Februari nan Sibuk

Ah, makin jarang blogging. Itu artinya saya makin jarang menemukan waktu santai. Entah apakah saya harus gembira atau sedih dengan kesibukan yang makin membubung ini. Belum sempat pulang ke rumah sejak 6 bulan lalu. Waktu yang paling lama sepanjang saya tinggal di ibukota.

Tetapi saya bersyukur karena semua kesibukan ini adalah pilihan saya sendiri, kesibukan yang saya pilih tanpa paksaan orang lain. Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya harus menjalani semua ini jika bukan dari keinginan dari diri sendiri.

Di akhir bulan Januari yang lalu saya memulai Teacher Training Yoga di Indonesia Yoga School. Satu modul sudah terlampaui, dan masih ada 3 modul tersisa. Sungguh perjuangan yang masih panjang. Mencari waktu sela untuk libur dan mengikutinya hingga tuntas sungguh bukan hal yang mudah. Pengalaman dan pengetahuan serta pertemanan baru masuk dalam kehidupan saya bak air bah. Saya kewalahan. Benar-benar tenggelam dalam banjir pengetahuan. Bukan hal yang buruk memang tetapi ini menimbulkan stres tersendiri bagi saya yang lebih suka menjalani proses dengan perlahan. Tetapi itulah hidup, kita tidak bisa mengendalikan kecepatannya. Kita-lah yang harus beradaptasi dengan kecepatan kehidupan ini bergulir.

Pada waktu hari kerja saya masih bekerja sebagai pekerja kantoran yang sebenarnya gabungan dari beberapa profesi. Saya kadang meliput, menulis, mewawancarai, kadang bekerja sebagai admin social media. Di samping semua itu, kadang  saya juga mengajar di akhir minggu. Saya masih menjalani pekerjaan mengajar paruh waktu karena untuk menjadi pengajar sepenuhnya di suatu instansi, saya tidak sanggup secara mental dan psikologis. Menaati serangkaian birokrasi khas kampus dan menjadi sosok panutan bagi mereka yang saya ajar  bukan pekerjaan yang mudah. Ini sangat melelahkan.

Pertengahan bulan ini saya juga diajak melanglang buana ke negeri jiran Singapura dan Malaysia untuk sekadar menikmati pengalaman menjadi backpacker. Sangat menantang, dan ini membawa tekanan tersendiri karena saya lagi-lagi harus menyiasati kesibukan sebagai pekerja kantoran yang harus mengantongi ijin atasan untuk melangkahkan kaki keluar kantor. Ada peraturan di sini dan saya harus menaatinya. Dan meski sudah tinggal 10 hari lagi, saya masih belum menetapkan jadwal semuanya. Rasa-rasanya saya tidak sanggup mengikuti perjalanan yang begitu singkat persiapannya. Ini mengerikan! Ibarat hendak terjun bebas dari pesawat 5 menit lagi tetapi masih kebingungan memakai parasut. Di saat seperti ini, saya hanya bisa merapal doa agar semuanya lancar.  Semoga demikian. Amin.

Sementara masih berkutat dengan pekerjaan di akhir minggu ini, saya terus memikirkan pekerjaan rumah dari pelatihan yoga dan persiapan perjalanan ini, termasuk pengaturan jadwal pertemuan karena saya perlu menemui orang sebagai narasumber tulisan saya. Selalu terpikir untuk mundur saja dan memilih salah satu agar lebih fokus karena saya lebih suka “single-tasking”. Multi-tasking membuat pikiran saya terus gelisah mencari apa yang belum selesai dan pada akhirnya akan kehilangan fokus dan mengacaukan hasil.

Meski demikian, saya selalu kadang bersyukur bahwa saya tidak sendirian di dunia ini. Saya dapat mengandalkan bantuan teman, rekan kerja dan sebagainya untuk mengurus hal-hal lain yang belum siap ini. Dan yang pasti dengan terus mengingat bahwa Tuhan yang menguasai segalanya, beban saya juga perlahan-lahan makin ringan.

Semoga Februari nan sibuk ini dapat kujalani dengan lancar tanpa kendala ya Tuhan…

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s