Ingatan, Bahan Baku Menulis yang Tak Ternilai Harganya

“Memory is the personal journalism of the soul.”- Richard Schickel

Memori seolah menjadi sebuah chronicle, catatan panjang berisi riwayat hidup dan asal muasalnya sampai menjadi seperti sekarang. Dan semakin tua seseorang, memori akan terus menggunung, berakumulasi setiap saat. Bisa terkubur, bisa muncul suatu saat tanpa peringatan, atau menyeruak saat kejadian lain yang mirip menimpa si pemilik memori.

Memori jika saya bisa andaikan adalah seperti setumpuk kain batik murahan di sudut rumah-rumah yang menjadi tempat menjahit buruh. Para pekerja ini siang malam menjahit, merangkai potongan-potongan kain yang terserak menjadi lusinan daster batik yang bisa dipakai dengan nyaman oleh perempuan-perempuan saat baju ketat, rok mini pas badan dan makeup sudah ditanggalkan.Dan para buruh jahit itu terus menjahit seolah tanpa lelah dan jenuh padahal sudah ingin menjerit terlepas dari belenggu nasib.

Demikian juga penulis, ia memunguti ceceran memori yang ia temukan dalam kehidupannya dan kehidupan orang lain lalu merangkainya, sepotong demi sepotong dengan sabar dan cermat. Merangkainya sedemikian rupa hingga waktu bergulir tak terasa karena ia memang tak bisa diraba.
Bedanya, jika beruntung, ceceran memori itu kadang bisa dirangkai begitu indahnya sampai si pembaca rela membayar sejumlah uang untuk memboyong pulang 1 jilid helaian kertas yang nikmati untuk diresapi di saat sepi.

WordPress for Android

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s