Bukan “The Hard Truth on How to Keep Indonesia Mediocre”

English: Susilo Bambang Yudhoyono, president o...

Susilo Bambang Yudhoyono, president of Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Jujur, awalnya saya mau memberikan judul “The Hard Truth on How to Keep Indonesia Mediocre” pada tulisan ini. Anda boleh setuju, atau tidak. Baca saja sampai habis, baru berpendapat.

Percakapan politik makin santer saja akhir-akhir ini. Dan saya bukan tipe orang yang suka berbincang tentang politik, apalagi politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden seperti sekarang.

Bukan, saya bukan anti politik. Tetapi saya lebih menyukai politik yang ‘santun’ (meski definisi santun sangat kabur di sini). Politik selalu kotor, tak peduli di mana pun itu dan kapan pun. Itu fakta yang harus kita terima dan memang kita tak berdaya mengubahnya. Tak ada namanya politik bersih di muka bumi. Masa bodoh lah tentang kotor tidaknya politik, atau santun tidaknya politik kita, karena itu urusan para politisi. Saya tak mau ikut campur. Terserah mereka.

Namun, sekotor-kotornya politik itu, jangan sampai mencegah dan menghambat rakyat banyak untuk mendapatkan hak-hak mereka. Seorang politisi bolehlah mau beristri sebanyak apapun, menumpuk harta, asal semua itu bukan dari hasil korupsi, kolusi dan nepotisme, dan dia sadar kalau tugasnya gagal, ia harus mundur. Dan satu lagi yang paling penting, ia harus bisa memisahkan tugas negara sebagai negarawan dan tugas partai politik sebagai politisi. Semua boleh saja, asal tahu konteks dan prioritas.

Sebagai pemilih saya juga termasuk swing voter yang apatis. Saya terus terang memilih Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan kemarin, dan melihat apa yang terjadi sekarang, saya mempertimbangkan dengan bijak untuk mengambil sikap netral saja nanti. Golongan putih mungkin yang terbaik karena memilih yang terbaik itu tidak masuk akal. Lebih masuk akal untuk mengatakan pemilih harus memilih mana yang lebih ‘parah’ dari semua yang parah. Ya, ketidakpercayaan saya memang separah itu.

 

The same old song alias lagu lama

Mendengar pembicaraan di sana-sini tentang Pilpres 2014, gelagat pola yang sama akan terulang kembali memang sudah terbaca jelas. Amerika Serikat dan sekutu terdekatnya di Asia Tenggara Singapura masih akan menjadi pihak yang amat menentukan presiden negeri boneka ini. Terkejut? Tidak. Karena jika negeri ini mau memberontak dan keluar dari pola nyaman yang ada, risikonya memang tinggi. Dan itulah ‘kepribadian’ Indonesia bukan? Santai dan manja, sangat menikmati hidup di tengah limpahan sumber daya alam dan manusia.

Konsolidasi politik terus menggeliat. Prabowo tampaknya akan menjadi bintang baru (dari asal yang masih juga sama: Cendana). Tak hanya berkampanye di baliho di berbagai daerah, ia juga tampil sangat sering di Facebook, televisi, dan sebagainya. Bahkan saya temukan TKI di Hongkong yang dengan bangga mengenakan kaos Gerindra. Sayangnya, kekurangan Prabowo ialah kehidupan keluarganya yang kurang mendukung. Status duda bisa menjadi batu sandungan tersendiri.

Kalau mau protes, kita bisa saja ingin keluar dan berdaulat sendiri dalam perhelatan politik bangsa ini, tetapi persoalan riilnya ialah orang Indonesia terutama yang memilih nanti adalah mereka yang memiliki memory span yang pendek. Daya tampung ingatan mereka tak cukup besar untuk mengingat dosa-dosa politik kandidat yang ada. Orang-orang muda Generasi Y seperti saya misalnya mungkin tidak demikian tetapi bagi pemilih generasi baby boomers yang mengalami jaman keemasan Suharto dan Orde Baru-nya, timbul semacam perasaan nostalgik tersendiri dan kerinduan yang mendalam untuk kembali. Bukan karena apatisme atau pesimisme, tetapi karena perubahan menuju yang lebih baik itu pun belum tentu yang mereka harapkan, dan karena mereka harus berkorban meninggalkan zona nyaman dan tradisi lama yang sukar diubah karena begitu kuatnya mengajar dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Itulah ambiguitas orang Indonesia, berkata ingin maju tetapi tidak mau berubah dan mengubah diri dan orang-orang sekitarnya. Hipokrit? Mungkin saya juga salah satunya.

Indonesia memang sudah ‘didesain’ sedemikian rupa untuk tetap menjadi negara terbelakang, begitu kata seorang rekan. Ya, bukan pernyataan yang menggemparkan memang. Sudah rahasia umum bahwa seorang presiden di negeri ini harus orang yang beragama Islam dan berasal dari suku Jawa. “Kalau bukan orang Jawa dan muslim, jangan mimpi jadi presiden,”  katanya dengan nada menampar.

Nama Gita Wiryawan dan Dahlan Iskan juga muncul. Gita, seperti kita ketahui dari latar belakang pendidikannya, sudah tak perlu diragukan lagi akan direstui AS. Dahlan mungkin akan menjadi kuda hitam yang bertugas membuat pilpres bertambah seru, atau mungkin bisa melejit menjadi pemenang. Sangat prematur untuk membuat prediksi seperti itu.

 

Kebangkitan social media

Pengamat lain mengklaim kecerdasan para pemilih makin tinggi nanti. Dan social media atau jejaring sosial akan menjadi saluran baru untuk meraup simpati pemilih. Di pilpres yang lalu (2009), social media di Indonesia memang belum begitu marak dalam bidang politik meskipun dalam tahun yang sama Facebook mulai merebut hati pengguna Friendster yang mulai kehilangan pesona. Saya masih ingat bahwa di tahun 2009 juga, saya membuat akun Facebook saya dan mulai secara aktif berjejaring di sana melalui ponsel. Sementara Twitter masih belum banyak dilirik politisi. Mungkin karena Twitter harus menggunakan bahasa yang ringkas dan padat (140 karakter) sementara Facebook tidak. Tentu kurang cocok untuk politisi Indonesia yang terkenal suka berpanjang-panjang kata dalam berucap di depan publik. Twitter kurang mengakomodasi ‘hobi’ membual mereka.

Namun demikian, social media diprediksi hanya akan efektif untuk daerah pemilihan yang warga dan infrastruktur teknologi informasinya sudah maju seperti DKI Jakarta. Tentu kita masih ingat bagaimana pertarungan sengit Jokowi dan Ahok yang menggunakan social media dengan kubu incumbent yang menggunakan media konvensional. Jokowi-Ahok menang. Masih diragukan apakah social media juga akan bekerja memihak mereka yang lebih unggul menggunakan jejaring sosial dan web secara umum untuk berinteraksi dengan para konstituen tanpa halangan birokrasi yang berarti.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s