Perlukah Mewajibkan Karyawan Follow/Like Akun Jejaring Sosial Perusahaan?

Rasanya sangat ironis saat kita menemui karyawan atau staf perusahaan yang aktif di social media tetapi tidak tahu menahu atau bahkan tidak peduli sama sekali pada keberadaan perusahaan tempatnya bekerja sehari-hari di dunia maya. Hal seperti ini sudah jamak dijumpai. Patut dimaklumi kalau si karyawan adalah tipe orang yang konservatif. Jenis ini biasanya generasi baby boomers yang abai terhadap kemampuan canggih perangkat yang dimilikinya. Mereka hanya tahu ponsel digunakan untuk menelpon dan bertukar pesan pendek, dan bagi yang sering berbisnis, bertukar email atau Blackberry Messenger.
Tetapi saat ini generasi Y (mereka yang lahir di dan setelah tahun 1980) makin banyak memasuki angkatan kerja. Di banyak perusahaan, pekerja-pekerja yang akrab dengan social media adalah para karyawan muda, di jenjang yang sering disebut ‘entry level’. Sementara para manajer dan atasan adalah mereka yang cenderung berpikir kolot (meski memang ada pengecualian).
Menurut pengalaman saya sendiri, karyawan-karyawan muda ini tak peduli dengan akun perusahaannya. Sebagian bahkan mengikuti update atau like hanya untuk formalitas. Dan bagi sebagian lain yang nekat, mereka tidak segan mencurahkan rasa frustrasi pada jejaring sosial perusahaan, entah itu berupa sindiran, olok-olok yang samar, atau menghina dengan menggunakan username palsu. Bahkan saya pernah menjumpai seorang karyawan bank yang ikut kuis dari akun Instagram perusahaannya dengan nada menggerutu. Apakah ia dipaksa untuk sekadar meramaikan kuis itu? Saya juga tidak tahu secara pasti. Tetapi tertanggap semacam kekesalan. Mungkin juga karena dipaksa follow oleh manajernya.
Di sisi lain, para pengelola akun jejaring sosial korporat juga memiliki ‘beban kesalahan’nya sendiri. Mereka sering tidak mengajak para karyawan untuk aktif terlibat menyemarakkan aktivitas dalam akun perusahaan. Mereka terlalu sibuk melibatkan dunia eksternal, di luar lingkaran korporasi tersebut, padahal d ‘kandang’ sendiri masih ada orang-orang yang perlu diajak terlibat.
Entah dengan pendapat orang lain tetapi menurut hemat saya, selalu ada manfaat untuk memberdayakan orang-orang terdekat. Daripada pihak luar, mereka lebih mudah dijangkau. Pertama ialah karena faktor kedekatan fisik. Walaupun misal kantornya jauh pastinya jaringan komunikasi lebih terjalin erat daripada dengan pihak luar. Sosialisasi akun jejaring sosial perusahaan akan banyak membantu penyebarluasan pesan perusahaan ke masyarakat luas. Alasan kedua yaitu karena biayanya yang lebih murah. Bisa jadi malah tanpa biaya. Jika mau, manajemen atas dapat mengeluarkan kebijakan untuk mewajibkan karyawan menjadi fans atau followers di social media. Dan menurut saya, ini menunjukkan dalamnya komitmen dan keseriusan manajemen perusahaan yang bersangkutan dalam keberhasilan kampanye digital perusahaan. Namun sekali lagi, tak semudah membalik telapak tangan, terutama jika korporasi tersebut masih terkungkung nilai-nilai lama.

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s