Ritual dalam Menulis

Ritual dalam menulis begitu bervariasi. Ada orang yang suka menulis dengan buku tulis yang dicoret-coret sedemikian kacaunya hingga hanya ia yang bisa mencerna apa yang dituangkan di sana. Ada pula sebagian penulis yang menyukai untuk hanya menggunakan media elektronik sepetti ponsel pintar dan laptop untuk mencatat ide-idenya. Misalnya penulis “Fifty Shades of Grey”, E. L. James, yang mengakui bahwa ia menulis sebagian naskah awal novelnya itu dalam perangkat Blackberry yang ia pegang selama perjalanan ke dan dari kantor tempatnya bekerja.

Saya sendiri memiliki ritual menulis itu. Tak begitu eksentrik atau aneh. Saya hanya menghendaki sebuah lingkungan yang tenang untuk bisa bekerja maksimal dan dapat memusatkan pikiran saya dalam menulis. Kadang saya ingin mengunjungi perpustakaan terdekat (sayang saya belum menjadi anggota) seperti apa yang suka dilakukan oleh penulis kenamaan Elizabeth Gilbert yang dikenal dengan novel  bertema perenungan dirinya yang fenomenal “Eat Pray Love”.

Bagian dari ritual lainnya yang saya miliki ialah melihat pepohonan hijau di sela-sela menulis, entah rasanya merasa menjadi lebih kreatif saat memandang sesuatu yang berwarna hijau di depan mata. Bisa jadi itu hanya sugesti karena saya mengetahuinya dari sbeuah tulisan bahwa memandang warna hijau membuat orang lebih kreatif berkarya.  Tetapi memang ada benarnya. Saya suka melebur dengan alam sekitar, yang masib murni, tanpa terlalu banyak manusia di dalamnya.

Kalau saya menulis, penting juga untuk mendapatkan kesan lega. Karenanya saya suka menghadapkan meja tulis saya ke arah jendela saat mengetik atau mencoretkan ide di buku tulis. Dari meja tulis di kamar saya bisa memandang lepas saat penat di mata menjadi-jadi. Saya memang hanya bisa memandang deretan gedung dan langit yang mulai menciut karena gedung tingginya mulai terlalu banyak tetapi ini toh masih lebih baik daripada harus terkurung dalam kamar kos yang sempit dan tanpa jendela. Meski ruang sempit itu memang harus diterima apa adanya, setidaknya saya masih bisa melihat ke luar jendela. Ruang yang luas dan tanpa batas. Terutama langitnya. Saya selalu kagum dengan langit yang berubah-ubah. Membuat saya tak bosan-bosannya memandang. Selalu ada sesuatu yang baru di sana. Entah susunan awan, bentuk awan yang melintas, warnanya saat terkena sinar mentari senja dan pagi. Pernah suatu saat saya menyadari sinar matahari senja sangat merah, dan di hari lain sangat muram. Saya menjadi lebih sadar terhadap apa yang terjadi dengan alam sekitar. Lalu saya iseng bertanya, “Mengapa bisa cahaya matahari begitu merah petang ini dan biasa saja di hari lainnya? Adakah sesuatu yang istimewa hingga Tuhan mengijinkannya berwarna seperti itu? Warna yang abnormal…” Tidak ada jawaban pasti, dan saya juga tak terlalu peduli dengan ada tidaknya jawaban. Saya tak mau mencari di Google untuk mendapatkan jawabannya secara ilmiah karena saya tidak merasa harus. Saya hanya ingin menikmatinya  saja tanpa harus banyak berpikir. Karena saya sudah lelah di petang hari dan saya hanya menikmati apa yang disajikan alam ini pada saya. Apa salahnya sejenak berhenti berpikir?

Mengenai alat tulis dan media tulis sebagai bagian dari ritual menulis, memang ada sebagian penulis yang cukup gila dengan kebiasaan menulis yang tak lazim. Seperti seorang karakter penulis di drama korea “Coffee House” yang hanya mau menulis dengan pensil yang diraut dengan ketepatan khusus, ukuran ketajaman rautan yang pas. Kalau tidak pas, ia buang saja pensil rautan sekretarisnya itu ke tempat sampah. Saya tak segila itu karena saya juga tak sekaya itu untuk bisa membuang-buang alat tulis. Tetapi memang jenis alat tulis dan media menulis sangat berperan dalam menentukan mood menulis. Jika pulpen yang saya pakai rasanya tak enak untuk menulis, rasanya saya mau buru-buru mengakhiri saja sesi menulis saya. Seperti juga kalau menulis dengan komputer, jika komputernya suka hang tiba-tiba, mood menulis juga sedikit banyak menjadi terganggu.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s