“Enjoy Jakarta!”

image

Di Jakarta Selatan, tempat yang konon menurut peta dan media massa banyak dipenuhi dengan pusat perbelanjaan yang tiap hari riuh rendah dikunjungi ribuan pembeli, apartemen miliaran rupiah yang menjulang tinggi, perumahan mewah Menteng dan Pondok Indah, ternyata saya juga menemukan suatu gang sempit nan kumuh tak jauh dari tempat saya tinggal. Lebar gangnya hanya sebentang kedua tangan saya. Tak mungkin ada mobil bisa melintas di sini. Tetapi untungnya bisa dilewati gerobak. Ada banyak gerobak melintas di sini. Dari gerobak susu murni Nasional yang sering diejek anak-anak di sekitar gang dengan tagline parodi “Susu Basi Kok Dijual!” hingga kendaraan bertema hiburan odong-odong yang memutar lagu-lagu anak-anak yang kuno tetapi sangat layak didendangkan di telinga anak-anak. Maklumlah, penyanyi anak-anak Indonesia sudah langka (kecuali Cowboy Junior mungkin, entahlah), yang ada pun lebih suka menyanyi lagu remaja bertema cinta monyet yang murahan tetapi digemari. Atau jiwa anak-anak negeri ini sudah tumbuh dewasa sebelum semestinya berakhir dan diganti jiwa remajanya? Bisa jadi karena terlalu termotivasi oleh motto “Ayo makan yang banyak biar cepet gede”. Dan saat dewasa, mereka masih seperti anak-anak. Mereka besar secara fisik tetapi masih kerdil dalam kedewasaan berpikir, berperilaku, bertindak, dan berkata-kata. Jika mereka, anak-anak yang berpikir menjadi cepat dewasa sehingga cepat bisa melakukan apa yang bisa dilakukan kakak-kakak dan orang tua serta kakek nenek dan tetangga mereka, tahu bahwa kedewasaan adalah artinya juga tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada hanya menyimpan dan merapikan kembali mainan ke tempatnya, atau menata tempat tidur setelah bangun pagi, atau menyapu lantai kelas setiap giliran piket mingguan di sekolah, mereka pasti akan sangat amat menyesal sekali. Mereka telah melewatkan masa kanak-kanak terlalu cepat, padahal itulah masa-masa yang seorang harus dapat nikmati dengan semaksimal mungkin. Because with great power, comes greater responsibility and responsibility, as it turns out, sucks.

Inilah sisi lain yang dimiliki Jakarta. Dan saat pemerintah mengatakan “Enjoy Jakarta!”, mereka seolah lupa bahwa tidak setiap sudut ibukota ini bisa dinikmati, setidaknya dalam kacamata pariwisata konvensional. Tidak ada yang ‘menjual’ dengan kemiskinan dan kekumuhan di sini.

Anak-anak suka menjerit-jerit di siang hari di sini, membuat sebagian orang termasuk ibu kos saya meradang. “Diam, berisik, ini mau tidur siang!!” begitu hardik ibu kos. Mereka tinggal di rumah-rumah petak yang disewakan pengusaha berdarah China di sekitar gang ini.

Pengusaha ini membuka usaha konveksi yang memproduksi daster-daster khas ibu-ibu yang nyaman karena terbuat dari kain katun yang berpori dan kadang jika terlewat di bawah sinar matahari, akan menampakkan terlalu banyak detil yang tidak sepatutnya terlihat. Tidak semua pria merasa terhibur dengan hal itu.

Pria-pria muda itu juga sering bercakap-cakap di pinggir gang, tepat di depan sebuah warung makan dekat pabrik konveksi yang hampir siang malam memproduksi daster yang warna-warnanya gelap, muram, kurang menarik yang membuat para suami pemakainya tak bergairah memandang. Sekumpulan pria berjalan lalu lalang setiap pagi, siang dan malam di gang kecil ini. Mereka tinggal dalam rumah-rumah petak berukuran 2×2 meter, yang harga sewanya tiap bulan sangat murah. Tetapi untuk menekan biaya hidup yang mahal di ibukota, mereka pun memutuskan menyewanya dan tinggal di dalamnya bersama-sama. Setidaknya 3-4 orang pria tinggal di sini. Satu-satunya alasan lain mengapa mereka tinggal di dalam rumah petak yang demikian sempit ialah jarak yang dekat dengan tempat kerja sementara mereka. Pria-pria ini berasal dari kota-kota di Jawa Tengah, seperti saya. Tetapi mereka tidak berbekal gelar dan ketrampilan ‘kerah putih’ di sini. Mereka adalah pria-pria usia produktif yang mengandalkan kekuatan otot untuk mengaduk semen, memanggul rangka besi, bilah kayu dan batu bata, menggali tanah dan berbagai pekerjaan fisik di proyek pembangunan sejumlah gedung pencakar langit yang menjulang 40 lantai lebih dari permukaan tanah. Sebagian besar berusia akhir belasan tahun dan 20-an. Mereka berjalan gagah ke proyek dengan mengisap sebatang rokok di pagi hari, setelah mengisi perut dengan gorengan dan nasi uduk, mungkin dengan telur rebus, atau dadar, orak arik telur, diakhiri dengan tegukan kopi kental atau teh manis. Mereka buruh konstruksi yang menjalani pekerjaan kasar, yang kesempatannya sangat banyak di ibukota negeri yang makin makmur ini. Dari apa yang terjadi di setiap penjuru kota ini, dapat kita ketahui roda perekonomian berjalan begitu kencang. Investasi asing mengalir masuk dengan deras. Tingkat konsumsi naik, pabrik dan perusahaan berlomba-lomba menaikkan volume produksi, dan makin banyak produk dan jasa yang harus dipajang agar konsumen mau membeli. Untuk itu, dibutuhkan mall – etalase raksasa dan akuarium berisi manequin-manequin tanpa wajah – dan untuk mendirikan mall, diperlukan buruh-buruh kasar seperti orang-orang ini. Mereka inilah yang membangun dengan keringat dan darah, jadi saat seorang pemilik modal berkata ia membangun dan memiliki bangunan mall, saya merasakan sedikit mual di dalam perut. Karena itu sungguh terlalu berlebihan. Tetapi tentu saja, masyarakat lebih menghargai pemilik modal yang memakai setelan jas mahal meski memiliki utang yang membuat mereka jatuh bangkrut daripada penetes keringat yang berkulit gelap karena debu dan sinar matahari.

Usaha konveksi ini hanyalah sebagian dari sedikit usaha konveksi peninggalan generasi sebelumnya yang berusaha bertahan, setelah mengalami krisis. Masa keemasan industri batik di sini musnah begitu saja setelah persaingan makin sengit. Kini pabrik konveksi yang tersisa hanya memproduksi untuk memenuhi permintaan pasar Tanah Abang dan sekitar Jakarta.

Rane, salah satu mantan pekerja di pabrik konveksi, mengenang masa kejayaan konveksi batik itu. Di sepanjang jalan ini, termasuk kampung dan gang kecil ini, banyak pabrik konveksi yang beroperasi saat dekade 1990-an. Deru waktu menggilas semuanya. Pabrik-pabrik serupa bermunculan di daerah lain. Dengan harga yang lebih murah pula.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s