Catatan Singkat dari Memoar Elizabeth Gilbert “Committed”

Sebenarnya bukan catatan juga. Hanya sekelumit kumpulan kutipan yang menggelitik untuk ditelaah lebih lanjut. Misalnya nih:
“Kau memiliki seseorang untuk sementara waktu lalu orang itu pergi.” (Hal 206)
Cukup menohok juga terutama karena baru saja saya kehilangan sepupu tercinta. Memang benar adanya. Kalau kita mau lebih berpikir lagi, pada dasarnya setiap manusia itu menjalani hidupnya sendiri. Mungkin ada orang tua, ada saudara, anak, pasangan, kakek, nenek, tetangga, teman kerja, musuh kerja, dan seterusnya tapi mereka semua adalah orang yang kebetulan bertemu dalam sebuah periode dalam hidup kita. Periode itu bisa singkat, bisa lama, bisa pendek-pendek tapi sering, lama tetapi jarang, dan lain-lain.

“Aku mencintainya, sehingga aku ingin melindunginya – bahkan dariku, jika hal itu masuk akal.”(Hal 208)
Ya kadang memang diri kita juga merusak orang yang kita cintai, dan itu banyak terjadi dan memang sudah hukum alam tampaknya. Manusia yang saling mencintai juga bisa saling menghancurkan satu sama lain dalam berbagai cara yang tidak terpikirkan. Namun, itulah yang namanya pengorbanan cinta, yang bagi orang-orang romantis sering dilebih-lebihkan hingga terdengar sedikit menjijikkan. Padahal sebenarnya wajar saja, tak perlu dramatisasi.

“Semakin muda usiamu saat menikah, semakin besar kemungkinanmu untuk bercerai. Bahkan kau sangat mungkin bercerai jika menikah muda.” (Hal 210-211)
Sangat ceroboh untuk menarik generalisasi seperti itu. Setiap kasus pernikahan itu unik dan meski ada benang merah satu sama lain, akan tetap ada perbedaannya juga. Terlalu banyak faktor yang berperan dalam sebuah formula pernikahan yang sukses sehingga terkesan musykil untuk disederhanakan menjadi satu faktor pembangun saja: usia yang matang. Semua orang bisa bercerai kapan saja di usia apapun jika mereka merasa sudah saatnya untuk itu.
“Semakin tinggi pendidikanmu, secara statistik, maka pernikahanmu akan semakin baik.” (Hal 212)
Pendidikan yang dimaksud di sini mungkin pendidikan formal, begitu saya menangkapnya. Secara logis, memang ada benarnya. Masuk akal jika makin terdidik, seseorang akan makin terbuka wawasan dan cara berpikirnya sehingga pernikahan nantinya akan berjalan lebih stabil karena tidak dikuasai emosi dan nafsu semata. Tetapi kebanyakan logika juga bisa berbahaya, apalagi pria jaman sekarang.

“Keadaan darurat yang pada akhirnya menghadangmu adalah yang tidak pernah kau siapkan sebelumnya.” (Hal 218)
Atau mungkin kondisi darurat itu karena kita terperangkap dalam pemikiran kita sendiri hingga lupa dengan kondisi riilnya. Ini mungkin yang namanya “mind trap”, jebakan pikiran yang membelenggu.

“Orang selalu jatuh cinta dengan aspek paling sempurna dari kepribadian pasangannya. Bagaimana tidak? Siapa pun bisa mencintai bagian paling mengagumkan dari orang lain. Tapi itu bukan trik yang cerdas. Trik yang sangat cerdas adalah: Bisakah kau menerima kekurangannya? Bisakah kau melihat kekurangan pasanganmu dengan jujur dan berkata,”Aku bisa menghadapinya. Aku bisa melakukan sesuatu mengenai hal itu?” (Hal 222)
Biro jodoh terlalu sering mempromosikan kliennya dengan cuma menyebut kelebihan. Bagaimana dengan kekurangan? Bukankah itu juga nanti harus diterima satu paket dengan kelebihan yang bisa diterima dengan tanpa susah payah? Seperti berjualan, sudah terlalu sering kita mendengar orang membanggakan kelebihan barang dagangannya dahulu tapi berapa penjual yang dengan apa adanya berkata panjang lebar, “Ini lho barang gue kelemahannya di sini, di sini sama di sini. Ga bisa dipakai kayak gini kayak gitu. Yang lainnya ditanggung bagus. Silakan mau beli atau tidak.”? Eh, kita membahas pasar atau pernikahan sih?

Leave a comment

Filed under writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s