Kita vs Saya: Overgeneralisasi dalam Mengajar Yoga

Dalam banyak hal, seorang guru yoga perlu terus meningkatkan kualitas dirinya. Penggunaan kata dan pemikiran pun sering harus dirombak total agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru mengenai yoga yang sebenarnya dalam benak para murid. Tentu ini bukan sebuah tanggung jawab yang ringan. Perlu banyak pengalaman dan latihan dalam mengolah diri agar pesan yoga tersampaikan dengan sebaik mungkin.
Penyampaian pesan itu harus dilakukan dengan komunikasi dan ia hanya bisa direalisasikan dengan penggunaan simbol seperti bunyi dan tulisan.
Dalam sebuah kesempatan saya pernah ‘ditegur’ karena menggunakan kata ‘kami’ di konteks yang kurang tepat. Situasinya adalah saya dipersilakan menyampaikan opini tentang sebuah rangkaian gerak yang baru dilakukan. Sensasi itulah yang saya coba kemukakan dan entah mengapa saya gunakan kata ganti ‘kami’ yang hemat saya lebih ‘membumi’. Dengan menggunakan kata ‘kami’ seakan saya ingin merangkul semua orang yang hadir, mengajak mereka untuk turut merasakan apa yang saya rasakan. ‘Kami’ juga lebih terasa merakyat.
Sebaliknya, penggunaan kata ganti orang ‘saya’ menjadi begitu janggal karena menurut saya argumen yang menggunakan kata ‘saya’ terkesan eksklusif, egois. Anda semua tidak penting dan hanya saya yang penting, begitu kira-kira asumsi saya.
Mungkin ini pengaruh nilai dan prinsip budaya Timur dalam diri saya. Itu hipotesis pertama saya karena yang menegur saya adalah orang yang dibesarkan dalam kultur Barat, yang lebih macho, asertif, individualistis.
Namun, si penegur ini juga menyodorkan argumen yang masuk akal mengenai penggunaan kata ganti orang saat mengajar yoga. Menggunakan ‘kami’ atau ‘kita’ mengaburkan pesan bahwa hal yang saya sampaikan adalah pengalaman dan perasaan saya, bukan kolektif, bukan hal yang dialami setiap orang yang beryoga. Jadi akan sangat berisiko untuk menggunakan kata ‘kami’ sebagai tameng, seolah-olah apa yang dialami secara personal PASTI juga dialami secara massal karena belum tentu orang lain yang melakukan merasakan hal yang sama.
Alih-alih menganggapnya sebagai tamparan, saya harus belajar bahwa memang terjadi penyimpangan makna jika ‘kami’ digunakan secara sembarangan saat mengajar. Apa yang dirasakan guru belum tentu dirasakan murid. Dan apa yang dirasakan satu murid bisa berbeda dengan murid lainnya. Keberagaman itu akan selalu ada. Kini pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana mengetahui saat yang tepat menggunakan dan saat harus menghindari ‘kami’ tetapi ‘saya’? Dibutuhkan kepekaan untuk itu karena sekalipun sudah berjam terbang tinggi, seorang guru mungkin masih bisa ‘terpeleset’. Namaste…

1 Comment

Filed under writing

One response to “Kita vs Saya: Overgeneralisasi dalam Mengajar Yoga

  1. Ghaluh Hapsari (Putri)

    yep. ‘kami’ itu versi inklusif ‘saya’. sering pakai itu juga kalau konteksnya dalam tim. niatnya sama, biar lebih merangkul banyak orang. walau kadang kepikir, mungkin orang-orang yang biasa pake ‘i’ memandang orang-orang yang pakai ‘we’ sebagai orang yg tidak pede dan tak bertanggung jawab. >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s