Di Optik

Pernah saya melihat seseorang yang memaki-maki sebuah optik terkenal dal am suatu forum Di dunia maya. Menurut orang ini optik itu sudah semena-mena dalam menentukan harga frame dan lensa kacamata hingga di luar batas kewajaran. Tetapi seorang pengunjung forum menegurnya bahwa harga yang dibebankan itu sepadan dengan kualitas dan kenyamanan yang ia akan nikmati sebagai pengguna kacamata. Kualitas lebih bagus dan pengukuran yang lebih akurat. Setara lah dengan apa yang didapat. Tak ada celah untuk mengeluh.
Dan kini saya sedang berada di optik yang dimaksud. Untuk yang kedua kalinya saya ke sini sebagai konsumen. Pelayanannya bagus dan hampir tidak ada keluhan bagi saya. Kecuali bahwa saya dibujuk sedemikian ahlinya oleh si petugas untuk membeli frame baru padahal kata orang bisa beli lensa saja tanpa frame baru. Hmmm. Entahlah saya juga gamang karena rasanya memang kacamata saya yang pertama kurang pas dengan kontur wajah saya. Selalu melorot karena tulang hidung yang datar. Akhirnya saya terbujuk. Rencana awal untuk mengganti lensa saja hancur sudah. Semoga bisa diklaim!
Lucu juga saat harus mendengarkan orang-orang ini bercakap-cakap. Aku harus menunggu setengah jam demi memasang lensa agar pas dengan frame. Mau tidak mau aku mendengar percakapan mereka. Mereka berbicara dan di saat bersamaan aku mengetik kata-kata mereka di ponsel Nexianku.
Mereka ini mungkin orang-orang biasa dengan pengalaman hidup biasa tetapi jika kita adalah penulis, semua yang kita dengar, saksikan bisa menjadi bahan tulisan. Betul kan?
Jadi begini kehidupan mereka berdasarkan apa yang aku dengar sepanjang mereka mengobrol sana-sini sembari mengerjakan kacamataku dan menuliskan pembelianku dalam pembukuan transaksi hari itu. Sebagai karyawan, orang-orang ini harus siap menghadapi rotasi atau rolling dari satu cabang ke cabang lainnya. Mereka juga harus rela nombok (jika mungkin ada selisih di mesin kasir) dan bisa diganjar komisi jika sanggup menembus target yang ditetapkan manajemen. Dalam bekerja mereka harus mau ditempatkan di mana saja sesuai permintaan manajemen. Seperti dalam kompetisi sepakbola, mereka juga mengenal istilah “grup neraka”, sebuah kelompok yang kurang nyaman, kurang ramai penjualannya, yang mengakibatkan komisi yang diterima juga kurang banyak dibandingkan kelompok lain yang ditempatkan di gerai optik lokasi lain yang notabene lebih bagus dan tinggi dalam hal penjualan dan pemberian komisi. Ada yang sudah mati-matian mengejar konsumen, membujuknya membeli produk optik yang ada dan sudah didiskon. Ada juga yang harus mengalami mutasi tetapi masih harus ikut program pelatihan tertentu yang diadakan manajemen. Komisi yang akan didapatkan, ujar satu orang karyawan, akan turun saat perusahaan memberikan insentif lebih banyak. Besaran insentif diberikan secara berkelompok. Ada yang kisarannya 2 juta, ada yang lebih. Semua harus dibagi rata. Tetapi satu brand lensa tidak memberikan insentif secara merata dan itu memicu kecemburuan pendapatan di antara para karyawan. Ada yang sudah merasa jatuh bangun tapi toh masih diberikan insentif yang kurang setimpal. Tiap cabang memiliki jatah komisi masing-masing saat mampu melampaui jumlah penjualan tertentu. Tentu saja ini lumayan bagi para karyawan yang bisa jadi penghasilannya dalam sebulan hanya cukup untuk membeli satu set frame dan lensa kacamata saja di optik mereka sendiri.
Lagi-lagi begitulah nasib kelompok proletar. Libur juga tidak selalu hari Sabtu dan Ahad. Mereka mungkin harus bekerja di hari akhir minggu dan beristirahat di 2 hari kerja ( bagi kebanyakan orang). Aku pun pernah merasakannya. Itulah buruh. Mati-matian membela perusahaan tetapi hasilnya tak setimpal. Pemilik dan pemimpin perusahaan memang harus bekerja dan memikirkan perusahaannya siang malam dan menanggung risiko dan beban yang lebih besar daripada karyawan tetapi juga menikmati imbalannya yang lebih setimpal.
Belum lagi kalau mereka harus menanggung risiko dibayar dengan kartu kredit palsu. Insiden seperti itu membuat mereka harus waspada setiap saat. Jadi mereka merasa paranoid. Sebagai tindakan antisipasi akhirnya dilakukan pencatatan nomor telepon pembeli. Di Kota Kasablank, kasus seperti ini pernah terjadi. Satu orang pegawai bernama Roby menjadi korban. Awalnya belum ada kecurigaan. Namun, sejurus kemudian ia ditanya mengenai lama kerjanya di optik itu. Roby merasa aneh. Si pelaku penipuan dengan berbekal kartu kredit palsu pun berhasil diringkus beberapa waktu setelahnya. Maka dari itu, disarankan agar segera telepon ke staf yang berwenang sehingga diketahui masuk tidaknya pembayaran dengan credit card tersebut.

1 Comment

Filed under writing

One response to “Di Optik

  1. Ada komik yang lucu tentang restaurant attendant, gimana mereka harus senyum mati2an, padahal capek. Baca dewe deh: http://theoatmeal.com/comics/tipping_tooting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s