Tolok Ukur atau Tolak Ukur?

Seseorang bertanya, bukan kepada saya, tetapi dengan menanyakan validitas judul yang saya pakai hari ini dalam sebuah artikel yang saya unggah. “Tolok ukur” adalah frase yang saya gunakan untuk merujuk pada metrics yang digunakan sebagai pengukur kinerja sebuah kegiatan. Sementara si penanya itu menyangkal, bahwa “tolak ukur” adalah frase yang tepat.

Sempat saya ragu, tetapi kemudian saya kembali dengan bukti. Inilah salah satunya : http://www.kamusbesar.com/59017/tolok-ukur. Dan tautan laman web lain juga mendukung penggunaan frase saya: http://andixjelek.blogspot.com/2011/03/tolak-ukur-atau-tolok.html. Tolak, yang berarti “pendorong”, kurang tepat di konteks ini karena di kalimat ini dibutuhkan makna “sesuatu yang berguna sebagai pembanding”.

Satu artikel (http://arif.widarto.net/2010/10/tolok-ukur-atau-tolak-ukur-penggunaan.html) bahkan menekankan keprihatinan atas kesalahan dalam penggunaan ini. Lebih banyak orang yang menggunakan “tolak ukur” padahal yang lebih tepat adalah “tolok ukur”. Dan banyak pengguna bahasa Indonesia kurang memahami ini yang diperparah dengan sebuah kesalahan yang justru dianggap dan diterima sebagai sebuah kelaziman dan akhirnya kebenaran.

Jadi, saya tidak salah bukan?

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.