Yoga Teaching Certificate: How Important Is It for Students and Future Teachers?

Why yoga teaching certificates matter?

image

I read some exchanges of thoughts somewhere on the social network. Some gurus argued over the importance of being a certified yoga teacher.
To be honest, it has been a constant source of debates, controversies, and arguments. That said, it raises a question in my mind: How vital is a yoga teacher certification for students?
Pujiastuti Sindu, the founder of Yoga Leaf, reasons at her site that all the fuss about certification is primarily because of standardization. I cannot agree more on that. Certified yoga teachers are assumed to be more knowldgeable and prepared on yoga realm than uncertified ones. Certification seems to answer the problems we have been dealing so far, such as the discrepancies of yoga teachings understanding. Certification ensures everyone signed up for it is taught the same way and gets relatively more or less the same curricula. Thus, there will be more
Yet, there are a number of downsides of this undertaking. By applying the certification policy, yoga enters the domain of business world. Yogapreneurship, writes Sindhu, emerges. And some people who were never interested in teaching yoga begin reconsidering this. Certification offers them an opportunity of upgrading in terms of incomes. Yes, they can’t deny that certification is the best way to justify a raise in salary because certificates help the holder look way more professional, a lot more experienced, and in some way, more credible in the eyes of students. It is not an easy and cheap way to get oneself certified so why should one stay in the current salary amount if s/he can make money more with the hard-earned sheets of papers?
Through the perspective of students, of course we appreciate more people with certificates. Students can trust a certified yoga teacher more because the certificate helps him to make sure a yoga teacher is really competent or not.
But it is not an end at all. The high appreciation and respect may be then revalued and reassessed over time. Gurus, or anyone claiming they’re gurus, could and should undergone a competence overhaul for a certain period of time. And to some extent, the overhaul in fact takes place every single day. A yoga teacher can lose what s/he actually deserves once s/he commits ethical codes, codes of conducts violations.
Experience, however, should accompany a certificate. Without the two, it is very unlikely to have a close-to-ideal yoga teacher. Experience is another crucial factor that can only be built and proven over time. Though Sindhu argues that experience is on top of credibility earned through certification, I would like to add that one’s natural talent of teaching is also another important factor. We have seen some people who are smart and talented in yoga practice but they don’t feel like teaching is their path. They just love to share yoga with him or herself or the closest. And there’re also some others who don’t really achieve a good mastery of yoga but they’re very good at teaching. Some who are unfortunate enough to neither possess teaching talent nor yoga mastery.
As for a future or aspiring yoga teacher, they ought to have the inward sensibility. Suppose a yogi/ni is an institution (just like schools, governments), s/he too must have the high sensibility and judgment on whether s/he deserves teaching or not. In other words, after receiving a teaching certificate, a future yoga teacher is supposed to be examining him/herself. S/he has now gotten a weapon in hand, what’s next?
That brings us to the next question: How prepared one’s mentality and well-being to teach yoga after obtaining a certificate? This proves to be the most crucial query yet the most delicate and challenging one to tackle. Only you can decide if you’re ready to teach or not. No one else can.

Think Simply. Maybe Life is Not That Meaningful

image

Throughout my life time, I have been always in the pursuit of meanings in every single thing around me. And now Eco says the opposite. Ah, maybe he is right. A laid back approach to life is needed when your life is so full of ambitions and targets.

Apakah Guru Yoga Perlu Gunakan Social Media?

Social Media Site Management Strategy
Haruskah guru yoga menjadi social media junkie? (Photo credit: Chris Pirillo)

 

 

 

 

 

 

 

Dalam sebuah perbincangan santai dengan seorang teman akrab saya yang sudah relatif  berpengalaman mengajar yoga secara profesional, kami membicarakan tentang penggunaan social media dalam marketing yoga. Tidak bisa dipungkiri, keampuhan digital marketing yang sudah banyak dikenal luas oleh para pengusaha juga merambah dunia yoga. Sebagian guru yoga seolah berlomba-lomba menggunakan jejaring sosial, entah itu blog, Facebook, Twitter, atau Instagram, untuk memasarkan dirinya. Sebagian dari mereka tidak lagi enggan dan malu-malu untuk mengunggah beberapa foto kegiatan mengajar mereka, atau foto bersama dengan peserta kegiatan (teacher training/ workshop) mereka di media sosial.

Sebetulnya, pada hakikatnya guru yoga juga seorang pedagang. Karena ia seorang pedagang, perlu dipahami pula bahwa ia mau tidak mau perlu memasarkan jualannya, ketrampilan, pengalaman dan keahliannya beryoga. Apalagi jika mengajar yoga adalah satu-satunya mata pencahariannya, atau pekerjaan yang utama.  

Namun, masalah menjadi timbul saat hasrat berdagang di media sosial ini terlalu kuat sampai-sampai membuat risih yang melihatnya karena terlalu di luar ambang kewajaran.

Ada yang cukup intens dalam berpromosi. Bahkan di beberapa kesempatan, promosi itu dilakukan secara terbuka, tanpa merasa malu dan segan. Mereka memasuki grup-grup di Facebook untuk menjajakan workshop atau yoga retreat di sebuah resor atau tempat tetirah yang eksklusif atau menghubungi sejumlah teman untuk menyebarkan berita tentang event yoga dengan membayar sejumlah biaya.

Ada juga yang relatif masih terkendali. Dalam sebuah workshop oleh seorang guru dari AS yang pernah saya ikuti, sang guru mengedarkan sebuah perangkat tablet yang diperuntukkan bagi peserta yang bersedia menerima newsletter dari situs bisnis yoganya. Itu dilakukan secara sukarela. Jadi jika merasa tidak membutuhkan newsletter itu hadir di kotak masuk email, silakan saja melewatkannya. Dengan cara ini, bisnis bisa tetap berjalan tanpa menyakiti kepercayaan dan respek yang diberikan peserta terhadap si guru dan reputasinya akan tetap lumayan utuh karena tidak adanya unsur pemaksaan atau rasa ‘dibombardir’ dengan promosi yang membabi buta. Cukup seperlunya tetapi bermakna dan berguna.

Ada yang mengaku menghindari promosi di jejaring sosial atau media beriklan lain apapun yang terkesan komersial. Biarkan mengalir saja, begitu katanya. Mereka yang menyukai cara apa adanya ini lebih sibuk menjalin hubungan offline. Mereka tidak suka terlalu menarik perhatian di dunia maya dan nyata tetapi mencoba lebih menawarkan kenyamanan dalam belajar layaknya dengan teman, bukan dengan seorang guru yang biasanya lebih tegang dan terkesan jauh.

Yang mana yang benar atau salah? Rasanya hal ini tidak bisa diputuskan begitu saja. Banyak sekali faktor yang perlu dipertimbangkan dan memutuskan benar tidaknya apa yang guru-guru yoga ini lakukan juga bukan hak saya. Saya menghormati setiap pilihan yang mereka buat dalam memasarkan diri. Semua sah-sah saja. Semua boleh-boleh saja. Asal tidak ada yang dirugikan dan tidak melanggar norma dan hukum yang berlaku.

Masalah juga makin menjadi-jadi saat seorang guru yoga terkesan menjanjikan secara muluk-muluk atau bombastis. Misalnya mengatakan bahwa pose ini bisa menyembuhkan kelainan ini secara instan
Puncaknya adalah saat seorang guru yoga yang relatif agresif memasarkan dirinya itu kurang mengimbangi dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman serta penghayatan beryoga, yang dirasa belum memadai bagi muridnya secara umum. Tentu sangat sulit mendefinisikan frase “belum memadai” ini karena sangat kabur batasannya. Siapa yang bisa mengukur secara pasti bahwa seseorang sudah kompeten atau tidak dalam mengajar? Tidak ada yang bisa. Semua hanya berdasarkan asumsi yang subjektif, yang bisa berubah dari satu orang ke orang lain. Akan tetapi, ada juga sebagian pengetahuan dasar beryoga yang sudah pakem dan paten seperti yang ditemui teman saya itu yang ditanya mengenai seorang guru yoga kenalannya, sebut saja X, oleh seorang murid yang kita sebut saja Y. Murid Y ini penasaran mengapa menurut guru yoga X ini, punggung diperbolehkan untuk melengkung (rounding) dalam melakukan asana downward-facing dog yang menurut pemahaman si Y dari guru lainnya adalah bentuk punggung harus sebisa mungkin lurus. Masalah juga menjadi semakin pelik saat saya menyadari itu bisa jadi muncul dari kurang pahamnya si Y dengan kalimat yang disampaikan si X. Harus kita akui, sering kalimat itu bisa membawa makna yang kabur dan ambigu.

Kesalahpahaman semacam ini terkadang bisa terjadi dan kita perlu berbaik sangka bahwa mungkin maksud si X bukanlah seperti itu, tetapi mungkin si Y yang kurang memahami kalimatnya saja.

Tetapi terlepas dari semua teknik marketing yang diterapkan seorang guru yoga dalam mendapatkan murid, kembali lagi bahwa dewan juri yang paling berkuasa adalah masing-masing murid. Apakah mereka merasa nyaman belajar dan diajari oleh si guru? Atau mereka merasa tidak ada perbaikan dalam beryoga setelah belajar dari si guru yang bersangkutan? Dan perbaikan ini juga hendaknya jangan hanya diukur dari pengusaan teknik asana yang tepat tetapi juga aspek-aspek lain dalam yoga yang juga perlu untuk diketahui dan dipelajari.
 

 

 

 

Kafein+Rokok+ Sepakbola=…

Di kantor, tampaknya semua orang (kecuali saya) selalu minum kopi untuk memulai aktivitas. Entah itu kopi instan atau kopi tubruk, semuanya suka menyeduh kopi. Tidak cuma di pagi hari tetapi juga di sore hari saat kantuk menyerang. Seolah ini menjadi bagian penting dari ritual harian agar tetap produktif, menghasilkan, dan pada akhirnya menguntungkan perusahaan dan diri sendiri.
Di kalangan penerjemah dan jurnalis, kafein dikenal luas sebagai doping yang ampuh untuk Tetapi tunggu, apakah benar seperti itu?
Saya terus mempertanyakan tradisi minum kopi dan minuman berkafein lainnya di pagi hari karena saya gagal merasakan faedahnya dalam tubuh saya. Apakah itu cuma sugesti belaka dari mereka? Ataukah fakta yang dapat dipercaya?
Saya merasa sangat skeptis karena merasa kafein bukan solusi jangka panjang yang baik. Konsumsi terus menerus kafein (dan gula) rasanya kurang sehat.
“Ah itu kan karena kamu belum pernah minum kopi!” Mungkin sebagian dari Anda mencela begitu.
Saya sudah pernah meneguk kopi di usia kanak-kanak. Almarhum kakek saya adalah penikmat bola, kopi dan rokok sejati. Beliau habiskan banyak malam menikmati siaran langsung sepakbola Eropa di TVRI selepas tengah malam sembari terbatuk dan menyeduh kopi kesukaan. Saya yang masih berusia 4-5 tahun tahu karena saya juga kadang masih ikut terjaga. Apakah itu sesuatu yang membanggakan? Tidak juga. Saya tidak bisa membanggakan di depan teman sekelas saya bahwa saya bisa tetap melotot di depan televisi saat mereka pasti sudah terlelap. Saya masih ingat jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam tetapi saya masih memandang langit-langit, merasa bosan setelah televisi dimatikan kakek.
Saya teringat mengendap-ngendap di dapur untuk meramu secangkir kopi. Enak, harum, dan hangat. Saya meneguknya dan berpikir kalau saya lebih besar saya pasti akan bisa minum lebih banyak lagi. Untunglah tidak demikian. Terlepas dari status saya sebagai perokok pasif di rumah kakek sepanjang masa kanak-kanak, saya di kemudian hari justru menjauhkan diri dari kombinasi 3 komoditas mematikan ini: rokok, kafein dan sepakbola. Saya membenci semuanya setengah mati karena saya tahu persis akibat nyatanya pada badan kakek saya.
Lalu teman-teman saya setengah bercanda berkomentar,”Jangan kebanyakan kopi! Nanti sakit jiwa!” Salah satu artikel dengan hits paling banyak di situs kami saat itu adalah tentang kopi dan kesehatan jiwa. Kami membuatnya jadi headline, mungkin sebagai olok-olok atas diri mereka sendiri yang gemar minum cairan hitam pekat itu.
Nathanael, salah seorang kakak kelas saya di kampus dulu, pernah berteori,”Ini (rokok, dan mungkin juga kopi) adalah harga yang harus dibayar untuk pertemanan dan hubungan sosial.” Ya, saya tidak menampik teorinya itu. Sangat masuk akal. Lihat saja betapa mudahnya mengawali percakapan dengan orang asing dengan berbekal pemantik api, rokok dan kopi. Di warung kopi sebelah rumah adalah contohnya. Gelak tawa dan lelucon jorok selalu menyembur dari dalam kedai kopi yang dijejali bapak-bapak dan pemuda kampung yang menikmati sajian gorengan, rokok dan kopi panas. Lalu ada pojok laknat di kantor yang dipenuhi perokok-perokok impulsif, yang sesekali tawanya pecah membahana, setelah membawa kopi dan rokok secukupnya untuk membicarakan pertandingan sepakbola semalam yang membuat mereka kerja sambil terkantuk-kantuk. Saya selalu menyaksikan betapa kedekatan antarmanusia itu bisa tercipta dari penggadaian kesehatan dengan kenikmatan temporer dari benda-benda terkutuk itu.
Apa saya sedang mengutuk perokok? Tidak. Karena setiap perokok mengingatkan saya pada kakek. Saya hormat pada kakek, saya cinta kakek, saya mendoakannya terus agar tenang di alam sana. Tetapi itu tidak akan mengubah kebencian saya pada tembakau, kafein dan sepakbola.

Polah Tingkah ‘Pengemis’ Jakarta

Marini, salah satu teman yoga saya di Taman Suropati, pernah bercerita bagaimana menjengkelkannya menjadi pelampiasan kemarahan seorang peminta-minta dengan kewarasan yang diragukan di salah satu kawasan yang sering ia sambangi di Jakarta. Saya terpingkal-pingkal saat ia dikata-katai seorang pengemis ibu-ibu paruh baya di pelataran Masjid Sunda Kelapa sehabis latihan.
Pernah suatu kali ia menolak memberi, karena menurutnya orang itu hanya berpura-pura fakir saja. Tidak miskin sungguhan. Karena si peminta-minta merasa dilecehkan, ia meludahi Marini. Rasa syok tentu saja tidak terbayangkan. Diludahi seorang pengemis! Di tempat umum pula.
Di lain kesempatan, ia berjumpa dengan seorang pengemis lainnya. Marini menolak lagi memberikan uang. Kali ini bukan imbalan air ludah menjijikkan yang ia terima. Si pengemis yang lagi-lagi ibu berusia paruh baya juga memancing kemarahannya. Usai menolak, Marini yang sedang asyik bercanda ria dengan temannya didatangi lagi oleh si pengemis yang menghardik,”Kamu ngetawain saya ya?” Marini pun ternganga dan langsung melayani pengemis itu dengan emosional,”Siapa yang ngetawain ibu? Orang saya ngetawain yang lain kok! Emang kapan saya ngetawain ibu?” “Tahun kemarin???!!”sergah si pengemis.
Seketika itu pula ia sadar bahwa si ibu kurang waras. Oalah!

Two Months Passed, The Loss Lingers Still

On dealing with loss

It has been more than two months since the last time I went home for my cousin’s funeral. I still remember how gloomy this place was that cold cloudy morning in July. Not many people were taking the business train. The hallway was so spacious yet lack people, adding to the withdrawn , dark atmosphere of the day.
The train station still looks the same. It looks like I’m here for another parting. And yes, it’s another farewell. I’m going home to see my parents before they’re heading to Mecca for the 45-day pilgrimage trip. I imagine what this parting would be like when one of us leaves the family first. After my cousin’s sudden and tragic death, everyone in the family seems to treasure more the time spent with the existing family members as we will never know who will leave who. Just because one is older, it doesn’t necessarily mean s/he will leave first, and vice versa. Because the order of ‘tickets’ is really random in reality.
In bidding farewell, I am not really good. When my maternal grandfather passed away, things were confusing to me at first. I was trying hard to make sense of the whole things that struck me like a giant snowball. He would be away forever and I can’t see him ever again. Point taken.I mostly cried because I saw others crying but that didn’t mean I am a heartless cold person. I was also deeply saddened but there is part of me saying this misery is part of how the universe works. Getting, now losing. I had a grandpa and then I lost him. That simple, no tears at all involved. But then the emotional memories intruded, haunting whoever left behind to recall the bad and good times with the deceased. Needless to say, the next thing is sobbing and snorting.
Maybe the next time I bid farewell, I would be standing without saying anything, only looking closely and waving my hands just like when people see their beloved ones in the train moving away faster and faster.

Can One Not Be a Teacher after Completing a Yoga Teacher Training?

It’s been a long time since the last time I took a yoga teacher training. I took it last February and now I’m changing my mind. Becoming a teacher, especially a yoga teacher, doesn’t take a short time and it should be a lifelong transformation, a revelation which I discovered during the training. Even 200 hour training is not enough, apparently.
Instead of learning everything in a hurry, I came to understand that once again, a sheet of diploma or certificate of completion is something too shallow to pursue and to show one’s actual depth of understanding, knowledge and wisdom in yoga. That said, being registered in a global yoga related association is of course worth doing but doesn’t necessarily solve the problem of self confidence. I may be a registred, or certified, yoga teacher after 200-hour training but I am not even sure whether I can meet the people’s expectation on how an ideal yoga teacher behaves, speaks, and most importantly, does yoga. Apart from the self confidence issue, I strongly believe in the idea that regardless of how highly experienced a yoga teacher is, s/he is a student as well, a fact that will never change and that makes one always open to any new challenges, novel questions, never ending pursuits of truth and eventually, God The Almighty.
So answering the question, for now I am not saying I will never ever want to teach. And yes I will teach anyhow because teaching is not always being in a class, leading a bunch of students with the loudest voice one has, or adjusting some students with bad postures. It means a lot more than that. And because I like writing so much, I would really like to teach by written words I script, upload, or type.
And the universe seems to listen to my prayers, I have these two new friends I have never met in person before, but they practice and learn yoga and are willing to write a book on yoga, like me. It stuns me how smoothly my prayers got answered.

image

PT Kereta Api Indonesia Does Deserve Praise

PT. KAI shows noticable improvement in overall service quality.

image

image

image
image
image
All this is the best you can have with Rp130,000 (=about US$13) for 8 hour train trip from Jakarta to Semarang, Central Java.
Oh, and the extremely dirty toilet is part of history. A passenger cannot take a bubble bath here but I can make sure there is plenty of clean water to wash anything you want to wash after private digestion cleansing and bladder discharging. The soap is dilluted for the sake of saving and efficiency, I suppose.
image

image

It is so squeaky clean for a third-world train I am thinking of staying here and forgetting the idea of going home.

The railways are a lot better now, too.

image
image
image
image

An Open Letter to Miss Samsung

Samsung ultrabook gets criticized.

image

Dear Miss Samsung,

You know it is hard for me to say this because you’re too artificially cute, slim and seductively pleasant to flirt with and behold. That is exactly what you got paid for, to deal with a weak-hearted customer like me who all of a sudden turns dumb when you’re around.

image

To be brutally honest though, your keyboard kind of sucks. No, I mean, I like its being tactile and comfortable but look at my N!!! It is not even 365 days yet but one of the keys starts disappearing already. Do I type too enthusiastically or this keyboard isn’t quite durable?

image

And by the way, look at this! That MacBook Air has got juicier, way more long lasting battery and backlit keyboard which I guess would be nice to type in the dark. Remember that I am a yellow mellow person, and darkness intensifies my being mellow, which is sometimes good to boost my creativity. Yet, your ultrabook cannot be lit that way, which somehow lets me down.
But what can I say? I just got this with the price less than the half price of a MacBook Air.
Despite everything, I still adore you so please don’t let me down.

Kisses,

A Samsung fanboy

Dasar Anak Jaman Sekarang!

Jaman sekarang selalu dianggap lebih parah dari jaman sebelumnya. Dekadensi moral, sopan santun menurun, tata krama luntur. Bla bla bla. Pasti begitu. Padahal sama saja sebenarnya. Dulu juga pasti ada anak durhaka. Kapan pun juga pasti ada durhaka.
Ini contohnya. Anak ini. Suka diomeli ibunya, malas belajar, kalau belajar pun karena ada PR, suka bermain sampai tetangga depan rumah histeris dan keluar rumah dengan amarah tingkat dewa.

Asteya

yoga
yoga (Photo credit: GO INTERACTIVE WELLNESS)

Keinginan  untuk memiliki dan menikmati apa yang orang lain miliki, mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang buruk. Dari keinginan ini, keinginan untuk mencuri dan keinginan untuk menghendaki muncul. Asteya (a = tidak, steya= mencuri), atau tidak mencuri termasuk tidak hanya mengambil apa yang menjadi milik orang lain tanpa ijin tetapi juga menggunakan sesuatu untuk tujuan yang berbeda dari yang dimaksudkan atau di luar waktu yang diijinkan oleh sang pemilik. Sehingga konsep ini mencakup penggelapan, pelanggaran kepercayaan, penyalahgunaan dan kesalahan kelola. Sang yogi mengurangi kebutuhan fisiknya hingga minimum, karena meyakini bahwa jika ia mengumpulkan hal-hal yang ia tidak benar-benar butuhkan , ia adalah seorang pencuri. Sementara orang lain menghendaki kekayaan, kekuasaan, ketenaran atau kenikmatan, seorang yogi memiliki satu keinginan dan keinginan itu adalah untuk memuja Tuhan. Kebebasan dari hawa nafsu memungkinkan seseorang untuk menyingkirkan godaan besar. Hawa nafsu mengotori aliran ketenangan. Hal ini merendahkan derajat manusia dan membuatnya buruk dan membuatnya pincang. Orang yang mematuhi perintah Anda jangan mencuri, menjadi tempat penyimpanan hal berharga yang tepercaya.

Satya dalam #Yoga

Satya atau kejujuran ialah prinsip tertinggi perilaku atau moralitas. Mahatma Gandhi mengatakan:”Kebenaran ialah Tuhan dan Tuhan ialah Kebenaran”. Sebagaimana api yang membakar kotoran dan memurnikan emas, demikian pula api kebenaran yang mampu membersihkan seorang yogi dan membakar kotoran dalam dirinya.
Jika pikiran berpikir tentang gagasan yang benar, jika mulut berbicara kalimat yang benar dan jika seluruh hidup didasarkan pada kebenaran maka ia memenuhi syarat untuk menyatu dengan Tuhan. Realitas dalam aspek fundamental ialah cinta dan kebenaran dan mengekspresikan diri melalui 2 aspek ini. Kehidupan seorang yogi harus menyesuaikan dengan ketat pada dua sisi Realitas. Itulah mengapa ahimsa, yang pada dasarnya berdasarkan pada cinta, digabungkan. Satya mendahului kejujuran yang sempurna dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Ketidakjujuran dalam berbagai bentuk membuat sadhaka berada di luar keselarasan dengan hukum dasar kebenaran.
Kejujuran tidak terbatas hanya pada perkataan. Terdapat 4 dosa perkataan: penyalahgunaan dan ketidaksopanan, menghadapi kebohongan, fitnah atau menceritakan sesuatu dan yang terakhir mengejek apa yang orang lain agungkan. Si pembawa pesan lebih berbahaya dari seekor ular. Pengendalian perkataan membuat kebencian tersingkir. Saat pikiran tidak memunculkan kebencian terhadap apapun, ia akan dipenuhi dengan kedermawanan terhadap semuanya. Seseorang yang telah mempelajari bagaimana mengendalikan lidahnya telah meraih pengendalian diri dengan sangat baik. Saat orang seperti ini berbicara, aia akan didengar dengan penuh rasa hormat dan perhatian penuh. Perkataannya akan diingat karena ia baik dan jujur.
Saat seseorang sudah mantap dalam kebenaran berdoa dengan hati yang tulus, keadan kemudian hal yang ia butuhkan akan mendatanginya saat benar-benar dibutuhkan: ia tidak harus mengejarnya. Orang yang sudah mantap dalam kebenaran mendapatkan hasil dari tindakannya tanpa secara nyata melakukan apapun. Tuhan, sumber dari semua kebenaran, memberikan semua kebutuhannya dan mencari kesejahteraannya.

%d bloggers like this: