Rumah Kami

Rumah kami ada di jalan Ksatria. Tidak seperti namanya yang gagah dan agung, jalan ini sempit untuk ukuran lalu lintas kota besar. Orang sering mengumpat, merengut dan bersumpah serapah karena semrawutnya lalu lintas. Toh kami tetap bertahan di sini.

Kata orang dulu di sini sebelum ada jalan besar ini, hanya ada rawa-rawa dan tanah pekuburan. Siapa sangka beberapa dekade kemudian daerah rawa dan makam nan sepi ini jadi pusat bisnis negara. Kami sebagai warga kulit kuning dengan bangga memandang itu sebagai bagian dari prestasi bangsa, meski kami hanya sebagai penonton. Penonton pasif yang tetap melarat di tengah deru pertumbuhan jumlah gedung pencakar langit dan jalan layang. Dan kami tetap di sini.

Jalan layang itu bertengger angkuh di depan rumah kusam kami. Tingginya dua kali lebih pucuk atap kami. Siang malam kami tak bisa tidur. Asap kendaraan yang berterbangan saat macet, bunyi klakson bus kota, dentuman backhoe yang menghunjam bumi sepanjang proses pembangunan bertahun-tahun. Tetapi kami bersikukuh, kami tidak akan tersingkir dari sini.

Rumah kami bak orang tua kerdil dekil. Rumah ini sekaligus menjadi toko. Bukan toko yang besar. Kami hanya menjual suku cadang televisi, radio, berbagai jenis peralatan listrik rumah tangga. Tak banyak pelanggan yang mampir. Bisnis kami hampir mampus, semua karena jalan layang keparat. Sejak proyek pembangunan jalan layang dimulai, tak pelak bisnis kami yang sudah kecil ini makin menyusut. Jalan memang makin ramai. Makin banyak orang lalu lalang di depan toko kami. Tapi apalah gunanya jika mereka tidak mau mampir. Setelah jalan diperlebar, kendaraan makin ramai tetapi mana mau orang mampir ke toko yang tidak memiliki lahan parkir?

Itulah nasib kami, pasangan tanpa anak penjaga toko “Sinar Bahagia” yang makin lama makin redup.

Men, Pity on Them!

Upon reading the news of mr. Bla bla from Barbados who happened to be living more than 110 years this morning, I realized how lucky he was. Not many men (I meant creatures with testicles by the word ‘men’) on modern age lived that long. Mostly don’t.

As I remember my high school years, what we students learned in biology textbooks about human reproduction system proved to be virtually true. The male students developed slower and latter; whereas, the female counterparts were a lot faster. And the growth was not only in terms of physical aspect but also psychological and mental aspect. With that slower pace of maturity, how can men also die faster at average?

This is not some groundless, non-sensical assumption. Empirically speaking, I drew this conclusion from my surroundings. My paternal grandfather died when my father was only 12 or 13. In other words, there was no chance I encountered him in any way, listened to his voice, grasped his palms, or even a short session of flying a kite together under the sunlight.

He died of some disease, tubercolosis, or fever, my grandmother obscurely explained. They couldn’t afford going to doctor anyway. Poverty strangled this young couple, with all 6 sons to feed every single day.

On the other hand, my maternal grandfather died in 2005. That was when I was about to graduate from my undergraduate campus in Semarang. I recall being at the hospital near his bed, calculating my grade point average after 4 years of academic struggle only to find myself in faint disappointment. My GPA was no closer to 3.50. Bid farewell to valedictorian speech. Someone had taken the position. Who cared? My grandfather just died several months on the graduation day that same year. Poor him he could not see me suffering from the harsh overly competitive job market of the twentieth century.

His death was too soon to me. He was a former heavy smoker, which means I partially blamed his death on the tobacco and cigarette industry. I know that sounds as foolish as it might be but that is the seemingly most legitimate reason to pick.
One fact I know for certain is both of my grandmothers still breathe today. My paternal grandmother will go to Mecca this year and she is fine for people as old as 70, aside from her scoliosis-ridden spine. My maternal one seems to be enjoying her life in the cool breezy mountainous ridge of Temanggung. Sadly, both are not as socially and professionally productive as they were. When I am at their age someday, I still expect myself to be actively involved in things I am interested in during my younger days so every day brings different nuance, and thus novel challenges (which means brain stimulation to halt the aging process).

“What’s the point you’re trying to make?”I ask myself. My point is to throw a question on why the testicles and testosteron can shorten men’s life span. What is the lesson God wants us to learn from this? Why should men develop later and die faster? As unfair as it may seem, but alas, what can you and I do about it??! Does it convey the message that men are not that strong? That they must not that proud when women at their age are already menopause-ridden and still they can experience a relatively hard ‘boner’, while claiming themselves “lelanange jagat” (Javanese term meaning the most attractive, robust man in the universe) ???

On The Best Escape in Life

Escaping from the daily grind and bitter realities by means of literature sounds like the best option of all. There is some romanticism in literary works we read that simplify, deepen or beautify (whatever verbs we deem apt here) the unwanted circumstances in real life.

Literary writing or even writing in broad sense serves as the best tool to purge our filthy, calm our troubled mind and broaden the life experience which otherwise we are not aware of without reading or observing.

The escapist function of literature proves true when I saw JK Rowling proudly declaring during an interview. She stated that she would have gone mad or helplessly clinically depressed for good unless there was no literary outlet that assisted her throughout the tumultous phase of her life in general.

It rang true as I remember part of my classes in English Literature department years ago, when it was said that literature helps humans flee the hard life they are currently facing. Really, there is nothing better than literature as an outlet to relieve the pain we suffer from in life.

3 Cara Gunakan LinkedIn untuk Tumbuhkan UMKM

Harus diakui para entrepreneur sudah banyak berkutat dengan jejaring sosial saat ini. Sejumlah UMKM sudah terjun ke Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian sudah menuai sukses.
Sayangnya di antara sekian banyak layanan social media, belum banyak pelaku bisnis yang melirik jejaring sosial profesional yang lebih ‘serius’. Para entrepreneur bahkan yang berusia muda sekalipun cenderung belum menganggap penting LinkedIn, sebagaimana Facebook dan Twitter.
Berikut ialah rangkuman fitur-fitur LinkedIn dan cara yang dapat digunakan entrepreneur untuk memanfaatkan semuanya secara maksimal. Selamat menyimak! 1. Bangun kredibilitas instan
Fitur “endorsements” dalam LinkedIn memberikan ruang virtual berupa forum maya bagi para pengguna untuk mempromosikan dan menyarankan pada kolega, memuji prestasi pihak lain dan meminta masukan. Meski ruang diskusi ini mempromosikan referral dan mewajibkan pembuktian untuk kaum profesional umum, ia dapat menjadi alat berjejaring yang efektif sekali bagi entrepreneur muda. Saat rekomendasi diunggah, pemilik UMKM bisa dianggap lebih relevan. Status yang lebih baik. Ini akan memungkinkan naiknya kredibilitas entrepreneur dan perusahaan barunya. 2. Mengawasi pesaing dan menyebarkan prestasi bisnis Anda
Lain dari laman Facebook atau Twitter, company page di LinkedIn bisa memuat banyak informasi tentang langkah terbaru pesaing dan tren terkini dalam industri Anda. Tak lupa, Anda juga bisa gunakan laman ini sebagai sarana memamerkan pencapaian perusahaan. 3. Dapatkan kontak baru dan pembeli potensial
Fitur “who’s viewed your profile” yang ada di sisi kanan bawah halaman beranda memungkinkan Anda melacak pengguna yang baru-baru ini membaca profil Anda. Pengguna premium bisa mengetahui dengan lebih detil namun pengguna non-premium hanya bisa melihat sebagian saja. Setelah mengetahui siapa saja yang membaca, langkah selanjutnya Anda bisa mengelompokkan tiap pengguna berdasarkan konsumen potensial, karyawan potensial, pesaing atau rekanan potensial. (*Akhlis)

Mini Library, My Intellectual Sanctuary

Last year, I was asked on one occasion by Donald Frazier of Comcast (if I am not mistaken),”Have you read … (Insert a literary work almost every English major student usually reads)?” He knew I am an English graduate. Quite ashamingly, I had to confess, “I haven’t.” And that time I felt like it was a slap on my very face. “You are an English graduate and postgraduate even, but you have no idea what that book is about??” I was scolding myself.
Yes, I have to confess that my reading in the young adult times has been a lot more of academic chore, instead of an intelectual fulfillment and personal refreshment of mind and soul.
I used to read a lot as a young child. I loved reading all those thick books and ah, that history textbook one of my aunt had in which I learned the French Revolution. It was an enjoyment. It was fascinating how the words led me to the imagination of the revolution where blood was spilled, much of status quo was replaced and authorities were condemned to death, decapitation, guillotine, simply amazing. The horror, the hatred, the fear, the admiration, that was all in my head. Such a great read. I still remember that was my aunt’s high school history textbook kept for years. The paper got yellow as time passed by and I found that ‘sexy’.
That said, I came to think of that. I ought to read more (real books, not web articles I can read in one brief sitting), partly because I need to and will write as a lifetime obsession and profession. I really really want to get my first book published. So I need more and more ideas and techniques.
That is why recently I have been revitalizing and rekindling my past hobby. And this mini library is just a beginning. A sprout that I fervently wish grows bigger like my perspectives and life wisdom after I peruse every and each of the books.

Trik Cegah Penipuan Atas Nama Kartu Kredit Mandiri

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Filosofi ini selalu berlaku di mana saja, termasuk dalam bertransaksi dengan kartu kredit.
Apa pun yang kita lakukan sebagai nasabah kartu kredit perlu ditimbang secara cermat sebelumnya. Jangan impulsif. Saat kita impulsif, oknum yang tidak bertanggung jawab akan memanfaatkan itu. Tentu tidak ada seorang pun yang mau menjadi korbannya bukan?
Menurut kabar dan beberapa sumber termasuk customer service Bank Mandiri sendiri (saya kenal seorang CS Mandiri yang ternyata juga tertarik yoga dan kami mengobrol), sudah banyak kasus penipuan atas nama penawaran kartu kredit Bank Mandiri. Jangan sampai kita terkena kemalangan ini. Setelah menerima saran-saran dan pengalaman mereka, saya pikir, akan sangat berguna jika informasi ini dibagikan ke sebanyak mungkin orang. Berikut rangkuman trik pencegahan yang menurut sumber tepercaya bisa digunakan untuk mengetahui kemungkinan penipuan. Selamat menyimak!

  1. Tidak ada penawaran yang hanya diberikan via telepon, harus ada via email atau surat juga: Menurut sumber yang saya temui ini, kewaspadaan harus dimulai saat ada orang tak dikenal tiba-tiba menelpon Anda untuk menawarkan sesuatu yang tidak diberitahukan via email atau surat. Biasanya mereka sudah berkomplot. Satu akan bertindak seolah sebagai customer service kartu kredit Mandiri dan kedua akan bertindak sebagai customer service atau petugas dari perusahaan mitra yang seolah bekerjasama dengan Bank Mandiri. Misalnya saja ada orang bernama Andri yang tiba-tiba menelepon Anda yang mengaku dari Mandiri tapi nomornya saja nomor ponsel biasa. Ia tawarkan paket yang sudah aktif yang konon multi diskon untuk menginap di hotel-hotel mewah dengan biaya ringan. Jangan percaya begitu saja jika Anda kemudian ditransfer ke Siska, petugas lain yang mengaku dari perusahaan mitra yang memberi penawaran istimewa. Amati dulu nomor teleponnya, kalau mirip dengan yang pertama berarti mereka berkomplot. Wah!
  2. Jangan percaya dengan seseorang yang mengharuskan membayar uang untuk deposit di mukaYa, membayar uang simpanan atau deposit di muka atau sebelum menikmati produk atau jasanya adalah sebuah kebodohan.
  3. Amati jangka tahun penawarannya: Nah kalau kita amati dengan teliti, oknum suka menawarkan jangka waktu yang secara akal sehat tidak wajar. Penawaran fasilitas hotel bintang 5 dengan jangka waktu 10 tahun. Mustahil sekali bukan, 10 tahun!
  4. Pastikan menggesek kartu kredit di tempat yang jelas: Kata teman saya ini, selalu gesek kartu kredit di tempat atau merchant atau toko yang sudah jelas. Bukan di pedagang kaki lima yang bisa berpindah-pindah atau lebih-lebih lagi si oknum menyuruh kurir untuk membawa mesin gesek ke rumah kita. Itu pertanda dia tidak mau menampakkan diri dan identitas dan harus diwaspadai. Hmm, benar juga ya.
  5. Harus dapat barang atau layanan langsung setelah membayar saat itu juga: Ada uang, ada barang. Slogan ini memang cespleng! Jangan terbuai janji manis oknum penipu,misalnya dari PT Pacific Buana, yang menjanjikan tawaran muluk-muluk dan sifatnya memaksa dengan alasan sudah diaktifkan. Lho kita yang punya uang kok situ yang mengaktifkan?? Enak saja ya. Tidak masuk akal.
  6. Selalu telepon nomor 14000 untuk pastikan penawaran itu benar dari Mandiri atau tidak: Sebelum melakukan transaksi apapun dengan kartu kredit Mandiri untuk penawaran istimewa, pastikan hubungi 14000 dulu.
  7. Waspada ekstra, karena semua orang tahu bisa tahu nama dan kartu kredit yang Anda pakai
  8. Telanjur jadi korban? Blokir kartu kredit dengan hubungi 14000 segera.
  9. Lebih banyak bersedekah. Mungkin itu cara Tuhan ingatkan Anda!

When One Set of Surya Namaskara Seems Enough


Teaching yoga is pretty much something I never imagined before. That too explained why I am taking a teacher training this year. But at first, I would do it for myself rather than for bucks, financial stability or fame . Well, maybe I will think of that too later on but for now I need to learn for myself. So I came to a decision I will never teach anyone until I feel I am fully ready. It is a daunting mental task, I must admit. There are too many things to memorize, understand, comprehend, digest and finally apply to my daily life (if it fits my existing life philosophy). And what struck me most is that I am a commitment hater, as I always think commitment leads to dependence and dependence is related to comfort zone. I found that being fully committed to an establishment is way too much. I get sick of unconditional commitment, which to me is utter craziness. I have my own system and freedom so I will never dedicate myself entirely to one certain system throughout the rest of my life. Foolishness!
Back to the mat. I just cannot believe myself when I had the courage to simply tell my coworkers I was available for a yoga class. And this time I would not follow instructions. I would be there to teach. Yes, TEACH!
I thought I was going to kill myself after saying such a bold statement. I felt like a fraud, trying not to get caught in the act of deceiving. It is going to be literally humiliating if I fail teaching as I promised them.
And the Friday afternoon was drawing nearer and nearer. No one was aware of my being intimidated throughout the working days.
The class turned out ok. I didn’t choke up and everything was running as planned. Except one.
I overestimated my participants, as far as I can see. They were only doing some stretches, and a single set of sun salutation or surya namaskara. Having bathed in sweat or panting, my participants waved the white flag. Their faces said,” Let’s save the next sequence and asanas for the subsequent week.”
What can I do then? Even before I greeted them Namaste as farewell to close my first somewhat chaotic class, the class ended already.

Leslie Kaminoff in Jakarta: Anatomy, Warrior Series, and Better Backbends through Breathing

A lovely workshop indeed! Leslie was so witty and jovial which was good considering there were, I suppose, too many people in class.

8 Kebiasaan Aneh Penulis Terkenal

1. Cobalah menulis secara horisontal.
George Orwell, Mark Twain, Marcel Proust dikenal suka menulis dengan tangan di tempat tidurnya sembari tidur-tiduran. Posisi santai membuat ide mengalir lebih lancar. Jangan lupa dengan begini kita juga siap tidur kapan saja. Tetapi jika kita termasuk orang yang suka tertidur saat harus bekerja di tempat tidur atau bekerja dalam posisi berbaring, lakukan cara-cara lain di bawah ini.

2. Gunakan musik untuk menambah semangat.
Menulis dengan diiringi musik menjadi bagian dari ritual saya juga sehari-hari. Bahkan pilihan musik yang didengar sedikit banyak mempengaruhi suasana hati, yang pada gilirannya mendorong penulis lebih ekspresif.

3. Jalan-jalan atau bersepeda tanpa tujuan jelas.
Aneh mungkin kesannya tetapi kalau kita sedang tidak ada ide atau ingin menyegarkan pikiran, cara ini bisa ditempuh. Charles Dickens dan Henry Miller dulu suka berkelana keliling Eropa hanya untuk tersesat, karena mereka tidak punya tujuan dalam melancong. Saat tersesat dan menemui banyak hal baru inilah ide-ide baru bisa mengalir. Melakukan perjalanan dengan kereta api juga menjadi pemicu keluarnya ide novel bagi JK Rowling. Ia mengaku mendapat ide karakter dan kisah Harry Potter saat berada di stasiun kereta. Jadi kalau merasa suntuk dan buntu, keluarlah, tersesatlah!

4. Tulis di waktu puncak produktivitas.
Waktu puncak ini sangat bervariasi. Dalam kasus saya, saya lebih suka menulis di waktu terjaga yang normal. Dengan kata lain, saya kurang terbiasa dan tidak mau membiasakan diri untuk terjaga di malam hari untuk menulis. Saya memiliki alasan tersendiri, yaitu karena saya juga sudah pernah merasakan pola kerja yang memangkas habis jam tidur, membuat saya seperti kalong. Dan dalam waktu beberapa bulan, tubuh seakan menjerit. Saya tahu pola kerja seperti itu akan lebih banyak membawa derita.
Tak semua penulis bekerja seperti demikian. Honore de Balzac, misalnya, terbiasa terbangun di tengah malam dan minum kopi pahit dan terjaga hingga keesokan harinya. Sementara Flannery O’Connor hanya menulis 2 jam per hari.

5. Santai!
John Cheever yang memenangkan Pulitzer Prize menulis hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Dan jurnalis traveling Adam Skolnick merasa nyaman menulis dengan memakai sarung. Jika Anda merasa bosan untuk memakai pakaian resmi saat menulis karena terasa seperti di kantor, cobalah memakai busana apapun yang nyaman. Sebagian orang akan terbantu dalam menulis jika berbusana santai dan sesuai selera. Tentu saja kecuali jika Anda harus menulis di kantor. Tidak mungkin hanya memakai sarung dan singlet!

6. Lakukan ritual spiritual atau mantra.
Steven Pressfield, penulis hebat yang menghasilkan karya “The War of Art” menggunakan mantra Muse yang ditulis sastrawan Homer sebelum mulai menulis. Ia tak sendiri karena Shakespeare, Milton dan Chaucer juga demikian. Entah apa makna dari mantra tersebut tetapi mungkin sugesti positif. Saya tak punya ritual semacam ini karena bagi saya menulis tak mesti diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral atau harus dikuduskan tetapi menjadi sarana melepas penat emosional (katarsis) dan melampiaskan ambisi intelektual, serta memupuk kredibilitas profesional.

7. Jika gagal semua, beristirahat sejenak.
Menulis bagi saya bukan proses instan. Ia mirip marathon, bukan sprint. Karena itu, saya cukup terkejut saat pernah membaca seorang penulis yang mengklaim dirinya writerpreneur dan sanggup menulis novel hanya dalam waktu 2 hari. Ya, dua hari! Sangat menggelikan. Bukan karena saya meremehkan kemampuannya tetapi manusia sejenius apapun tidak bisa mencapai karya berkualitas dengan hanya mengerjakan selama 48 jam saja. Entahlah mungkin jika pun itu mungkin, akan dibutuhkan waktu lebih panjang lagi untuk menyuntingnya secara total. Copywriter tersohor nan legendaris David Ogilvy memilih minum rum dan mendengarkan musik dari gramophone kesayangannya.
Karena saya berbaik hati, satu BONUS untuk Anda…

8. Tulis sebebas mungkin, edit dengan ‘kejam’!
JK Rowling mengatakan proses menulis novel realis dan kontemporernya “The Casual Vacancy” diawali dengan menulis sebebas mungkin. “Saya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi secara utuh, lalu kembali lagi ke awal untuk memangkas bagian-bagian yang tak perlu,” terangnya dalam sebuah wawancara dengan Anne Patchett tahun lalu saat peluncuran novel barunya di Amerika Serikat. Jadi ia hanya mempertahankan apa yang perlu dibaca oleh audiensnya, bukan dengan hanya menyuguhkan semua bagian kisah begitu saja. Tak heran penulisannya memakan waktu 5 tahun. Dan harus saya akui, bagian terberat ialah merampingkan naskah. Saya merasa kurang rela jika ada bagian yang sudah saya kerjakan dengan susah payah (tetapi kurang serasi) harus dipenggal dan dibuang. Dan ini adalah penyakit! Padahal jika dipertahankan, bagian itu akan mencemari karya secara keseluruhan. Rowling menyingkirkan sebuah bagian tulisannya yang menceritakan proses otopsi protagonisnya karena memiliki alasan kuat untuk itu, padahal ia sudah mencurahkan pikiran selama beberapa hari untuk itu. Ini sangatlah menantang bagi saya karena ide relatif langka (saya masih merasa kurang imajinatif) dan memangkasnya adalah suatu ‘kebodohan’! Namun harus diakui jika mau karya yang lebih berkualitas, ini harus dilakukan tanpa belas kasihan.

9. Oh, did I mention YOGA??? Ya, sedikit peregangan tubuh juga sangat efektif memacu semangat menulis. Setelah melakukan headstand atau kayang, otak lebih segar dan ditambah bermeditasi sebentar, rasanya kepala penuh ide baru. Dan Brown pengarang The Da Vinci Code menggunakan alat tertentu untuk bisa rehat dalam posisi terbalik ( kepala di bawah jantung) jika merasa terkena writer’s block.

Ini Memang Tragis Tetapi Bukanlah Hal yang Serius

Menghadapi peristiwa hidup yang sangat tidak diinginkan bukan hal yang mudah. Pahit memang tetapi tetap harus dijalani.
Seperti tokoh Gordon, teman karakter utama dalam novel autobiografi “How Starbucks Saved My Life”. Dikisahkan di dalam novel, Gordon harus menerima kenyataan bahwa ia menderita kanker prostat dan sekarat karenanya dalam suatu musim semi yang indah sebelum ia akhirnya menghembuskan nafas terakhir beberapa tahun setelahnya.
“Gordon selalu memandang segala sesuatu secara positif,”kenang Michael Gates Gill si penulis.
Masa kecil Gordon tidak bisa dikatakan cerah. Perceraian orang tuanya meninggalkan bekas pada jiwanya. Fisiknya juga kurang kokoh sebagai seorang pria. Toh itu semua tak menghalanginya untuk menikmati hidupnya, yang ternyata lebih singkat dari dugaan. Ia suka memainkan piano untuk mengiringi teman-temannya bernyanyi saat kuliah, dan ia sendiri sangat suka bernyanyi.
Mungkin menjalani hidup dengan semangat positif tidak akan membantu kita hidup lebih panjang tetapi setidaknya itu akan membuat hidup kita terasa lebih ringan.
Saya ingat dalam drama action Korea “Ghost”, di sebuah adegan setelah berbagai ketegangan dan rentetan pembunuhan terjadi, si protagonis wanita berkata sambil duduk di sebuah bangku di tepi danau,”Sungguh aneh dunia ini. Banyak orang terbunuh tetapi dunia masih berputar, angin berdesir, air mengalir, tak terganggu, seolah tak pernah terjadi apapun.” Begitulah absurdnya dunia…

Kita vs Saya: Overgeneralisasi dalam Mengajar Yoga

Dalam banyak hal, seorang guru yoga perlu terus meningkatkan kualitas dirinya. Penggunaan kata dan pemikiran pun sering harus dirombak total agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru mengenai yoga yang sebenarnya dalam benak para murid. Tentu ini bukan sebuah tanggung jawab yang ringan. Perlu banyak pengalaman dan latihan dalam mengolah diri agar pesan yoga tersampaikan dengan sebaik mungkin.
Penyampaian pesan itu harus dilakukan dengan komunikasi dan ia hanya bisa direalisasikan dengan penggunaan simbol seperti bunyi dan tulisan.
Dalam sebuah kesempatan saya pernah ‘ditegur’ karena menggunakan kata ‘kami’ di konteks yang kurang tepat. Situasinya adalah saya dipersilakan menyampaikan opini tentang sebuah rangkaian gerak yang baru dilakukan. Sensasi itulah yang saya coba kemukakan dan entah mengapa saya gunakan kata ganti ‘kami’ yang hemat saya lebih ‘membumi’. Dengan menggunakan kata ‘kami’ seakan saya ingin merangkul semua orang yang hadir, mengajak mereka untuk turut merasakan apa yang saya rasakan. ‘Kami’ juga lebih terasa merakyat.
Sebaliknya, penggunaan kata ganti orang ‘saya’ menjadi begitu janggal karena menurut saya argumen yang menggunakan kata ‘saya’ terkesan eksklusif, egois. Anda semua tidak penting dan hanya saya yang penting, begitu kira-kira asumsi saya.
Mungkin ini pengaruh nilai dan prinsip budaya Timur dalam diri saya. Itu hipotesis pertama saya karena yang menegur saya adalah orang yang dibesarkan dalam kultur Barat, yang lebih macho, asertif, individualistis.
Namun, si penegur ini juga menyodorkan argumen yang masuk akal mengenai penggunaan kata ganti orang saat mengajar yoga. Menggunakan ‘kami’ atau ‘kita’ mengaburkan pesan bahwa hal yang saya sampaikan adalah pengalaman dan perasaan saya, bukan kolektif, bukan hal yang dialami setiap orang yang beryoga. Jadi akan sangat berisiko untuk menggunakan kata ‘kami’ sebagai tameng, seolah-olah apa yang dialami secara personal PASTI juga dialami secara massal karena belum tentu orang lain yang melakukan merasakan hal yang sama.
Alih-alih menganggapnya sebagai tamparan, saya harus belajar bahwa memang terjadi penyimpangan makna jika ‘kami’ digunakan secara sembarangan saat mengajar. Apa yang dirasakan guru belum tentu dirasakan murid. Dan apa yang dirasakan satu murid bisa berbeda dengan murid lainnya. Keberagaman itu akan selalu ada. Kini pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana mengetahui saat yang tepat menggunakan dan saat harus menghindari ‘kami’ tetapi ‘saya’? Dibutuhkan kepekaan untuk itu karena sekalipun sudah berjam terbang tinggi, seorang guru mungkin masih bisa ‘terpeleset’. Namaste…

Tak Mau Kalah dari RIM, Google Rilis Hangout

Sebagai pengganti Google Talk [aplikasi chat yang sering kita gunakan selama ini] hari ini saya menerima notifikasi untuk memperbaruinya menjadi Hangout. Istilah Hangout sebelumnya tidak asing lagi karena sudah dijumpai di Google Plus. Google Hangout yang saya ketahui mirip Skype. Dan kita bisa merekam dan langsung mengunggah percakapan itu ke akun kita di YouTube.
Bisa jadi ini langkah Google untuk menyusul langkah RIM merilis aplikasi Blackberry Messenger ke iOS dan Android. Ataukah ada alasan lain? Rasanya tidak ada. Apalagi baru minggu ini kabar BBM itu merebak.


Saya kembali ragu. Apakah aplikasi ini bisa menggantikan Whatsapp, BBM, Kakao Talk, WeChat, dan bla bla bla? Ukuran file Hangout ini terlalu besar 10 MB lebih! Belum nanti update lagi. Sudah terlalu banyak chat application seperti ini yang membuat saya pusing mendengarkan suara notifikasinya. Entahlah…

%d bloggers like this: