Serba-serbi Food Combining

image

Bulan Ramadhan menjelang. Inilah saatnya mengendalikan tidak hanya hawa nafsu, tetapi nafsu makan dan selera makan yang sudah terbukti dalam banyak kasus menjadi biang keladi berbagai masalah kesehatan. Dari kegemukan hingga migrain, semua bisa dilacak penyebabnya dari jenis-jenis makanan dan minuman yang kita santap dan teguk setiap hari. Jadi jika Anda merasa harus memperbaiki dan meningkatkan kesehatan secara alami dan minim campur tangan medis, mungkin Anda patut mencoba food combining. Bukan, ini bukan bagaimana menahan diri hingga kelaparan atau kurang gizi. Bukan juga pola makan diet yang ketat dan membahayakan kesehatan dalam jangka panjang (asal dilakukan dengan benar menurut panduan).

Saya pun teringat obrolan tadi pagi dengan teman-teman mengenai mengapa harus menjaga pola makan dan bergaya hidup sehat. Seorang teman saya mengatakan 3 temannya yang berusia masih di awal 30-an meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung, sebuah pemicu kematian yang tidak cukup dideteksi dengan pemeriksaan jantung (EKG) secara berkala.”Semua hasil pemeriksaan medisnya bagus. Bahkan saya ikut mengantarnya sendiri,” teman saya meyakinkan. Apa daya, rekam jantung tak bisa memprediksi usia seseorang. EKG hanya sekadar salah satu instrumen, yang terlalu sempit dan kecil untuk diartikan sebagai indikator pasti kesehatan jantung.

Lalu saya berceletuk, “Ngapain susah-susah jaga pola makan, hidup sehat. Toh akhirnya mati juga.” Memang konyol kalau kita sudah mati-matian menjaga semua aspek kesehatan jiwa dan raga tetapi di perjalanan hidup, sekonyong-konyong kita mati begitu saja tanpa peringatan. Kami pun tertawa dan saya memiliki pendapat sendiri untuk menjawab pernyataan semacam itu: “Setiap orang tidak bisa memilih caranya mati. Itu sepenuhnya hak Tuhan, kecuali ia bunuh diri secara sengaja. Tetapi semua orang bisa memilih dang mengatur caranya menjalani hidup, termasuk makan. Jadi sebetulnya tidak bisa dikatakan pula upaya menjaga pola makan dan gaya hidup sehat itu sia-sia. Pastilah ada perbedaan antara mereka yang menjaga dan abai. Karena kesehatan itu anugerah yang tak ternilai dan saya pikir menjaganya adalah salah satu bentuk syukur terhadap Yang Maha Pencipta. Tubuh dan jiwa ini ibarat hanya titipan, dan suatu saat Tuhan pasti akan mengambilnya. Mereka yang merawat titipan dengan sungguh-sungguh dan mereka yang tidak merawat dengan sungguh-sungguh pastilah ada bedanya.” Saya tidak tahu cara berpikir orang lain tetapi itulah bagaimana saya berpikir untuk memotivasi diri sendiri.

Dan penyanggahan lain pun muncul tentang sulit dan mahalnya hidup sehat. Memang harus diakui menjalani pola makan dan gaya hidup sehat itu sulit, sukar, menantang, tetapi begitulah semua hal yang baik: susah dilakukan dan kurang nyaman. Semua hal yang negatif, tidak baik itu lebih mudah dilakukan pada awalnya tetapi manusia selalu menyingkirkan kemungkinan adanya konsekuensinya di masa depan. Kemudian solusinya bagaimana? Fokus saja pada hasil yang positif yang bisa dinikmati dari semua kesusahpayahan dan kerepotan itu. Semua akan terasa jauh lebih mudah dan nikmat. Kalau mahal atau tidak, itu sangat relatif. Dan sekali pun benar mahal, tetap saja mahalnya menjaga kesehatan akan lebih murah daripada memulihkannya setelah rusak, menurun atau hancur sama sekali. Mungkin terasa tersiksa saat menjalaninya sehari-hari tetapi bandingkan dengan rasa repot, sakit, nyeri, putus asa yang dirasakan saat suatu saat nanti kita harus menderita penyakit parah akibat kecerobohan kita sendiri (lain halnya jika penyakit itu disebabkan oleh faktor-faktor yang berada di luar kendali kita).

Food Combining bukan Pantang Daging

Banyak orang yang menganggap saya vegetarian hanya karena mereka menyaksikan saya makan lebih banyak sayur dan buah. Tentu saja saya makan daging di samping sayur dan buah (dan juga sejumlah kecil makanan ‘sampah’ kesukaan semua orang). Itulah yang saya lebih sukai tentang food combining. Ia tidak berpantang daging sebab daging – menurut seorang teman – adalah kenikmatan hidup yang tidak boleh dilewatkan. Tentu saya setuju! Akan tetapi jumlah, frekuensi, cara menyantapnya, jenis daging itu juga perlu diperhatikan. Hanya karena saya suka daging kambing bukan lantas saya akan menyantapnya setiap saat. Diperlukan keseimbangan dan pengendalian diri dalam mengkonsumsinya juga.  Inilah prinsip food combining yang menurut saya mirip inti dari semangat Ramadhan, yaitu tidak berlebih-lebihan (baca: makan sampai kekenyangan dengan menjejalkan semua makanan di hadapan kita sekaligus). Kita bisa nikmati semua makanan (yang halal), dengan syarat konsumsinya diatur dan dikendalikan, agar tubuh kita ini tidak terlalu terbebani dengan bekerja siang malam untuk mengurai makanan-makanan berat dan ginjal serta liver tidak cepat rusak karena badan terus menerus dimasuki toksin.

Tentu saja tubuh memiliki kemampuan menyehatkan diri sendiri tetapi itu terjadi jika makanan dan minuman yang masuk juga mendukung proses penyembuhan mandiri (self-healing) itu. Dan yang paling penting, tubuh memiliki batas ketahanan tertentu pula. Saya teringat tiba-tiba dengan seorang yang dengan bangga menjelaskan bagaimana paru-paru dan tubuh kita mengeluarkan racun nikotin. Ia membandingkan dengan instrumen percobaan yang meniru paru-paru perokok yang dipenuhi kerak nikotin hanya dalam sekali pakai. “Jadi paru-paru dan tubuh kita itu menakjubkan karena mampu mengeluarkan toksin (nikotin) dengan baik,” katanya. Tetapi saya kemudian berpikir, “Sampai berapa tahun kemampuan tubuh menguras nikotin akan tetap semenakjubkan itu? Mengapa harus membuat paru-paru dan tubuh bekerja dengan begitu keras jika kita sebenarnya bisa menghindarinya?” Konyol sekali, tetapi sekali lagi, saya berusaha menghormati pilihannya. Karena pola hidup dan pola makan itu juga seperti agama dan keyakinan, jika sudah mendarah daging, susah sekali diubah kecuali dari dalam diri orang yang bersangkutan sendiri. Intinya, kembalikan semua pada diri masing-masing dan lakukan yang menurut kita terbaik untuk diri, tanpa banyak menghakimi orang lain.

Bahan Makanan Inti dalam Food Combining

Dalam meracik pola makan yang sesuai dengan prinsip food combining, beberapa jenis bahan makanan menjadi menu wajib. Wied Harry mengatakan dalam sebuah kelas food combining kemarin,” Separuh piring kita setiap makan adalah jatah untuk sayuran mentah”. Dan saya pikir inilah yang dapat menjadi panduan umum untuk mereka yang ingin memulai menjalani prinsip makan ala food combining. Lebih banyak sayur mayur segar, organik lebih baik. Tak lupa buah-buahan segar murni tanpa tambahan bahan lain yang kurang sehat.

Mengapa harus makanan (sayur dan buah) yang segar dan minim pengolahan? Karena di dalam makanan seperti itulah enzim masih ada. Saat bersentuhan dengan suhu panas, enzim akan rusak. Dan enzim inilah elemen yang memungkinkan proses metabolisme tubuh berjalan sempurna. Mungkin semua zat gizi tersedia melimpah di dalam makanan kita, tetapi jika tidak ada atau hanya sedikit sekali enzim, tubuh akan lebih mudah jatuh sakit. Maka dari itu, konsumsi protein, vitamin, mineral kurang maksimal manfaatnya bagi tubuh jika tidak dilengkapi dengan enzim.

Mungkin ada orang yang bertanya, “Lalu bagaimana jika ada telur cacing dan larva lalat yang melekat dalam sayur mayur mentah yang belum mati?” Wied Harry menjawab: Saat seseorang masih belum banyak makan sayur dan buah segar, badan akan cenderung asam. Inilah lingkungan ideal bagi perkembangbiakan telur parasit seperti itu. Oksigen dalam tubuh kurang, dan telur suka menetas di lingkungan anaerob (tanpa oksigen). Namun, sebaliknya jika badan seseorang sudah terbiasa diasupi sayur dan buah segar, risiko itu dapat ditekan. Untuk mencegah telur itu masuk dalam saluran cerna, selalu cuci bersih makanan. Pakai cuka apel murni juga dapat dilakukan. Boleh pakai deterjen pencuci piring yang konon bisa dipakai menyucihamakan sayur dan buah tapi harus dicuci 10 kali dengan air bersih yang mengalir!

Bahan alami pengganti MSG (Monosodium Glutamat)

Pengganti MSG sebenarnya mudah dibuat: bawang merah goreng dan bawang putih goreng.

Menjadi Sehat Tanpa Menjadi Asosial

Berbeda dengan pola makan lain yang mungkin jauh lebih ketat,  food combining masih mungkinkan orang untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang banya

Bagaimana melakukan cheating yang tidak merusak kesehatan?

Cheating adalah melanggar aturan makan.Anda bisa melanggar sesekali dalam food combining tetapi pastikan jangan terlalu lepas kendali. Sinyal tubuh yang halus seperti rasa kurang enak di tenggorokan atau keluarnya mucus (lendir) juga menjadi pertanda Anda sudah melampaui ‘batas aman’. Saat Anda mengabaikan sinyal dari tubuh ini, kemungkinan Anda akan mengalami kondisi kurang nyaman. Bisa sakit atau kurang segar.

Mengapa sulit turun berat badan?

Menurut Wied Harry, sebagian orang yang mengeluhkan sulitnya menurunkan berat badan perlu mengetahui bahwa tidak hanya asupan kalori saja yang harus diperhatikan. Jika sudah mentok (Sulit turun), saatnya melakukan detoksifikasi dengan food combining karena bisa jadi berat tubuh yang berlebihan itu dipicu oleh menumpuknya racun dalam badan. Kata Wied, badan kita dikaruniai mekanisme khusus untuk memblokir racun yang masuk agar tidak terserap. Caranya? Dengan mengikatnya di jaringan lemak, setidaknya efek negatif racun itu terhadap sistem tubuh akan dapat ditekan seminimal mungkin. Jangan memasukkan makanan yang membentuk toksin ke dalam tubuh, kata Wied. Karena itulah pemeliharaan pola makan yang menekan pembentukan toksin juga diperlukan agar selalu sehat dan bugar.

Sistem metabolisme manusia

Sistem metabolisme kita bekerja sepanjang hayat. Secara sederhana, ia dapat dibagi menjadi 3 fase utama: pembuangan (detoksifikasi/ pembuangan zat-zat racun), pencernaan ( penyerapan nutrisi dan asimilasi. Fase pembuangan terjadi sekitar pukul 4 pagi sampai 12 siang, pencernaan dari pukul 12 siang hingga 8 malam dan untuk penyerapan terjadi sejak pukul 8 malam sampai 4 pagi. Bukan berarti setiap fase berlangsung sendiri-sendiri tetapi ini menunjukkan prioritas kerja utama tubuh. Sehingga meskipun misalnya di malam hari seharusnya badan sudah membuang racun, kalau masih ada makanan masuk dan harus segera dicerna, ia akan juga bekerja mencernanya. Satu fase yang menjadi prioritas berlangsung sementara di saat yang sama fase lain juga terjadi meski dengan intensitas lebih rendah.

Detoksifikasi secara alami sebenarnya sudah berlangsung dalam tubuh setiap saat dalam bentuk buang air kecil dan besar. Meski sudah berlangsung secara teratur, kemampuan detoksifikasi alami badan terbatas. Liver dan ginjal yang menjadi alat penyaring toksin memiliki kapasitas terbatas. Waktu pembuangan terjadi saat jam 4 pagi hingga jam 12 siang sehingga saat itu kita harus menata pola makan. Jika makanan yang dimasukkan kurang mendukung proses detoksifikasi, badan akan tambah terbebani dengan toksin.

Mengapa pagi hari harus makan yang mudah dicerna?

Makanan yang mudah dicerna ialah buah dan sayur. Makanan hewani lebih kompleks dan lebih lama dicerna. Di pagi hari tubuh kita masih dalam fase pembuangan. Konsentrasi tubuh terpusat pada kegiatan pembuangan toksin. Karenanya agar kerja tubuh lebih ringan dan detoksifikasi lebih intensif, kita perlu makan pagi yang lebih mudah dicerna.
Namun demikian, kebiasaan makan buah di pagi hari ini mendapat tantangan secara kultural karena orang Indonesia banyak yang lebih terbiasa memulai hari dengan menyantap makanan ‘berat’ seperti nasi dan protein hewani.

Mengapa begadang kurang baik?

Saat begadang, tensi darah akan mudah naik. Darah berubah lebih pekat. Ini memicu alergi karena tubuh menjadi lebih rentan. Sehingga bagi penderita penyakit tertentu seperti asma, umumnya begadang akan memicu penyakit mereka untuk kambuh. Hal ini terjadi karena proses penyerapan dan asimiliasi tidak berjalan sempurna sehingga proses penyembuhan diri secara mandiri (self healing) berkurang.

Pelajaran detoksifikasi dari hewan

Sebetulnya semua makhluk memiliki naluri alami untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Termasuk kucing. Seekor kucing jika merasa sakit, ia justru memakan rumput, bukannya makan lebih banyak daging.

Saat seseorang sakit, biasanya nafsu makannya menurun. Itu karena tubuh lebih berkonsentrasi pada penyembuhan dirinya. Saat itu penyerapan nutrisi dan asimilasinya bekerja paling intens agar pemulihan lebih cepat.

Tradisi kita (masyarakat Indonesia) adalah saat sakit, kita justru disarankan agar makan lebih banyak. Sayangnya makan yang lebih banyak itu adalah makanan yang bukan sayuran dan buah segar yang mudah dicerna tetapi malah makanan berat yang sukar dicerna tubuh (seperti kombinasi nasi putih, minyak dan daging-dagingan), yang pada gilirannya lebih membebani kerja tubuh. Sementara pada kenyataannya, masyarakat kita saat sakit malah menganjurkan yang sakit untuk makan lebih banyak nasi gulai, soto, sup panas yang memang membuat makan lebih lahap (karena disantap hangat) tetapi kurang baik untuk tubuh yang membutuhkan nutrisi yang lebih banyak.

Lalu makanan apa yang paling sesuai dikonsumsi saat kita sakit? Tentu saja makanan segar dan alami, buah dan sayur segar yang lebih mudah dicerna. Makanan yang sudah dicerna seperti daging ayam perlu dibatasi selama sakit agar tubuh lebih cepat pulih.

Tentang puasa

Pada kenyataannya, puasa itu tidak hanya diajarkan untuk satu keyakinan saja. Banyak keyakinan di dunia ini yang mengenal puasa, dalam berbagai sudut pandang masing-masing. Dalam Islam, kita mengenal puasa Ramadhan yang berlangsung selama 29-30 hari. Lamanya satu hari puasa sekitar 14 jam dan diawali dengan sahur pada dini hari dan berbuka puasa di petang hari.

Sementara itu dalam ajaran Katholik, diajarkan pula puasa selama 40 hari berturut-turut dengan lama 24 jam. Diperbolehkan makan kenyang satu kali saja setiap hari.

Untuk Buddha, dikenal ajaran yang mewajibkan berpantang daging dan produk hewani lain (vegan) serta melakukannya selama 24 jam penuh.

Detoksifikasi secara menyeluruh akan terjadi di hari keempat jika pelaksanaan pola makan selama puasa dilakukan dengan benar. Patut diperhatikan bahwa pola makan juga mempengaruhi pengendalian emosi kita. Bisa kita amati bahwa makanan yang mendominasi pola makanan kita sehari-hari ikut menentukan bagaimana kita bereaksi secara emosional terhadap kondisi sekitar. Mereka yang lebih banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan hewani akan lebih mudah naik temperamennya dibandingkan mereka yang lebih banyak makan sayur dan buah apalagi dibandingkan mereka yang berpola makan vegan 100%.

FC mengoreksi berat badan kita

Pola makan food combining yang dilakukan dengan tepat akan mengembalikan berat badan kita ke angka yang normal dengan cara yang lebih alami dan aman. Bagi mereka yang mengalami obesitas, berat badan akan turun hingga ke angka yang wajar. Dan sebaliknya, mereka yang mengalami kekurangan berat badan akan mampu menaikkan berat badan hingga ke berat optimalnya. Namun, sekali lagi banyak subjektivitas jika kita membicarakan kata ‘ideal’. Setiap orang tampaknya memiliki ekspektasi masing-masing mengenai proporsi tubuh dan berat badannya.

Detoksifikasi total dan kebahagiaan

Saat mencapai detoksifikasi menyeluruh, seseorang mungkin akan merasakan apa yang dinamakan dengan kebahagiaan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.

Yoga, meditasi dan food combining

Saat kita melakukan food combining, akan lebih lengkap jika kita juga melakukan yoga. Yoga menjadi sarana untuk tidak hanya mengolah raga tetapi juga jiwa. Yoga yang di dalamnya juga ada meditasi menyempurnakan efek kesehatan dari pola makan food combining dengan menstabilkan emosi. Saat emosi lebih terkendali, darah juga tidak akan menjadi lebih pekat dan asam. Dan perlu diketahui kepekatan dan keasaman darah juga bisa menimbulkan keluhan kesehatan.

Berolahraga sebetulnya bagus untuk tubuh tetapi alangkah lebih baik jika dilakukan bukan hanya untuk bersenang-senang atau sekadar mengeluarkan keringat. Olahraga seperti itu bukan berarti tidak berguna sama sekali tetapi kelemahannya ialah tidak melibatkan emosi yang dalam dari mereka yang mengikutinya. Yoga menjadi olahraga yang holistik bagi tubuh dan jiwa karena di dalamnya tidak hanya otot dan tulang yang menjadi fokus tetapi juga pikiran, perasaan dan emosi yang dilibatkan di dalamnya. Jadi tidak semata-mata hanya menggerakkan badan tetapi juga mengolah emosi dan jiwa.

Yoga juga merupakan jenis olah tubuh dan jiwa yang mengutamakan eksplorasi dan fokus pada diri sendiri, bukan pada dunia luar yang hingar bingar dan selalu terlihat lebih menarik. Meski dipandu oleh guru yoga, fokus tetap berada dalam diri. Kita tidak harus 100% mengikuti instruksi guru tetapi hanya menjadikannya panduan dalam menjelajahi tubuh dan jiwa kita sendiri. Inilah yang membedakan yoga dari jenis olahraga lain.

Agar tidak mengantuk di pagi dan siang hari

Saat sahur, biasanya orang menjejalkan banyak makanan berat dalam pencernaannya dengan tujuan agar jangan sampai lemas di siang hari. Tetapi apa mau dikata, toh demikian tetap saja kantuk dan lemas menyerang meski jam baru menunjukkan pukul 9 pagi.

Lain halnya dengan mereka yang melakukan pola makan food combining. Dalam situasi di luar bulan puasa, kita bisa amati mereka yang menganut food combining tidak akan mudah mengantuk sehingga tidak akan minum kopi, keluar merokok atau makan gorengan banyak-banyak di sela rapat agar tetap terjaga.

Mengapa ini bisa terjadi? Penganut food combining cenderung lebih segar sepanjang hari karena proses penyerapan nutrisi dari makanan tidak menguras energi dalam tubuh. Tetapi mereka yang membabi buta makan terlalu banyak dan tanpa kendali di saat sahur akan lebih cepat mengantuk dan lemas karena badan lebih cepat terkuras energinya untuk mengurai dan menyerap makanan yang masuk. Belum banyak disadari bahwa proses menguraikan dan mencerna makanan juga mengambil kalori dari tubuh sebagaimana kegiatan fisik lainnya.

Antara pukul 12 siang dan 6 sore yang menjadi masa jeda karena tidak ada makanan yang masuk di jam yang seharusnya diisi makan siang, tubuh akan mengoptimalkan penyerapan nutrisi dan asimilasi. Saat kita makan makanan yang berat di saat sahur, makanan itu akan tetap diproses tubuh karena tubuh secara naluriah selalu memecah makanan yang lebih berat dahulu daripada yang mudah dicerna (itulah mengapa buah harus dimakan dulu sebelum yang lain, karena buah akan dikalahkan oleh makanan berat). Saat seseorang makan makanan yang mudah dicerna saat sahur, pencernaan beristirahat, dan tubuh akan fokus pada pemulihan dan peremajaan sel-sel setelah lewat tengah hari (12 siang). Tak heran tubuh menjadi lebih segar dan keluhan kesehatan akan teratasi dengan baik saat berpuasa dengan pola makan yang benar. Sementara sebaliknya jika seseorang makan terlalu banyak makanan berat, ia akan merasa lemas karena badan lelah dipaksa mencerna makanan berat itu bahkan hingga lewat tengah hari saat proses pemulihan peremajaan seharusnya terjadi. Akibatnya, kondisi kesehatan setelah puasa bukan lebih bagus malah memburuk, plus dibebani dengan pola makan berbuka yang seenaknya dan cenderung mengabaikan prinsip kesehatan.

Makanan berat dan susah dicerna yang seharusnya dihindari selama puasa

Biasanya kita sahur dengan karbohidrat, protein dan lemak yang dicampur menjadi satu dalam berbagai bentuk hidangan seperti nasi goreng, ayam, rendang, tumis, gorengan, sayur bersantan, dan sebagainya.

Jika ingin terhindar dari masalah pencernaan selama puasa, sebaiknya menghindari pola makan seperti ini. Jangan makan protein hewani bersamaan dengan bahan pati (nasi, roti) karena akan mempersulit proses pencernaan yang pada gilirannya menguras energi. Akibatnya? Mengantuk dan lemas sepanjang siang dan sore hari.

image

Leave a comment

Filed under health

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s