1Q84: 2 Dunia Paralel, 2 Sejoli, 2 Bulan

image

Membaca judul novel Haruki Murakami yang teranyar ini mengingatkan saya pada novel karya George Orwell. Saya pernah membaca dan sekilas isi “1984” karangan Orwell terbilang membosankan, yang akhirnya membuat saya terseok-seok harus mencapai halaman terakhir karena atmosfer dunia yang digambarkan dalam novel “1984” terasa begitu kelabu dan plotnya monoton sehingga saya kehilangan antusiasme menuntaskan proses membaca.

Saya merasa sebuah karya perlu dibaca dari sampul ke sampul dan bahkan jika perlu dibaca berulang kali jika mampu mengajarkan pada saya sesuatu yang baru an lain dari apa yang saya bisa dapatkan dalam kehidupan nyata tetapi idealnya dunia rekaan itu juga memiliki kesamaan dalam sejumlah aspek dengan diri dan hidup yang saya jalani dan semua tetek bengeknya. Intinya, di satu sisi saya tak mau membaca yang terlalu realistis dan menggigit secara nyata hingga seperti artikel berita dan di sisi lain juga menghindari karya yang begitu imajiner, mengawang-awang sampai saya kebingungan di mana saya harus berpijak, karena saya takut ketinggian. Dan sensasi melayang seringan kapas terlalu mengerikan untuk makhluk seperti kita yang tak bersayap. Saya bisa jatuh ke dunia nyata kapan saja tanpa ada peringatan sebelumnya.

Dan 1Q84, hingga ke satu titik tertentu, mampu memberikan saya kepuasan yang seimbang antara realita dan rekaan tersebut. Saya bilang titik tertentu karena setelah di luar titik itu, saya merasa plot sudah begitu absurd dan tak merasakan ada kesamaan lagi dengan realitas yang saya miliki di sini saat ini.

Sebagai penikmat tulisan Haruki, saya tergolong baru. Saya tahun kemarin membaca karyanya yang berupa novelet (novel tipis) yang berjudul “Kaze No Uta O Kike” (Dengarlah Nyanyian Angin) yang pertama kali dipublikasikan tahun 1979. Karyanya sarat dengan tema kehidupan hura-hura generasi muda negeri matahari terbit pasca Perang Dunia II yang dimabuk seks bebas, bergelimang alkohol, suka memberontak dalam menelusuri jalan hidupnya sendiri. Deskripsi seronok menghiasi di beberapa halaman novelet. Novel singkatnya itu adalah karya fiksi pertama novelis penyuka jazz itu dan langsung menang di Penghargaan Sasta Gunzo di tahun yang sama. Ya, itulah nasib orang berbakat. Sukses besar di uji coba pertama, tanpa kuliah magister sastra yang mahal atau kursus menulis kreatif yang diajar penulis tersohor. Bah! Karenanya kadang saya ingin menyobek mulut orang yang berkata:”Bakat itu sesungguhnya mitos.” Untungnya saya masih cukup waras dan bisa mengendalikan diri setelah merenungkan bahwa jauh sebelum itu Haruki memang sudah lekat dengan dunia sastra dari kecil. Kedua orang tuanya pengajar sastra Jepang, kalau tidak salah demikian uraian biografinya di Wikipedia. Bahkan Haruki sempat menerjemahkan novel-novel Amerika seperti The Great Gatsby karangan Scott Fitzgerald.

Dunia rekaan Haruki Murakami dalam 1Q84 ini lain dari dunia yang dibangun Orwell dalam 1984. Haruki bisa dikatakan menyiapkan latar belakang waktu dan tempat plus karakter utama yang mirip sekali dengan dirinya: dua dunia paralel yang dinamai secara terang-terangan dalam narasinya sebagai negeri Jepang pada tahun 1984.

Tentang kesamaan dengan situasi yang dimiliki pembaca dalam kenyataan, dapat saya katakan novel ini cukup tepat dengan memilih 2 karakter protagonis pria dan perempuan yang seumur dengan saya sebagai pembaca. Kawana Tengo, si protagonis pria, adalah seorang penulis debutan yang berusia 29 tahun yang masih lajang dan tinggal di sebuah apartemen murah di Tokyo. Tengo mencari nafkah dengan mengajar sebagai staf lembaga bimbingan belajar. Sebagai seorang pekerja tidak tetap, ia merasa rendah diri dan kurang berarti di tengah masyarakat. Walaupun masih lajang, Tengo sudah kehilangan keperjakaan sejak kuliah. Bukan, bukan karena diperkosa atau semacamnya tetapi karena ia sudah berhubungan seks dengan banyak gadis semasa kuliah. Tetapi ia mengaku itu semua hanya untuk bersenang-senang, eksplorasi masa muda. Ia masih setia secara psikologis, bukan secara seksual, pada Aomame, protagonis perempuan dalam kisah ini yang menggenggam tangannya di suatu siang usai sekolah tanpa ada orang lain yang menyaksikan setelah Tengo -yang cerdas dan bertubuh besar dan kuat di kelas – menyelamatkan Aomame dari perilaku kurang menyenangkan sebagian siswa dalam kelas eksperimen. Saya sangat terkesan dengan keberanian Haruki mendeskripsikan fase tumbuh kembang Tengo secara psikologis dan seksual yang meliputi awal masa akil balignya di usia 10 tahun setelah tangannya digenggam Aomame hingga hari-hari di masa remajanya yang bergejolak karena naiknya level testosteron. Tengo membayangkan Aomame setiap ia ingin ‘memuaskan diri’. Setelah mencapai usia matang di akhir 20-an pun ia masih memimpikan Aomame, ingin menemuinya tidak peduli kondisinya setelah 20 tahun tak bersua. Untuk melampiaskan kebutuhannya yang satu itu, ia tak lagi tertarik pada gadis muda. Tengo memang selalu dibayangi sosok ibunya. Apa yang terjadi pada diri Tengo mirip Oedipus Complex boleh dikatakan, tetapi kadang ia juga tertarik dengan gadis yang lebih muda. Namun, intinya ia lebih suka dengan wanita yang lebih tua karena memberikannya semacam kenyamanan dan bimbingan terutama saat berhubungan. Ia tak perlu banyak bekerja dan berpikir. Cukup melakukan instruksi dan menerima. Dan lebih dari itu, Tengo mendapatkan ketenangan psikologis (hal 302) saat bersama dengan perempuan yang lebih dewasa dan mampu mengayominya, seperti sosok ibu kandungnya yang tak tahu rimbanya dan seorang ibu guru di SD tempatnya bersekolah yang sudah menolongnya dari amukan sang ayah yang egois dan kasar. Baca saja kutipan berikut:
“Secara ajaib, Tengo merasa tenang ketika berhadapan dengan wanita yang lebih tua darinya ini.”(Hal 302)

Karena itu, tak heran bahwa Tengo memiliki hubungan perzinahan dengan seorang wanita yang 10 tahun lebih tua (namanya tak dijelaskan di awal dan Haruki terus menerus mengulang penyebutan frase “10 tahun lebih tua”. Ia berperan seperti pria simpanan, atau jika mau menggunakan istilah kontemporer di tanah air: “brondong simpanan” atau BIL (brondong idaman lain). Tengo dikunjungi wanita paruh baya beranak dua itu seminggu sekali untuk berhubungan layaknya suami istri. Karena itulah, ia sanggup tetap waras meski ditinggalkan Aomame yang diam-diam masih ia harapkan kehadirannya.

Sementara itu, di sisi lain Aomame adalah protagonis wanita yang sebenarnya cukup unik dan kompleks. Latar belakangnya sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga sekte keagamaan membuatnya terkucil dari pergaulan. Tak heran Tengo kecil yang populer di sekolah merasa tertarik dan menolongnya. Demikian juga Aomame. Ia berterimakasih untuk kepedulian Tengo, sesuatu yang cukup langka didapatkannya dalam lingkungan sekolah yang menyiksa karena terus menerus diasingkan dan dihina karena ia menganut ajaran kepercayaan yang dianggap aneh.

Sebagai seorang wanita muda lajang yang menjelang 30 tahun, ia sudah memiliki jalan karirnya sendiri. Bukan suatu posisi di perkantoran tetapi pelatih di klub olahraga. Untuk ukuran seorang gadis, Aomame sangat bugar. Ia mengatur asupan hariannya dengan membatasi makanan berlemak, alkohol (hal 303), bergaya hidup sederhana (305), kadang berfoya-foya tanpa sepenuhnya lepas kontrol dan mempraktikkan seks yang aman (hal 304).

Sebagai individu, Aomame juga memiliki sisi gelap. Ia bekerja sebagai pembunuh ‘bayaran’ yang kebetulan diajak kerjasama seorang wanita tua filatropis yang kaya raya berkat sahamnya yang terus naik nilainya. Sebenarnya Aomame tak bisa dibilang pembunuh bayaran tetapi apa yang ia lakukan memang mirip dengan itu. Bedanya, motivasi awalnya ialah membantu sesama wanita yang kehidupannya hancur lebur karena kekerasan rumah tangga. Wanita-wanita malang ini ditampung di sebuah lembaga perlindungan semacam Kontras yang memiliki fokus pada pemberian bantuan terhadap kaum wanita yang tertindas oleh pria. Baik Aomame dan si wanita tua dermawan (yang juga tak disebut namanya) itu sebetulnya adalah dua makhluk yang sama-sama terluka karena kehilangan orang yang mereka kasihi akibat kekerasan kaum pria (baca: suami) dalam pernikahan. Aomame menggunakan kebugaran dan kegesitannya sebagai senjata membalas dendam pada pria-pria buas yang dalam benaknya satu spesies dengan suami almarhumah sahabat dekatnya yang bunuh diri akibat depresi pasca perkawinan yang penuh kekerasan. Si wanita tua itu juga memiliki menantu yang sama gilanya, yang mengakibatkan ia kehilangan anak dan calon cucunya sekaligus. Ia tak membunuh si menantu tetapi hanya menyiksanya perlahan-lahan.

Haruki tampak ingin mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga, ketidakberdayaan wanita dalam masyarakat Jepang dan bunuh diri yang dilatarbelakangi oleh penindasan mental, fisik dan psikologis yang tidak terkira dalam novelnya kali ini.

Sementara Tengo adalah pria muda berbadan besar yang menderita Oedipus Complex, Aomame memiliki gejala Electra Complex. Dalam beberapa kali potongan kisah, ia diceritakan memiliki hasrat yang menggebu-gebu dengan pria yang lebih tua dengan bentuk kepala tertentu dan berambut tipis yang menunjukkan gejala meranggas menuju kebotakan permanen akibat testosteron. Sebelum berpesta seks untuk satu malam, ia biasa minum alkohol di bar eksklusif dan menunggu pria mapan berusia lebih tua lalu menggodanya dan mengajaknya bersetubuh, tentunya harus dengan kondom. Aomame tak mau dirinya hamil atau tertular penyakit begitu saja. Ia bukan pelacur jadi masuk akal jika ia menolak bayaran. Toh sebenarnya ia juga menikmati tubuh pria yang ia ajak tidur. Mungkin dianggapnya sebagai ‘impas’.

Meski kisah ini ditulis dalam setting Jepang 29 tahun yang lalu, teknologi komunikasi radio sudah ada. Aomame diceritakan menunggu pesan dari Tamaru, sang bodyguard wanita tua, melalui sebuah perangkat penampil pesan. Mungkin mirip pager namun berukuran lebih besar. Dan Tengo sudah menggunakan mesin ketik listrik yang memudahkannya menulis ulang novel “Kepompong Udara”. Mesin ketik manual perlahan ditinggalkan. Detil-detil perkembangan teknologi ini menarik karena menunjukkan perkembangan peradaban pula di masa itu.

Bagi saya, novel ini menjadi prasasti yang menunjukkan pergeseran nilai-nilai sosial budaya di negeri yang bahkan letaknya paling timur sekali pun. Saya pikir westernisasi melanda Indonesia karena negeri ini yang cenderung rendah diri menghadapi budaya Barat. Akan tetapi bahkan ternyata negeri sepercaya diri dan searogan Jepang pun tidak luput dari fenomena tsunami budaya semacam ini, yang menggerus budaya mereka sendiri bak gelombang yang memicu abrasi di bibir pantai yang tak terlindung barisan bakau.

Akhirnya, sebagai kritikus amatir, dari 10 bintang yang tersedia untuk menilai novel 1Q84 ini, saya bersedia memberikan setidaknya 8 bintang. Dua bintang masih saya genggam karena pertama, terlalu banyaknya deskripsi khas orang dewasa di sini, yang membuatnya menjadi kurang layak dibaca untuk anak di bawah umur. Kedua, novel ini menurut hemat saya sebaiknya dikemas jadi 1 jilid saja. Gramedia Pustaka Utama tampaknya melakukan hal serupa dengan penerbit terjemahan lain yang juga menerbitkan 1Q84, yang membaginya menjadi 2 buku yang masing-masing setipis 500-an halaman. Tak begitu terasa karena narasinya cair, mengalir dengan baik meski terpecah-pecah dengan sengaja karena peralihan dalam tiap bab dari kehidupan Aomame ke Tengo dan sebaliknya.

Selamat membaca!

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s