Trik Menulis Memoar, Tanpa Menyakiti Perasaan Orang Lain

English: Title page from the second edition of...

English: Title page from the second edition of A Memoir of Jane Austen (Photo credit: Wikipedia)

Menulis memoar bukan hal yang mudah. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti misalnya saat harus menggambarkan hal-hal yang kurang menyenangkan. Ini tidak akan semudah dan seleluasa saat kita menceritakan hal-hal yang menyenangkan dan positif. Keadaan akan menjadi jauh lebih rumit lagi jika orang atau pihak yang kita masukkan dalam memoar adalah orang/ pihak yang masih berhubungan dengan kita atau setidaknya masih hidup, beroperasi dan bisa kapan saja menghampiri dan menghubungi kita untuk menegur,”Mengapa kamu menggambarkan aku seperti ini dalam memoarmu? Kamu benci aku ya?”

Trik yang paling efektif tetapi memakan waktu ialah menunggu hingga orang atau pihak itu lenyap dari muka bumi dahulu. Baru kita bisa menulis memoar. Ada sebagian penulis memoar yang menunggu hingga usianya begitu tua dan teman-teman serta musuh-musuh mereka meninggal dan perusahaan yang mereka benci kolaps hanya untuk menemukan keleluasaan dalam menulis memoar. Tetapi tentu saja dengan menggunakan cara ini, hasil penulisan memoar jauh lebih jujur dan terbuka. Setidaknya tingkat pengaburan kenyataan akan lebih rendah karena toh tidak akan ada yang memprotesnya jika ia menceritakan keburukan orang dan/ atau pihak lain di dalam memoarnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita tidak mau harus menunggu hingga usia senja demi menulis memoar yang layak dibaca? Tidak ada yang tahu kapan maut menjemput kita bukan? Bagaimana jika kematian atau keadaan yang tidak diharapkan ternyata datang lebih cepat dari keleluasaan menulis memoar yang blak-blakan? Triknya adalah memperlembut konflik dan rasa benci. Kesopanan dan moderasi adalah intinya. Jangan berlebihan menggambarkan kebencian pada satu pihak meskipun dalam benak kita, dia-lah yang membuat kita sengsara begitu dalam saat itu. Hiperbola sebisa mungkin dihindari. Ekstrimitas apalagi.

Gunakan alusi. Itulah trik berikutnya. Terlalu jujur memang bisa hancur. Menyebutkan atau membahas secara tidak langsung seperti ini akan mengaburkan petunjuk menuju orang atau pihak yang dimaksud. Misalnya, jika kita menceritakan bagian yang tidak begitu menyenangkan dari sebuah tokoh yang dalam kehidupan nyata adalah orang terdekat kita, kita tidak bisa mengambil risiko untuk menjelaskannya seperti kita menulis untuk diri sendiri di jurnal harian alias diary. Cara mengemasnya menjadi penting. Karenanya, gunakan allusion. Ungkapnya kebenaran tanpa harus membuat orang terluka hatinya.

Selanjutnya, jika tidak memungkinkan menggunakan alusi, ganti saja nama tokoh atau pihak yang dimaksud. Mudah bukan? Pengubahan nama relatif tidak akan membelokkan arah plot menjadi 100% berbeda dan setidaknya tidak terkesan ada ‘penyerangan frontal’ yang terlampau agresif dan berlebihan. Akan tetapi dalam beberapa kasus penulisan memoar, harus ada pertimbangan tersendiri oleh si penulis jika pengubahan nama juga akan berdampak pada aspek-aspek lainnya.

Bila masih tidak memungkinkan untuk dikisahkan pada pembaca tanpa menyinggung orang/ pihak tersebut, kita harus rela meninggalkan bagian yang memuat yang bersangkutan. Cukup hanya masukkan ke catatan pribadi Anda saja, yang kelak mungkin hanya bisa dikonsumsi secara terbatas di kalangan keluarga dan teman terdekat.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s