hasil foto. Ubah angle yang digunakan dengan mencari titik lain untuk mengambil gambar. Jangan dipaksakan. Jika perlu mendekat dengan objek agar lebih jelas dan terang karena lampu blitz kamera akan lebih tampak efeknya saat didekatkan. Kendalanya mungkin ialah bagaimana agar bisa memotret wajah orang penting (misalnya presiden, selebritas) dengan angle sempurna karena tentunya orang-orang ini tidak mau diganggu kegiatannya hanya untuk memuaskan keinginan fotografer. Untuk itu kita harus tak segan mencoba berbagai sudut. Sering satu objek yang sama akan terlihat lebih segar dan lain jika dipotret dari dua angle yang berbeda. Bereksperimenlah!

Lain halnya jika kita ingin memotret tetumbuhan, benda dengan kemampuan berpendar (translucent/ fluorescent). Semua jenis objek ini lebih baik dipotret dengan sumber cahaya ada di belakangnya (menghadap kita).

Ketrampilan 3: Mengoperasikan kamera video

Harus diakui tidak semua orang memiliki akses untuk menggunakan kamera video layaknya jurnalis TV berpengalaman. Sebagai jurnalis atau blogger, kita perlu merekam sebuah interviu dengan sosok penting yang kita temui di sebuah acara atau merekam insiden yang menarik dan bernilai informasi tinggi. Tak perlu memiliki kamera video yang berat itu. Cukup menggunakan kamera saku (yang berkemampuan merekam video tentunya), sebuah flip cam, digital video camera, atau bahkan ponsel pintar berkamera video yang cukup bagus hasilnya. Akan tetapi meski lebih mudah dibawa dan harganya lebih murah, risikonya adalah durasi rekaman yang tidak panjang. Kita bisa atasi dengan mengecilkan kualitas atau banyaknya frame per detik (fps) video hasil, atau dengan menambahkan kartu memori yang lebih besar (jika perangkat itu disertai slot memori eksternal).

Kita juga harus perhatikan cara mengambil video. Ambil video dengan jarak dekat sehingga frame akan tepat dipenuhi dengan badan atas dan wajah orang yang ingin disorot dalam wawancara. Hindari sebisa mungkin fitur zoom dalam perangkat karena hasilnya akan lebih jelek. Sebagai gantinya, jika Anda ingin lebih jelas, mendekatlah ke arah objek. Langkahkan kaki untuk mendekatkan kamera video itu.

Agar video lebih stabil dan enak ditonton, idealnya kita perlu gunakan sebuah tripod atau kaki tiga untuk menopang kamera video. Jika menggunakan ponsel, cobalah menggunakan tangan kanan (jika Anda tidak kidal) untuk memegang ponsel berkamera video ke arah objek dan tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan Anda. Kedua siku letakkan saja di perut, menyentuh tulang rusuk terbawah. Dengan demikian, goncangan dan getaran akan lebih minim.

Ketrampilan 4: Menggunakan mikrofon dengan baik

Sebelum menggunakan sebuah pengeras suara di tangan, perlu kita ketahui bagaimana keadaan di sekitar kita. Apakah terlalu bising atau cukup sepi? Jika memang kondisi terlalu ramai hingga suara Anda sendiri tertelan keramaian, carilah tempat lain yang lebih sepi. Jika Anda sedang ingin mewawancarai orang di jalan katakanlah, ajaklah orang tersebut untuk menepi sebentar dan menemukan sudut yang lebih tenang untuk menjawab pertanyaan kita.

Dan jika kita ingin menggunakan mikrofon di sebuah ruangan tertutup, pastikan tidak banyak suara yang terpantul. Ruangan dengan dinding yang tak memiliki peredam bukan tempat yang ideal untuk menggunakan mikrofon.

Untuk peletakan mikrofon, peganglah dengan jarak sekitar 10-15 cm dari mulut kita atau orang yang dipersilakan berbicara. Setelah melontarkan pertanyaan, arahkan mikrofon ke dekat mulut orang yang akan menjawab.

Ketrampilan 5: Mencari informasi di web dengan efektif

Google memang banyak dikenal orang dengan layanan mesin pencari webnya. Namun, di samping layanan itu, Google juga banyak menawarkan fitur dan layanan yang berguna untuk jurnalis dan blogger seperti kita. Di antaranya ialah Google Reader dan Google Advanced Search. Google Reader adalah sebuah agregat RSS feed berita dari berbagai situs dan blog yang kita anggap penting untuk baca update terbarunya tanpa harus satu per satu membuka semuanya di jendela peramban (browser).

Sementara itu, Google Advanced Search adalah fitur mesin pencari yang lebih spesifik. Di sini, kita bisa menemukan hasil pencarian yang tidak mengandung kata-kata khusus, atau menemukan halaman situs web yang setidaknya mengandung 1 kata/ kelompok kata (frase) yang diinginkan, tanpa harus menyertakan semua kata dalam frase yang sedang dicari. Hasilnya? Kita akan menemukan hasil yang jauh lebih spesifik daripada hanya sekadar mesin pencari biasa di halaman muka Google.

Tentu saja 5 ketrampilan di atas hanya sebagian ketrampilan yang diperlukan jurnalis dan blogger. Apa saja ketrampilan lain yang menurut Anda juga harus dimasukkan di daftar ini? Silakan tambahkan di kotak komentar!

Absurditas Abad Internet

Saat ini saya ‘mati gaya’. Kenapa? Karena koneksi Internet semuanya mampet. Saya sengaja meluangkan waktu ke outlet Seven Eleven untuk bisa lebih leluasa menikmati makanan dan berselancar di dunia maya. Tapi koneksi di sini anehnya terdeteksi tetapi saat dikoneksikan..NOL.. Tak terhubung. Karena akhir bulan? Entahlah… Yang jelas saya kecewa.

Ditambah lagi dengan jaringan ponsel Three yang empot-empotan. Padahal beberapa saat tadi sempat lancar jaya. Apa karena hujan deras beberapa saat tadi? Padahal hujan itu sudah berhenti lumayan lama. Dan tidak cukup masuk akal koneksi Internet nirkabel melempem Cuma karena curah hujan yang tinggi. Absurd!

Dan absurditas ini semua menjadi makin absurd saat saya menyadarai bahwa saya masih bisa bekerja tanpa koneksi Internet tetapi pikiran saya terus gelisah. Terus mencari seolah ada yang kurang. “Saya harus terkoneksi. Harus. Tidak bisa tidak!” begitu suara dalam otak saya. Ada apa ini? Saya juga tidak mengerti kenapa saya menjadi seperti ini? Apakah saya akan mati hanya karena tidak bisa terkoneksi ke jaringan Internet beberapa menit saja dalam satu hari. Ini lebih absurd daripada mahalnya tarif dan rendahnya kecepatan koneksi Internet di negeri ini. Dan tebak apa yang baru sjaa saya lakukan? Meski saya sudah tahu koneksi terganggu, saya terus menerus mengecek, memeriksa ulang selang beberapa menit, apakah ada notifikasi di ponsel, seolah ada yang terus mendesak saya,”Tengok lagi, siapa tahu sudah lancar, ayo..” Stop ittt!!!

I  just want to write things and everything’s just gonna be fine. Saya sudah membuka aplikasi pengolah kata dan tetap saja obsesi untuk tetap terhubung terus menggelinjang. Benak saya terus berpikir, Internet adalah produktivitas, kalau saya tidak terkoneksi saya menjadi tidak terhubung, tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, saya terkucil, tidak gaul, ketinggalan berita dan sebagainya. Tetapi toh saya memang harus mencari video surya namaskara yang saya harus unduh untuk belajar yoga. Itu tujuan saya di sini. Namun kemudian saya berpikir, apakah ini hari terakhir saya bisa mengakses Internet? Tidak kan? Jadi jangan terlalu gila dengan merasa cemas seperti ini, kata saya pada diri sendiri.

Dan yang paling menakutkan ialah membayangkan hardware penangkap sinyal wi-fi saya rusak. What? Lamunan saya makin liar karena rasa frustrasi tidak bisa terkoneksi ke Internet. Tiba-tiba terlintas dugaan itu, yang jika mema

Internet cafe
Internet cafe (Photo credit: jared)

ng benar terjadi, akan menjadi kiamat kecil bagi dunia saya. Punya laptop tetapi tidak bisa digunakan berselancar di Internet? Seperti hidup tapi tak punya tangan dan kaki saja. Ah, ini bayangan pikiran yang mengerikan. Saya tak sanggup memikirkannya.

Inilah mimpi buruk generasi kita: generasi abad Internet. Sebuah mimpi buruk absurd, konyol, menggelikan yang tidak akan bisa dipahami sepenuhnya oleh generasi pendahulu. Dan saat saya mengatakan ‘generasi pendahulu’, saya tidak mengacu pada generasi kelahiran kronologis manusia, tetapi pada cara berpikir mereka dan sikap serta perilaku mereka terhadap produk teknologi jaman sekarang. Seorang pemuda 20 tahun termasuk generasi pendahulu jika ia masih bersantai-santai saja tak bersentuhan dengan ponsel, Facebook atau PC selama 1 minggu penuh. Dan sebaliknya, seorang kakek berusia 70 tahun bisa jadi termasuk generasi masa kini jika ia terus menerus memeriksa notifikasi smartphone-nya dan mengunggah foto-foto terbarunya ke Facebook begitu bertemu anak cucu yang sudah dirindu.

Apakah Anda juga pernah mengalami hal yang sama dengan saya? Apakah Anda merasa lemah saat koneksi Anda lumpuh, gadget Anda menolak bekerja normal, atau baterai mengering hingga 7% tetapi tak terlihat colokan listrik di sekitar Anda?

Dan, ah akhirnya sinyal Internet ponsel saya pun kembali normal. I am alive again, cyberwise…

Seberapa Pentingkah Skor Klout?

Jika Anda masih baru dalam dunia jejaring sosial (social media), mungkin Anda belum akrab dengan layanan Klout. Fungsinya sederhana saja, yaitu mengukur tingkat pengaruh seseorang dalam jejaring sosial. Di sini kita bisa mengukur pengaruh dengan login menggunakan Twitter, Facebook dan menambahkan akun kita di sejumlah jejaring sosial lain seperti WordPress, Tumblr, YouTube, dan sebagainya. Skor akan disajikan dalam skal

Image representing Klout as depicted in CrunchBase
Image via CrunchBase

a 0-100, makin tinggi makin bagus. Kita juga akan ditunjukkan kata kunci yang mencerminkan sejumlah bidang yang di dalamnya kita dianggap berpengaruh besar. Misalnya, dari pengukuran akun saya dianggap Klout memiliki pengaruh besar dalam bidang. Kita juga akan dikelompokkan dalam beberapa jenis pengguna jejaring sosial, seperti lurker, pundit (tokoh panutan), dan sebagainya.

Kemunculan layanan pengukuran pengaruh ini membawa konsekuensi bagi para pelaku industri jejaring sosial. Skor Klout ini harus diakui makin banyak dijadikan standar di dunia jejaring sosial terlepas dari tingkat akurasinya yang masih dipertanyakan. Belum ada yang mengetahui cara dan metode pengukuran Klout. Ada sebagian yang menganggapnya sebagai barometer yang menentukan hidup matinya karir di jejaring sosial. Mereka memeriksa skor Klout mereka dari waktu ke waktu secara berkala dengan harapan bisa mengungguli skor pesaing yang ada di atas dan sekaligus mempertahankan posisinya dari pesaing yang ada di bawah. Apalagi dengan dimungkinkannya setiap orang membandingkan dirinya dengan orang lain di jejaring sosial.

Bagi sebagian, skor Klout memang terasa hanya seperti permainan. Tidak ada yang serius. Namun, sejumlah perusahaan di AS tampaknya tida demikian. Mereka menganggap skor Klout seseorang menjadikannya satu faktor penting dalam menentukan pemberian hak istimewa untuk menikmati fasilitas prima sebagai konsumen. Seperti yang dilakukan salah satu maskapai penerbangan yang memberlakukan upgrade layanan pada orang-orang yang memiliki skor Klout tinggi (70, misalnya). Mungkin terdengar begitu absurd dan konyol. Tetapi di balik pemberian layanan itu, ada agenda tersembunyi yang dimiliki oleh pihak maskapai penerbangan, yaitu mendorong si pemilik skor Klout tinggi untuk menyebarluaskan kepuasan saat menggunakan jasa maskapai penerbangan yang bersangkutan di jejaring sosial. Dan para pemilik skor Klout tinggi memang biasanya adalah orang-orang yang teramat sangat aktif di jejaring sosial dan memiliki basis pengikut yang signifikan.

Yang patut diperhatikan sekarang ialah kenyataan bahwa makin banyak perusahaan yang tertarik untuk menggunakan jasa orang-orang dengan skor Klout tinggi untuk membuat brand mereka makin luas dikenal orang. Orang-orang inilah yang disebut sebagai calon buzzer, yang berjasa dalam membantu pelaksanaan kampanye digital sebuah brand. Contohnya di Twitter, kita bisa jumpai banyak orang yang melakukan segala cara untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya karena mereka tahu persis bahwa jumlah pengikut berdampak besar pada reputasi mereka. Karena itulah kita bisa temui jasa jual beli pengikut dan fans, bahkan hingga jasa peningkatan page views.

Secara umum, mengandalkan skor Klout untuk mengukur kepopuleran dan pengaruh seseorang di dunia jejaring sosial memang belum dapat dikatakan 100% akurat, dan karena itulah, kita tidak semestinya menggunakannya sebagai satu-satunya faktor penentu atau standar dalam pengambilan keputusan penting dalam upaya kampanye digital.

Ditinjau dari sudut pandang digital marketing, Klout tidak banyak membantu karena hanya menunjukkan peringkat yang sudah jelas. Ini hanya data mentah yang belum bisa digunakan untuk memudahkan pelaksanaan kampanye digital. Lain halnya jika Klout bisa menyajikan daftar yang berisi akun yang berpengaruh yang dapat disewa jasanya sebagai buzzer untuk menyebarluaskan pesan kampanye dengan paling efektif. Sederhananya, percuma jika kita mengkampanyekan isu pemberdayaan perempuan lewat akun social media milik Justin Bieber, yang meskipun jumlah pengikutnya jutaan  dan skor Kloutnya sempurna (100), tetapi lemah dalam pengaruh dan personal branding-nya untuk isu yang relevan tersebut. Akan sangat aneh dan sukar diterima oleh publik terutama fansnya bahwa akun jejaring sosial mengajak fansnya untuk memperhatikan isu pemberdayaan perempuan karena image dan keseharian Justin Bieber jauh dari apa yang ia coba kampanyekan.

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia social media, digital marketing dan yang berkenaan, jumlah fans/ pengikut dan skor Klout tampaknya juga memegang peranan penting untuk menentukan layak tidaknya seorang kandidat pelamar yang posisinya terkait erat dengan penggunaan jejaring sosial. Tetapi sekali lagi, itu semua tidak dapat digunakan sebagai sebuah pegangan mutlak karena jumlah pengikut dan fans kadang tidak mencerminkan ‘true reach’ atau jangkauan pengaruh yang sebenarnya. Ini bisa terjadi jika seseorang mendapatkan pengikut dan fans tidak melalui cara organik, yaitu dengan membeli pengikut dan fans.

Makin naiknya prospek dan lapangan pekerjaan di dunia jejaring sosial juga membuat kita bertanya: “Apakah seseorang yang hendak melamar posisi kerja yang berkaitan dengan jejaring sosial harus lebih mencemaskan skor Klout daripada IPK mereka selepas kuliah?” Bagaimana menurut Anda?

3 Cara Bangun Personal Brand di Dunia Digital

Membangun sebuah ‘personal brand’ lain dari ‘corporate brand’. Personal brand mengacu pada pribadi seseorang. Apa yang dijual dalam personal brand bukanlah produk atau jasa seperti perusahaan komersial tetapi skills/ ketrampilan, pengalaman, keahlian, pemikiran dan sebagainya.

Pertama-tama, mungkin kita memiliki pertanyaan: “Mengapa seseorang perlu membangun personal brand dirinya sendiri?” Dalam dunia yang tingkat kompetisinya makin ketat ini, kita harus makin cerdas dan taktis. Saat dunia makin bergeser ke tren online, kita juga harus memanfaatkan fenomena ini dengan mulai membangun personal brand tidak hanya di alam offline, tetapi juga online. Saya sendiri tidak menyarankan sepenuhnya untuk meninggalkan salah satu di antaranya karena keduanya (online dan offline) saling melengkapi.  Namun, biasanya reputasi online kita akan membuka peluang lebih lebar dari jaringan offline kita karena jangkauannya yang luas sekali. Meski begitu, tetap saja reputasi online harus didukung dengan kemampuan kita di dunia nyata/ offline.

cropped-sss1.pngBila Anda seorang yang merasa sudah mapan dalam karir atau sudah memiliki pekerjaan yang berprospek cerah pun masih disarankan untuk membangun personal brand. Mengapa? Sederhananya ini menjadi semacam tali pengaman kedua saat kita suatu saat harus meninggalkan perusahaan atau institusi tempat bekerja karena berbagai alasan. Bisa saja kita terpaksa resign karena sudah merasa buntu suatu saat nanti, atau merasa bosan atau ingin mencoba karir baru, atau dengan cara yang pahit, misalnya karena perusahaan bangkrut sehingga Anda terpaksa dirumahkan, atau karena tiba-tiba divisi Anda secara sepihak dibubarkan perusahaan. Banyak faktor yang bisa membuat semua itu terjadi. Dan saat bencana itu muncul, Anda bisa memanfaatkan personal branding yang sudah Anda bangun sebagai tali penyelamat hidup kedua agar Anda tidak terjun bebas ke dasar jurang. Atau bisa juga suatu saat Anda ingi membangun bisnis sendiri sebagai entrepreneur setelah puas menimba pengalaman dan menabung modal dari bekerja sebagai pegawai, personal brand akan sangat membantu untuk itu.

Untuk memiliki personal brand yang kokoh, bangunlah pondasinya dari sekarang. Langkahnya adapat kita bagi menjadi 3:

  1. Tentukan brand
  2. Buat website/ blog
  3. Gunakan jejaring

Langkah pertama ialah tentukan brand kita. Dalam langkah awal ini, pikirkan 4 poin utama: tujuan, audiens, Unique Selling Point (selanjutnya disingkat UPS), dan identitas visual. Simpelnya kita harus mengetahui arah gerak kita, hal yang mau kita capai. Bisa jadi tujuannya sangat ambisius dan jangka panjang seperti “menjadi seorang desainer web paling terkemuka di dunia” atau yang lebih pragmatis seperti “mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional bonafide”. Maka berdasarkan tujuan itu, kita bisa selaraskan dengan brand dan blog/ situs yang akan dibangun.

Tentang UPS, kita harus menemukan sesuatu (akan lebih baik jika lebih dari satu) yang membedakan diri kita dari orang lain di luar sana yang juga memiliki tujuan yang sama atau menekuni bidang yang sama. Jika ketiga poin di atas sudah siap, saatnya untuk membentuk sebuah jati diri visual yang dituangkan dalam bentuk pilihan warna khas untuk blog/ situs, logo, kartu nama. Tak banyak yang memikirkan keselarasan antara kesemua hal ini, padahal jika dipikirkan dengan masak, kesan profesional dan elegan akan lebih terpancar.

Langkah kedua ialah membuat situs web atau blog pribadi. Beberapa poin yang perlu diperhatikan ialah halaman depan (homepage), portfolio/ studi kasus, halaman ‘about’, testimonial, dan isi blog. Homepage seolah adalah serambi/ beranda rumah yang memberi kesan tertentu bagi pengunjung. Di halaman depan ini disarankan untuk memajang foto diri kita (dengan wajah yang jelas) dan akan lebih baik jika foto itu juga diseragamkan untuk dipasang di jejaring sosial yang kita punya untuk tujuan personal branding. Jadi, foto yang kita pajang di homepage blog lebih baik sama dengan avatar kita di Twitter, profile picture di Facebook, di browser, profil LinkedIn dan sebagainya. Ini bukannya tanpa sebab, tetapi karena foto yang sama akan menciptakan konsistensi brand yang memudahkan kita untuk dikenali orang lain yang ingin menghubungi kita.

Navigasi situs/ blog juga jangan sembarangan. Jika Anda seorang profesional yang sudah bekerja untuk sejumlah klien atau korporasi, mungkin akan lebih meyakinkan untuk mendapatkan sebuah testimonial dari pihak pemberi kerja yang terdahulu (previous employers/ clients). Ini menjadi semacam referensi bagi orang untuk lebih mempercayai kredibilitas kita.  Di blog, tunjukkan juga bahwa konten blog diperbarui secara rutin. Orang akan lebih meyakini eksistensi personal brand jika blog yang bersangkutan diperbarui secara berkala yang ditandai dengan munculnya tulisan, gambar, atau video yang baru dan relevan dengan isu terkini. Jika sibuk sekali, cobalah memperbarui blog itu di akhir minggu. Jika ada banyak waktu, perbaruilah 2-3 kali seminggu. Makin sering , makin bagus.

Setelah selesai menikmati konten blog, usahakan pula agar si pengunjung tidak begitu saja meninggalkan blog Anda tanpa mengikuti Anda di jejaring sosial (pajang ajakan untuk menjadi follower atau fan/ teman di Twitter dan Facebook), atau berlangganan konten blog terbaru melalui email. Dengan begitu, peluang Anda untuk diingat olehnya lebih tinggi.

Untuk halaman “portfolio”, kita bisa memajang semua hasil karya yang sudah ada hingga saat itu. Jika Anda seorang web designer, pajanglah screenshot situs-situs yang sudah Anda buat dan disukai klien.

Sementara untuk halaman “studi kasus”, kita bisa tunjukkan alur kerja kita saat membuat sebuah karya atau menyelesaikan proyek dari klien. Misalnya, jika Anda seorang praktisi periklanan, Anda bisa tunjukkan bagaimana Anda membangun sebuah brand milik klien. Ungkapkan risetnya, konsep yang diterapkan (sepanjang memungkinkan, kecuali klien mengharuskan Anda menandatangani NDA atau perjanjian menjaga kerahasiaan).

Di halaman “About” (Tentang), jelaskan UPS kita sebagai individu. Berikan penjelasan secara umum dalam bahasa yang segar dan lugas (tak perlu terlalu kaku dan dingin) mengenai perjalanan karir, bidang-bidang keahlian kita, pengalaman, dan sebagainya. Jika Anda seorang pekerja lepas (freelancer) misalnya, kehadiran blog dengan halaman “About” yang informatif akan membantu sekali dalam mendapatkan tawaran pekerjaan berikutnya.

Seperti sudah banyak kita ketahui, dalam halaman “Testimonials” kita akan jumpai kesaksian para klien terdahulu mengenai kualitas pekerjaan kita. Kesaksian yang ada harus pula disertai dengan foto saksi itu. Akan lebih meyakinkan pula jika Anda tambahkan hyperlink (teks dengan tautan/ link di dalamnya) dalam testimoni itu yang bisa diklik untuk menuju ke situs/ blog pemberi testimoni  yang bersangkutan.

Semua halaman di atas adalah halaman statis, yang artinya tidak akan kita perbarui terlalu sering. Lain dari konten blog yang harus kita perbarui secara teratur. Banyak orang yang merasa tidak perlu membuat apalagi menulis blog, apalagi jejaring sosial sekarang tambah menyenangkan dan lebih praktis. Ini keliru. Menulis sebuah blog dengan pemikiran Anda sendiri membuat kita lebih kompeten daripada hanya sekadar memperbarui timeline di jejaring sosial (meski itu ratusan kali sehari). Jejaring sosial memang lebih mudah dan menarik daripada menulis blog, tetapi imbalan yang bisa kita tuai dari blog itu sendiri juga lebih banyak. Tulisan di blog kita lebih terorganisir dan dapat dilacak dengan tag, kategori, dan mesin pencari  saat kelak dibutuhkan. Bandingkan dengan celotehan kita di jejaring sosial yang terkubur begitu cepat meski sudah memakai tagar tertentu.  Aktif di jejaring sosial membuat blogger terlena padahal inti dari berjejaring sosial sebenarnya adalah menarik orang untuk mengetahui lebih jauh tentang diri kita, dan semua itu tidak bisa disampaikan di jejaring sosial dengan panjang lebar. Orang akan bosan. Tetapi blog ibarat sebuah rumah yang menjadi tempat berkumpul setelah Anda menyebarkan informasi diri di jejaring sosial. Di blog, personal brand akan lebih leluasa dibangun. Di blog, diskusi akan lebih mudah terakomodasi dalam komentar. Di blog, konteks juga lebih terjaga sehingga pesan lebih udah dipahami. Bayangkan di jejaring sosial yag ruangnya terbatas, risiko kesalahpahaman lebih tinggi karena konteks tidak utuh lagi, terpotong paksa oleh batasan karakter dan attention span pengguna jejaring sosial yang sangat pendek. Pengguna jejaring sosial cenderung berkunjung karena ingin bersenang-senang dan melihat-lihat tanpa harus mencermati dengan segenap daya pemikiran, yang berbeda dari pengunjung blog yang sudah menyiapkan diri untuk mencerna argumen dan pesan yang lebih panjang dan kompleks dari hanya satu baris tweet atau status.

Langkah ketiga ialah gunakan jejaring yang sudah dibangun untuk mencapai tujuan semula. Kerahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk membuat blog, akun jejaring sosial (Twitter, Facebook, LinkedIn) dan sebagainya. Di Indonesia, ketiga jejaring sosial inilah yang paling banyak digunakan. Tentu Anda bisa memperluasnya ke Instagram, Pinterest, dan sebagainya. Namun, pastikan Anda masih bisa menanganinya dengan baik tanpa harus merasa terpaksa. Dan yang lebih penting lagi, sesuaikan dengan kebutuhan, jenis bidang, dan sebagainya. Misalnya jika Anda seorang penulis, membuat akun di Instagram mungkin kurang penting karena di sini interaksinya berbasis gambar bukan teks. Anda akan lebih leluasa di Facebook, Twitter, Tumblr atau LinkedIn.

Sebagai tambahan, saat membuat personal branding di dunia maya, kita perlu pahami bahwa faktor I sangat krusial di sini. Apa itu faktor I? Integritas. Menurut Hermawan Kartajaya, banyak orang memahami dunia maya sebagai sebuah alternatif baru untuk  menyalurkan itikad yang kurang baik. Menipu orang memang lebih mudah melalui Internet. Akan tetapi satu hal yang patut disadari ialah begitu melelahkannya berbuat jahat di Internet karena di sini semua perbuatan kita bisa tercatat dan terlacak secanggih apapun trik yang digunakan. Bagi mereka yang berpikiran pendek, membangun brand apapun di Internet akan sukar sekali. Dibutuhkan konsistensi dan kesabaran dalam membangun personal brand di Internet. Ini bukan proses instan. Dan meskipun terlihat mudah dan instan, itu lebih karena orang tidak melihat proses panjang dan berliku di belakangnya.

Karenanya, bangunlah personal brand dengan mengingat bahwa sikap tulus dalam berinteraksi di dunia maya juga mutlak. Berikan manfaat bagi orang lain, alih-alih memanfaatkan orang lain secara sepihak saja. Dan tak lupa, jadilah seorang sosok/ figur yang mampu membangun budaya dalam sekelompok orang (yang menjadi teman, pengikut atau penggemar kita di jejaring sosial). Tidak ada yang berbeda dengan hubungan antarmanusia di dunia nyata, karena pada hakikatnya dunia digital hanyalah sebuah medium, alat semata. Intisarinya tetap pada bagaimana setiap manusia di dalamnya berhubungan satu sama lain. Jadi, ia bukan sebuah mantra ajaib yang memecahkan semua masalah di dunia nyata!

Efektivitas Buzzer dan influencer di Social Media

noteEndorsement (dukungan) dalam dunia komunikasi dan marketing biasa digunakan untuk meyakinkan calon konsumen.  Mereka yang dianggap mampu memberikan endorsement yang efektif ialah sosok yang memiliki reputasi, kredibilitas di bidang tertentu. Dan mereka (influencer/ sosok berpengaruh) inilah yang biasa dimintai bantuan untuk menjadi buzzer alias tukang koar-koar/ promosi. Kita bisa temukan sosok buzzer di social media (contoh yang paling banyak ada di Twitter, seperti Raditya Dika) yang biasanya memiliki jumlah pengikut ratusan ribu atau sudah jutaan (terlepas dari organik tidaknya cara mendapat pengikut).

Buzzer bisa digunakan untuk membangun viral awareness, yang sangat didambakan oleh para pemilik brand saat ini, entah itu personal brand atau corporate brand. Personal brand berupa sosok seorang manusia yang dianggap sebagai sebuah merek, seperti seorang seniman, pemusik, politikus, dan sebagainya. Sementara corporate brand ialah perusahaan yang ingin mereknya makin dikenal dan akhirnya digunakan masyarakat.

Syarat menjadi buzzer ialah memiliki pemahaman mengenai produk dan target audiens yang dibidik, target campaign (makin dalam engagement yang diharapkan maka pemilihannya akan semakin detil). Syarat lain yang lebih detil pernah saya tulis di “Nukman Luthfie Tentang Nge-Tweet Dapet Duit“.

Namun, penggunaan buzzer jangan dijadikan satu-satunya kanal/ saluran marketing, meski harus diakui kehadirannya sangat penting untuk menggenjot kesadaran publik. Hal lain yang harus dimiliki juga ialah konten yang relevan dengan tema kampanye social media. Konten itu harus diorganisir dalam wadah blog.

Penggunaan buzzer dari sisi brand harus bijak karena belum tentu investasi yang tinggi dalam menyewa jasa buzzer efektif dalam menjaring hasil yang tinggi. Setelah kita membayar si buzzer, jangan lupa perlunya penentuan parameter kesuksesan yang harus dicapai. Jika mau hitungan mudah, bisa diukur melalui kenaikan jumlah pengikut. Tapi itu terlalu dangkal jika dijadikan ukuran satu-satunya, just my two cents.

Perlakuan penggunaan buzzer bisa disamakan dengan divisi komunikasi. Salah satu fungsi digital adalah untuk mendengar konsumen.

Tidak boleh diabaikan pula jenis tujuan kampanye karena ia menentukan perlu tidaknya menggunakan jasa seorang buzzer. Untuk itu, mintalah pertimbangan ke beberapa pihak yang lebih berpengalaman dan yang berkepentingan dalam kampanye ini.

Pemeriksaan latar belakang dilaksanakan oleh pihak brand untuk mengetahui jika si buzzer adalah salah satu pengguna produk yang hendak dikampanyekan atau tidak. Ini untuk mengurangi risiko.

Pendekatan legal (kontrak) atau personal bisa dilakukan oleh agensi untuk menggunakan buzzer. Anda bisa mengajukan semacam surat kontrak kerja pada mereka. Sekali lagi, agar ini menjadi lebih profesional dan jelas sehingga jika ada sesuatu terjadi di kemudian hari akan lebih mudah diantisipasi dan dipecahkan.

Usahakan sebagai pemilik brand, jangan menggunakan jasa buzzer yang tidak pernah membicarakan pesan kunci yang diharapkan. Sederhana saja, karena itu percuma. Pesan kunci itu juga harus disesuaikan dengan bidang kepakaran si buzzer. Inilah seninya memilih buzzer.

Pesan utama yang ingin disebarluaskan harus disampaikan dengan jelas sebelum kampanye oleh si agensi pada pihak buzzer. Jangan sampai ada kesalahpahaman.

Buzzer sebenarnya bisa berkampanye dengan membagikan pengalaman dalam menggunakan produk/ brand yang dimaksud. Sehingga kesan hard selling tidak kentara. Ini masih berkaitan dengan kejelian brand memilih buzzer. Dan cukup susah untuk menemukan sosok buzzer yang klop seperti itu. Kadang ada yang pesan dan temanya konsisten di satu bidang tetapi pengikutnya tidak signifikan, dan di sisi lain ada yang banyak pengikut tetapi kurang sesuai dengan pesan utama tema kampanye yang akan dilontarkan.

Hingga saat ini belum ada aturan khusus yang berlaku untuk sangkalan/ disclaimer dan itu bergantung pada perjanjian kedua belah pihak. Dan itulah kendala sekaligus celah peluang berbisnis di dunia social media, menurut hemat saya. Di sini, standarnya sangat kabur, atau fleksibel. Semuanya tergantung negosiasi. Jadi kalau suka sama suka, ayo. Kalau tidak, ya tidak. Itulah mengapa kadang sangat susah menentukan tarif jasa buzzer.

(Sebagian ide disarikan dari akun Twitter Obrolan Langsat : @obsat)

Suara (= Jeritan) dari Ruang Publik

wpid-IMG_20121028_064038.jpgDalam diskusi “Suara dari Ruang Publik” yang digelar di Taman Langsat Jakarta beberapa waktu lalu, didiskusikan bagaimana Jakarta sedang berjuang memperluas ruang umum terbuka hijaunya. Saya sendiri yang bukan penduduk Jakarta tetapi merasa memiliki Jakarta (Karena sudah tinggal di sini selama hampir 3 tahun) merasa sumpek karena memang di sini tidak banyak yang bisa dilakukan untuk bisa berwisata tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Satu-satunya solusi ialah membuat sebanyak mungkin taman di sekitar kita. Karena Jakarta makin padat, tingkat stres meningkat, pada saat yang sama penduduknya juga makin butuh penyegaran, yang bisa dicapai dengan  mendekatkan diri dengan alam. Dan alam itu adalah tanaman dan hewan.

Kita patut bersyukur masih ada sebagian penduduk Jakarta yang peduli terhadap isu ruang terbuka hijau ini. Seperti apa yang dilakukan Yasminka Subekti dan Ages Dwiharso, pasangan pengajar biola di Taman Suropati (depan kediaman dinas gubernur DKI Jakarta) Menteng Jakpus, membuat Taman Suropati Chamber yang menjadi sekolah bagi para peminat biola.

Saya juga pernah mengenyam kursus biola di sana selama beberapa bulan sembari beryoga di tempat yang sama (dengan waktu yang berbeda, yoga di pagi hari, kemudian siangnya berlatih biola) meski akhirnya saya harus kewalahan karena tidak sempat berlatih selain jam kursus. Latihannya cukup merepotkan karena harus memilih tempat yang tidak mengganggu ketenangan orang atau setidaknya kedap suara. Dan kamar kos bukan pilihan yang tepat sepertinya. Akhirnya saya merasa tertinggal dari teman-teman kursus saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (bayangkan) dan saya pun memutuskan memilih yoga saja (karena di sana saya justru lebih berkembang dengan bakat saya, less effort, more result, haha).

Jika Anda ingin mengikuti kursus di Taman Suropati Chamber, tidak perlu cemas dengan biaya karena sangat murah. Bayangkan saja, cukup memberikan uang pangkal Rp 300 ribu, kita sudah bisa masuk dan seterusnya cukup membayar Rp 150 ribu per bulan. Bisa dibandingkan dengan sekolah lain. Untuk harga biola juga bisa pilih yang ‘miring’ di toko alat musik di Blok M. Saya pilih biola seharga Rp 750 ribu. Murah meriah dan cukup bagus untuk sekadar berlatih sebagai pemula (yang tidak ada tujuan menjadi profesional sama sekali). Anda boleh saja langsung beli yang bagus tapi pastikan tidak berakhir seperti biola saya; hanya disimpan di pojok almari. Haha…

Kembali ke ruang publik, pemanfaatan taman sebagai tempat mengasah bakat-bakat seni adalah sesuatu yang harus terus dipertahankan menurut saya karena inilah salah satu cara untuk meramaikan taman. Karena seperti kita ketahui taman yang ramai membuat manusia kota juga menjadi lebih waras karena mereka lebih sering bersentuhan dengan alam bebas, lepas dari sekapan gedung beton.

Agar ruang publik banyak dikunjungi masyarakat, faktor kebersihan, keamanan, tempat parkir, dan sebagainya perlu diperhatikan. Memang ini masih menjadi masalah utama, karena masyarakat pengunjung kadang belum menyadari pentingnya kebersihan. Buang sampah sembarangan di tempat umum.

Dan inilah yang menurut saya juga menjadi titik sengketa dari kasus penduduk dan pengelola pantai Ancol, yang juga ruang publik tetapi memiliki pengelola sendiri. Penduduk ingin masuk Ancol gratis, sementara itu jangan lupa, di sisi lain mereka juga buang sampah sembarangan. Padahal biaya masuk itu juga untuk menggaji para staf yang tugasnya memelihara kebersihan dan sarana prasarana di pantai. Jadi di sini, kesadaran dan kedewasaan penduduk Jakarta sendiri belum sepenuhnya sesuai harapan. Mau bersih, mau tertata, tetapi segan membayar. Setelah dibuka untuk umum dan gratis, mereka masuk dan mengotori, tidak mau memelihara.

Menurut Ridho dari Kementerian Pekerjaan Umum, masyarakat berhak mendapatkan minimal 30% ruang terbuka hijau yang dikelola oleh negara. Ruang publik ini tidak hanya taman tetapi juga pantai.

Salah satu cara pemerintah agar masyarakat mau mengunjungi ruang publik seperti taman ialah dengan menyediakan fasilitas wi-fi gratis. Per hari ini saja sudah ada 5 taman kota yang dipasangi wi-fi, ditargetkan di akhir tahun sudah ada 14 taman di Jakarta yang dipasangi wi-fi. Jika sedang berada di taman umum dan menemukan koneksi Internet nirkabel (wi-fi) bernama “taman” dan “dki”, berarti kita bisa mengakses Internet via koneksi tersebut secara gratis. Di Taman Langsat dipasangi wi-fi oleh Telkom dan ada 7 titik yang bisa diakses 200 orang secara bersamaan. Entah di Taman Suropati yang sering saya kunjungi. Mungkin jika Anda pernah berkunjung ke taman lain, coba saja hidupkan laptop atau ponsel berfasilitas wi-fi di sana. Namun, tetap saja saya pikir fasilitas wi-fi seperti ini mestinya diperbanyak di ruang publik yang lebih bersifat edukatif seperti sekolah dan perpustakaan daerah, yang di dalamnya orang sudah menyiapkan pikirannya untuk belajar, menerima informasi. Di sini mereka bisa mengisi daya perangkat mereka jika habis (ini penting sekali, di taman mana ada colokan listrik?) dan duduk lebih lama dan berkonsentrasi menyerap informasi. Di taman apalagi di halte busway, terlalu banyak distraksi. Orang akhirnya hanya membuka situs-situs yang kurang mendidik dan bermanfaat.

Syarat tata kota untuk ruang hijau di setiap kota adalah 30% namun saat ini di Jakarta saja baru mencapai belasan persen. Ini masalah utama banyak kota besar kita. Selain itu, banyak taman kota yang tidak diketahui keberadaannya di Jakarta karena tidak tersosialisasikan dan tidak ada papan penunjuk akses ke lokasi. Ini terjadi sendiri pada saya, saat saya mencari Taman Langsat pun saya tersesat ke Taman Ayodya yang letaknya tak jauh dari Taman Langsat.

Dinas Pertamanan mendukung segala kegiatan dan gerakan yang melibatkan taman dan ruang terbuka hijau, asalkan ada koordinasi. Untuk teman-teman yang ingin mendapatkan data tentang taman yang ada di Jakarta, dapat langsung mengunjungi Dinas Pertamanan.

Gossip Girl: Kebangkitan Era Social Media dan Citizen Journalism

serena snapped on lgPagi ini saya tanpa sengaja membaca sebuah artikel di Mashable.com yang mengupas tentang serial TV yang pernah saya gandrungi, GOSSIP GIRL. Bukan bergosip ria-nya yang saya sukai, tetapi karena lewat serial ini saya mengajarkan ekspresi-ekspresi komunikatif yang membumi, bukan ala buku teks, untuk mahasiswa yang saya ajar di kelas Speaking saya dahulu kala tahun 2008. Dan tanpa sadar saya telah mempelajari bidang pekerjaan saya sekarang sejak saya mengenal serial tersebut: social media.

Dalam artikel op-ed miliknya yang berjudul “Goodbye Gossip Girl, Social Media Pioneer“, blogger Zoe Fox mengatakan:

But they’re missing an important story behind this show. Gossip Girl was the first about the lives of the Connected Generation — the millennials who grew up with the Internet, consider their cellphones an essential accessory and share content comfortably with friends and strangers on social networks.

Di balik kritik sejumlah pihak terutama orang tua yang cemas dengan pesan moral dalam kisah GG, tersembunyi sebuah pelajaran fenomena sosial yang besar bagi peradaban modern. Secara sekilas, memang kita bisa mencap bahwa tayangan seperti ini mengkampanyekan seks bebas, hedonisme, gaya hidup mewah ala borjuis yang tidak peduli masyarakat bawah, dan sebagainya.

Namun, jangan salah, kita juga bisa belajar banyak hal dari sini. Amati saja dari tayangan episode pertamanya “PILOT” yang menampilkan Serena van Der Woodsen berada di stasiun Grand Central dan seorang kontributor atau citizen journalist, katakanlah begitu, bernama Melanie91, mengambil potret Serena dan mengirimkan foto tersebut via email ke admin blog Gossip Girl dari ponsel LG-nya.

Isi scoop berita dari Melanie91:

Spotted at Grand Central, bags in hand, Serena van der Woodsen”

Di sini belum kita kenal penggunaan Facebook dan Twitter serta jejaring sosial seperti sekarang, bahkan blog pun belum demikian luas penggunaannya. Di sini ponsel dan pesan pendek serta MMS sangat berperan penting. Blog masih dianggap sebagai sebuah temporary fad, alias suatu tren yang sesaat. Si penulis GG sendiri,  Cecily von Ziegesar, mengakui ia terkejut dengan karyanya sendiri yang bisa mencerminkan tren di masa depan. Saat ia menulis novel GG, blog masih dipandang sebelah mata. Blog biasanya berfungsi sebagai catatan harian yang penuh keluh kesah dan kegiatan sehari-hari yang remeh temeh, tetapi Cecily terpikir untuk juga menjadikannya sebuah sumber berita tepercaya yang dikelola secara aktif dan rutin dan hebatnya lagi disokong secara luas oleh para anggota komunitas eksklusif  tersebut.

Sepanjang tayangan, kita bisa saksikan bagaimana dunia kecil para remaja sosialita Upper East Side  ini dibentuk oleh interaksi di dunia maya. Pola yang serupa dalam interaksi offline juga bisa ditemukan di sini. Mereka yang membenci bisa mengirimkan sebuah pesan pendek dan foto untuk menghancurkan kredibilitas lawan, seperti saat Jenny Humphrey ingin menghancurkan reputasi gadis baik-baik Blair Waldorf di sekolah. Ia cukup mengirimkan pesan pendek ke Gossip Girl, seorang blogger anonim yang menulis banyak detil kehidupan anggota sosialita komunitas ini.

Di sini, Dan Humphrey juga menyinggung sedikit tentang bagaimana memanfaatkan produk teknologi baru seperti blog dan jejaring sosial dan meninggalkan cara lama. Ini petikannya saat berbicara pada ayahnya yang sibuk menempelkan flyer ke tiang listrik untuk mempromosikan kursus memetik gitar dan bassnya:

You know dad, there’s this thing called MySpace where you could post all this information online. Save some trees. Have a blog”

Menarik bukan? Amati bagaimana Dan memperkenalkan cara baru berinteraksi dengan orang lain yang lebih baru, melalui salah satu layanan jejaring sosial paling keren saat itu: MySpace. Rufus sang ayah, seperti tipikal generasi baby boomer yang memiliki resistensi tinggi dalam mengadopsi teknologi baru, menangkis ajakan itu dengan mengatakan mungkin jika semua musisi meninggalkan blog mereka, industri musik akan jauh lebih baik dan ia tetap ngotot menempelkan  flyer itu ke setiap tiang listrik yang ada di sekitarnya.  Itu juga yang banyak kita alami saat harus menghadapi pihak-pihak konservatif dan berpikiran kaku seperti atasan, orang tua, dan sebagainya yang masih belum menyadari pentingnya membuka diri di dunia maya (meski selalu ada pengecualian untuk itu).

Di sini, kita juga bisa mengamati awal mula citizen journalism, yang membuka kesempatan bagi semua orang untuk menjadi kontributor berita atau konten. Dengan perangkat teknologi terkini seperti ponsel-ponsel keluaran SideKick, LG, BlackBerry, Apple, dan sebagainya yang dikombinasikan dengan jaringan Internet nirkabel serta seluler berkecepatan tinggi, penyebaran informasi menjadi begitu cepat dan mudah. Misalnya saja saat Serena tertangkap basah membeli pregnancy test pack atau alat uji kehamilan di sebuah apotek oleh seorang siswa yang kemudian dikirimkan ke email Gossip Girl. Sontak seisi sekolah membicarakannya.

Satu fenomena menarik yang saya juga temukan dalam Gossip Girl ialah ghost blogger. Kita sudah banyak mengenal ghost writer, sosok penulis yang menulis atas nama dan untuk orang lain dan dibayar untuk itu tetapi di saat yang sama harus menjaga kerahasiaannya atau tidak diperbolehkan menunjukkan identitasnya terkait karya yang dimaksud (let’s say, ada Non Disclosure Agreement untuk itu). Di sini, kita bisa temukan sosok blogger tanpa identitas Gossip Girl yang dinarasikan sepanjang cerita sebagai salah satu anggota komunitas sosialita Upper East Side. Namun, siapa sangka jika Gossip Girl itu adalah Dan Humpfrey yang notabene tidak diakui sepenuhnya sebagai anggota komunitas? Dan, lain dengan mereka yang kaya raya, hanyalah seorang anak musisi kurang terkenal dari Brooklyn, sebuah kawasan yang bereputasi proletar di New York. Ia dan adiknya Jenny kebetulan bisa bersekolah ke sekolah swasta yang dimasuki oleh anak-anak orang kaya di Upper East Side, New York. Dan melalui Internet-lah, ia bisa melakukan perlawanan kasta sosial itu. Ia yang di dunia nyata dianggap outsider, kelas pariah, oleh mayoritas temannya, bisa dengan mudah masuk ke lingkaran sosial elit dengan berbekal blog Gossip Girl, yang ia kelola. Inilah yang banyak kita temui sekarang. Semua orang yang dulu merasa tidak didengar, tersingkir, termarginalisasi, sekarang muncul dan bersuara dengan menggunakan berbagai kanal media baru di Internet. Demikian kata Dan Humpfrey tentang alasannya memulai blog:

“I wasn’t born into this world. Maybe I could write myself into it”

Entah apakah Dan menganggap blog sebuah sarana untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa ia bukan bagian masyarakat sosialita yang ia benci tetapi dalam hati begitu dambakan (escapism) atau memandang kegiatan menulis blog sebagai sarana dan ritual untuk menumpahkan emosi sosialnya dengan lebih terorganisir (purgation) dan lebih sesuai dengan kepribadiannya yang pemalu, menyukai seni dan sastra. Atau bisa juga ini menjadi sebuah ekspresi rendah diri dari dalam diri Dan. Ia cemas tidak bisa diterima sebagai seorang Dan, anak laki-laki cerdas yang tinggal di Brooklyn yang kumuh, tetapi bisakah ia diterima orang di sekitarnya jika mau berpura-pura sebagai seorang gadis penggosip yang genit di Internet? Terbukti ia bisa. Ia merasa diakui dan memperoleh kepercayaan diri itu melewati Internet. Dan kepercayaan diri (baca: ketenaran) itu sering kita ukur dengan banyaknya LIKE, RETWEET, HITS, GOOGLE PAGE RANK, ALEXA RANK dan sebagainya.

GG seolah menjadi sebuah manuskrip berharga dalam bentuk sinema yang menunjukkan pada kita bagaimana (r)evolusi yang terjadi di dunia social media dan citizen journalism. Meskipun serial TVnya ditayangkan perdana tanggal 19 September 2007 (dan baru saja berakhir 17 Desember 2012 yang lalu), sebenarnya GG tampil pertama dalam bentuk novel karya penulis Cecily von Ziegesar yang diterbitkan pertama kali April 2002. Ide tentang tema ghost blogger ini tampaknya sudah ada sejak novel ditulis (berarti sebelum tahun 2002, saat  blogging dan social media tak semarak sekarang. Dugaan saya adalah saat skenario serial TVnya dibuat, dialog tentang MySpace di atas ditambahkan karena relevan dengan perkembangan terkini saat itu (pertengahan 2000-an). MySpace sendiri baru didirikan Tom Anderson tahun 2003, sementara proses penulisan novel GG telah dimulai di awal dekade 2000-an. Dan sebagai informasi tambahan, jejaring sosial Friendster  yang dijuluki sebagai “kakeknya jejaring sosial” didirikan Jonathan Abrams tahun 2002, setahun sebelum MySpace beroperasi.

On Writing: Speed or Quality?

laptopAn American journalist named A. J. Liebling (1904-1963) says:

I can write better than anybody who can write faster and I can write faster than anybody who can write better.

It is a bit annoying that someone wants the best from you as a writer, journalist, or social media manager when you’re not given the appropariate time amount needed for the craftmanship. With more time, comes high extraordinary quality. That’s what I strongly believe.

One has to choose which one is the priority: quality or speed. Because we can’t have it all at the very same time!

Instead of arguing which one is better, let’s do it this way. Figure out what we have to focus on. When, for example, I want my writing published and read as fast as I can as a blog post like now, then I just write as fast as I could and ignore the quality. I don’t proofread, I don’t double check any single thing. I just type anything on my mind and hot the publish button immediately. Later if I have more time to reread it, I may edit or make some necessary changes but mostly I don’t.

But when I really want to produce analytical writeups, I try to overlook the demand of speed writing. That was exactly I did when I long time ago started blogging. It was fun, all I wanted to do is just to attract more and more people to my blogs. That was it. And I pretty much did’nt give time a damn. It often took me a whole day just to write a single piece and at the end I was very content with that.

The Meaning of Life

“Most of the time, I believe, it’s good people doing bad things. it’s bad people doing bad things.”
“Religion and churches are run by human beings. Human beings are fallible and if i am to sit and judge I cant blame Gos for this stuff. I blame our human failings. I suppose the problem with church in a way was that we dwcided they win over humans ..to give them complete authority and bring respecy and no voice to say,” No I dont think that is right”. And that is why it went wrong and that is NOT God.” – Andrea Corr

%d bloggers like this: