Gardens by the Bay: Keindahan Alam Artifisial ala Singapura

Mengunjungi “Gardens by the Bay”, kata seorang teman, sama saja mengunjungi tempat-tempat wisata alam di tanah air.  Punya kita bahkan lebih alami dan menakjubkan! Saya terkekeh mendengar kelakarnya yang memang ada benarnya juga. Lihat saja, di bagian depan kami sudah disambut beragam jenis tanaman yang ditanam di hamparan tanah yang sebenarnya beberapa tahun sebelumnya hanyalah pantai yang kemudian direklamasi dengan tanah (yang diduga keras berasal dari Indonesia). Semua tanaman ini mungkin bisa dijumpai di tanah air kita, bahkan kita lebih kaya lagi karena semua itu tercipta dengan alami membentuk ekosistem yang di dalamnya dilengkapi fauna-fauna khas yang Singapura hanya bisa impor. Tapi kita tak perlu mengimpor, hanya merawatnya.

Itulah perbedaan Indonesia dan Singapura. Indonesia yang sudah berlimpah ruah sumber daya dan potensi alamnya menganggap enteng karunia yang diberikan dan bersikap  masa bodoh, bahkan lebih banyak merusaknya sendiri untuk kepentingan jangka pendek. Sementara Singapura yang menyadari kekurangannya terus memperbaiki diri semaksimal mungkin dan merawat karunia yang lebih sedikit itu dengan lebih bijak dan hati-hati, serta lebih tergerak untuk berbuat lebih baik, lebih segala-galanya dari Indonesia yang kaya raya ini.

“Discover a world of wonders at Bay South Garden”, begitu tulisan dengan fontasi indah dan artistik di brosur yang saya ambil di pintu depan. Pengunjung disediakan sarana angkutan mirip mini shuttle bus Taman Mini Indonesia Indah untuk mengelilingi taman dengan lebih hemat tenaga. Maklum, hari itu suhunya cukup tinggi dan pepohonan di taman raya ini belum serindang pepohonan kuno di Kebun Raya Bogor yang sudah menjulang puluhan meter.

Setelah mobil dijalankan, penjelasan tentang semua bagian taman pun keluar dari rekaman yang diputar secara otomatis oleh si petugas. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mengelilingi taman ini dengan mobil tersebut. Bisa dikatakan sangat kecil. Bandingkan jika kita mengelilingi Kebun Raya Bogor! Tak akan cukup waktu 15 menit itu untuk menerangkan semua isinya.
image

Hanya saja, Singapura memang profesional sekali dalam mengelola semua tempat wisatanya, termasuk Gardens by the Bay ini.  Semuanya bersih, rapi, terorganisir baik. Rekaman yang diputar pun bukan sembarang rekaman karena suaranya adalah suara pria yang mantap dan jelas dengan aksen Inggris Raya dan pengucapannya yang sempurna. Sesuai standar RP alias Received Pronunciation (Pengucapan yang Berterima) yang berlaku secara resmi di negeri ratu Elizabeth ke II. Semua papan penunjuk arah dan keterangan pun dicetak dalam 4 bahasa yang mewakili masing-masing ras yang dominan di sana: China, Melayu, Tamil, dan Kaukasia (Barat).

Taman ini menjadi tempat tumbuh berbagai jenis tanaman yang diklaim berasal dari 4 penjuru dunia, kecuali Antartika yang beku. Di bagian awal perjalanan, disuguhkan Heritage Gardens yang tak terlihat begitu menarik karena hanya menunjukkan bagaimana  tanaman memainkan peran dalam kehidupan dan budaya kelompok etnis utama di negeri singa ini. Ada taman khas Melayu, China, Tamil, dan Barat.

Di konservatorium raksasa, pengunjung bisa mengamati spesies langka nan eksotis. Ada juga taman vertikal alias Supertrees yang menjulang seperti pohon raksasa. Taman vertikal ini berupa bangunan mirip pohon yang di seluruh permukaannya tertutup pot tanaman, dan kita bisa menikmati pemandangan dari ketinggian 22 meter di OCBC Skyway. Di malam hari, Supertrees siap unjuk kebolehan dengan pertunjukan suara dan cahaya yang dilakukan rutin tiap jam 7.45 dan 8.45 malam. Semua suara dan  cahaya itu ditenagai oleh tenaga surya yang dikumpulkan Supertrees sepanjang pagi, siang dan sore hari.

Lain lagi di Flower Dome, yang memamerkan pohon zaitun berusia ribuan tahun dan pohon baobab yang bagi saya terlihat seperti botol dari kejauhan dengan dedaunan mirip kapuk.

Yang menarik ialah pengelola taman menyediakan akses gratis ke taman yang ada di sisi luar Bay South tetapi saat masuk ke Cooled Conservatories (semacam rumah kaca luar biasa besar dengan bentuk seperti pastel) dan OCBC Skyway, pengunjung baru dipungut bayaran.  Pemerintah Singapura dan pengelola memahami bahwa warga Singapura tanpa kenal status ekonomi juga memerlukan ruang terbuka hijau untuk menikmati hidup, sekadar menghirup udara segar dan berjalan-jalan santai di akhir minggu. Sebuah perbedaan yang cukup signifikan karena di Kebun Raya Bogor atau Ragunan misalnya, mana bisa kita masuk gratis kecuali menggelar tikar di halaman depan yang penuh orang mengantri? Bukan ingin menghakimi bangsa sendiri tetapi bagaimana bisa Singapura yang penduduknya sudah berpendapatan lebih tinggi saja masih bersedia memberikan fasilitas gratis sementara kita yang jelas-jelas masih banyak yang tidak mampu malah dipungut bayaran? Ah, mungkin karena jika diperbolehkan gratis masuk, orang akan seenaknya berpesta pora dan menggunakan fasilitas dengan begitu bebas sampai puas dan tak peduli barang sedikit pun saat fasilitas rusak atau sampah teronggok setelah kedatangan mereka. Bisa jadi rakyat juga harus memperbaiki diri dulu sebelum berharap banyak pada pemerintah mereka.

Teman saya tadi masih masygul dan bernada sinis mengucapkan, “Muak juga kalau dengar ada orang memuji-muji Singapura terus. Padahal sebenarnya Singapura yang layak dikasihani lho.  Air terjun dan taman buatan kayak gini aja dijual. Di kita mah banyak.” Saya tersenyum simpul setengah mengiyakan.

Akan tetapi dalam hati saya setengah lagi menyangkal, “Benar, kasihan Singapura… tetapi lebih kasihan lagi Indonesia.”

Leave a comment

Filed under environment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s