Pengalaman Membuat Kartu Kredit Bank Mandiri (2) dan …Yoga

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya di https://akhlisblog.wordpress.com/2012/12/31/pengalaman-membuat-kartu-kredit-mandiri/, saya masih melakukan survei kecil untuk mengetahui plus minus memiliki kartu kredit Bank Mandiri. Saya ingin mengedukasi diri saya sendiri dulu sebelum benar-benar memilikinya sehingga dampak negatifnya dapat diminimalisir.

Lalu saya membulatkan tekad untuk menuju kantor cabang Mandiri terdekat di tempat saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan aplikasi CC ke kantor cabang Mandiri di Mall Ambassador, Jakarta Selatan. Saya masih ingat hari itu hari Jumat pertengahan Desember 2012. Masa menjelang liburan akhir tahun yang sangat sibuk. Semua orang tampak sedang berlomba menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar pekerjaan tidak menumpuk setelah masa cuti.

Masuk ke kantor Bank Mandiri, saya disambut petugas keamanan. Dengan raut muka bersahabat ia mempersilakan saya masuk dan membukakan pintu serta menanyakan tujuan saya ke sana. Saya pun menjawab dan ia mempersilakan saya mengambil nomor antrian. Saya pikir ini sudah standar pelayanan bank-bank besar jadi saya mengabaikannya. Tak ada yang spesial. Tapi begitu beberapa hari kemarin saya ke kantor cabang sebuah bank swasta besar di mall yang sama, ternyata petugas keamanannya tak seramah itu dan tidak menunjukkan inisiatif untuk memberikan petunjuk atau perhatian pada mereka yang masuk. Jadi saya masuk seperti orang dungu. Tak tahu formulir mana yang harus saya isi untuk tujuan yang saya hendaki. Petugas juga tidak menunjukkan bahwa saya harus mengambil nomor antrian dan saya tidak ditunjukkan letak mesin nomor antriannya. Pikir saya,” Ternyata Mandiri lebih baik.”

Lalu tibalah giliran saya. Saya maju ke sebuah meja pelayanan nasabah. Seorang pegawai Bank Mandiri bernama Filo menyapa saya dengan ramah dan menjabat tangan saya. Very nice, batin saya.

Saya mengutarakan keinginan saya untuk membuat kartu kredit Mandiri dan ia dengan sopan meminta surat keterangan gaji yang memag harus disertakan.

Kemudian saya mengisi formulir aplikasi setelah pak Filo menjelaskan seluk beluk kartu kredit Mandiri. Saat saya menuliskan kegemaran saya “yoga” di formulir,  ia bertanya dengan nada penuh ingin tahu. “Apa itu pak?” tanyanya saat saya asyik menulis. “Oh yoga pak,” jawab saya singkat sambil tersenyum. Ah tak mungkin ia tertarik.

Ternyata saya salah. Pak Filo bertanya-tanya dan mengobrol begitu banyak tentang kegemaran saya satu ini. Dari tempat saya biasa latihan, manfaat yang ia rasakan setelah pernah beryoga, hingga keinginannya bergabung dalam tempat latihan saya di Taman Suropati yang bisa diikuti tanpa biaya itu.

Saya terkejut dan merasa senang karena ia berucap,”Alhamdulillah, dapat info ini pak. Soalnya saya sedang cari tempat untuk yoga memang. Badan jadi enak.” Rasanya begitu senang sudah memberikan sedikit bantuan untuk orang lain agar hidup lebih sehat.

Kartu kredit Mandiri yang saya ajukan belum di-approve sampai hari ini. Mungkin prosesnya yang agak lama. Namun demikian, saya patut mengapresiasi layanan Mandiri yang sudah banyak membantu saya sampai sekarang. Semoga Bank Mandiri terus konsisten menjaga kualitas layanannya.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s