Penulis Tak Perlu Serius dan Introverted

Hmm, sulit membayangkan seorang penulis tampil di depan khalayak ramai, layaknya pesohor. Apalagi ia harus berbicara panjang lebar. Seperti apa yang dilakukan Andi Gunawan beberapa waktu lalu dalam acara yang makin populer: “Standup Comedy”. Penulis dan public speaking bagi saya adalah dua dunia yang berbeda.

Selama ini saya memang berasumsi bahwa seorang penulis mesti seseorang yang berkepribadian serius, introverted, cenderung suka melankoli dan memiliki tingkat potensi depresi yang tinggi. Mereka suka hal-hal aneh, tampak eksektrik, di luar konvensi, tidak mau menghabiskan waktu dengan bergaul basa-basi dengan orang lain apalagi yang tidak membuat mereka nyaman, dan sebagainya.

Asumsi saya bukan tanpa alasan. Saya mengamati sejumlah penulis besar modern yang secara mengejutkan memiliki kesamaan seperti masa lalu yang berat, penderitaan, kegagalan besar dalam hidup, masa kanak-kanak yang suram, dan sebagainya. Lihat saja Ernest Hemingway yang mengakhiri hidupnya dengan tindakan bunuh diri di tahun 1961 saat tinggal di Ketchum, Idaho. I diketahui menderita kebiasaan minum minuman keras yang destruktif. Hemingway juga pernah hampir terenggut nyawanya saat dalam perjalanan udara sebanyak 2 kali, yang membuat kesehatannya terganggu hingga akhir hidupnya.

Lalu ada J. K. Rowling. Penulis “Harry Potter” ini memiliki masa kanak-kanak yang cukup pahit. Ia lahir di sebuah keluarga yang tak begitu kaya dan  sang ibu meninggal saat ia baru berusia 15 tahun (1990). Tekanan hidup makinbesar karena sang ayah tidak menjalankan peran sebagai kepala keluarga sebagaimana mestinya. Kerinduan figur seorang ayah yang ideal ini membuat Rowling membuat sejumlah karakter yang sangat kebapakan di novel “Harry Potter”. Semuanya menjadi bertambah parah saat ia harus mengalami kegagalan berumah tangga di usia akhir 20-an. Pernikahan seumur jagungnya dengan seorang jurnalis Portugal memberinya 1 orang anak dan perceraian membuatnya jatuh dalam jurang kemiskinan lebih dalam lagi.

Satu lagi kisah seorang penulis (meski rekaan) ialah Lee Jin-soo dalam sebuah drama Korea. Jin-soo adalah penulis novel thriller sukses yang tinggal di Seoul. Ia pernah menikah tetapi pernikahan itu kandas karena sang istri meninggal dalam sebuah kecelakaan lalin. Pasca kehilangan istrinya, Jin-soo pun terpuruk. Seperti Rowling, ia menderita depresi. Kematian orang yang ia kasihi membuatnya kesepian, ditambah lagi saudara dekatnya tinggal di AS dan kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Beruntung seorang teman dekat membawanya ke dunia kepenulisan yang berhasil membuat semangat hidupnya kembali berkobar. Namun, jejak trauma masa lalu membuatnya menjadi penulis sukses dengan kepribadian eksentrik. Ia tak memiliki mobil dan ponsel, dan melakukan segala cara untuk menghindari ekspos publik secara berlebihan. Ia menghindari setiap wwancara, acara penandatanganan buku untuk penggemar, dan mengabaikan panggilan telepon di tengah proses menulis. Ia melarikan diri dari keramaian dunia untuk menyepi, bereksperimen dengan sekretarisnya yang naif dan amatir untuk mendapatkan ide cerita dan narasi yang meyakinkan pembaca novelnya, dan terus menulis tak peduli dengan terbengkalainya kewajiban remeh temeh seorang penulis dalam dunia bisnis komersial. Ia tidak pernah mempedulikan konsekuensi melalalikan banyak pasal dalam kontrak kerjanya dengan agen penerbit yang juga sahabatnya sendiri.

Tak heran stereotipe saya mengenai penulis adalah sosok yang demikian, Apalagi setelah saya bertemu dengan seorang teman yang sebelumnya bekerja sebagai penulis buku dan editor d sebuah penerbitan. Kepribadiannya ganjil. Tidak lazim dan amat labil. Saya sebagai teman tidak pernahd apat menebak jalan pikirannya. Kadang ia blak-blakan tetapi kadang ia juga begitu penuh rahasia. Mungkin karena itulah, ia menutup blognya dari jangkauan mesin pencari dan semua orang yang ia kenal. Di blog pribadinya itu, ia menulis dengan sangat liar, impulsif. Semua hal yang pernah terlintas dalam benaknya mungkin tertuang di sana. Seperti buku harian, tetapi ini lebih berat, lebih gelap dan lebih intens. Di satu sisi,  begitu cerah dan di sisi lain sangat mengerikan karena mempertontonkan pada pembaca bagaimana ia menelanjangi dirinya sendiri, perasaannya, pemikirannya, mengenai hampir semua hal yang ia alami, ia tangkap di sekitar.

Jika saya mencermati diri saya sendiri, saya juga lebih menganggap diri saya sebagai penulis introverted. Dalam bekerja, saya lebih suka mengurung diri, Terdengar agak anti sosial mungkin tetapi itulah bagaimana saya merasa dapat bekerja dengan lebih maksimal dan efisien serta menghayati pesan yang hendak saya sampaikan ke pembaca.

Saya pernah diinterviu untuk sebuah posisi kurator konten, yang di dalamnya melibatkan pekerjaan menulis konten. Dan saat ditanya, saya kemukakan preferensi saya bekerja, bahwa saya lebih suka bekerja dalam kondisi sendiri, tak bersama orang lain dalam satu ruangan. Rupanya hal itu tidak membuat mereka berpikir saya orang yang tepat. Saya menduga mereka lebih suka orang yang berkepribadian terbuka. Namun, bukan masalah introverted atau extroverted sebetulnya, saya pikir inilah cara saya untuk benar-benar konsentrasi dalam menulis. Saya ditanya bagaimana jika saya harus berhubungan dengan teman kerja saat menulis. Tentu saja saya mau untuk bekerjasama dengan siapapun asal itu berhubungan dengan tulisan saya tetapi jika tidak kenapa saya harus? Keinginan saya untuk dapat berkonsentrasi penuh dalam proses kreatif menulis tampak diartikan sebagai ketidakmampuan bekerja dalam sebuah tim. Tentu saja saya mau dan bisa bekerja dalam tim, tetapi apakah semua pekerjaan bisa diseleseaikan dalam kerjasama tim? Saya meragukan itu.

Pernah teman kerja saya bertanya pada saaya saat saya pernah harus bekerja menerjemahkan secara marathon (saya pikir menerjemahkan juga membutuhkan kondisi yang sama dalam pengerjaannya). Ia bertanya mengapa saya tidak bekerja di meja saya dan lebih suka di ruangan lain yang kosong, tidak ada orang lain di dalamnya kecuali saya.

Saya berkata bahwa saya tidak ingin ada gangguan. Lalu ia berseloroh, “ Jadi kami ini gangguan?” Ia menyindir karena perkataan saya seolah mencap semua teman kerja di sekitar saya sebagai ‘distraction’. Namun, memang demikian adanya. Saya harus jujur bahwa setiap dan semua hal memiliki potensi mengganggu bahkan pikiran-pikiran di dalam benak yang membuat fokus saya teralihkan.

Jadi saya sungguh yakin bahwa saat menulis adalah sebuah momen intim yang jangan sampai diganggu. Itulah saat yang sakral bagi seorang penulis. Dan jika berada dalam puncak gairah menulis, seorang penulis bisa dikatakan seperti seekor ayam betina yang berada di sarangnya, atau seperti seekor ular betina yang hendak bertelur. Mereka sangat peka terhadap berbagai perubahan kondisi sekitar sehingga sedikit perubahan halus pun bisa terdeteksi dan memecah konsentrasi mereka dalam menunaikan tugas mulia meneruskan garis keturunan spesiesnya. Tidak heran hewan-hewan ini dapat berubah ganas dan agresif begitu diganggu. Saya pikir seperti itulah para penulis bekerja. Mereka seperti seekor ayam yang perlu sebuah sarang yang hangat, aman dan nyaman jauh dari gangguan sesama ayam, apalagi predator.

Semua asumsi saya tersebut di atas rasanya mentah begitu saya melihat Andi Gunawan yang muncul di layar kaca dalam acara Standup Comedy Edisi Penulis. Semua teori saya menjadi buyar. Penulis ternyata bukan hanya mereka yang ‘brooding’, suka berkontemplasi, penyendiri tetapi juga mereka yang suka bersosialisasi, terbuka dan berbakat menjadi komedian dan pesohor di panggung.

Tidak ada yang salah pastinya. Penulis yang introverted tidak lebih baik atau lebih buruk dari yang extroverted. Dan menurut saya inilah yang menunjukkan luasnya cakupan dunia kepenulisan. Anda tidak perlu menjadi satu orang dengan tipe kepribadian tertentu dengan kepakaran tertentu untuk menjadi penulis. Semua yang memiliki pesan yang ingin disampaikan pada orang lain bisa menjadi penulis, meski tingkatannya sangat bervariasi. Mungkin masih ada yang sebatas menjadi penulis status Facebook tetapi juga sudah ada yang mampu menafkahi diri dan keluartga dari profesi penulis. Semuanya penulis tanpa kecuali. Dan apakah mereka penulis yang baik, buruk atau sedang-sedang saja, itu juga urusan selanjutnya. Yang penting adalah manfaat yang diberikan pada pembaca. jika pembaca merasa kehidupannya menjadi lebih baik, lebih berkualitas dan bermakna setelah membaca satu karya dalam bentuk tertulis apapun, bisa jadi itulah puncak prestasi seorang penulis. Bagaimana dengan pendapat Anda?

1 Comment

Filed under writing

One response to “Penulis Tak Perlu Serius dan Introverted

  1. anna

    ulasan yg sgt menarik. saya juga suka mnyendiri utk mendapatkan konsentrasi yg penuh saat menulis atau mengerjakan tugas2 kuliah. krn saya merasa lebih total & cepat dlm menyelesaikan pekerjaan tsb. namun jika diperlukan, saya juga bisa bekerjasama dengan baik. justru teman saya yg sgt extrovert kurang bisa bekerjasama krn dia sgt egois (menurut teman2 kami). menurut anda, slain di dunia menulis, pekerjaan apa yg cocok utk org tipe seperti ini?
    ohya, kebanyakan org mengatakan org yg suka menarik diri dari lingkungan sosial sebagai antisosial. padahal antisosial itu orang yg sk melakukan tindakan kriminal/merugikan banyak orang. sedangkan org yg suka menarik diri dari lingkungan sosial lebih tepat dikatakn sebagai phobia sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s