Merasa Bersalah dengan Jalan Pintas

If your life is too easy, something is wrong. Begitu sebuah kutipan yang pernah saya baca dan entah sejak kapan saya mulai meyakininya dalam pikiran bawah sadar saya. Berlawanan dengan pemikiran banyak orang yang menyukai jalan pintas yang lebih cepat dan mudah saya lebih suka bersusah payah menempuh jalan yang panjang dan terjal. Bahkan tak cuma itu, saya merasakan rasa bersalah jika saya harus menempuh cara yang terlalu pragmatis dan praktis. Bisa jadi itu karena saya orang yang idealis plus perfeksionis. Betulkah?
Ayah, misalnya, selalu menyuruh saya menjadi pengajar sekaligus pegawai negeri di sekitar rumah. Tetapi dasar saya anak keras kepala, makin ‘keras’ beliau menyarankan pada saya, makin keras pula tekad saya mencari jalan lain, yang notabene adalah keluar dari lingkungan yang sudah familiar selama ini. Mungkin Anda pikir saya penyuka tantangan dan benci zona nyaman tetapi sebenarnya saya lebih suka kebebasan yang ada di luar sana. Ibarat meluncur ke luar angkasa, saya lepas dari kungkungan atmosfer dan tarikan gravitasi bumi tetapi saya harus makin keras berjuang bernafas karena udara akan makin tipis dan bahkan hampa udara…
Saya juga masih ingat saat sekolah madrasah di desa sebelah yang penuh dengan murid-murid ibu yang kejam pada saya karena merasa kesal dengan ibu yang memarahi mereka. Saat itu diadakan ujian dan saya telah belajar maksimal. Saya hanya mendapatkan 80 dalam ujian pelajaran Tarikh. Bukan nilai yang buruk memang. Tetapi teman-teman mendapatkan lebih dari itu. Harga diri saya sebagai anak yang bersekolah di sekolah unggulan dan anak seorang guru pun terinjak. Yang membuat saya makin benci ialah bahwa mereka mendapatkannya dengan mencontek. Mereka menganggap saya begitu bodoh menyia-nyiakan peluang mencontek saat guru keluar sebentar. Saya sedih saya hanya dapat 80 tetapi saya juga bangga dengan kejujuran saya. Saya bangga tetapi sayangnya tidak ada yang menghargai kejujuran itu. Itulah demotivasi terbesar sebagai seorang murid; mengetahui bahwa kerja keras Anda diabaikan begitu saja oleh lingkungan sekitar. Saya pun benci sekolah ini. Bukan salah saya bukan?
Kemudian di kelas terakhir sekolah menengah pertama, saya sadari saya begitu kepayahan mengejar prestasi. Saya menduduki peringkat kedua terakhir di kelas dan rasanya tak ada yang lebih berat dari kenyataan bahwa hasil belajar saya yang paling maksimal pun tak mengangkat posisi saya di kelas. Saya duduk di depan, saya lumayan jarang mencontek. Mungkin karena saya sok suci itulah, saya tersingkir dan secara resmi menjadi penghuni kasta pariah di kelas.  I felt like I never did belong to the entire class. Saya merasa seperti satu potongan puzzle yang salah tempat. Tidak diterima di mana-mana. Tidak cocok saat direkatkan ke manapun. Dan baru saja kemarin saya ngobrol santai di Whatssap dengan teman-teman saya itu. Semua kenangan itu pun terkuak dan saat mereka membahas bagaimana siapa mencontek dan diconteki siapa, saya tiba-tiba menjadi bangga.  At least, I managed to survive on MY OWN, on the path I really believed in!

Posted from WordPress for Android

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s