Mengapa Saya Memilih Yoga

image

Mengapa yoga? Mengapa harus olah raga, rasa dan jiwa yang sering dicap haram dan pelakunya dikatakan eksentrik ini? Mengapa harus memilih yoga yang sampai kapan pun dan sesering apa pun dilakukan juga tidak akan membuat badan saya berotot seperti penggemar angkat beban di pusat-pusat kebugaran modern di Jakarta ini? Mengapa saya tidak memilih balet atau senam lantai atau olah tubuh ketangkasan lainnya yang mungkin lebih mengasyikkan? Mengapa memilih yoga yang harga matnya saja mahalnya bukan main?

Ok, mari saya jawab: “Mengapa yoga?” Karena yoga itu sederhana. Jumlah suku katanya pun hanya dua, alfabetnya hanya empat. Bandingkan dengan olahraga lain. Renang? Tinju? Thai boxing? Badminton? Pilates? Taekwondo? Benar kan kata saya, yoga itu sederhana bahkan sejak dari penulisan dan pelafalannya.

Kedua, mengapa saya memilih yoga yang sering dianggap haram? Tak ada alasan khusus. Saya suka yoga karena bentuk dan bangun tubuh saya lebih memungkinkan untuk menekuni ini. Dengan apa yang saya miliki dan kepribadian saya secara umum, belajar yoga lebih mudah daripada berenang, binaraga, atau bungee jumping. Saya bisa saja melakukan olahraga lain tetapi hanya sebagai pengisi waktu dan iseng belaka. Misalnya badminton. Konon seks juga olahraga. Sayang saya belum bisa melakukannya, setidaknya jika itu melibatkan makhluk hidup lain.

Mengapa saya memilih yoga, bukan olahraga lain yang menggembungkan otot? Butuh dedikasi dan dana luar biasa untuk bisa lebih berotot. Lebih banyak makanan berkandungan protein hewani yang tak cuma menguras kantong tetapi juga merontokkan kesehatan tubuh. Dan untuk setiap kilogram otot yang mengagumkan yang mungkin bisa saya dapatkan jika saya mau mengadopsi pola hidup dan makan bergelimang protein hewani itu, saya rela menggadaikannya untuk kesehatan jangka panjang.

Mengapa saya tidak memilih balet atau senam ketangkasan yang lebih dinamis dan mengasyikkan? Untuk saya yang masih muda, senam lantai mungkin lebih dinamis, balet apalagi. Namun, yoga juga bisa dibuat dinamis atau meditatif. Semua tergantung selera dan kebutuhan. Yoga mengakomodasi semua kelompok usia dan kelompok kesehatan jadi saya tidak cemas kalau suatu saat saya sudah uzur. Saya masih bisa beryoga tanpa batasan usia karena yoga dapat dimodifikasi pose-posenya sehingga lebih aman daripada berlari-lari di matras, menekuk tubuh atau split di udara seperti pebalet dan pesenam ritmik yang saat sudah paruh baya tak bisa lagi selincah itu. Dan satu lagi alasannya, karena yoga lebih menekankan kesadaran penuh alias “mindfulness”, sebuah aspek yang tak begitu kentara dalam balet dan senam lantai.

Lalu mengapa memilih yoga yang harga matnya saja mahal bukan main? Sebenarnya saya juga belum membeli mat sendiri. Mat saya yang berwarna biru itu diberi oleh guru saya yang murah hati. Tak mahal tetapi amat berkesan, itu karena sebelumnya saya hanya berlatih dengan beralaskan spanduk/ banner di ruang terbuka atau cuma lantai keramik di kamar. Saya tak pernah menggulungnya dalam kamar. Mat itu selalu saya gelar bak permadani di tengah kamar, agar kapan pun ia bisa menyapa saya sembari merayu,”Yuk sini… Jungkir balik sampai puas di atasku.” Dan biasanya saya terbius ajakan itu dengan mudah. Bagaimana tidak, begitu turun ranjang tidur, kaki sudah berada di atas matras.

2 Comments

Filed under writing

2 responses to “Mengapa Saya Memilih Yoga

  1. Mat itu selalu saya gelar bak permadani di tengah kamar, agar kapan pun ia bisa menyapa saya sembari merayu,”Yuk sini… Jungkir balik sampai puas di atasku.” —> Tertohok, kapan terahil kali saya gelar mat ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s