Menghadapi peristiwa hidup yang sangat tidak diinginkan bukan hal yang mudah. Pahit memang tetapi tetap harus dijalani.
Seperti tokoh Gordon, teman karakter utama dalam novel autobiografi “How Starbucks Saved My Life”. Dikisahkan di dalam novel, Gordon harus menerima kenyataan bahwa ia menderita kanker prostat dan sekarat karenanya dalam suatu musim semi yang indah sebelum ia akhirnya menghembuskan nafas terakhir beberapa tahun setelahnya.
“Gordon selalu memandang segala sesuatu secara positif,”kenang Michael Gates Gill si penulis.
Masa kecil Gordon tidak bisa dikatakan cerah. Perceraian orang tuanya meninggalkan bekas pada jiwanya. Fisiknya juga kurang kokoh sebagai seorang pria. Toh itu semua tak menghalanginya untuk menikmati hidupnya, yang ternyata lebih singkat dari dugaan. Ia suka memainkan piano untuk mengiringi teman-temannya bernyanyi saat kuliah, dan ia sendiri sangat suka bernyanyi.
Mungkin menjalani hidup dengan semangat positif tidak akan membantu kita hidup lebih panjang tetapi setidaknya itu akan membuat hidup kita terasa lebih ringan.
Saya ingat dalam drama action Korea “Ghost”, di sebuah adegan setelah berbagai ketegangan dan rentetan pembunuhan terjadi, si protagonis wanita berkata sambil duduk di sebuah bangku di tepi danau,”Sungguh aneh dunia ini. Banyak orang terbunuh tetapi dunia masih berputar, angin berdesir, air mengalir, tak terganggu, seolah tak pernah terjadi apapun.” Begitulah absurdnya dunia…