Gossip Girl: Kebangkitan Era Social Media dan Citizen Journalism

serena snapped on lgPagi ini saya tanpa sengaja membaca sebuah artikel di Mashable.com yang mengupas tentang serial TV yang pernah saya gandrungi, GOSSIP GIRL. Bukan bergosip ria-nya yang saya sukai, tetapi karena lewat serial ini saya mengajarkan ekspresi-ekspresi komunikatif yang membumi, bukan ala buku teks, untuk mahasiswa yang saya ajar di kelas Speaking saya dahulu kala tahun 2008. Dan tanpa sadar saya telah mempelajari bidang pekerjaan saya sekarang sejak saya mengenal serial tersebut: social media.

Dalam artikel op-ed miliknya yang berjudul “Goodbye Gossip Girl, Social Media Pioneer“, blogger Zoe Fox mengatakan:

But they’re missing an important story behind this show. Gossip Girl was the first about the lives of the Connected Generation — the millennials who grew up with the Internet, consider their cellphones an essential accessory and share content comfortably with friends and strangers on social networks.

Di balik kritik sejumlah pihak terutama orang tua yang cemas dengan pesan moral dalam kisah GG, tersembunyi sebuah pelajaran fenomena sosial yang besar bagi peradaban modern. Secara sekilas, memang kita bisa mencap bahwa tayangan seperti ini mengkampanyekan seks bebas, hedonisme, gaya hidup mewah ala borjuis yang tidak peduli masyarakat bawah, dan sebagainya.

Namun, jangan salah, kita juga bisa belajar banyak hal dari sini. Amati saja dari tayangan episode pertamanya “PILOT” yang menampilkan Serena van Der Woodsen berada di stasiun Grand Central dan seorang kontributor atau citizen journalist, katakanlah begitu, bernama Melanie91, mengambil potret Serena dan mengirimkan foto tersebut via email ke admin blog Gossip Girl dari ponsel LG-nya.

Isi scoop berita dari Melanie91:

Spotted at Grand Central, bags in hand, Serena van der Woodsen”

Di sini belum kita kenal penggunaan Facebook dan Twitter serta jejaring sosial seperti sekarang, bahkan blog pun belum demikian luas penggunaannya. Di sini ponsel dan pesan pendek serta MMS sangat berperan penting. Blog masih dianggap sebagai sebuah temporary fad, alias suatu tren yang sesaat. Si penulis GG sendiri,  Cecily von Ziegesar, mengakui ia terkejut dengan karyanya sendiri yang bisa mencerminkan tren di masa depan. Saat ia menulis novel GG, blog masih dipandang sebelah mata. Blog biasanya berfungsi sebagai catatan harian yang penuh keluh kesah dan kegiatan sehari-hari yang remeh temeh, tetapi Cecily terpikir untuk juga menjadikannya sebuah sumber berita tepercaya yang dikelola secara aktif dan rutin dan hebatnya lagi disokong secara luas oleh para anggota komunitas eksklusif  tersebut.

Sepanjang tayangan, kita bisa saksikan bagaimana dunia kecil para remaja sosialita Upper East Side  ini dibentuk oleh interaksi di dunia maya. Pola yang serupa dalam interaksi offline juga bisa ditemukan di sini. Mereka yang membenci bisa mengirimkan sebuah pesan pendek dan foto untuk menghancurkan kredibilitas lawan, seperti saat Jenny Humphrey ingin menghancurkan reputasi gadis baik-baik Blair Waldorf di sekolah. Ia cukup mengirimkan pesan pendek ke Gossip Girl, seorang blogger anonim yang menulis banyak detil kehidupan anggota sosialita komunitas ini.

Di sini, Dan Humphrey juga menyinggung sedikit tentang bagaimana memanfaatkan produk teknologi baru seperti blog dan jejaring sosial dan meninggalkan cara lama. Ini petikannya saat berbicara pada ayahnya yang sibuk menempelkan flyer ke tiang listrik untuk mempromosikan kursus memetik gitar dan bassnya:

You know dad, there’s this thing called MySpace where you could post all this information online. Save some trees. Have a blog”

Menarik bukan? Amati bagaimana Dan memperkenalkan cara baru berinteraksi dengan orang lain yang lebih baru, melalui salah satu layanan jejaring sosial paling keren saat itu: MySpace. Rufus sang ayah, seperti tipikal generasi baby boomer yang memiliki resistensi tinggi dalam mengadopsi teknologi baru, menangkis ajakan itu dengan mengatakan mungkin jika semua musisi meninggalkan blog mereka, industri musik akan jauh lebih baik dan ia tetap ngotot menempelkan  flyer itu ke setiap tiang listrik yang ada di sekitarnya.  Itu juga yang banyak kita alami saat harus menghadapi pihak-pihak konservatif dan berpikiran kaku seperti atasan, orang tua, dan sebagainya yang masih belum menyadari pentingnya membuka diri di dunia maya (meski selalu ada pengecualian untuk itu).

Di sini, kita juga bisa mengamati awal mula citizen journalism, yang membuka kesempatan bagi semua orang untuk menjadi kontributor berita atau konten. Dengan perangkat teknologi terkini seperti ponsel-ponsel keluaran SideKick, LG, BlackBerry, Apple, dan sebagainya yang dikombinasikan dengan jaringan Internet nirkabel serta seluler berkecepatan tinggi, penyebaran informasi menjadi begitu cepat dan mudah. Misalnya saja saat Serena tertangkap basah membeli pregnancy test pack atau alat uji kehamilan di sebuah apotek oleh seorang siswa yang kemudian dikirimkan ke email Gossip Girl. Sontak seisi sekolah membicarakannya.

Satu fenomena menarik yang saya juga temukan dalam Gossip Girl ialah ghost blogger. Kita sudah banyak mengenal ghost writer, sosok penulis yang menulis atas nama dan untuk orang lain dan dibayar untuk itu tetapi di saat yang sama harus menjaga kerahasiaannya atau tidak diperbolehkan menunjukkan identitasnya terkait karya yang dimaksud (let’s say, ada Non Disclosure Agreement untuk itu). Di sini, kita bisa temukan sosok blogger tanpa identitas Gossip Girl yang dinarasikan sepanjang cerita sebagai salah satu anggota komunitas sosialita Upper East Side. Namun, siapa sangka jika Gossip Girl itu adalah Dan Humpfrey yang notabene tidak diakui sepenuhnya sebagai anggota komunitas? Dan, lain dengan mereka yang kaya raya, hanyalah seorang anak musisi kurang terkenal dari Brooklyn, sebuah kawasan yang bereputasi proletar di New York. Ia dan adiknya Jenny kebetulan bisa bersekolah ke sekolah swasta yang dimasuki oleh anak-anak orang kaya di Upper East Side, New York. Dan melalui Internet-lah, ia bisa melakukan perlawanan kasta sosial itu. Ia yang di dunia nyata dianggap outsider, kelas pariah, oleh mayoritas temannya, bisa dengan mudah masuk ke lingkaran sosial elit dengan berbekal blog Gossip Girl, yang ia kelola. Inilah yang banyak kita temui sekarang. Semua orang yang dulu merasa tidak didengar, tersingkir, termarginalisasi, sekarang muncul dan bersuara dengan menggunakan berbagai kanal media baru di Internet. Demikian kata Dan Humpfrey tentang alasannya memulai blog:

“I wasn’t born into this world. Maybe I could write myself into it”

Entah apakah Dan menganggap blog sebuah sarana untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa ia bukan bagian masyarakat sosialita yang ia benci tetapi dalam hati begitu dambakan (escapism) atau memandang kegiatan menulis blog sebagai sarana dan ritual untuk menumpahkan emosi sosialnya dengan lebih terorganisir (purgation) dan lebih sesuai dengan kepribadiannya yang pemalu, menyukai seni dan sastra. Atau bisa juga ini menjadi sebuah ekspresi rendah diri dari dalam diri Dan. Ia cemas tidak bisa diterima sebagai seorang Dan, anak laki-laki cerdas yang tinggal di Brooklyn yang kumuh, tetapi bisakah ia diterima orang di sekitarnya jika mau berpura-pura sebagai seorang gadis penggosip yang genit di Internet? Terbukti ia bisa. Ia merasa diakui dan memperoleh kepercayaan diri itu melewati Internet. Dan kepercayaan diri (baca: ketenaran) itu sering kita ukur dengan banyaknya LIKE, RETWEET, HITS, GOOGLE PAGE RANK, ALEXA RANK dan sebagainya.

GG seolah menjadi sebuah manuskrip berharga dalam bentuk sinema yang menunjukkan pada kita bagaimana (r)evolusi yang terjadi di dunia social media dan citizen journalism. Meskipun serial TVnya ditayangkan perdana tanggal 19 September 2007 (dan baru saja berakhir 17 Desember 2012 yang lalu), sebenarnya GG tampil pertama dalam bentuk novel karya penulis Cecily von Ziegesar yang diterbitkan pertama kali April 2002. Ide tentang tema ghost blogger ini tampaknya sudah ada sejak novel ditulis (berarti sebelum tahun 2002, saat  blogging dan social media tak semarak sekarang. Dugaan saya adalah saat skenario serial TVnya dibuat, dialog tentang MySpace di atas ditambahkan karena relevan dengan perkembangan terkini saat itu (pertengahan 2000-an). MySpace sendiri baru didirikan Tom Anderson tahun 2003, sementara proses penulisan novel GG telah dimulai di awal dekade 2000-an. Dan sebagai informasi tambahan, jejaring sosial Friendster  yang dijuluki sebagai “kakeknya jejaring sosial” didirikan Jonathan Abrams tahun 2002, setahun sebelum MySpace beroperasi.

Leave a comment

Filed under blogging, social media, writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s