Mengajar Itu Mulia Tetapi Bukan Jalan Saya

Ok. Saya sudah merasa kesal sebenarnya dengan hal satu ini. Yang saya maksud di sini adalah mengajar sebagai dosen atau guru di lembaga tertentu yang terikat aturan, birokrasi dan tetek bengek yang membuat saya berpikir 1000 kali sebelum menetapkan hati terus megajar. Semakin saya mengajar di lingkungan formal seperti ini, semakin saya sadari betapa tidak sesuainya pekerjaan ini dengan kepribadian dan karakter saya.

Jujur saya sudah mempertimbangkan masak-masak untuk mengakhiri pekerjaan sampingan ini. Makin dirasakan, makin tidak sesuai kata hati (baca: idealisme). Tanpa merendahkan rasa hormat pada Anda semua yang bekerja sebagai guru (termasuk kedua orang tua saya, salah satu adik saya, para paman, dan bibi, semua guru dan dosen saya selama ini), mengajar memang profesi yang amat mulia tetapi mengajar apalagi di sebuah lembaga dengan berbagai aturan main, ekspektasi, tuntutan, dan kepentingan, saya merasa tidak bisa mengaktualisasikan diri dengan maksimal. Saya merasa cepat lelah, tidak termotivasi, bahkan cenderung stress saat mengajar (apalagi saat harus mengoreksi lembar jawaban ujian yang sering membuat frustrasi).

Dan malam ini rasa-rasanya saya sudah tidak sanggup lagi. Seorang mantan mahasiswi yang saya ajar di semester ganjil tahun 2008 mengajak saya chat di Facebook dan berceletuk bahwa ia dan teman-temannya yang mendapat nilai jelek di mata kuliah saya masih “memendan dendam”. Sontak saya terkejut. Setelah lebih dari 4 tahun dan semua sudah lewat, ia baru berani mengatakan itu.

Dan saya pun berpikir berapa banyak mantan mahasiswa dan mahasiswi saya lainnya yang juga memiliki perasaan yang demikian hanya karena mendapatkan nilai buruk di mata kuliah saya?

Ia berkeluh kesah bagaimana ia membenci saya karena berpikir bahwa nilai itu karena mereka tidak dekat dengan saya saat itu atau karena saya memiliki rasa tidak suka secara personal. Intinya, saya seolah menilai dengan berdasarkan kriteria yang tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka pikir saya menilai hanya dengan perasaan, emosi.

Lalu saya kembali bertanya,  “Apakah itu potret pendidikan kita saat ini? Menilai dengan hanya menggunakan rasa suka atau tidak suka, berdasarkan derajat kedekatan dengan mahasiswa/i tertentu? Mengapa nilai selalu dikaitkan dengan pendapat personal yang subjektif? Betulkah saya menjadi bagian dari semua ketidakadilan yang saya begitu benci hingga ke ubun-ubun?” Ada seribu pertanyaan lagi yang mungkin bisa saya gali dari dendam kesumat dan ketidakpuasan masa lalu mantan mahasiswi saya itu.

Sebagai informasi saja, mata kuliah yang saya ajarkan itu adalah Speaking 1, yang tentu saja mengharuskan mereka untuk berbicara banyak. Bagaimana saya bisa membenarkan diri saya memberikan nilai yang bagus dan memuaskan pada mereka saat saya menyaksikan mereka hanya berbicara sepatah dua patah kata, dan saat saya suruh mengemukakan pendapat dan waktu untuk berbicara, justru malah malu-malu dan bersembunyi di belakang punggung teman, atau menoleh ke kanan dan ke kiri mencari bantuan terus menerus untuk bertanya ini itu?

Begitu muaknya saya, hingga saya berpikir bahwa memang tidak ada yang bisa memahami kemuakan mengalami dilema seperti itu. Dilema ini hanya bisa dirasakan seorang guru/ dosen/ pengajar dalam institusi. Dilema ini tentu tipis kemungkinan dihadapi oleh seorang guru yoga (jikalau kelak memang saya menjadi guru yoga). Karenanya saya melepaskan kewajiban menghakimi orang lain seperti yang harus dilakukan guru di institusi kebanyakan.

Dalam pekerjaan guru atau dosen, saya sangat lelah dengan benturan aspek pragmatis praktis versus idealis, serta moral plus integritas. Ini bukan panggilan hidup saya!

Dan dengan demikian, ini bukan pertarungan yang bisa saya pilih untuk saya menangkan. Sudah cukup saya melihat orang tua saya menjadi pengajar sejak saya anak-anak. Saya ingin mengetahui dunia lain di luar tembok bata sekolah dan jeruji gerbang yang menjulang. Cukup. Saya sudah yakinkan diri, cukup!

Bisa jadi inilah 1 konsekuensi lain dari terlalu familiarnya seseorang dengan sesuatu. Familiarity breeds contempt, kata orang Inggris. Ia bisa mencintainya dengan sangat karena menemukan keindahan di dalamnya atau memutuskan untuk meninggalkan karena telah mengetahui sisi suramnya. Dalam kasus saya, konsekuensi kedualah yang muncul.

Hipotesis saya sendiri tentang ketidaknyamanan ini adalah bentuk kekecewaan bawah sadar saya terhadap pesan yang tidak konsisten yang saya terima antara ucapan dan perbuatan. Saya kecewa karena saat saya tidak bisa mengerjakan ujian matematika saat dulu di sekolah dasar saya malah diberikan soal bocoran. Saya kecewa karena saya diajari untuk menipu diri, dan itulah bagian dari diri saya sekarang, pandai menipu diri. Saya kecewa karena sebagian orang-orang dewasa yang bekerja sebagai guru gagal menunjukkan keteladanannya. Saya pun bertekad secara tidak sadar untuk tidak jatuh di lubang yang sama. Cukup mereka saja. Saya akan mencari jalan dan jika memang harus terjatuh, saya juga akan terjatuh di lubang yang berbeda.

1 Comment

Filed under writing

One response to “Mengajar Itu Mulia Tetapi Bukan Jalan Saya

  1. sandy

    Iya! Apalagi klo mhsiswa/i nya blm siap ketika masuk kelas. So tragic!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s